
"Bagaimana kabar ummi dan abi mas?'' tanya Syifa pada Hanif.
Hanif yang sudah selesai makan ia menatap wajah istrinya kembali.
''Alhamdulillah baik, Mereka sangat merindukan kamu.'' Ucap Hanif
''Ya aku sendiri juga rindu mas semoga saja aku bisa bertemu dengan ummi dan juga abi,''
''Ya aamiin semoga ujian mu lancar. Mas ingin berkata jujur sama kamu.'' Ucap Hanif pelan.
''Soal apa? jangan yang aneh-aneh ya mas aku gak mau.'' Syifa masih takut dengan pikirannya waktu itu.
''Memangnya apa?'' Hanif menggoda istrinya karena Syifa terus saja seperti tidak percaya pada dirinya.
Hanif menjelaskan segala kesibukan yang kini membuat hari-hari nya selalu sibuk dan juga maksud dirinya tidak sering menemui Syifa. Hanif hanya tidak ingin membuat Syifa menjadi kepikiran karena ia jarang mengunjungi dirinya.
Syifa hanya tersenyum mendengar perkataan yang keluar dari mulut suaminya ia sangat bersyukur ternyata Hanif adalah sosok suami yang pengertian.
''Makasih ya mas.'' Syifa menatap lembut suaminya jelas terlihat ia sangat bahagia dengan berita yang Hanif berikan padanya.
''Sama-sama sayang.''
Mereka pun segera pergi dari rumah makan dan menghabiskan waktu sebelum mereka berpisah kembali.
Saat-saat yang memang sulit untuk mereka berdua lalui tapi hanya kesabaran yang akan menemani mereka hingga takdir akan mempertemukan mereka kembali.
.
.
Yusuf kini tengah menikmati masa rehat nya ia berkeliling kota kelahiran nya dan berhenti di sebuah danau kecil yang terlihat sangat indah.
Danau yang selalu ia kunjungi bersama kedua orang tua nya di saat kecil. Ia menatap langit sore yang kini terlihat menguning dengan semilir angin yang terasa dingin.
__ADS_1
Yusuf menarik napasnya panjang dan menghirup dalam-dalam seolah ia merasakan ketenangan dan kembali ke masa lalu
silam perlahan matanya ia tutup.
Bayang-bayang anak kecil berlarian ke sana ke mari dengan pemandangan yang sangat indah dengan kabut tebal menghampiri mereka seolah nyata kembali dalam ingatan dirinya.
Yusuf kembali membuka matanya kini ia mengedarkan kembali mata nya menikmati pemandangan di depan matanya.
Yusuf melihat seseorang sedang menatap danau itu dengan tatapan kesedihan. Yusuf melangkahkan kakinya menghampiri wanita yang sedang duduk di bangku sana. Ia merasa mengenali sosok perempuan yang kini menatap danau dengan tatapan kosong.
''Maya?'' Yusuf berkata pelan ia ingin memastikan siapa yang kini tengah berada di depan nya.
Apakah benar Maya sekertaris nya. Yusuf terus saja memikirkan siapa hingga wanita itu seketika menoleh ke arah Yusuf dimana ia berdiri dengan mata yang membengkak Maya menatap atasan nya berdiri di hadapan nya.
''Pak Yusuf.'' Lirih Maya pelan.
Maya kembali mengalihkan pandangan nya tanpa ingin bertanya lagi.
Yusuf mengira jika Maya sedang dalam masalah ia pun duduk di bangku yang sama dengan tatapan ke arah danau tanpa menoleh Maya yang terlihat bersedih.
''Apa kabar may?''
Maya menoleh ke arah Yusuf dengan senyum yang ia paksakan.
''Seperti yang pak Yusuf lihat aku sedang tidak baik.'' Lirih Maya dengan derai air mata yang kini jatuh tanpa ia sadari.
Yusuf bingung harus berkata apa ia tidak tahu kenapa sekertaris nya bisa bersedih.
''Apa yang membuat kamu bersedih? apa kamu merindukan kedua orang tua mu? jika ya ambil lah libur saya akan memberikan gaji mu seperti biasa.'' Tutur Yusuf karena yang ia tahu jika Maya adalah mahasiswa yang sedang merantau dan ia bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup nya selama di kota perantauan.
