Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 128


__ADS_3

''Aku min-'' belum juga Nadia menyelesaikan perkataan nya Andrian segera merangkul tubuh istrinya Andrian sangat tahu jika Nadia akan meminta maaf pada nya.


''Aku minta maaf sayang, aku minta maaf karena telah menyakiti kamu aku minta maaf karena telah meninggalkan kamu dan juga anak kita aku minta maaf.'' Lirih Andrian dengan tangis yang ia tahan.


Tak pernah ia merasakan hal seperti ini Andrian merasa sangat perih sekali entah apa yang membuat ia menyayangi sosok Nadia ia sangat menyayangi Nadia.


Nadia sendiri tak bisa berkata-kata ia sendiri menangis di dalam pelukan suami nya satu kata yang kini ada dalam hati nya ia sangat menyesal dan sangat bersyukur karena Andrian kini kembali pada nya.


Nadia merasa hampir gila karena kepergian Andrian yang secara tiba-tiba bahkan tak ada yang mengetahui kemana suami nya pergi. Ia seakan di tinggalkan seorang diri andai saja tidak ada bayi yang kini berada di dalam tubuhnya entah apa yang akan menyadarkan dirinya atau bahkan penguat dirinya di saat Andrian tidak ada meski tanpa ia sadari jika dirinya pernah hampir saja melenyapkan darah daging nya sendiri.


Beberapa menit telah berlalu hanya keheningan yang mengisi kamar mereka tak ada yang berani berbicara mereka hanya terdiam dengan pikiran masing-masing.


Hingga kini Andrian membuka suara.


''Kamu sudah makan?'' tanya Andrian dengan menatap wajah Nadia.


Nadia hanya mengangguk ia merasa sedikit canggung dengan keadaan nya sekarang.


''Ya sudah kita istirahat kamu harus lebih banyak istirahat.''


Andrian mengusap perut Nadia yang terlihat membuncit bahkan ia merasakan kehidupan yang tumbuh di sana.


''Maafkan ayah sayang kamu sehat-sehat di sana.'' Batin Andrian berkata.


Mereka pun tidur meski sebenarnya rasa kantuk di antara mereka telah hilang seketika.


.


.


Pagi ini Syifa dan ketiga sahabat nya sudah harus berada di madrasah untuk memenuhi berbagai tugas dan ujian praktek yang sudah di mulai sejak hari ini.


Syifa sudah sering menghapal apalagi kali ini ia sangat bersemangat karena ia tidak mungkin membuat nilai akhirnya jelek.


Syifa sering menghabiskan waktu nya bersama ketiga sahabatnya yang selalu menemani nya belajar karena memang kini waktu mereka sudah tidak banyak lagi apalagi dia minggu lagi mereka akan ujian.


''Aku ko deg-degan yah.'' Ucap Syifa merasa sedikit gugup karena kali ini ia akan menyetorkan hafalan berikut ujian lisan lain nya dan berbagai praktik si madrasah.

__ADS_1


''Iya benar aku juga apalagi tangan aku begitu dingin.'' Arumi merasa gugup entah kenapa memang seperti itu.


Suara bel sudah berbunyi kini para santri dan santriwati sudah berada di kelas mereka.


terlihat semua santri dan santriwati mempersiapkan diri mereka untuk melewati ujian nya kali ini.


Ustadzah Nurul kini berjalan memasuki ruangan ia mengucapkan salam dan segera duduk di depan kelas.


Satu per satu nama santri baik santriwati sudah di panggil hingga kini nama Syifa yang di panggil. Syifa menjalankan kaki nya ke depan dan menerima berbagai pernyataan dari Ustadzah Nurul bahkan Syifa juga menjelaskan segala pertanyaan yang di tujukan dari Ustadzah Nurul pada nya.


Dengan sangat cepat Syifa menjawab pertanyaan dari Ustadzah Nurul bahkan nilai yang ia dapat sangat memuaskan.


Satu persatu pertanyaan sudah selesai ia jawab membuat Syifa bernapas lega ia kembali ke kursinya dengan senyum yang mengembang.


Syifa sendiri yakin jika hasil ujian nya kali ini ia akan mendapatkan nilai yang bagus.


