
Syifa dan Hanif pun berjalan keluar setelah melakukan serangkaian pemeriksaan.
Syifa merasakan gelisah ia masih takut jika akhirnya ia hamil meski Syifa mempunyai suami namun keadaan yang sepertinya tidak memungkinkan.
''Andai saja aku tidak secepat itu memberikannya pada mas Hanif.'' Tutur Syifa dalam hatinya.
Hanif yang melihat istrinya terus murung ia pun mengusap puncak kepalanya dengan lembut.
''Kenapa? kamu masih takut jika hamil?'' tanya Hanif kemudian mengelus pipi Syifa dengan lembut ia mencoba menenangkan Syifa meski Hanif sendiri merasakan hal yang sama tapi jika hamil ia akan berusaha yang terbaik untuk istrinya.
''Han?'' panggil Lita pelan.
Lita yang baru saja kembali dari kamar pasien ia tidak sengaja melihat seseorang yang sepertinya sangat ia kenal dan perlahan menghampirinya. Lita diam mematung menyaksikan pemandangan yang kini membuatnya sesak bahkan ia tak bisa berbuat apa-apa ia menatap sendu lelaki yang kini terlihat begitu mesra mengusap lembut wajah wanita yang entah siapa.
Hanif dengan refleks pun melepaskan tangannya dari pipi mulus istrinya dan berbalik menatap wajah cantik perempuan yang dulu sangat ia cintai.
''Lita.'' Ucap Hanif yang tak kalah terkejutnya.
Syifa yang mendengar suaminya berkata Lita ia mengetahui siapa wanita yang kini berada di hadapannya itu.
Perlahan Lita menghampiri sepasang suami istri itu yang belum ia ketahui statusnya.
Ia berjalan terus dengan tatapan yang sendu dan menghampiri Hanif yang masih diam tak bereaksi.
''Han, apa kabar?'' tanya Lita memecah keheningan.
''Alhamdulillah aku baik, kamu apa kabar?'' tanya Hanif dengan sedikit gugup.
''Aku baik-baik saja. Kamu sedang apa disini? mmmm dan siapa wanita itu?'' tanya Lita ragu.
Hanif menarik napasnya panjang ia melihat wajah Lita yang menatap nya penuh harap.
''Aku ada perlu sebentar dan sekarang sudah selesai.Oh ya sayang kenalin ini Lita teman aku.'' Ucap Hanif yang kemudian mengenalkan Lita pada Syifa.
Syifa pun mengulurkan tangannya ke arah Lita yang masih saja memandangi suaminya.
Lita yang mendapat uluran tangan dari Syifa ia pun tersenyum miris dan menjabat tangan sosok wanita yang kini telah sah menjadi istri dari lelaki yang telah merebut hatinya bertahun-tahun lamanya.
''Syifa''
__ADS_1
''Lita''
''Oh ya, aku harus pergi dulu ya ta.'' Hanif pun berlalu dari hadapan Lita membiarkan wanita itu memandangi nya dengan perasaan yang begitu menyayat hatinya.
Hanif tahu jika Lita sakit hati padanya tapi ia tidak ingin jika akan ada ke salah pahaman dirinya dengan Syifa karena Syifa sudah mengetahui Lita sebenarnya.
Syifa terus mengikuti langkah kaki Hanif yang membawanya pergi dari rumah sakit itu.
Ada perasaan yang sulit ia jelaskan namun hatinya sangat perih ketika ia melihat Hanif terlihat sedikit gugup padahal kini Hanif adalah suami sah nya. Sedangkan Lita hanya masa lalu dari suaminya itu.
Hanif pun membukakan pintu mobil untuk Syifa dan segera pergi ke sebelah pintu lain. Ia pun segera masuk dan melajukan mobil nya meninggalkan area rumah sakit.
Tak ada obrolan suasana seakan hening seketika mereka berdua hanya terdiam dengan pikiran masing-masing.
Syifa yang tadi terus diam ia pun menoleh ke arah Hanif yang masih saja terlihat fokus ke jalanan. Hatinya kembali sakit karena biasanya Hanif akan banyak bicara atau bersikap romantis ketika mereka hanya berdua saja. Tapi kini entah apa yang Hanif pikirkan membuat Syifa mengalihkan kembali pandangannya ke arah pinggir jendela.
Syifa memandangi jalanan yang terus mereka lewati ia tidak ingin berbicara hanya hatinya yang kini terasa terluka karena perasaan yang mulai muncul pada suaminya.
