
Syifa merebahkan tubuhnya dan terlelap ia melupakan tugas hafalannya yang harusnya ia hafal untung mengisi waktu selama masa haidnya.
Yusuf yang sudah merasa puas karena kinerja Adi dalam perusahaannya ia merasa tidak perlu khawatir lagi, mungkin hanya sesekali ia akan memantau langsung kelapangan. Kesalahan yang pernah Adi lakukan akan merubah pola pikirnya, Yusuf sangat berharap kalau Adi akan mampu menangani semua kemungkinan yang akan terjadi meski ia sangat berharap jika Adi mampu menjalankannya.
Yusuf duduk di kursi kebesarannya, Ia mengamati setiap detail ruangan yang dulu selalu ia habiskan di sana. Usahanya untuk menekuni hobinya kini sedikit berbuah hasil meski tak jarang ia mendapati rintangan tapi itu membuatnya semakin tahu cara mengatasinya.
Yusuf pun berjalan ke balkon luar, ia menatap hiruk pikuk kota kelahirannya, dulu ia sangat ingin meneruskan pendidikannya untuk menambah ilmu, tapi sekarang ia merasa apa yang ia dapatkan seharusnya menuai hasil seperti perusahaannya.
''Aku akan belajar menjalankan amanah yang abah berikan, aku janji aku tidak akan mengecewakan kalian.'' Yusuf manarik nafasnya dalam dan memejamkan matanya membiarkan angin membawa pikirannya terbang.
Hatinya dan pikirannya akan ia fokuskan untuk pondok pesantren yang telah abah nya amanah kan.
Adi yang beberapa kali mengetuk pintu ruangan kerja kakaknya namun tak kunjung mendapat jawaban, sehingga membuatnya terpaksa memasuki ruangan itu tanpa seijin dari sang pemiliknya.
Perlahan matanya mencari sosok keberadaan kakak yang selama ini menjadi motivator dalam hidupnya, namun Adi tidak menemukan di ruangan yang terbilang cukup luas, dengan segala fasilitas yang memadai membuat siapa saja yang berdiam di sana akan merasakan kenyamanan.
Adi pun menghampiri Yusuf yang terlihat sedang berdiri di luar balkon ruangan.
''Kak?'' Adi memanggil kakaknya yang terlihat sedang memandangi pemandangan kota.
Yusuf pun menoleh ke arah sumber suara, ia melihat adiknya sedang berdiri menatapnya.
''Ya?'' tanya Yusuf sesaat dan membalikan tubuhnya lagi.
''Apa kita akan pulang sekarang?'' tanya Adi yang mengetahui jika kakaknya tidak akan lama di kantor karena kebiasaan Yusuf akan pulang setelah ashar.
''Di kakak harap kamu mampu menjalankan perusahaan Kakak dengan baik, Kakak harap kita akan saling membantu satu sama lain,'' ucap Yusuf dengan datarnya.
__ADS_1
Adi mencerna semua perkataan Yusuf ia mengerti maksud dari ucapan kakaknya.
''Aku akan berusaha kak, aku akan berusaha yang terbaik untuk perusahaan ini, aku juga minta maaf karena membuat perusahaan kakak mengalami kerugian yang cukup besar.'' Lirih Adi merasa bersalah karena memang kelalaian Adi yang membuat perusahaan Yusuf hampir mengalami kerugian yang cukup sangat besar.
Yusuf menarik nafasnya dalam, ia yang mendengar perkataan dari Adi ia pun tersenyum, pelajaran yang akan sangat berharga untuknya dan juga untuk adiknya sendiri.
''Mungkin kakak hanya akan memantau sesekali saja, untuk seterusnya kakak harap kamu dapat menyelesaikan masalah dengan sendiri. Namun jika kamu membutuhkan bantuan, kakak akan siap untuk membantu.
''Ada amanah lain yang sedang menunggu kakak, harusnya kakak lebih mendahulukan itu karena itu adalah sebuah tanggung jawab besar.'' Ucap Yusuf tertunduk lesu.