Bel kembali berbunyi saat nya untuk istirahat.


''Ah aku lapar.'' Ucap Syifa merasakan perutnya sedikit lapar mungkin karena otak nya terus saja di paksa untuk bekerja membuat dirinya sangat mudah lapar.


Arin dan Arumi segera mempercepat langkah nya di ikuti juga dengan Desi.


''Ih nyebelin aku yang bilang lapar mereka lebih dulu aja.'' Syifa sedikit menggerutu karena ia malah di tinggal begitu saja.


Syifa berjalan perlahan meski kesal dirinya tetap merasa lapar.


Ia menundukkan kepala nya dan berjalan ke arah pintu. Namun langkah nya terhenti saat sebuah tangan menghalangi langkah nya.


''Ih awas.'' Ucap Syifa tanpa sedikit menoleh ia kira jika tangan itu adalah tangan milik dari santri yang sekelas dengan nya.


Syifa mengangkat kepalanya ia kini menatap tidak percaya.


''Mas.'' Syifa tersenyum berapa ia sangat senang karena keberadaan suami nya yang datang secara tiba-tiba bahkan ia tidak memberikan kabar kedatangan nya.


''Mas ko gak bilang-bilang sih.'' Syifa menarik lengan Hanif dan mencium tangan nya.


Hanif hanya tertawa dengan senang melihat reaksi yang Syifa tunjukan.

__ADS_1


''Kan aku mau kasih kamu kejutan.'' Ucap Hanif dan segera duduk di depan kelas Syifa.


''Ia deh.''Syifa mengedarkan pandangan nya meski kini tak banyak santri atau santriwati namun mereka menatap heran pada Hanif dan juga Syifa. Syifa bersikap biasa saja ia akan mengikuti keinginan suaminya jika Hanif memang ingin segera hubungan mereka di ketahui banyak orang.


Syifa sudah berpikir juga memang tidak ada salah nya ia mengikuti keinginan Hanif bagaimana pun Hanif adalah suami nya.


''Kita cari makan yuk.'' Ucap Hanif mengajak Syifa berjalan ke arah mobil nya.


''Tapi kita tidak punya waktu lama mas.'' cicit Syifa mengikuti langkah kaki Hanif.


''Tidak apa-apa yang, aku ada pembicaraan serius.'' Hanif tersenyum lebar.


Tanpa menghiraukan banyak sepasang mata yang menatap heran pada kedua sepasang suami istri itu Hanif dan Syifa segera masuk ke dalam mobil yang akan membawa nya pada suatu tempat.


''Kamu lapar kan?'' tanya Hanif saat mobil nya sudah meninggalkan kediaman abi dan melakukan semakin jauh.


Syifa hanya tersenyum dan memegang jemari suaminya.


''Katanya gak mau orang lain tahu tentang hubungan kita.'' Hanif menggoda Syifa yang tidak hentinya melempar senyum pada dirinya.


''Itu kan dulu mas. Tapi ya aku pikir tidak apa-apa lagian kita suami istri.'' Ucap Syifa dengan tenang.


Hanif mengusap lembut kepala Syifa sementara sebelah tangan nya ia gunakan untuk menyetir mobil nya.


''Mas apa mas akan tinggal di sini?'' tanya Syifa karena waktu itu Hanif bilang jika dirinya akan mengikuti saran dari ummi.


Hanif menoleh sesaat dan kembali menoleh ke jalanan.


''Sepertinya mas tidak bisa yang.''


''Kenapa?'' Syifa mengerutkan kening nya bukan kah suaminya sendiri ingin jika ia bersama tapi kenapa kini berubah lagi.


''Mas tidak bisa yang karena abi sudah berusia tak mungkin mas membuat abi dan ummi berdua. Apalagi jika mas disini pondok akan di ambil alih oleh abi kasihan yang.'' Hanif mencoba menjelaskan.


Sebenarnya ingin sekali ia tinggal di pondok agar ia bisa bersama Syifa tapi ia tidak bisa egois karena abi lebih jauh membutuhkan dirinya sekarang. Apalagi Syifa sedang akan ujian mungkin dengan berpisah dulu Syifa banyak waktu untuk belajar.


......................

__ADS_1


__ADS_2