Maya menggeleng ia tak tahu harus berkata apa ia sendiri kini bingung dengan kehidupan yang akan ia jalani.
Hening seketika tak ada lagi obrolan di antara mereka. Yusuf sendiri terdiam ia menunggu Maya sendiri untuk mengungkapkan kesedihan nya ia tidak ingin terlalu banyak bertanya hanya karena ia kasihan menjadi Maya tidak nyaman.
__ADS_1
Setengah jam telah berlalu namun Yusuf dengan setia masih menemaninya.
''Pak aku ingin menggugurkan bayi dalam kandungan ku.'' Ucap Maya sontak membuat Yusuf kaget. Bahkan Yusuf tidak mengetahui apa yang terjadi.
''Astagfirullah apa yang kamu lakukan adalah dosa besar may. Kenapa kamu ingin membunuh darah daging mu sendiri.'' Yusuf memandangi Maya yang kini kian menangis ia tidak bisa lagi menghapus air mata bahkan ia membiarkan air mata itu meluncur dengan bebas.
''Aku tidak bisa meneruskan kehamilan ku pak. Lelaki itu tak ingin aku meneruskan nya bahkan dia lari dari tanggung jawab nya apa yang akan aku lakukan seperti apa kekecewaan kedua orang tua ku pak ketika mereka mengetahui aku telah hamil.'' Ucap Maya dengan tatapan yang seperti terhalang karena air mata itu terus saja jatuh.
Yusuf tahu apa yang Maya lakukan adalah salah ia sendiri tahu apa yang kini Maya rasakan. Tak ada yang benar-benar menginginkan hal seburuk itu terjadi pada dirinya hanya kehendak Allah lah semua itu terjadi.
''Jadi apa karena kamu tidak siap membesarkan janin yang kini tubuh di dalam rahim mu lantas kamu berniat membunuh nya? lalu apa kamu tidak berpikir saat kamu berbuat dosa kemungkinan apa yang akan terjadi dalam hidup mu may?'' Yusuf berkata dengan penuh penekanan ingin sekali ia marah ingin sekali ia berkata kenapa kamu melakukan hal sebodoh itu dalam hidup nya namun ia tidak kuasa. Yusuf begitu lemah ketika wanita yang kini di hadapan nya meratapi hidup nya yang entah bagaimana kehidupan nya kelak apalagi laki-laki yang telah berani menghamili nya lari begitu saja dari tanggung jawab nya.
Maya hanya menangis ia tak bisa berbuat apa-apa hari-hari nya terus saja ia habiskan dengan menangis dan juga penyesalan.
''Berhentilah menangis kasihan janin yang kini berada dalam tubuh mu. Aku akan bertanggung jawab untuk anak yang akan tumbuh di dalam perutmu aku akan segera menikahi mu.'' Ucap Yusuf dengan tatapan nya menuju danau.
Maya begitu kaget dengan perkataan Yusuf yang baru saja ia dengar ia merasa jika dirinya tengah hilang dari kesadaran nya.
''Sebaiknya kita pulang ini sudah terlalu larut.'' Yusuf berdiri menunggu Maya ikut berdiri dan pulang bersamanya.
Mereka pun berjalan beriringan dan segera masuk ke dalam mobil.
Yusuf segera menghidupkan mesin nya dan melajukan mobil di jalanan yang terlihat mulai sepi pengendara.
Yusuf mengemudikan mobil untuk kembali ke rumahnya dan mengantarkan Maya terlebih dahulu untuk pulang.
Mereka hanya terdiam tak ada obrolan hanya suara mesin mobil yang kini terdengar di telinga mereka.
Kedua insan itu hanya larut dalam pikiran nya masing-masing.
......................
Maaf ya jika cerita nya tidak sesuai harapan karena Author sendiri langsung main tulis aja😁
__ADS_1
di tunggu saran nya yang membangun ya Terima kasih juga buat kalian yang setia baca novel karya aku ini dan buat kalian yang suka kalian boleh tinggalin like ya. Terima kasih🥰