''Maksud kakak?'' Adi merasa tidak mengerti dengan apa yang Yusuf katakan.
Yusuf mendudukkan dirinya di kursi luar. Menatap pemandangan yang terlihat sangat indah, suasana sore yang sangat membuatnya selalu rindu dengan hembusan angin yang menenangkan jiwa.
Ia menatap lekat-lekat adik bungsunya, ia takut jika apa yang akan ia katakan membuat Adi merasa tersisihkan.
Sementara Adi ia pun duduk di hadapan kakaknya ia ingin mengetahui maksud apa yang akan Yusuf katakan padanya.
Adi hanya tersenyum, ia mengerti apa yang membuat kakaknya menjadi sedikit murung.
''Aku akan mendukungnya kak, bahkan jika kakak membutuhkan bantuan aku akan membantunya, kita akan menjalankan semuanya dengan bersama, perusahaan kakak, pesantren, dan juga madrasah adalah bagian dari kita berdua, aku percaya jika kita bisa saling membantu.''
Yusuf pun tersenyum bahagia mendengar apa yang Adi katakan, sungguh hatinya sedikit tenang mendengar perkataan Adi.
''Apa kamu tidak keberatan jika kakak meneruskan pondok?'' tanya Yusuf kembali.
''Kenapa tidak kak? kakak menguasai ilmu dan juga kakak memahami dalam masalah pondok, apa yang harus aku khawatirkan kalau pondok berada di tangan seorang yang tepat?'' jawab Adi santai.
__ADS_1
''Apa kamu tidak berpikir jika abah berlebihan dengan menyerahkan pondok sekarang pada kakak? kakak hanya tidak ingin suatu saat ada permasalahan yang membuat kita tidak bisa saling percaya.'' Yusuf menatap Adi lekat-lekat ia tidak ingin membuat Adi sakit hati.
''Kak.'' Adi menepuk pundak Yusuf perlahan.
''Aku percaya jika kakak tidak seperti itu, kita akan sama-sama saling membantu, bukankan kakak ingin jika abah beristirahat menikmati masa tuanya? lalu siapa lagi yang dapat abah andalkan dalam mengemban tugas sebesar itu, jika aku mampu aku akan lakukan, namun untuk sekarang aku belum mampu aku belum siap kak, lalu siapa lagi kalau bukan kakak, aku yakin abah memberikan amanah besar ini karena abah tau kalau kakak mampu menjalankannya.'' Adi pun tersenyum menatap sang kakak yang hanya bisa terdiam mematung.
Yusuf pun menarik Adi dan memeluknya, ia sangat terharu karena adiknya begitu berbesar hati dengan apa yang terjadi.
''Terima kasih di.'' Yusuf beberapa kali menepuk punggung sang adik yang membuatnya semakin mantap untuk menjalankan amanah dari abah nya.
Mereka pun saling melepas pelukannya dan tersenyum.
Yusuf kembali berdiri ia menatap kembali indahnya kota.
''Seharusnya kakak bukan memikirkan aku yang akan iri sama kakak, tapi yang harus kakak pikirkan adalah bagaimana hidup kakak yang sudah berusia namun masih sendiri saja.'' Tutur Adi meledek sang kakak.
Yusuf menoleh ke arah Adi dan tersenyum.
''Aku akan menikah, namun di saat waktu yang sudah tepat.''
''Apa kakak sudah mempunyai calonnya? Jangan-jangan santriwati yang waktu itu makan bersama kita itu adalah calon kakak?'' Tanya Adi menebak-nebak.
Yusuf hanya tertawa mendengar perkataan Adi yang sok tahu.
Andai saja Syifa benar menjadi calon istrinya sudah pasti hidupnya dan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini akan semakin sempurna.
''Kenapa kakak malah tertawa? Benarkan? tanya Adi yang meminta penjelasan dari kakaknya.
__ADS_1
''Kalau aku jawab iya, nanti kamu gak percaya, tapi kalau kakak bilang bukan dia, kamu juga gak akan percaya.'' Yusuf pun tertawa kembali melihat Adi yang terlihat kesal menatap ke arahnya.
......................