
Syifa sejak tadi menunggu panggilan telepon dari suaminya namun tak kunjung datang membuat dirinya tertidur.
Bahkan panggilan dari suaminya tak kunjung ia jawab karena Syifa hanya mengaktifkan mode senyap karena ia takut jika ke dua sahabatnya menjadi curiga jika ia sering berinteraksi dengan seseorang di balik telepon.
Sudah ke tiga kalinya Hanif menelpon namun tak ada jawaban dari Syifa.
''Apa kamu marah sama aku yang?'' gumam Hanif setelah ia berusaha menelpon Syifa namun tak juga mendapatkan jawaban sampai akhirnya ia memutuskan menyimpan kembali ponsel yang baru saja ia pegang.
Hari ini Hanif sangat sibuk dengan pekerjaan nya di madrasah apalagi kini Hanif sedang memilih beberapa desain untuk bangunan yang akan ia bangun.
Hanif menyimpan kembali ponselnya dan kembali dengan pekerjaan nya.
Hanif berniat untuk membangun sebuah Panti asuhan dan juga sebuah pondok untuk mereka menimba ilmu di sana.
Hanif ingin jika anak-anak panti itu nantinya bukan hanya mendapatkan kasih sayang yang seharusnya mereka dapatkan namun juga mendapatkan pengajaran ilmu agama yang sangat penting untuk kehidupan mereka.
Entah kapan ia akan memulai pembangunan karena ia sendiri masih di sibuk dengan pekerjaan nya di tambah ia harus juga mengontrol restoran yang kini sedang berkembang pesat.
Restoran yang sudah lama ia bangun sejak Hanif duduk di bangku kuliah itu sampai kini usahanya makin berkembang.
Hanif membangun usaha restoran itu tak lepas dari dukungan kedua orang tuanya bahkan ia memiliki ide untuk membuat restoran karena kecintaan ummi pada masakan.
''Bagaimana pak?'' tanya salah seorang dari mereka.
Hanif meminta bantuan kepada seorang arsitek ternama untuk membuat panti dan juga pondok. Ia sangat ingin jika bangunan yang kini ia rancang membuat nyaman untuk anak-anak. Hanif menjadikan tanah yang dulu hendak ia bangun untuk rumahnya dengan Syifa itu untuk menjadi panti seperti impian istrinya.
''Ya boleh aku setuju seperti itu, tapi saya minta taman nya di pinggir saja dengan berbagai macam permainan untuk mereka agar tidak jenuh dan di sebelah sini saya ingin jadikan tempat membaca dan juga ruang ke pengawasan agar mereka dapat terpantau oleh pengasuh mereka.'' Tutur Hanif menuturkan keinginan nya.
Arsitek yang kini bersamanya bersedia dengan segala usulan Hanif.
''Baik pa, saya akan bereskan semuanya seperti yang bapak mau.'' Ucap seorang arsitek itu yang kemudian menyalami Hanif sebelum ia kembali.
''Terima kasih pak, atas kerjasama bapak.''
''Sama-sama semoga semuanya lancar.''
__ADS_1
Kini tinggal Hanif lah yang masih berada di sana, Hanif masih duduk di bangkunya karena ia sedang berdiam di restorannya ia memilih restoran pribadinya agar ia sendiri dapat memantau segala perkembangan untuk restorannya.
''Hanif memperhatikan restoran yang sejak tadi tak sepi dari pengunjung bahkan terlihat semakin ramai. Ia pun segera berdiri dan meninggalkan tempat duduknya untuk kembali ke ruangannya.
Lita dan Rian ia kembali bersama bahkan mereka selalu bersama meski hubungan di antara mereka hanya sebatas seorang laki-laki tidak lebih.
Lita hanya tidak ingin dulu membuka hatinya kembali karena ia takut jika ia sendiri akan terluka kembali atau tidak akan bisa benar-benar mencintai seseorang yang kini selalu bersamanya.
