
Hanif berusaha untuk memejamkan mata nya namun perkataan Syifa yang mengungkapkan jika ia belum siap jika hubungan pernikahan mereka di ketahui banyak orang membuat Hanif merasa serba salah bahkan rasa kantuk yang sebelum nya ia rasakan menghilang seketika.
Hanif pikir tidak ada salah nya jika ia mengikuti saran ummi nya untuk berdiam di sana hingga Syifa lulus karena hanya Dua bulan lagi Syifa akan lulus. Apalagi mengingat dirinya dan Syifa sudah sah.
Namun ia juga tidak bisa memaksakan akan hal itu jika memang Syifa belum siap justru ia akan lebih merasa tertekan apalagi Hanif sangat tahu betul jika istrinya kini sedang ujian. Ia sendiri tidak bisa egois karena bagaimana pun ia tidak ingin jika Syifa mengalami masalah.
Hanif kembali merebahkan badan nya ia berusaha berpikir positif agar salah paham dirinya tidak membuat ia jadi salah menilai Syifa. Hingga akhirnya ia terlelap dalam lamunan nya.
.
.
Syifa yang masih diam di taman ia memandangi buku yang sejak tadi ia pegang ia sendiri memikirkan apa yang tadi suami nya katakan. '' Apa sikap aku salah ya.'' Tanya Syifa pada diri nya sendiri.
Syifa membuka kembali buku di tangan nya dan mencoba untuk fokus kembali. Namun tetap saja tidak bisa ia hanya merasa jika dirinya bersalah karena egois dalam pernikahan mereka.
Arumi yang sejak tadi juga belajar ia kini hendak pulang ke kamar nya namun karena Syifa yang sempat ia tinggal karena ia kebelet pipis mau tak mau ia harus kembali ke taman.
Arumi mempercepat langkah nya menuju taman. Matanya kini menangkap sosok Syifa yang masih sibuk dengan buku-buku yang ia pegang membuat Arumi bernapas lega karena Syifa masih berada di sana.
__ADS_1
''Kita ke kamar yuk.'' Ajak Arumi karena ia merasa kantuk yang kini ia rasakan bahkan ia sudah tidak bisa mengingat hafalan nya.
Entah berapa lama mereka menghabiskan waktu untuk belajar. Hari ini saja mereka pulang dari madrasah langsung pergi ke perpustakaan karena tugas yang tak bisa mereka tunda. Mau tidak mereka harus mengerjakan setumpuk tugas yang menggunung. Belum lagi tugas hafalan yang sejak tadi mereka belajar di taman untuk sekedar membuat otak mereka sedikit fresh. Bahkan di saat ini saja tugas menyalin hukuman karena mereka kesiangan sama sekali belum mereka kerjakan.
Sudah habis sudah masa-masa dimana mereka menghabiskan waktu santai mereka untuk sekedar bersantai kini mereka harus belajar fokus untuk kepentingan ujian mereka sendiri.
Syifa menatap Arumi sekilas namun ia menundukkan kembali tatapan nya membuat Arumi mengerutkan dahi nya.
''Fa ayo.'' Ajak Arumi karena sungguh ia merasa kantuk nya tidak juga hilang bahkan sesekali ia menguap. Entah karena kemarin malam mereka bergadang semalaman membuat ia tidak bisa menahan kantuk nya.
Syifa hanya menunduk dalam ia tidak yakin untuk menceritakan hal pribadi nya apalagi ia merasa jika itu tebakan nya saja, tapi ia juga tidak bisa memendam kegundahan yang kini membuat beban pikiran semakin bertambah.
Arumi kini sadar apa yang membuat sahabat baiknya malah melamun sangat berbeda. Arumi menarik napasnya panjang ia sendiri tidak tahu jelas tentang hubungan Syifa dengan Ustadz Hanif suaminya atau masalah apa yang terjadi pada Syifa. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan Syifa terbebani di saat beban pikiran nya kian bertambah.
''Hmmm menurut aku sih ya enggak salah karena kamu juga masih sekolah fa,'' emang kenapa?'' Tanya Arumi seakan ia ingin tahu sebenarnya masalah dalam rumah tangga nya meski ia tidak yakin jika solusinya akan membantu Syifa namun setidak nya dengan Syifa menceritakan masalah nya akan membuat Syifa sedikit merasa lega.
Syifa pun menceritakan apa yang mengganggu nya pada Arumi dengan detail karena ia sendiri berpikir masa suami nya marah hanya karena hal sepele seperti itu.
''Bisa jadi sih Fa, bisa jadi karena perkataan kamu itu menyinggung perasaan nya. Ya saran aku sih ya gak apa-apa jika Ustadz Hanif ingin bersama kamu, Ustadz Hanif juga kan bisa jadi tenaga pengajaran di sini jadi gak ada yang curiga dan jika soal pernikahan kamu itu harusnya kamu sudah bisa pikirkan konsekuensi nya karena kamu memang sudah menikah dengan Ustadz Hanif.'' Arumi berkata menurut sudut pandang nya meski ia sendiri tidak yakin benar dengan ucapan nya.
__ADS_1
''Aku saja jika Ustadz Yusuf tidak ingin jika hubungan kita di ketahui orang jika kita sudah bertunangan. Ya bisa jadi kan aku kesal bahkan mungkin sempat berpikir apa Ustadz Yusuf masih mencintai kamu atau dia tidak bisa menerima pernikahan yang akan terjadi.'' Ucap Arumi sontak membuat Syifa menjadi terkejut karena ia tidak menyangka Arumi akan berkata seperti itu.
Tapi berbeda dengan Arumi ia terlihat biasa saja karena ia yakin Ustadz Yusuf tidak seperti itu, hanya saja ia mengumpamakan pikir Arumi tanpa sedikit pun hati nya berniat mengungkit masa lalu Syifa dengan Ustadz Yusuf karena ia sendiri tahu jika Syifa sudah cinta sama Ustadz Yusuf dan begitupun sebalik nya.
''Udah ah jangan berkata seperti itu, lagian kan Ustadz Yusuf udah tunangan sama kamu.'' Ucap Syifa merasa khawatir jika Arumi malah salah paham padanya atau berpikir yang lain-lain yang akan berimbas buruk pada persahabatan mereka.
Arumi hanya terkekeh karena Syifa terkejut dengan perkataan dirinya.
''Ya kan seandainya Syifa nadira.'' kekeh Arumi berdiri karena ia merasa sangat lelah ia ingin segera tidur di kasur nya.
''Ya sudah ayo kita kembali ke kamar aku beneran ngantuk nih.'' Arumi memelas agar Syifa segera bangun dari duduk nya.
''Kamu gak apa-apa kan duluan? aku mau telepon dulu ya.'' Ucap Syifa meminta persetujuan dari Arumi karena ia ingin mendengar langsung apa yang membuat Hanif suaminya marah atau entah lah itu namun yang jelas ia hanya ingin menenangkan pikiran nya sebentar.
Arumi hanya mengangguk dan mengusap pundak Syifa ia segera berjalan meninggalkan Syifa memberi kebebasan pada Syifa. Ia tahu betul perasaan Syifa saat ini bahkan tanpa ia tanyakan ia sudah mengetahui jika Syifa sedang merasa terbebani karena masalah nya.
Syifa segera mencari kontak suami nya dan menelpon kembali namun dua kali ia memanggil nya tak kunjung mendapat jawaban membuat Syifa bernapas berat bahkan ia yakin jika suami nya kini sedang marah padanya.
......................
__ADS_1