Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 33


__ADS_3

''Kenapa ustad Yusuf berkata seperti itu, sungguh aku tak ingin jika Ustadz Yusuf terluka, maafkan aku Ustadz tapi aku sudah menerima Ustadz Hanif,'' lirih Syifa di dalam hatinya.


Syifa yang telah selesai dengan ujiannya ia pun kembali ke kamarnya.


Sementara Yusuf ia memandangi Syifa yang sedang berjalan ke kamarnya, ia merasa Syifa tak mungkin bisa ia gapai kembali, hati Yusuf merasakan sakit dadanya seperti bergemuruh karena menahan perasaan yang selama ini ia tahan.


''Seharusnya aku tidak berkata seperti itu, bagaimana pun aku tahu kalau Hanif benar-benar mencintai Syifa.'' Yusuf menarik nafasnya ia sangat ingin dapat bertemu dengan Hanif sungguh ia menyesal karena membiarkan Syifa dapat memilih dirinya.


''Ahhhhh....'' teriak Yusuf mengeluarkan emosinya. Yusuf pun sedikit di buat frustasi. ''Memang benar tidak ada obat untuk seseorang yang di mabuk cinta kecuali menikah,'' gumam Yusuf menggerutu pada dirinya sendiri.


Yusuf pun berjalan gontai ia ingin sekali dapat melupakan Syifa namun hatinya belum bisa.


Ia pun bergegas ke kantor, mengingat ada seseorang yang sedang menunggunya. Ia pun berjalan dan sedikit mempercepat langkahnya hingga ia telah sampai di depan kantor Yusuf pun membuka pintu kantornya, betapa terkejutnya Yusuf mengetahui orang yang sedang menunggunya ternyata abi Husein.


Yusuf pun menyalami abi Husein sudah lumayan lama ia tidak bertemu dengannya semenjak Nadia di keluarkan dari pondok oleh abah, sejak itulah abi Husein tak pernah mengunjungi abah lagi.


''Abi, kenapa abi menunggu disini, mari kita ke rumah saja,'' ajak Yusuf yang tak enak hati karena membuat abi Husein menunggu di ruangannya.


''Tidak usah nak, disini saja, lagian abi tak akan lama.'' tutur Abi Husein menjelaskan.


''Apa abi sudah bertemu dengan abah?'' tanya Yusuf yang merasa sedikit aneh karena biasanya abi Husein selalu ke rumah abah dan tak pernah mengunjunginya di kantor.


''Tidak nak, abi sangat malu sekali untuk bertemu dengan abah mu, abi sudah terlalu banyak merepotkan nya,'' lirih abi Husein.


''Kalau begitu ya sudah tidak apa-apa.''


''Sebenarnya abi ke sini, abi mau minta tolong sama kamu yus,'' tutur abi Husein yang merasa tak enak hati.


''Abi mau minta tolong apa? abi tak perlu sungkan, jika Yusuf bisa menolong yusuf akan lakukan.''


Abi husein tertunduk ia sepertinya sulit untuk mengucapkan maksud kedatangannya.


''Abi....''


''Abi ingin kamu menemui Nadia yus, Nadia sangat mencintai mu.''


Yusuf menghela nafasnya dengan kasar ia tak tahu apa yang harus ia lakukan.


''Tolong yus mau kan kamu bertemu Nadia untuk Abi....''Abi Husein sedikit memohon membuat Yusuf tak enak hati, akhirnya Yusuf pun bersedia untuk menemui Nadia.


Yusuf pun berniat pergi bersama abi Husein ia tidak mengabari abah dan ummi nya ia pikir itu tidak akan menjadi persoalan.


.


.


Satu jam perjalanan Yusuf yang telah sampai di pekarangan rumah abi Husein ia pun turun dari dalam mobilnya.


Yusuf pun segera mengikuti langkah kaki abi Husein yang memasuki rumah.


Yusuf melangkahkan kakinya memasuki rumah abi Husein, ia mengucapkan salam terlihat ummi Nur yang menyambut kedatangannya.


''Ayo sini masuk nak Yusuf.''

__ADS_1


Yusuf pun duduk di antara mereka


''Abi Husein yang telah menjelaskan kondisi Nadia ia benar- benar sangat tidak tega pada putrinya ia tidak mau pergi kemana-mana, Nadia memang terlihat sangat terpukul karena ia di keluarkan dari pondok membuatnya selalu mengurung diri di rumah, ia tak ingin berinteraksi dengan siapa pun, Nadia yang biasa terlihat ceria di depan ummi dan Abi nya kini telah banyak berubah.


Ummi pun mengetuk pintu kamar Nadia berharap Nadia akan keluar.


''Nadia?''


Tak lama Nadia pun membukakan pintunya ''iya ummi, ada apa?''


Ummi pun mengajak Nadia ke ruang tamu ummi tidak memberitahukan jika Yusuf sedang di depan menunggunya.


''Yusuf.'' Nadia berkata pelan namun sangat jelas terdengar oleh Yusuf.


Yusuf yang merasa terpanggil ia pun melirik ke arah Nadia yang sedang berdiri mematung.


Yusuf pun menampilkan senyumnya ia sangat bahagia melihat Nadia kembali, namun setelah bertemu dengan Nadia Yusuf merasakan ada sedikit beban yang terangkat, entah perasaan apa yang ia rasakan.


''Duduklah nak,'' ummi Nur memerintahkan agar Nadia duduk


''Gak ummi aku sangat malu,'' lirih pelan Nadia namun terdengar oleh sepasang telinga Yusuf.


''Apa kabar mu Nadia?'' Yusuf memberanikan diri untuk bertanya.


