Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 14


__ADS_3

Abi Husein dan ummi Nur seketika menatap wajah putri mereka yang sangat mereka sayangi, bertapa rapuhnya perasaan ummi Nur dan Abi Husein yang melihat putri kesayangan mereka hanya terbaring tak berdaya, namun perasaan sedih mereka kini terobati setelah melihat Nadia yang telah siuman.


''Sayang kamu sudah siuman nak,'' ummi Nur tak hentinya menangis ia sangat bersyukur putri semata wayangnya kembali terbangun, ia seperti putus asa ummi Nur sangat terpukul atas apa yang Nadia lakukan.


''Jangan pernah kamu ulangi lagi, ummi tidak sanggup jika harus kehilangan kamu nak.'' Abi Husein yang berada di samping ummi Nur mengusap punggungnya ia sangat merasakan apa yang ummi Nur rasakan, ummi Nur yang tak mampu membendung air matanya kembali menangis Ia terus memegangi tangan putri kesayangannya.


''Nadia minta maaf ummi, Abi Nadia khilaf'' Nadia yang melihat Abi dan ummi nya menangis ia pun tak kuasa menahan tangisnya.


''Kesalahan yang tak akan pernah aku ulangi lagi dan tak akan aku ulangi lagi ummi, abi, aku begitu gelap mata karena cinta ku yang tak terbalas, aku minta maaf.'' Lirih Nadia dalam hatinya ia begitu sakit, sesak rasa yang tak pernah ia rasakan melihat kedua orang tua yang begitu mencintai dan menyayanginya menangis karena kebodohan yang ia lakukan.


Ummi khadijah dan abah Agus yang akan keluar karena mereka rasa tak ingin mengganggu atas keberadaan mereka yang mungkin membutuhkan privasi.


Namun ternyata salah Abi Husein segera memanggil abah dan ummi.


''Gus?''


''Iya Husein, kami akan tunggu di luar sebentar mungkin kalian butuh waktu untuk mengobrol sebentar.''


''Tidak kemari lah kamu sudah saya anggap lebih dari seorang sahabat, kamu yang selama ini menjaga putri kami.'' Tutur Abi Husein yang memegangi tangan abah, ia sangat merasa bersyukur karena abah pula nyawa putrinya dapat terselamatkan.


''Saya merasa gagal Husein saya gagal dalam menjaga amanah kamu, sungguh saya malu saya...''


Perkataan abah terhenti saat abi Nadia memegang tangan abah agar ia berhenti untuk meminta maaf.


''Tidak ada yang harus di salahkan semua adalah takdir Allah semua atas kehendakNya Gus, kamu tidak pernah gagal dalam hal apapun justru saya sangat berterima kasih karena selama ini telah menjaga putri kami dengan baik.''


Suasa pun seketika hening tak ada yang memulai perbincangan hingga Nadia membuka suara.


''Ummi Nadia ingin minum.''


Ummi Nur pun segera mengambil air untuk Nadia, ummi Nur dengan hati-hati merawat putri kesayangannya.


Yusuf yang telah di beritahu kalau Nadia telah siuman ia segera pergi dari ruang guru dan bergegas mengambil kunci mobilnya dan pergi ke rumah sakit.


Ia sangat bersyukur karena Nadia telah sadar.


Syifa hanya membolak-balikakkan buku yang ia pegang, ia terduduk di perpustakaan sambil mencari-cari buku yang akan ia jadikan referensi untuk membuat tugas madrasah nya.


''Syifa? Kamu disini, aku kira kamu di kantin.'' Tutur arumi yang dari tadi mencari Syifa.


Syifa hanya tersenyum dan kembali fokus pada buku-buku yang berada di hadapannya.

__ADS_1


''Kamu tadi lihat gak sih wajah ustad yang tadi mengajar kita?'' tanya Arumi yang mulai ganjen.


Semenjak Nadia di rawat di rumah sakit yusuf tidak pernah mengisi pelajaran di madrasah ia di disibukan dengan mengurus langsung semua yang menyangkut pondok. Yusuf pun mewakilkannya kepada temannya yang kebetulan saat itu sedang mengunjungi Yusuf yang berniat akan ikut mengajar di pondok Nurul Huda, ia juga sebenarnya lulusan terbaik dari pesantren Nurul Huda dan melanjutkan ke pulau seberang untuk kembali mencari ilmu.


''Emang kenapa gitu?'' tanya Syifa yang tidak terlalu menanggapi pertanyaan Arumi.


''Serius deh Syifa, dia itu ganteng banget tau, masa kamu gak suka apa, aku aja berasa terhipnotis banget, kalau menurut aku sih di antara ustad-ustad disini kayaknya dia deh yang paling ganteng.'' Tutur Arumi yang menompang dagunya.


''Ganteng doang buat apa Arumi kalo udah jadi punya orang.''


''Hei hei ternyata kalian disini.'' Arin yang baru datang langsung membuat kehebohan.


''Rin kamu lihat kan tadi wajah Ustadz Hanif? Ih sumpah ganteng banget.'' ucap Arumi yang mulai lebay.


''Iya Arumi bener, kalau aku sih berharap dia masih singgel biar aku jadi pasangannya.'' Sahut Arini yang malah satu dua kayak Arumi.


Syifa yang sedang tidak ingin di ganggu, ia pun segera pergi keluar dan meninggalkan Arin dan Arumi yang sibuk dengan obrolan Ustadz Hanif.