Satu jam berlalu namun kedua insan itu tetap saja masih berdiam hingga Hanif memarkirkan mobilnya di sebuah lapangan luas.
''Kita mau kemana?'' Syifa pun bersuara.
''Kita akan ke suatu tempat.'' Tutur Hanif tanpa berbicara dan hendak keluar dari mobil.
''Mas.'' Syifa berkata ia tak ingin lagi menahan apa yang sejak tadi ingin ia ungkapkan.
Matanya terasa perih hatinya kembali sakit ia merasa tidak sanggup untuk mengatakan apa yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
Hanif pun mengurungkan niatnya ia kembali duduk dan menatap wajah sang istri yang sangat ia cintai.
''Ya sayang?'' tanya Hanif lembut menatap wajah Syifa.
''Aku ingin mas jujur, apa mas masih mencintai Lita?'' tanya Syifa dengan lirih.
Hanif menarik napasnya panjang ia tidak menyangka jika Syifa akan berkata seperti itu padanya.
''Kenapa kamu bertanya seperti itu? sudah mas bilang jika Lita hanya masa lalu ku aku tidak ingin jika kita membahasnya lagi.'' Ucap Hanif memohon.
''Tapi sikap mas berbeda pada dia, mas memang masih menyimpan rasa untuknya.'' Seketika air mata Syifa tak bisa ia bendung lagi. Hatinya sangat perih entah apa yang Syifa rasa tapi ia merasa jika Hanif masih mencintainya.
__ADS_1
''Yang,'' Hanif mengusap punggung Syifa yang kini menangis di hadapannya ia tidak mengerti kenapa Syifa seperti itu.
''Jika mas masih mencintainya kenapa mas menikahi aku.'' Syifa mendorong lengan Hanif seakan sakit sekali.
''Apa yang membuat kamu berpikir jika aku masih mencintai nya?''
Syifa terdiam ia masih menangis namun dalam diam ia sendiri bingung.
''Sikap mas yang mendadak berubah. Kenapa setelah mas bertemu dengan dia mas tidak seperti biasanya.'' Ia pun akhirnya mengutarakan apa yang membuat Syifa berpikir jika Hanif masih mencintainya.
''Kumohon fa, jangan seperti ini aku bahkan sudah melupakan dia. aku hanya mencintai kamu dan ingin hidup bersama mu.''
Hanif memang memikirkan Lita tapi bukan karena ia masih mencintai hanya saja ia takut jika Lita akan mengejarnya kembali apalagi di saat ia baru saja membangun rumah tangga yang baru saja beberapa hari ini.
Hanif pun menarik Syifa kedalam dekapannya mungkin ia memang bersalah karena terlalu memikirkan apa yang tak seharusnya ia pikirkan dan membuat Syifa menjadi salah paham.
''Aku mencintai mu Syifa, sangat mencintaimu.'' beberapa kali Hanif menciumi puncak kepala Syifa dengan perasaan yang sangat lega karena Syifa berhenti menangis dan menerima pelukannya.
Lima belas menit berlalu Syifa dan Hanif masih diam di dalam mobilnya mereka masih sedikit canggung karena kejadian yang baru saja membuat mereka salah paham.
''Mas,'' Syifa kembali menatap wajah suaminya.
Hanif membalas tatapan Syifa dan tersenyum ke arah istrinya itu.
''Kenapa sayang?'' Ucap Hanif yang kemudian meraih tangan mungil istrinya itu.
''Aku minta maaf karena aku telah salah menilai ketulusan mas, aku kira mas hanya menjadikan aku sebagai pelampiasan.'' Lirih Syifa yang kemudian tertunduk ia merasa sangat malu karen telah berpikir yang tidak-tidak.
''Lalu?'' tanya Hanif yang masih saja setia menggenggam lengan Syifa dan menatapnya.
''Ya aku mau kamu mau memaafkan aku.''
Hanif pun tersenyum dan kembali menarik Syifa ke dalam dekapannya.
''Mas sudah bilang jangan nonton film yang aneh-aneh benarkan kamu jadi ikutan baper kayak film di sinetron.'' Tutur Hanif yang kemudian tertawa kecil karena kini Syifa mengerucutkan bibirnya karena kesal.
''Bukannya jadi romantis ko malah jadi ledekin aku sih mas.'' Syifa pun bersembunyi di dada bidang milik suaminya itu ia sangat bahagia karena Hanif ternyata memang mencintainya.
......................
__ADS_1