''Aku baik yus, tak seharusnya kamu kesini yus aku... aku tak pantas kamu kasihan,'' lirih Nadia ia pun menangis.


Nadia pun menangis sejadinya dan tak lama ia pun pingsan.


Yusuf sedikit panik, ''kenapa dengan Nadia ummi?'' tanya Yusuf karena melihat Nadia seperti baik-baik saja.


Yusuf benar-benar tak menyangka jika Nadia akan seperti itu.


Abi Husein pun segera membawa Nadia ke kamarnya dan membaringkan Nadia dengan perlahan.


Yusuf yang masih diam di kursinya ia sedikit gelisah ia takut jika kondisi Nadia akan semakin memburuk.


''Tenanglah nak.'' Abi Husein yang telah kembali dari kamar Nadia.


''Abi saya benar-benar minta maaf karena saya Nadia menjadi seperti ini, Yusuf berkata lirih.


Abi Husein menepuk pundak Yusuf. Ia tahu apa yang Yusuf pikirkan.


''Ini bukan salah mu nak, kami lah yang bersalah karena terlalu memanjakan Nadia, mungkin ini teguran untuk Nadia,'' abi Husein terlihat sangat sedih. Yusuf tahu bagaimana pun anaknya berbuat salah kasih sayang abi dan ummi nya tak akan pernah hilang.


Yusuf pun berpamitan untuk pulang ia benar-benar sangat pusing, kepalanya seperti menahan banyak beban ia merasa tak bisa berpikir dengan jernih.


.


Syifa sedang duduk di kasurnya ia kembali melanjutkan hafalan Alfiah nya, ia tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk bersantai.


Tring..


Terdengar sebuah notifikasi WhatsApp Syifa pun mengambil ponsel nya dari bawah bantal.

__ADS_1


Ia melihat Hanif memberinya sebuah pesan.


Hanif dan Syifa memang sedikit sering berkomunikasi bahkan hubungan mereka pun kian hari kian dekat, namun tak bisa dipungkiri perasaan Syifa pada Ustad yusuf memang masih sama, namun ia mulai mengubur dalam-dalam perasaannya. Syifa merasa jika tak seharusnya ia mencintai Yusuf karena ia kini telah menerima Hanif dalam hidupnya.


Syifa pun membuka pesan dari Hanif.


''Assalamualaikum calon ummi dari anak-anak ku.''


Syifa pun tersenyum melihat pesan dari Hanif, ia merasa jika Hanif berlebihan dengan menyebutnya calon ummi dari anaknya.


Ia menggerakkan jari lentiknya untuk membalas pesan dari Ustadz Hanif.


''Waalaikum salam Ustadz.''


Tak lama kemudian Hanif menjawab kembali pesan dari Syifa.


''Kamu main hp terus ya, aku dengar hafalan mu masih sedikit kurang.''


''Kata siapa? Hafalan ku sudah baik ko.''Syifa sedikit kesal karena pesan dari Hanif, ''Ustad sok tahu,'' gumam Syifa yang mengerucutkan bibirnya.


''Syukurlah karena kalau kurang baik aku takut jika kamu tidak lulus, karena aku tidak sabar untuk segera menjadikan kamu pendamping hidupku.''


Syifa tersenyum membaca pesan dari Hanif, namun sebelum ia membalas Hanif mengirimkannya pesan lagi, Ia pun tak percaya dengan apa yang Hanif katakan.


''Fa.. mungkin minggu depan aku dan keluarga ku akan menemui keluarga mu, aku hanya ingin jika hubungan kita mendapat restu dari orang tua mu.''


Syifa begitu terkejut dengan isi pesan yang Hanif katakan, bagaimana tidak ia sendiri kini masih duduk di bangku madrasah dan ia masih menjalani ujian semester bagaimana bisa Hanif berkata seperti itu.


Arin yang sedang di kamar bersama Syifa ia merasa jika Syifa sedang tidak baik-baik saja.


''Kamu kenapa?'' tanya Arin pada Syifa.


Arin sedikit aneh karena melihat Syifa yang sedikit gelisah.


''Mmm enggak ko, aku hanya sering lupa aja saat menghafal aku takut kalo nanti bisa lupa lagi,'' sahut Syifa mencari alasan agar Arin tidak curiga.


Syifa pun menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat Arin menatapnya dengan tajam.


''Aku harus jawab apa lagi, kenapa Ustadz Hanif begitu terburu-buru aku kan belum siap, bagaimana kalau aku beneran nikah sekarang,'' ia menggigit bibir bawahnya karena merasa sangat gelisah.


Tring... terdengar kembali sebuah notifikasi.


Syifa pun buru- buru membuka pesan ternyata masih dari Hanif, Syifa membuka pesannya dengan perasaan tak karuan hatinya sangat gelisah tangannya pun bergetar kali ini ia benar-benar seperti di buat jantungan.


Bukannya Syifa merasa tidak senang saat Hanif menunjukkan keseriusannya, namun ia sangat ketakutan. hal yang sangat asing baginya karena tak pernah Hanif membahas sesuatu yang serius dan ini kali pertamanya, ''semoga saja jika Ustadz Hanif benar-benar ke rumah ia tidak meminta untuk segera menikah, oh Tuhan aku sangat takut, usia ku masih sangat muda untuk menikah bagaimana jika itu terjadi.'' Syifa merasa ia frustasi.


Tring... Hanif kembali mengirimkan sebuah pesan.


''Buka jangan yah?''


Syifa bertanya pada dirinya sendiri ia bingung untuk membuka pesan dari Hanif atau membiarkannya.


Beberapa menit berlalu akhirnya Syifa membuka kembali pesan dari Hanif.

__ADS_1


Aku berharap semoga kita berada dalam aamiin yang sama.


__ADS_2