
Yusuf terkejut dengan kehadiran abah yang sudah berada di kamarnya.
''Abah... sejak kapan abah disini?'' tanya Yusuf yang membuka lebar-lebar matanya.
Sementara Abah nya hanya tersenyum melihat kelakuan anaknya yang dari dulu tidak berubah.
''Sejak tadi kamu memikirkan sesuatu yang membuat kamu tidak fokus.'' Kata abah yang menatap putra pertamanya.
Yusuf menghela nafas panjang, ia sangat malu karena abah yang melihat dirinya seperti itu.
''Bah, aku ingin mengatakan sesuatu,'' lirih Yusuf yang berniat akan mengatakan semuanya pada abah nya, ia merasa buntu karena apa yang terjadi pada dirinya.
''Katakanlah.'' Jawab abah yang setia menanti anaknya untuk berbicara.
''Abah mungkin sudah mengetahui kalau aku mencintai Syifa, dan sekarang Syifa telah menerima lamaran Hanif. Syifa menolak lamaran ku karena Nadia, dan sekarang kondisi Nadia terlihat sangat memprihatinkan,'' sambung Yusuf menceritakan apa yang ia tadi lihat di rumah Nadia.
Abah mengerti apa yang saat ini putranya rasakan, abah mengusap punggung Yusuf untuk berusaha menenangkannya.
''Kamu mungkin tahu yus, tidak sepantasnya seorang pria melamar seorang wanita yang telah di lamar oleh pria lain, jika memang Syifa lebih memilih Hanif, mungkin itu adalah cara Allah menunjukkan jalannya. Jika memang ia bukan untukmu, bersabarlah dan memohon pada Allah agar kamu di berikan jodoh yang terbaik di sisinya.''
Yusuf membenarkan apa yang di katakan abah nya, ia pun menarik nafas berat sungguh ia merasa jika dirinya telah terbuai karena cinta sehingga ia melupakan sang pemilik cinta sesungguhnya.
''Makasih bah, aku akan berusaha untuk mencoba ikhlas,'' tutur Yusuf yang menatap lembut pada Abah nya.
Abah pun tersenyum pada Yusuf.
''Kamu tahu yus, cinta yang sesungguhnya ketika kita ikut bahagia saat melihat orang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya.''
Yusuf pun tersenyum pada Abah nya, apa yang di katakan abah seperti semilir angin yang menyadarkannya kembali.
''Terus apa yang akan kamu lakukan?'' tanya abah yang menatap putranya.
''Aku akan belajar ikhlas bah, aku akan belajar menerima semua kehendak Allah.'' Abah pun kembali menepuk pundak Yusuf, ia sangat bangga atas apa yang telah ia dengar.
''Yus abah ingin kalau besok kita berkunjung ke rumah abi Husein, abah merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Nadia,''
__ADS_1
''Baik bah, esok hari aku akan luangkan waktu agar kita bisa kesana.''
Abah pun keluar dari kamar Yusuf, meninggalkan Yusuf agar memberi ruang untuk dirinya berpikir.
''Aku akan belajar ikhlas untuk melihat kamu bahagia bersama Hanif Syifa, semoga Hanif tidak akan pernah mengecewakan mu.'' Lirih Yusuf dalam diamnya.
.
.
Syifa yang sedang datang bulan, ia tidak mengikuti pengajian seperti biasanya, ia berdiam diri di kamarnya, hanya setumpuk buku yang menemaninya sekarang.
Ia membuka buku di hadapannya, dua hari lagi yang harus ia jalani untuk ujian susulan membuatnya tak bisa membuang-buang waktu.
''Aku ngantuk sekali,'' ia menguap untuk ke sekian kalinya, matanya yang tak bisa di ajak bekerja sama membuatnya terus meneteskan air mata karena rasa kantuk yang terus menyerang.
''Kuatlah aku mohon....'' Syifa membuka lebar-lebar matanya berharap agar matanya tak merasakan kantuk, ia pun meregangkan tangannya untuk melakukan sedikit olahraga.
Tak berselang lama terdengar suara riuh dari luar, karena para santriwati yang mulai memasuki kamar-kamar mereka.
''Apa sih, berisik banget!'' Syifa merasa kesal karena Arin yang berteriak begitu keras.
Sementara Arin ia malah cengengesan, dan duduk di kasur milik Syifa.
''Kita ke kantin aja yuk,'' ajak Arin yang memperhatikan buku-buku Syifa yang berserakan di kasurnya.
Syifa tak langsung menjawab ia sedikit berpikir, namun perutnya memang sedikit lapar, apa lagi ia belum membeli perbekalan untuk di saat malam. Ia pun akhirnya mengikuti keinginan Arin.