''Kenapa kita ke sini Ian.'' Ucap Lita merasa gugup karena Rian membawanya ke restoran di mana ia dan Hanif terakhir bertemu meski Hanif sama sekali tidak menyadari itu tapi saat itu hatinya sangat terluka.
''Aku hanya ingin selalu mengulang kebersamaan kita dulu Lita.'' Gumam Hanif dalam hatinya meski Rian ia melihat Lita seperti tidak nyaman.
''Kita makan dulu dan setelah itu kita akan lanjutkan jalan-jalan nya.'' Rian segera melangkahkan kakinya ke dalam restoran tanpa memperdulikan Lita yang kini masih berdiam diri di dekat mobilnya.
Liga tidak mempunyai pilihan lain akhirnya ia pun mengikuti langkah kaki Rian untuk segera masuk ke dalam ruangan.
Ruangan yang masih sama kini mengingatkan Lita kembali pada Hanif dan juga Syifa pada saat mereka makan siang di sana.
Lita kini mencari keberadaan Rian dan segera duduk bersama dirinya.
''Kamu berjalan cepat amat sih.'' Ucap Lita sedikit kesal karena dirinya di tinggal begitu saja di depan restoran.
''Gak apa, aku hanya ingin menyiapkan makanan agar lebih cepat kita makan aku sangat lapar.'' Rian menutupi kegugupannya ia sendiri saat ini ingin segera mengungkapkan segala perasaan yang masih setia pada Lita.
Rian ingin jika Lita akan menerimanya dan sedikit saja memberikan hatinya kesempatan untuk bersama kembali.
Detak jantung yang terus saja bergemuruh membuat Rian merasa sangat gugup.
''Kamu sudah pesan makanan nya Ian?'' tanya Lita masih menatap Rian yang entah apa lelaki itu pikirkan.
''Udah, aku memesan makanan kesukaan kamu.'' Dengan senyum Rian berkata lirih. ia ingin segera pelayanan itu menghampiri meja makan dan membawa makanan kesukaan dirinya.
Beberapa menit telah berlalu kini pelayan itu datang dengan membawa nampan yang berisi pesanan yang telah Hanif minta.
''Silahkan tuan.'' Ucap seorang pelayan itu dan segera kembali setelah ia menyajikan makanan nya di meja.
__ADS_1
Rian menatap wajah Lita yang kini di hadapannya.
Lita segera menyendok kan makannya ke dalam piring nya dan juga memberikan pada piring Rian membuat senyum lebar yang kini mengembangkan di bibirnya.
Rian sangat senang dengan perlakuan Lita terhadap dirinya dan segera menyantap makanan nya untuk mempersiapkan hatinya menerima apa yang akan Lita katakan pada dirinya.
''Kamu kenapa lihat aku seperti itu sih?'' Ucap Lita yang merasa tidak nyaman dengan tatapan Rian padanya.
Rian mengambil tisu di depannya dan segera menghapus sisa makanan yang tertinggal di sudut bibir Lita dengan perlahan.
Entah perasaan apa yang kini Lita rasakan namun hanya satu ia sangat gugup ketika Rian bersikap manis padanya.
Seulas senyum kini terukir di bibir tampan Rian ia kembali merasa sangat berbunga-bunga dengan kejadian ini.
''Ekhm.'' Rian bersuara ia kembali menormalkan situasi.
Rian melihat ke arah Lita dengan lembut ia tersenyum kembali.
''Lita kamu mau kan menerima aku kembali?''
.
.
Bandung.
Entah seberapa lama Syifa tertidur dalam hingga kini Arin dan Arumi sudah kembali dari rumah abah.
''Aku pegel banget rin,''
''Iya aku juga sama rasanya remuk ini badan.''
Mereka pun berniat ke kamarnya untuk segera beristirahat.
Arin dan Arumi segera masuk ke dalam kamarnya karena lelah yang kini mereka rasakan namun kini mereka melihat kedua teman baiknya itu sedang tertidur pulas tanpa mereka berniat menganggu Syifa dan juga Desi. Arin dan Arumi juga segera istirahat.
__ADS_1
......................