Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 108


__ADS_3

Yusuf kembali merasa galau pikirannya kini seakan terbang entah kemana bayangan Arumi kini terlintas dalam benaknya.


Baru saja tadi siang ia merasa bersalah karena keputusan yang ia ambil pada Maya tapi kini ia seolah mengambil keputusan yang sama juga.


Yusuf menarik napasnya kasar ia kini khawatir jika Arumi akan menolaknya, sebenarnya ia tidak masalah jika Arumi menolak nya tapi ia merasa segala keputusan yang ia ambil selalu terburu-buru membuat ia sendiri menyesali apa yang telah ia ambil.


Yusuf segera bersiap untuk segera ke masjid karena ia akan melaksanakan shalat berjamaah. Dengan pakaian yang sudah rapih Yusuf segera berjalan ke luar ia menuruni satu persatu anak tangga yang terlihat sudah sepi karena kedua orang tuanya dan juga keluarga Arumi telah lebih dulu pergi ke masjid.


Para santri dan santri wati kini sudah bersiap mereka kini melaksanakan shalat berjamaah dengan khusyuk setelah adzan selesai berkumandang.


Syifa dan ke tiga sahabatnya pun bersama shalat berdampingan dengan keluarga Arumi bahkan Syifa sangat senang ketika ia melihat keberadaan kak Dini dan juga lara yang berada bersama mereka.


Shalat telah selesai kini para santri dan santriwati mulai mengaji seperti biasa.


''Dek kamu ikut kakak ya,'' punya Dini pada Arumi karena perintah ayahnya agar membujuk Arumi.


Tanpa membantah Arumi pun ikut bersama kak Dini yang kini mengajaknya untuk menjadi rumah abah. Arumi pikir jika kedua orang tuanya akan kembali karena memang sudah sangat malam.


Arumi juga sudah tahu jika mereka tidak akan langsung pulang ke tempat mereka tinggal tapi kedua orang tuanya akan pergi ke rumah kak Dini yang berada di kota Bandung.


Arumi sama sekali tak menaruh curiga apapun hingga kini mereka berkumpul bersama keluarga Ustadz Yusuf. Bahkan keluarga Ustadz Yusuf dengan senang hati menyajikan makanan untuk keluarga nya dan wajar juga karena memang abah dan Ayahnya adalah sahabat sewaktu mereka di pondok.


Kini kedua keluarga itu sudah berkumpul dengan Arumi dan juga Yusuf yang berada di sana.


Abah kini membuka suara untuk mengatakan maksud dari keluarga nya.


''Arumi jadi seperti ini abah ingin mewakilkan jika maksud abah mengundang kami di sini untuk menyampaikan maksud dan tujuan Abah adalah untuk meminang kamu sebagai calon istri dari putra abah untuk Yusuf. Kami bersedia kan nak?''


Arumi yang mendengar penuturan dari Abah ia sangat terkejut bahkan ia sama sekali tidak menyangka jika ia akan di lamar si depan kedua orang tuanya dan saat ini juga.

__ADS_1


''Ayo nak jawab,'' Ucap Ayah Arumi seolah ia berharap pada putri nya untuk menerima lamaran yang Yusuf tujukan pada dirinya.


Terlihat senyum di setiap orang menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut wanita yang kini merasa sangat gugup.


Kak Dini mengusap lengan Arumi agar ia segera menjawab nya.


''Kak.'' Ucap Arumi karena ia bingung dengan jawaban apa yang harus ia katakan sementara Dini malah mengedipkan matanya seolah ia harus menerimanya.


Yusuf sendiri ia begitu berdebar entah perasaan apa yang kini ia rasakan andai Arumi yang akan menjadi jodohnya ia akan menerima dengan senang hati tapi andai Arumi menolak nya ia sudah pasrah dengan kemungkinan yang akan terjadi karena bagaimana pun itu adalah kesalahan yang ia perbuat.


''Yus.'' Ummi menyuruh agar Yusuf berkata langsung pada Arumi.


