
''Hai nama kamu siapa?'' tanya Syifa pada gadis kecil yang kini berlarian hampir saja ke bibir pantai.
Syifa pun menariknya dan mendudukkan gadis kecil itu bersamanya karena ia tidak melihat orang tuanya. Syifa pikir jika gadis kecil itu hilang dari pengawasan kedua orang tuanya.
''Nama aku lara aunty.'' ucap gadis kecil itu dengan gemasnya.
''Kamu cantik sekali, dimana orang tua kamu?'' tanya Syifa dengan lembutnya.
Namun gadis kecil itu malah menggeleng membuat Syifa sangat yakin jika gadis kecil yang kini bersamanya memang hilang dari pengawasan kedua orang tuanya.
''Kamu mau minum sayang?''
Lara pun mengangguk dan menerima air yang Syifa berikan bahkan ia hampir menghabiskan setengah botol minuman itu.
.
.
''Lara..... ''
''Lara.....'' Seorang wanita muda itu mencari keberadaan putrinya.
Ia bahkan hampir putus asa mencari keberadaan putri kecil yang kini hilang entah kemana.
Suasana ramai dan banyak pengunjung membuat beberapa orang yang tengah berlibur itu menjadi panik dan segera berpencar untuk mencari keberadaan gadis kecil mereka.
Syifa dan Lara yang kini tengah asik main pasir bersama karena sudah lebih dari lima belas menit itu tak kunjung mendapati kedua orang tuanya.
Hanif yang baru saja kembali dari kamar mandi menjadi sedikit kebingungan dengan keberadaan istrinya yang sedang dengan anak kecil.
''Yang, siapa anak ini?'' tanya Hanif sedikit kaget karena kini istrinya sedang bersama anak kecil.
''Aku juga gak tahu mas, karena dia sepertinya hilang dari keluarganya aku udah tunggu dari tadi tapi sepertinya kedua orang tuanya belum dapat menemukannya, jadi aku putusin nunggu kamu aja mas biar kita bareng-bareng lapor petugas nya takutnya aku pergi kamu malah nyari aku.'' Tutur Syifa menjelaskan.
''Ya sudah kalau begitu kita buat laporan dulu, kasihan orang tuanya pasti panik.'' Ucap Hanif yang kemudian menggendong Lara.
''Lara....'' Ucap seorang ibu muda yang kemudian menghampiri Syifa dan juga Hanif.
''Ini putri mbak?'' tanya Syifa yang kini menatap wajah pucat ibu itu.
Ibu muda itu pun memeluk erat putrinya yang sudah lebih dulu Hanif turunkan dari pangkuannya.
__ADS_1
''Iya mbak ini putri saya.''
''Syukurlah.'' Syifa dan Hanif pun bernapas lega karena kini Lara telah bersama ibunya kembali.
''Terima kasih mbak sudah menjaga putri saya.''
''Sama-sama mbak,''
''Oh ya kenalin nama aku Dini maaf ya jika tadi kamu jadi repot karena anak saya, nama kamu siapa?'' Ucap mbak Dini pada Syifa.
''Syifa mbak, gak apa-apa ko mbak lagian Lara gak rewel malah senang tadi aku ajak main.
Mereka pun mengobrol bersama dan Syifa pun mengenalkan Hanif sebagai suaminya.
''Lara....''
Seru seorang perempuan yang sangat Syifa kenal siapa pemilik suara yang kini memanggil Lara membuat Syifa pun sontak membalikan tubuhnya.
''Arumi.'' Ucap Syifa pelan ia begitu kaget melihat Arumi yang kini menghampiri nya.
''Syifa, Ustadz Hanif.'' Arumi pun tak kalah kaget karena mendapati Syifa dan Hanif tengah bersama kakak dan keponakannya.
''Arumi, kalian sudah saling kenal?'' tanya mbak Dini.
''Iya alhamdulillah untung aja ada Syifa. Oh ya Syifa kamu ikut gabung yu sama kakak. Kakak mau kembali soalnya takut suami kakak masih cari Lara kasihan.'' Mbak Dini mengajak Syifa yang kini masih kebingungan.
''Gak apa-apa kak aku masih mau di sini terima kasih ajakannya.
''Ya sudah kakak duluan ya,''
''Kak duluan aja ya, nanti biar Arumi nyusul soalnya aku masih pengen ngobrol sama Syifa.'' Ucapan Arumi yang mendapat anggukan dari sang kakak.
