
''Astagfirullah.'' Gumam Yusuf yang melihat data-data yang Adi kirimkan.
Ia segera membuka kembali ponselnya yang terlihat banyak sekali panggilan masuk.
Yusuf berniat menelpon Adi yang memang belum pulang, namun ia kembali mengurungkan niatnya. Ia takut jika Adi sedang dalam perjalan untuk pulang dan ia malah tidak fokus saat di jalan.
Yusuf menarik nafasnya panjang, kali ini ia mengalami kerugian yang cukup besar karena udang yang seharusnya sudah datang sejak kemarin mengalami keterlambatan, sehingga pihak pembeli berniat untuk berhenti bekerjasama dengannya.
''Kenapa ini bisa terjadi,'' gumam Yusuf yang tidak habis pikir, apalagi kemungkinan kerugian kali ini akan sedikit besar karena pihak pembeli yang meminta uangnya kembali sekaligus biaya yang harus Yusuf keluarkan untuk kompensasinya.
Suara deru mobil yang terdengar oleh Yusuf membuatnya segera beranjak dari duduknya. Ia mempercepat langkahnya untuk segera keluar dari kamar.
Yusuf rasa kalau itu adalah Adi.
Terdengar salam dari luar, benar saja kalau itu adalah Adi. Yusuf segera membuka pintu, karena memang ia telah mengunci pintunya.
Terlihat raut wajah Adi yang sedikit tegang membuat Yusuf memberinya kesempatan untuk Adi istirahat dulu.
Adi tahu jika kakaknya ingin menanyakan apa yang terjadi sebenarnya.
Adi yang telah mendudukkan dirinya di kursi ia sedikit gugup untuk menjelaskan apa yang terjadi.
''Kak....'' Adi tak melanjutkan perkataannya, ia sangat khawatir jika kakaknya akan memarahinya.
''Iya.'' Jawab Yusuf dingin.
Yusuf memandangi adiknya dengan perasaan yang campur aduk.
''Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa pasokan udang itu datang terlambat? harusnya kamu dengan cepat memantaunya!'' Yusuf tak habis pikir dengan apa yang Adi lakukan.
Adi tidak bisa menjawab apa yang kakaknya tanyakan, ia benar-benar lalai dalam menjalankan tugasnya.
''Aku minta maaf kak, tapi aku udah memesan ke pihak perusahaan lain untuk segera mengganti pesanan yang tertunda, karena stok udang yang kita miliki tidak cukup untuk memenuhi pesanan yang itu.'' Tutur Adi dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Yusuf hanya bisa membuang nafasnya kasar ia memutuskan untuk turun tangan untuk membereskan permasalahannya.
Banten.
Hanif yang baru saja pulang dari masjid ia pergi ke dapur untuk mengambil minum.
''Ummi kira kamu belum pulang.'' Ummi berkata sambil membawa beberapa makanan dari dalam kulkas.
Hanif tak menjawab pertanyaan ummi nya ia hanya melirik ke arah ummi nya karena ia sedang minum.
''Kamu mau makan han?'' Tanya ummi yang memperhatikan putranya.
''Iya boleh mi, aku sedikit lapar.'' Sahut hanif yang menoleh ke arah ummi yang sedang menyajikan makanan di meja.
''Han, kenapa kamu gak pernah cerita sama ummi kalau Lita berpenampilan seperti itu jika diluar sana, padahal selama ini yang ummi tahu kalau Lita adalah seorang muslimah yang taat pada agama.''
Tutur ummi mengungkapkan pertanyaan yang sudah berhari- hari mengganggu pikirannya.
''Ummi....'' Hanif sedikit tidak suka dengan nada bicara ummi yang terdengar seperti menilai Lita.
''Bukan maksud Hanif seperti itu ummi, tapi justru dengan cara halus seperti itu Lita bisa berubah, coba ummi bayangkan jika aku memaksa nya untuk berhijab, apa yang akan Lita pikirkan? alangkah baiknya jika ia sadar sendiri seperti sekarang, ia merasa tidak ada paksaan dalam memutuskan hal dalam kehidupannya tapi ia menyadari betapa harusnya seorang muslimah untuk menutupi auratnya, untuk menjaga kehormatannya.'' Hanif berkata begitu panjang lebar, ia tidak ingin jika ummi nya memiliki prasangka buruk terhadap Lita maupun dirinya.