Syifa dan ke tiga sahabatnya akhirnya berjalan menuju kantin, namun saat Syifa duduk di bangku terdengar beberapa orang yang membicarakan Ustadz Nadia, mereka sangat menyayangkan karena Ustadz Nadia yang harus keluar karena Syifa, mereka menyangka jika Syifa lah yang bersalah dalam hal ini, Syifa yang mendengar obrolan-obrolan yang menyeret dirinya sebagai pihak yang bersalah ia bersikap acuh, ia tidak ingin jika ia terbawa emosi dan menjelaskan hal yang tidak seharusnya mereka tahu, menurutnya itu adalah hal privasi dirinya.
Sementara Arin dan Desi mereka di buat geram. Arin pun yang baru bergabung setelah memesan berbagai cemilan ia menarik kursinya kembali sesaat ia akan duduk, ia ingin sekali menjelaskan yang sebenarnya terjadi, ia tak ingin jika sahabatnya lah yang di sudut kan dalam hal yang telah terjadi padahal justru Ustadzah Nadia lah yang bersalah.
Arin pun berjalan hendak mendekati para santriwati yang sedang membicarakan Syifa, namun dengan cepat Syifa manarik tangan Arin, ia tahu apa yang akan Arin lakukan.
''Arin, aku mohon biarkan saja. Aku gak peduli dengan semua omongan mereka,'' lirih Syifa ia memelas agar Arin tidak melanjutkan keinginannya.
__ADS_1
Arin yang melihat Syifa memohon seperti itu ia menarik nafasnya kasar, sungguh ia di buat geram namun ia akhirnya menuruti Syifa yang menariknya kembali ke kursinya.
.
''Yusuf?'' Teriak ummi di lantai bawah.
''Iya ummi....'' Sahut Yusuf dari dalam kamarnya. Yusuf yang sedang memeriksa beberapa email dari Adi. Adi mengirimkan laporan perusahaannya ia mengalami sedikit masalah yang membuatnya sedikit fokus.
Tak terdengar lagi jawaban dari ummi, Yusuf terus memeriksa beberapa berkas yang ada di kamarnya. Ia menarik nafasnya kasar dan melipat kembali laptop di depannya.
''Astagfirullah.'' Yusuf mengusap wajahnya dengan kasar ia tak menyangka jika hal ini dapat terjadi.
Terdengar ketukan pintu dari luar kamar.
''iya!'' Yusuf menarik gagang pintu dan terbukalah pintu di depannya, terlihat ummi yang sedang menantinya.
''Iya ummi ada apa?'' tanya Yusuf yang sedikit terlihat malas.
''Kita makan dulu, abah sudah menantimu di bawah.'' Tutur ummi yang sedikit menatap heran pada dirinya.
Yusuf hanya mengangguk sebagai tanda ia menyetujui permintaan. Umminya.
Ia segera bergegas mengikuti langkah ummi dan menuruni satu persatu anak tangga, terlihat abah yang sedang menanti kedatangannya.
Ia pun mendudukkan dirinya di kursi dan mengambil piring yang sudah ummi siapkan dengan berbagai lauk-pauk di depannya, abah yang memperhatikan anaknya yang sedikit berbeda ia merasa jika Yusuf sedang menyimpan sesuatu yang mengganggu pikirannya.
''Apa yang kamu pikirkan kembali? Apa kamu masih belum bisa memantapkan hati?'' tanya abah yang menyendok kan makanannya
Yusuf menatap sang abah, ia mengerti maksud dari perkataan Abah nya, abah menyangka jika dirinya belum siap untuk mengikhlaskan Syifa, Yusuf menghela nafasnya panjang ia tersenyum pada Abah nya mencoba menenangkan pikirannya.
''Aku akan berusaha bah,'' Yusuf pun menampilkan senyumnya dan kembali memakan makanan yang di piringnya.
Abah menatap Yusuf dengan heran, ia tak mengerti dengan sikap putranya yang sering terlihat melamun, ia terlalu banyak memikirkan hal yang membuatnya lelah.
''Mintalah jalan petunjuk mu dari segala masalah yang kamu terima itu kepada Allah, jika memang beban di pundak mu sangat berat berdoalah agar Allah permudah jalan dari segala hal yang menimpa mu, kamu tahukan Allah tidak akan memberikan sesuatu masalah kepada kita melainkan karena kamu mampu untuk melewatinya.''
__ADS_1
Yusuf kembali tersadar akan perkataan Abah nya, ''mungkin aku sudah terlalu jauh dari mu ya Allah, sampai saat ini ternyata aku hanya mampu untuk mengamalkannya dalam hal pembelajaran saja, tapi ketika aku benar-benar tertimpa masalah aku malah lari dariMu ya Allah.'' Lirih Yusuf dalam diam.