Kini Arumi menatap tajam pada sahabat baiknya itu ia ingin mendapat penjelasan kenapa mereka bisa bersama.
Hanif yang mengetahui keinginan tahuan Arumi ia pun membiarkan Syifa untuk menjelaskan nya sendiri dan memilih menunggu Syifa di tempat lain.
''Yang aku tunggu di sana oke. Nanti kalau sudah beres biar kamu ke sana nyusul.'' Ucap Hanif sambil mengusap punggung Syifa lalu berlalu setelah mendapat jawaban anggukan dari Syifa.
Arumi membulatkan matanya melihat Hanif yang mengusap lembut Syifa apalagi jelas-jelas Hanif memanggil Syifa dengan sebutan yang dan sudah jelas artinya sayang.
''Syifa apa yang sebenarnya terjadi.'' tanya Arumi yang kini menatap sahabat baiknya itu.
__ADS_1
Syifa menarik napasnya panjang ia bingung harus menjelaskan dari mana soal pernikahan dirinya dengan Hanif yang sudah berjalan dari saat mereka pulang dari pondok.
''Syifa.'' Arumi menaikan nada suaranya ia sangat kesal karena Syifa masih diam.
''Arumi aku bingung harus menjelaskan dari mana.'' Lirih Syifa pelan ia belum siap menjelaskan hubungan mereka saat ini tapi ia juga tidak ingin jika Arumi salah paham pada dirinya dan Hanif.
''Jelasin semuanya yang aku gak tahu fa.'' Jelas Arumi tak ingin di bantah.
''Aku sama mas Hanif sudah menikah arumi.''
Perkataan Syifa jelas membuat Arumi sangat kaget ia tidak menyangka bagaimana bisa itu terjadi padahal dirinya masih sekolah.
''bagaimana bisa fa, kamu bahkan masih bersekolah.'' Tutur Arumi tidak habis pikir dengan sahabat nya itu.
''Aku juga gak ngerti Arumi kenapa aku bisa jadi menikah dengan mas Hanif lirih Syifa yang kemudian menjelaskan semuanya.
Setelah beberapa lama Syifa menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya dan Hanif Arumi pun akhirnya memahami semuanya.''
''Aku harap kalian bahagia fa, maaf karena aku memaksa kamu menceritakan semua itu sekarang tapi aku janji aku akan menjaga rahasia kamu.'' ucap Arumi lalu memeluk sahabat baiknya itu.
''Fa tapi kamu bakal balik lagi ke pondok kan?'' tanya Arumi kembali karena sekolah mereka hanya akan menghabiskan waktu enam bulan lagi.
''Sepertinya begitu Arumi aku juga sebelumnya tidak yakin tapi sekarang mau bagaimana lagi aku hanya berharap pernikahan aku dapat berjalan sebagaimana mestinya meski kita berpisah.'' Lirih Syifa membayangkan pernikahan dirinya yang sangat membuatnya sedih.
Biasanya orang menikah akan selalu bersama tapi berbeda dengan pernikahan Syifa yang sangat rumit tapi ia akan bersabar hingga waktu akan mempersatukan mereka kembali.
''Gak apa-apa aku yakin hubungan kalian akan baik-baik aja kok. Anggap aja kalian lagi tugas negara kayak tentara.'' Tawa Arumi membuat Syifa pun ikut tertawa.
''Ya udah kamu balik sana kasihan Ustadz Hanif.''
''Oh ya karena kita sibuk bicara soal pernikahan aku jadi aku gak sempat tanya kamu kenapa ada disini.''
Arumi pun tertawa karena saking kepo nya dia sampai mereka lupa membicarakan hal itu.
''Aku ikut kakak aku yang sedang memantau hotel nya fa jadi kita sekalian liburan deh lagian aku juga kebetulan kan lagi liburan ya udah deh ikut.'' Jelas Arumi.
''Ya udah aku balik dulu ya, Kasihan mas Hanif.''
''Ok. Jangan lupa bikin dede bayi buat aku.'' Ledek Arumi yang langsung mendapat cubitan dari Syifa.
''Ih nyebelin sakit tahu.'' Arumi meringis kesakitan karena Syifa mencubit dirinya dengan keras.
__ADS_1
Tapi Syifa pergi begitu saja dan hanya mengangkat dua jari ke atas untuk permintaan maafnya.
......................