
Bel berbunyi tanda ujian telah selesai, namun Syifa masih harus mengerjakan soal ujian susulan untuk terakhir kalinya.
Syifa sedikit bernafas lega karena hari-hari yang ia habiskan untuk mengisi lembar ujian akan segera selesai.
Ustadzah Nurul pun memberikan dua lembar ujian sekaligus karena Syifa memang selalu meminta dua lembar sekaligus seperti ia meminta pada Ustadz Yusuf.
Ia pun kembali membuka lembar perlembar lembar ujian di hadapannya. Ia sedikit putus asa karena dengan mengisi empat lembar ujian sekaligus membuatnya sedikit lelah.
Ustadzah Nurul yang sedang memungut lembar jawaban para santri dan santriwati dibuat tersenyum karena melihat Syifa yang sedikit kebingungan.
Ustadzah Nurul pun menghampiri Syifa dan melihat apa yang sedang ia lakukan.
Syifa yang terlihat lelah dan sedikit kebingungan ia malah memutar-mutar pensil di tangannya, Ustadzah Nurul pun menepuk pundak Syifa yang menurutnya sangat lucu.
''Sudah Ustadzah bilang satu dulu, besok lanjut ujian susulan terakhirmu.'' Ucap Ustadzah Nurul yang berlalu ke mejanya.
Syifa hanya cengengesan ia memang tidak ingin membuang waktu apalagi ia hanya sendirian mengikuti ujian susulan membuatnya sangat membosankan.
Syifa hanya tersenyum menanggapi apa yang Ustadzah Nurul katakan.
.
Yusuf yang sedang berada di mejanya, ia berharap jika pihak pembeli setuju jika pesanan nya akan di atur ulang.
Terdengar ketukan pintu dari luar ruangannya, membuat Yusuf tersadar dari lamunannya.
''Masuk!'' Yusuf memerintahkan agar seseorang di balik pintu itu agar masuk.
Adi yang datang dari balik pintu ia pun tersenyum lebar dan menghampiri kakaknya.
''Alhamdulillah kak, Pak Hendro setuju dengan apa yang kita lakukan.'' Sahut Adi yang masih berjalan mendekati kakaknya.
''Syukurlah.'' Yusuf merasa lega karena usahanya untuk mengganti sebagian kerugian yang akan di alami perusahaan pak Hendro membuatnya tidak membatalkan pesanan yang akan jauh lebih besar dari kerugian yang ia akan tanggung.
__ADS_1
''Baiklah kalau begitu segera persiapkan pesanannya, jangan biarkan kita mengalami kerugian lagi'' tutur Yusuf yang memandangi Adiknya.
''Aku tahu kak, tapi aku akan berusaha yang terbaik kali ini untuk perusahaan kakak ini.'' Adi pun segera kembali keluar meninggalkan Yusuf yang merasa lega.
Jika saja ia telat sehari saja, mungkin sudah di pastikan pak Hendro tidak akan menyetujui ke sepakan yang akan ia usulkan.
Yusuf pun berjalan ke arah jendela ia memandangi pemandangan yang begitu menyejukkan hatinya.
''Satu kesempatan saja bisa aku miliki sekarang, tapi tidak dengan kesempatan untuk yang lain.'' Gumam Yusuf kembali teringat akan Syifa. Ia menghela nafas panjang ia merasa sesak di dalam jiwanya kembali menyeruak.
Banten.
Hanif yang telah selesai dengan pekerjaannya. Ia segera membereskan lembaran kertas jawaban yang telah ia periksa.
Ia mengambil ponselnya dan melihat kembali pesan yang Lita kirimkan, hatinya sedikit tidak tenang ia merasa jika Lita menyembunyikan sesuatu darinya.
Hanif pun bergegas keluar dan hendak pulang ke rumahnya.
Ia berjalan melewati taman yang menghiasi madrasah dan juga pemisah antara madrasah juga pondok pesantren.
''Apakah aku bisa abi? Amanah abi yang yang terasa begitu besar ini apakah aku mampu meneruskannya?'' tanya Hanif pada dirinya sendiri.
