Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 17


__ADS_3

Hari hari telah berlalu Syifa yang sudah melupakan kejadian hari itu ia lebih sering di disibukan dengan segala kegiatan di pesantren maupun di madrasah.


Ia juga sudah tidak pernah bertemu lagi dengan Ustadz Yusuf, mungkin memang ia pun sedang sibuk karena mengambil alih pesantren memang pasti membuatnya sedikit sibuk.


Di perpustakaan.


Syifa yang sudah selesai mengerjakan tugas Kelompoknya bersama Arini, Arumi dan Desi mereka segera berlari ke madrasah karena 3 menit lagi jam pelajaran akan segera di mulai.


Saat pintu terbuka bel pun berbunyi untunglah mereka tepat waktu karena jika tidak sudah jelas Ustadz Hanif tidak akan membiarkan siapa saja yang telat di jam pelajarannya tidak akan mendapatkan pembelajaran di kelas.


Mereka yang telat akan menunggu di luar sampai pelajaran selesai dan akan mendapatkan hukuman menyalin semua pelajaran yang telah santri dan santriwati lain pelajari hari itu juga.


Syifa pun merapikan bajunya dan duduk di kursinya.


Terdengar langkah kaki yang mendekat semua santri telah bersiap untuk menerima pembelajaran.


''Assalamualaikum.''


''Waalaikumusalam.'' Syifa menengadahkan pandangannya ia terkejut karena suara yang jelas sangat ia kenal.


''Waalakumusalam wr.wb.'' jawab semua santri.


''untuk hari ini saya akan menggantikan Ustadz Hanif mengajar karena Ustadz Hanif berhalangan sakit, mohon untuk kerjasamanya.'' Yusuf menjelaskan.


Yusuf pun duduk di kursinya ia terlihat biasa saja seperti tidak pernah ada sesuatu dengan Syifa, ia terlihat sangat fokus saat mengajar, Syifa yang melihat Yusuf bisa setenang itu ia pun tidak mempermasalahkannya karena itu akan lebih baik dan lebih mudah baginya untuk melupakan Ustadz Yusuf.


hingga bel berbunyi untuk jam istirahat Yusuf pun ke luar dan pergi ke kantor.


''Syifa, apa kamu rasa ada yang berbeda dengan Ustadz Yusuf tadi?'' kata arin yang sepertinya memperhatikan Ustadz Yusuf yang terlihat sangat dingin.


''enggak biasa aja deh kayaknya.'' Sahut Syifa padahal Syifa juga menyadari itu karena tidak biasanya Ustadz Yusuf sedingin tadi.


''Mungkin karena kita udah terbiasa aja kali sama Ustadz Hanif yang sedikit lebih hangat.'' sahut Desi yang mulai duduk di meja Syifa.


''Udah yuk ah kita ke kantin aja lagian aku lapar.'' Syifa pun segera bangun dari duduknya dan berjalan keluar.

__ADS_1


Mereka pun berjalan ke luar tapi betapa kagetnya Syifa saat ia melihat Ustadzah Nadia yang sedang berjalan keluar dari kantor dan terlihat di belakangnya ternyata ia bersama Ustadz Yusuf.


''Mereka memang sangat serasi seperti sepasang kekasih aku ikhlas jika Ustadz Yusuf bersama Ustadzah Nadia memang Ustadz lebih cocok bersama Ustadzah Nadia.'' Syifa berkata dalam hatinya namun tidak bisa di pungkiri di hati kecilnya ia merasa tercubit lagi-lagi ia melihat kebersamaan mereka.


''Hei lihat deh kapan tuh nenek sihir balik ke sini bukannya keluar aja, andai aku jadi pemilik pesantren ini gak bakalan aku biarin dia balik lagi ke sini.'' Arini yang benar-benar gemas melihat Ustadzah Nadia yang sedang berjalan lebih mendekat.


''Udah gak baik membicarakan orang kayak gitu, lagian dia tetap seorang Ustadzah ayo kita pergi rin,'' Desi menyeret tangan Arin untuk segera pergi ke kantin.


Sementara Syifa yang sudah jalan terlebih dahulu bersama Arumi ia tidak ingin jika hatinya terluka lebih dalam.


Nadia kembali ke pesantren karena memang ia bertujuan untuk mengambil yang menurutnya adalah miliknya ia benar-benar keras kepala.


