Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 85


__ADS_3

Malam kini telah datang menyapa sepasang suami istri itu kini tengah bercengkrama dan berbagi pengalaman tentang semua yang telah mereka lalui.


Syifa tertawa mendengar cerita Hanif yang pernah membuat dirinya sangat malu saat di pesantren Yusuf.


Hanif pun ikut tertawa dengan mengingat pengalaman yang dulu pernah ia lalui.


''Sudah ah, perut aku sakit.'' Tutur Syifa yang sejak tadi tidak berhenti tertawa karena saking lucunya mendengar cerita Hanif.


Mereka pun kini terdiam dan membaringkan tubuhnya di kasur dengan menatap langit-langit kamar.


''Yang apa kamu mempunyai impian untuk kita ke depan?'' tanya Hanif yang tidak beralih menatap langit-langit kamar mereka.


''hmmmm.'' Syifa bergumam ia masih berpikir sejenak apa yang ia inginkan.


''Jika aku mempunyai impian yang aku rasa aku sulit untuk mewujudkan nya bagaimana?'' tanya Syifa yang kini menatap wajah tampan milik suaminya.


''Kita akan mewujudkan nya bersama, aku akan selalu bersamamu kita bisa meraih nya bersama.''


''Ih mas.'' Syifa pun bersemu ia selalu menyukai ucapan Hanif yang selalu membuatnya merasa jadi istimewa.


''Kenapa?'' tanya Hanif yang kini beralih menatap Syifa.


''Aku ingin kita membangun sebuah panti asuhan mas, aku sangat ingin melihat kebahagian anak-anak yang membutuhkan kasih sayang,'' Ucap Syifa yang merasa angan nya tak akan ia bisa gapai.


''Kenapa ingin membangun sebuah panti apa alasan kamu?'' tanya Hanif penasaran dengan keinginan istrinya.


''Kamu tahu mas, kamu pernah memberikan aku sebuah buku yang berjudul sayyidah khadijah istri rasulullan. Dulu sayyidah khadijah memberikan hartanya untuk umat islam bahkan ia rela hidup sederhana bersama nabi. Aku berpikir jika harta aku berikan mungkin aku tak akan mampu, karena aku sendiri tidak mempunyai banyak harta seperti sayyidah khadijah. Jadi aku ingin membangun panti karena aku akan memberikan kebahagian untuk anak-anak yang membutuhkan kita juga bisa memberikan mereka berbagai ilmu pemahaman agama untuk bekal mereka di saat dewasa, bukan kah seperti itu sama seperti menyiarkan syariah islam?''


Hanif yang mendengar perkataan Syifa ia merasa sangat bersyukur karena Syifa sungguh berhati lembut ia pun menghujani kepala Syifa dengan ciuman karena bahagia nya.


''Aku akan berusaha mewujudkan impian kamu sayang, kita akan bersama-sama membangun panti seperti apa yang kamu mau.''


Hanif pun memeluk Syifa dengan sangat erat ia sangat bersyukur karena beristrikan Syifa.


''Terima kasih mas.'' Syifa pun membalas pelukan Hanif. Ia sendiri merasa sangat bersyukur karena memiliki suami yang begitu sayang kepada dirinya.

__ADS_1


.


.


Seminggu telah berlalu.


Syifa dan Hanif kini tengah bersiap untuk kepergian Syifa yang akan kembali ke pondok karena masa libur telah berakhir. Namun Syifa tidak akan langsung ke pondok karena ia akan menghadiri pernikahan kaka sepupunya yang juga di daerah Bandung.


Ummi dan abi pun ikut untuk mengantar kepergian menantunya itu. mereka juga akan menghadiri pernikahan keluarga besannya.


''Sudah siap yang?'' tanya Hanif pada Syifa karena terlihat Syifa sedang bercermin membetulkan pakaian yang ia kenakan.


''Sudah mas.'' Ucap Syifa yang kemudian membalikan tubuhnya ke arah Hanif.


''Kamu sangat cantik.'' Hanif memandangi wajah Syifa yang kini berasa di hadapannya ia merasa sangat sedih karena ia harus kembali berpisah dengan istrinya.