''Terus aja tuh omongin itu ustad dasar cewe-cewe ganjen.'' Sungut Syifa yang jengkel dengan sikap teman-temannya dan berniat pergi ke kelas karena memang bel sebentar lagi akan berbunyi.


Tringgg…


Bel pun berbunyi semua santri dan santriwati sudah kembali ke kelas masing-masing.


''Assalamualaikum.'' Salam Ustadz Hanif yang membuat para santriwati terkesima.


Hanif memang tampan ia memiliki tubuh yang tinggi dengan kulit putih hidung yang mancung dan mata yang tajam membuat siapapun yang melihatnya membuat kagum ditambah segudang ilmu yang membuatnya sangat sempurna.


''Waalaikumusalam.'' semua terlihat sangat kompak saat menjawab salam Ustadz Hanif.


Hanif kemudian duduk dan mulai mengajar namun tatapannya kini beralih pada seorang wanita yang hanya diam seperti tidak bersemangat, berbeda dengan santriwati yang lain ia seperti sedang memikirkan sesuatu.


Iya Syifa lah orangnya, Syifa sangat tidak bersemangat ia seperti merindukan sosok yang selama ini selalu ia ingat.


''Aku tidak mengerti dengan semua ini apakah aku benar-benar mencintai Ustadz Yusuf?'' tanya Syifa dalam hatinya, namun di sisi lain ia sangat bingung dengan jawaban apa yang harus ia berikan sungguh sebenarnya Syifa malu jika di sandingkan dengan putra pemilik pesantren dimana ia menimba ilmu. Ia seakan tidak pantas sangat tidak pantas.


Syifa bingung dan harus seperti apa ia menjawab. Syifa hanya memutar-memutar pensil di tangannya membuat Hanif yang sedang duduk di bangku depan memandanginya.


Hanif yang merasa kalau wanita di seberang bangkunya itu sedang melamun bahkan terlihat jelas kalau dia tidak memperhatikan penjelasannya.


''Apa kalian mengerti?'' tanya Ustadz Hanif yang telah selesai memberi penjelasan.

__ADS_1


''Mengerti Ustadz.'' Seru semua santri dan santriwati, kecuali Syifa jelas terlihat sekali dia tidak memperhatikan bahkan dari awal pembelajaran hingga Hanif yang telah selesai menjelaskan.


''Kalau begitu coba jelaskan kembali apa yang tadi saya jelaskan, siapa nama mu? ayo ke depan.'' Hanif yang menunjuk pada Syifa yang sedang terkejut menatapnya.


Syifa yang tidak mendengarkan sama sekali apa yang Ustadz Hanif perintahkan ia pun malah menyikut Arin yang balik menatapnya.


''Ayo silahkan ke depan, dan jelaskan kembali!'' Perintah Hanif yang menatap pada Syifa.


''Mmmm ''Syifa yang kebingungan pun mendapat tatapan tajam dari Hanif.


''Saya rasa saya sudah tahu jawabannya kalau begitu setelah jam pelajaran selesai kamu tidak boleh dulu pulang kamu mendapat hukuman.'' Jelas Hanif tanpa basa basi.


Hanif memang tegas jika sedang mengajar ia tidak ragu-ragu untuk memberikan hukuman pada siapa saja yang menurutnya sudah melanggar karena menurutnya kedisiplinan adalah kunci dari sebuah kesuksesan.


Sementara Syifa yang mendengar ucapan Hanif ia tertunduk lesu, ia merasa sangat bodoh karena malah memikirkan Ustadz Yusuf.


Jam pelajaran pun telah selesai semua santri pun keluar dan pulang ke kamar mereka masing-masing sementara Syifa yang harus mendapat hukuman ia masih duduk di bangkunya menanti perintah dari Ustadz Hanif.


''Syifa kami pulang duluan ya.'' Kata Arumi dan di anggukan Arin yang mengusap punggung Syifa.


''Iya gak Apa-apa kalian duluan aja, nanti aku nyusul.''


Arin pun keluar bersama Arumi, sementara Syifa ia menundukkan kepalanya ke meja dan menanti apa yang akan ia dapatkan atas kebodohannya.


''Bagus lah kamu mematuhi apa yang saya perintahkan,'' seru hanif yang baru datang dari balik pintu.


Syifa pun mengangkat kepalanya dan membetulkan kerudungnya kembali.


''Baiklah ini saya akan memberikan hukuman yang mudah saja ini, hanif memberikan sebuah buku pada Syifa, Salin lah kitab ini dan berikan besok pada saya, kamu bisa kerjakan di kamar dan sekarang kamu boleh pulang'' sahut Hanif yang terlihat dingin.


''Iya ustad, '' Syifa tidak banyak bicara ia menuruti apa yang Hanif berikan tanpa berkata-kata kembali karena ini kali pertamanya ia mendapat sebuah hukuman.


''Siapa namamu?'' Tanya Hanif yang sekilas menatap Syifa.


''Syifa Nadira, Ustadz.''


''Baiklah pulanglah dan kerjakan tugas mu.''


Syifa pun membukukan badannya sebagai tanda salam dan berlalu ke luar kelasnya.


Hanif pun tersenyum mengingat kembali apa yang Syifa lakukan membuat senyum Hanif melebar kembali.

__ADS_1


''Hmmm Syifa Nadira.''


__ADS_2