Abi Husein dan ummi Nur datang bersama Nadia dan memohon kepada abah dan ummi untuk tidak mengeluarkan Nadia menurutnya Nadia akan berubah ia janji tidak akan mengulanginya kembali abah dan ummi yang merasa tidak enak hati pun membiarkan Nadia kembali ke pesantrennya.


Hanif yang mengetahui kalau Nadia kembali ke pondok ia merasa tidak yakin jika Nadia akan berubah ia sedikit khawatir jika Nadia akan melakukan apa yang pernah ia lakukan kepada Syifa tapi ia mencoba berfikir positif, apalagi ia pun telah mengetahui kalau Syifa telah memutuskan tidak menerima lamaran Yusuf.


Hanif yang menghabiskan waktunya di kamar ia sedikit merasa bosan Ia pun mencoba ke luar untuk mencari udara segar.


Hanif pun berjalan ke taman di sebelah belakang perpustakaan pesantren. Ia mendudukkan dirinya di bawah pohon rindang dan memejamkan matanya Ia pun menghirup udara segar yang membuatnya sedikit tenang.


''Astagfirullah kenapa aku malah mengingat wanita itu, tapi pantas saja jika Yusuf benar-benar mencintai Syifa. aku sendiri bisa saja mencintainya tapi apa yang akan Yusuf katakan mungkin aku akan di sangka sebagai penghianat, kenapa bisa serumit ini.''


Hanif memang menyukai Syifa, namun ia tak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya, ia terlalu takut akan apa yang Yusuf katakan apalagi saat ini Yusuf masih mencintainya bahkan ia masih berharap jika Syifa suatu saat akan menerimanya.


Dret.. dret...


ponsel Hanif berbunyi.


Hanif segera merogoh ponsel di saku celananya terlihat ummi nya menelpon.


“Assalamualaikum ummi?''


''Waalaikumusalam, kamu kapan pulang nak? Abi sedang sakit.''


Hanif yang sedang bersantai pun sedikit khawatir karena ummi memberi kabar bahwa Abi nya sakit.

__ADS_1


''Iya ummi mungkin esok hari aku akan pulang.''


Hanif yang telah mengakhiri teleponnya pun segera kembali ke kamarnya pikirannya sedikit tidak tenang.


.


.


Nadia yang sedang di kantin ia tersenyum licik menatap Syifa ia merasa bahwa sebentar lagi ia akan mendapatkan apa yang selama ini ia harapkan, karena tidak mungkin Yusuf akan lebih memilih Syifa menurutnya memilih Syifa adalah hal bodoh jika itu benar-benar terjadi.


Yusuf yang menyadari keberadaan Syifa di sana ia lebih memilih diam ia memilih kursi yang cukup sedikit jauh dari Syifa meski di dekat Syifa ada bangku kosong.


Nadia pun menghampiri Yusuf dan duduk bersamanya, memang benar kedekatan mereka itu seperti seorang kekasih namun Yusuf tidak seperti itu, menurutnya Nadia itu seperti adiknya sendiri.


.


.


Di rumah abah.


''Abah... abah yakin jika Nadia tidak akan mengulangi hal bodoh lagi kan? ummi khawatir jika kali ini dia akan berbuat lebih nekat.'' Ummi menatap abah lekat-lekat ia sangat khawatir jika memang hal buruk akan terjadi kembali.


''Entahlah mi, abah sendiri berpikir hal yang sama, mungkin ini saatnya kita harus memaksa agar anak kita lebih cepat memutuskan untuk segera memiliki pendamping mungkin itu lebih baik.''


''Maksud abah? Nadia akan menjadi menantu kita? ummi tidak setuju bah, ummi gak mau mempunyai menantu yang temperamental seperti Nadia.''


''Kita akan serahkan semuanya pada Yusuf ummi, biarkan dia yang menentukan hidupnya.''


Ummi yang sedikit cemas ia meremas tangannya apa yang akan Yusuf lakukan, ia khawatir pada Syifa sungguh gadis yang malang kenapa dia terlibat dalam urusan yang serumit ini.


.


Sementara hanif yang berada di kamarnya ia mulai mengemasi barang-barangnya untuk esok hari pulang ke daerah asalnya ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Abi nya.


Apakah cinta ini memang tidak seharusnya tersampaikan, andai jika memang Syifa yang akan menjadi jodohku semoga Engkau permudah, namun jika memang dia bukan jodohku maka berikanlah dia jodoh yang lebih baik dariku.'' Hanif berdoa dalam hatinya ia memang menyadari cintanya namun sangat sulit untuk mengungkapkannya.

__ADS_1


__ADS_2