Lama Hanif termenung di sisi taman, ia memang menyukai suasana yang terlihat sangat menyatu dengan alam membuatnya sangat tenang.
Hingga dering ponsel membuatnya teralihkan. Ia merogoh ponsel yang ia simpan di saku celananya.
Terlihat Lita yang menelpon dirinya, Hanif pun membiarkan panggilan telepon Lita begitu saja, ia rasa tidak ada yang harus di bicarakan karena nanti siang juga mereka akan bertemu.
Tapi Lita yang tidak berhenti menghubunginya kembali membuat Hanif sedikit kesal karena dirinya yang memang sedang tidak ingin di ganggu membuatnya terpaksa mengangkat panggilan dari Lita.
''Iya ta?'' tanya Hanif yang langsung menanyainya.
''Kamu jadikan bakal ketemu sama aku?'' Tanya Lita dengan polosnya.
__ADS_1
Hanif benar-benar tidak habis pikir karena pertanyaan Lita yang membuatnya merasa kesal.
''Iya jadi.'' Jawab Hanif dingin ia hendak menutup kembali teleponnya karena menurutnya tidak penting,namun terdengar jawaban Lita yang membuatnya mengurungkan niatnya.
''Baiklah.'' Lita pun menutup panggilan teleponnya.
Hanif mengedarkan pandangannya ke taman, ia teringat kembali lagi pada Syifa di saat ia benar menemukan cintanya kembali namun cinta yang telah lama ia lupakan dan bahkan sudah menghilang kini kembali menghampiri dirinya.
Ia merasa sangat aneh, ''andai saja dulu kamu kembali padaku mungkin saat ini kita telah menikah, tapi kini ada wanita lain yang aku cintai, aku tidak akan membuatnya terluka seperti apa yang dulu kamu lakukan ta. Maafkan aku.'' Hanif menengadahkan pandangannya ke langit yang begitu menyilaukan mata, ia menarik nafasnya panjang merasakan dirinya terbebas dari belenggu yang membuatnya sekian lama merasakan kesendirian.
Hanif pun menoleh ke arah arlojinya yang menunjukan pukul 12.00 ia pun segera bangun dari duduknya dan bergegas pulang ke rumah.
Hanif membuka pintu dan mengucapkan salam, namun rumah yang terlihat begitu sepi membuatnya bergegas untuk segera pergi ke kamarnya.
Ia merebahkan badannya pada kasur dan mencoba memejamkan nya karena ia merasa sedikit lelah dan membuatnya membuatnya tertidur.
Lita yang telah selesai jam tugasnya ia pun beristirahat dan segera melaksanakan shalat.
Meski penampilan Lita yang seperti itu namun ia mengetahui kewajibannya sebagai umat yang beragama ia harus melaksanakan kewajibannya.
Lita selalu membawa mukena di dalam tas kerjanya agar memudahkan dirinya untuk shalat.
Setelah ia selesai ia pun segera kembali ke rumahnya, ia begitu bersemangat karena ia akan bertemu dengan Hanif, hatinya berbunga-bunga mengingat Hanif yang kemungkinan besar akan menerimanya kembali.
Jam sudah menunjukan pukul satu siang, ia segera berangkat ke restoran yang telah mereka janjikan untuk mereka bertemu.
Lita mengenakan pakaian sedikit tertutup ia mengenakan celana jeans panjang dengan baju blouse yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, tak lupa kaca mata yang ia kenakan dan juga tas Branded dan sepatu heels yang mempercantik penampilannya membuatnya sangat terlihat sempurna.
Lita pun segera menjalankan mobilnya dan melajukan dengan kecepatan sedang, hatinya begitu bahagia ia merasakan debaran jantung yang membuatnya sedikit gugup untuk pertama kalinya ia merasakan hal yang berbeda setelah sekian lama ia berpisah dengan Hanif tapi kali ini ia sangat gugup.
Hanif yang masih tertidur karena lelahnya, kembali terbangun karena pintu kamarnya di ketuk dari luar.
Ummi yang menunggu putranya kembali mengetuk pintu dan bersuara.
__ADS_1
''Han?'' Kamu sudah pulang kan? tanya ummi kembali. Namun tidak ada jawaban dari dalam kamar Hanif.