''Iya dong aku kan sudah cantik sejak dalam kandungan.'' kekeh Syifa pelan berusaha menutupi kesedihannya karena ia sendiri tidak ingin berpisah dengan Hanif yang kini menjadi suaminya.


Meski hanya baru dua minggu tapi perasaan sayang di antara mereka kini telah tumbuh.


''Aku akan selalu merindukan kamu yang.'' Ucap Hanif yang kemudian memeluk Syifa.


Syifa tidak bisa berkata-kata lagi ia merasakan sesak di dadanya bahkan air mata yang sejak malam ia tahan kini tak bisa ia bendung lagi.


''Aku juga pasti sangat rindu mas.'' Lirih Syifa pelan ia bahkan kesulitan berkata karena suaranya kini terasa tercekat bahkan ia kini ia menangis di dalam pelukan Hanif.


Sepasang suami istri itu pun mencurahkan rasa yang sulit mereka pendam mereka menangis dalam diam menahan kerinduan yang akan mereka rasakan.


''Jangan menangis aku akan berusaha mengunjungi mu jika aku tidak sibuk.'' Tutur Hanif menghapus air mata Syifa yang kini jatuh ke pipinya.


Seulas senyum kini menghiasi wajah tampan milik Hanif ia berusaha bersikap tegar meski hatinya tak jauh berbeda dengan Syifa tapi ia tidak ingin jika ia terlihat sedih dan membuat Syifa merasa lebih sedih.


''Sudah jangan menangis lagi, nanti cantik kamu hilang bahkan kamu sudah jelek sekarang.'' Ucap Hanif lalu melepas pelukannya.


Syifa akhirnya sedikit tertawa karena Hanif malah menggodanya.

__ADS_1


''Ih mas malah gitu.'' Ucap Syifa dengan tawa dan juga linangan air mata yang tak bisa ia reda.


Mereka pun akhirnya berjalan ke luar setelah merasa sedikit tenang karena kini ummi dan abi sudah menunggunya untuk segera pergi.


''Sudah siap nak?'' tanya Ummi pada Syifa yang masih berjalan di tangga.


Syifa pun tersenyum menyembunyikan kesedihan yang baru saja ia rasakan.


''Sudah ummi.''


''Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang,'' Tutur abi yang kemudian di setujui Hanif karena Hanif sendiri yang akan membawa menyetir mobilnya.


Hanif meletakan berbagai barang bawaan yang ia bawa dan juga pakaian ganti untuk mereka selama di Bandung karena mungkin mereka akan membutuhkan.


Perlahan mobil berwarna hitam itu pun berjalan meninggalkan pekarangan rumah ummi dan melaju di jalan perkampungan sebelum mereka benar-benar meningal kan kita kelahiran Hanif.


Syifa duduk di depan bersama Hanif sedangkan ummi dan abi berasa di belakang mereka.


Seperti biasa ummi menyarankan untuk berangkat di saat malam dan mereka akan sampai tujuan di saat pagi.


Suasana yang terlihat tidak terlalu ramai dengan kendaraan membuat mobil Hanif melaju dengan cepat di jalanan.


Mereka tidak akan langsung ke pondok tapi mereka akan menuju hotel dimana kedua orang tua Syifa berada karena esok Hari pernikahan Andrian.


Ibu dan ayah Syifa bahkan sudah lebih dulu berada di sana menunggu kedatangan putri dan juga keluarga menantunya.


Ummi dan abi sudah tertidur sementara Syifa ia tidak memejamkan matanya ia ingin menikmati perjalan bersama suaminya dan sesekali mereka mengobrol untuk menghilangkan kantuk yang datang menyapa.


''Kamu istirahat saja yang, ini sudah terlalu larut malam.'' Ucap Hanif kerena kini sudah menunjukan pukul tiga malam.


''Enggak mas, aku mau menemani kamu aja, lagian aku gak ngantuk.'' Tutur Syifa menutupi kantuknya


''Biarlah malam ini aku habiskan bersama kamu mas, karena esok hari kita akan kembali berpisah.'' Lirih Syifa dalam harinya.


......................

__ADS_1


__ADS_2