Yusuf menelan saliva nya dengan lidah yang terasa kaku ia memberanikan diri untuk bertanya langsung pada wanita yang kini berada di hadapan nya.


''Arumi apa kamu bersedia menjadi calon istri dari saya?'' Ucapan itu akhirnya keluar dari mulut seorang lelaki yang tidak lain adalah guru nya di pesantren.


Arumi hanya mengangguk pelan tanpa menjawab pertanyaan dari Yusuf namun langsung mendapat ucapan Syukur dari kedua belah pihak.


''Terima kasih nak.'' Ucap Ummi dengan senyum bahagia. Bahkan Dini sang kakak ia langsung memeluk adik nya dengan perasaan haru.


Ibu Arumi hanya tersenyum ia bahagia dan sangat bahagia tapi ada hati yang kini masih mengganjal ia sangat takut jika Arumi terpaksa menerima Yusuf hanya karena tidak enak jika ia menolak lamaran Yusuf.


Yusuf mengucap syukur ia tidak menyangka jika malam ini ia berhasil meminang wanita yang tidak lain adalah santrinya ia bahkan tidak memikirkan jika Arumi benar adalah sosok wanita yang selalu ada dalam mimpi nya saat ia ber istikharah.


Rasa Syukur yang tak bisa ia ungkapkan hanya perasaan yang begitu senang yang kini menyelimuti hatinya.


Sudah beberapa kali ia mengabaikan mimpi nya bahkan ia tidak mempercayai jika Arumi yang Allah pilihkan dengan memberi jawaban atas doa-doa nya tapi kini ia yakin Allah Maha pemberi petunjuk bagi setiap hambanya yang memohon padanya.


Acara lamaran telah selesai meski Yusuf tidak memberikan sebuah tanda lamaran pada Arumi karena ia sendiri tidak memikirkan lamaran nya akan ia lakukan hari ini.

__ADS_1


Kedua keluarga itu saling melepas rindu karena kini mereka akan kembali pulang dan menitipkan putri nya pada calon ibu mertua dari putri kesayangan nya.


''Kami pulang dulu gus. Saya titip Arumi'' Ucap ayah Arumi yang kini berada di depan pintu rumah abah.


Ayah Arumi kini menepuk pundak Yusuf yang berdiri mengantar kepulangan calon keluarga baru nya.


''Semoga Allah mempermudahkan jalan mu dan semoga kamu menjadi imam yang baik kelak.'' Ayah Arumi kembali menepuk Yusuf dan ia segera berlalu setelah mendengar ucapan Aamiin dari lelaki yang baru saja melamar putrinya.


''Kamu hati-hati ya dek di sini dan jangan lupa jangan dulu pacaran sama mas mu itu,'' goda Dini pada sangat adik yang langsung mendapat cubitan di lengan nya.


sementara Dini iya terkekeh dan segera masuk ke dalam mobil.


''Dah aunty Arumi.'' Ucao Lara sambil melambaikan tangan nya dari dalam mobil.


Arumi pun membalas lambaian tangan Lara sampai mobil itu menghilang dari pandangan nya.


Arumi membalikan tubuhnya ia mendapati Yusuf yang masih berdiam di samping nya.


''Ustadz kenapa melamar saya?'' Ucap Arumi sedikit gugup. Sungguh ia ingin sekali bertanya sejak tadi tapi ia tidak memiliki keberanian untuk mengungkap pertanyaan nya pada Ustad Yusuf.


''Karena Allah.''


''Karena atas ijin dari Allah saya melamar mu dan saya ingin bertanya kembali apa kamu benar bersedia menjadi istri saya Arumi, saya hanya ingin kamu ikhlas menerima saya tanpa sebuah paksaan.''


Arumi terdiam dengan perkataan Yusuf ia tahu memang benar karena Allah lah Yusuf melamar dirinya.


''Jika memang karena Allah Ustadz melamar saya makan saya akan menerima lamaran Ustadz.''


......................

__ADS_1


__ADS_2