Ummi tersenyum bangga pada putranya, ternyata putranya sangat memiliki pandangan yang luas.
''Iya, iya ummi paham apa yang kamu bicarakan.''
Ummi tersenyum dan mengusap punggung Hanif.
''Ayo kita makan, memangnya ummi gak mau makan?'' ajak Hanif yang sudah menyuapkan makanan kedalam mulutnya.
''Ummi kira kamu akan balikan lagi sama Lita, karena ummi lihat sepertinya Lita masih mencintai kamu han,''
Uhuk... uhuk....
__ADS_1
Hanif yang sedang makan ia pun tersedak karena apa yang ummi nya katakan.
''Pelan-pelan han,'' ummi mengingatkan, ummi pun mengambilkan segelas air untuknya.
Hanif pun segera menerima gelas yang ummi berikan, dan segera meneguk airnya hingga tandas.
Hanif menatap ummi nya dengan selidik, ia sedikit merasa jika ummi nya mengetahui kalau memang Lita masih menyimpan perasaan padanya.
''Itu hanya perasaan ummi saja.'' Hanif kembali memakan makanannya dan berusaha mengalihkan pertanyaan ummi lagi.
''Memangnya kamu sudah gak cinta sama Lita? tapi ummi lihat kalian memang cocok, ummi harap sih kalau Lita benar-benar berubah.'' Ummi menggoda Hanif kembali.
''Ummi.'' Hanif memperingatkan, ia tidak menyangka jika ummi nya akan berkata demikian.
Ummi pun tertawa karena berhasil mengerjai anaknya, ia tidak benar-benar berkata seperti itu karena ummi sudah mengetahui jika memang Hanif telah memiliki pilihannya sendiri.
Bandung.
Jam menunjukkan Pukul 22:00 malam, namun Syifa belum juga bisa memejamkan matanya, rasa kantuk yang tak kunjung datang membuatnya memikirkan apa yang Arin alami, ia sungguh merasa kasihan karena Arin yang merindukan kasih sayang dari kedua orang tuanya, meski ayahnya selalu mengunjungi Arin itupun jika di pesantren sedang mengadakan acara pertemuan dengan para orang tua santri sedangkan untuk kebutuhan Arin selama di pondok ayahnya memang selalu mencukupi dengan mentransfer uang yang pasti mencukupi kebutuhan Arin.
Tapi bukan hanya kebutuhan materi saja yang selalu di inginkan setiap anak, tapi kasih sayang lah yang lebih utama, karena Syifa sendiri pernah merasakan di posisi Arin sekarang.
Sebelum Syifa mengetahui semuanya tentang kehidupan Arin, ia justru sering berpikir jika dirinya tak seberuntung Arin yang terlihat selalu bahagia, apalagi Arin memang mempunyai segudang prestasi yang membuatnya selalu menjadi pusat perhatian para guru dan santriwati, namun ternyata Arin memiliki sebuah lubang dalam hidupnya.
''Semoga saja ayah dan ibunya bisa berubah,'' gumam Syifa yang menatap tubuh Arin yang sudah terlelap tidur.
Syifa kembali membaringkan tubuhnya dan menyelimuti tubuh mungilnya dengan selimut, cuaca yang memang sedikit dingin namun tak membuat matanya ingin terlelap juga.
''Kenapa aku gak bisa tidur sih.'' Gumam Syifa yang sudah berharap jika ia bisa mimpi indah.
Akhirnya Syifa memutuskan untuk bangun kembali untuk melaksanakan shalat malam.
Ia pun berjalan perlahan ke kamar mandi karena ia takut jika ke tiga sahabatnya terganggu. Ia pun mulai membasuh wajahnya dan berwudhu.
__ADS_1
Hal yang tak pernah Syifa lakukan sebelum masuk pondok, ia tidak pernah melakukan shalat malam bahkan shalat wajib saja dulu dengan sengaja ia sering tinggalkan, namun sejak masuk pondok ia merasa sedikit banyak perubahan dalam hidupnya, ia sangat bersyukur karena dapat menimba ilmu di pondok pesantren yang membuat hidupnya lebih mengenal Rabb nya.