
Sore sudah menyapa bahkan langit yang berwarna jingga kini mulai berubah dengan warna kemerahan karena hampir menjelang magrib.
Yusuf dan Adi kini sedang dalam perjalanan pulang namun mereka berpisah karena Yusuf sendiri membawa mobil sendiri membuat mereka terpisah.
Jalanan yang cukup ramai membuat suasana sangat ramai banyak orang yang mungkin hendak pulang atau sekedar jalan-jalan. Terlihat beberapa pedangan di pinggir jalan yang sedang mengais rezekinya di sore hari membuat Yusuf tergerak hati ia segera menepikan mobilnya di pinggir jalan untuk membeli beberapa jenis makanan untuk ia bawa pulang.
Yusuf memang suka membeli makanan dari pedagang kaki lima karena menurutnya mereka lebih membutuhkan mereka mencari rezeki hanya sekedar untuk menghidupi keluarganya bukan untuk memperkaya diri nya.
Kini ia telah selesai dengan beberapa kantong kresek yang kini berada di tangan nya ia segera masuk kedalam mobil nya dan melajukan kembali mobil nya di jalanan.
Hanya beberapa menit saja ia kini telah sampai di kediaman abah dengan cepat ia memarkirkan mobil nya di halaman rumah abah dan segera masuk.
Terlihat Adi lebih dulu sampai dari pada dirinya ia masuk ke dalam rumah dengan perasaan berdebar karena ia melihat mobil yang sangat ia kenal kini terparkir dengan rapih di halaman rumah nya.
''Assalamu'alaikum.'' Salam Yusuf dengan detak jantung yang terasa bergemuruh.
''Waalaikumsalam.'' Jawab beberapa orang di hadapan nya dengan serempak.
''Baru pulang Yus.'' Ucap ayah Arumi menatap calon menantu nya dengan senyum yang terlihat jelas.
''Iya om.'' Yusuf menyalami kedua orang tua Arumi dan juga kedua orang tuanya.
''Yusuf ke atas dulu ya om.'' Ucap Yusuf pamit karena ia tidak enak bergabung dengan kedua orang tua Arumi dalam keadaan ia yang terasa lengket.
Ayah Arumi hanya tersenyum dan Yusuf pun segera berjalan ke arah tangga ia menapaki satu persatu anak tangga dengan perasaan yang sulit ia artikan. Dalam hatinya terus saja bertanya-tanya apakah kehadiran kedua orang tua Arumi adalah untuk menikahkan dirinya dengan Arumi. Sekilas pikiran nya memikirkan hal itu karena mungkin ia mengingat sahabatnya Hanif yang pernah mengalami hal seperti itu.
Kepalanya menggeleng menepis pemikiran nya sendiri. Yusuf bukan tidak menerima pernikahan nya namun hanya saja ia belum siap bahkan ia sedikit khawatir jika Arumi seperti dirinya.
__ADS_1
Pernikahan yang seperti apa yang akan terjadi jika ia memaksakan dirinya.
Yusuf segera menaruh tas nya dan segera ke kamar mandi untuk segera membasuh badan nya dan segera berwudhu karena sudah terdengar lantunan adzan berkumandang.
Yusuf melaksanakan shalat di kamar nya karena jika ia masjid ia akan terlambat.
Beberapa menit telah berlalu Yusuf telah selesai dengan shalat dan berdzikir nya ia kembali membereskan alat shalat nya dan kembali berjalan ke lantai bawah karena ia tidak enak hati jika ia tidak bergabung dengan calon mertuanya.
Langkah kakinya kini berjalan menuruni tangga dan duduk bersama keluarga nya yang kini sedang menyambut calon besan mereka.
Seperti biasa ummi akan menyediakan berbagai hidangan untuk sahabat suaminya apalagi kini mereka adalah calon besan nya.
Mereka pun makan bersama dan setelah selesai seperti biasa mereka akan mengobrol entah hanya berkunjung untuk menemui putri nya atau ada maksud lain Yusuf sendiri tidak mengetahuinya.
''Yus sebenarnya om mau membicarakan sesuatu.'' Ucap ayah Arumi membuka suara.
''Seperti yang tadi om bilang pada abah mu om ingin jika kamu segera menikahi Arumi setelah selesai ujian saja, Bagaimana?'' tanya ayah Arumi memastikan karena ayah Arumi ingin mendengar langsung dari calon menantunya ia hanya ingin memastikan keseriusan Yusuf pada putri nya.
Yusuf tersenyum mendengar perkataan dari ayah Arumi ia bisa bernapas lega karena ternyata apa yang ia pikirkan tidak terjadi.
''Insyaallah om saya siap, semoga niat baik saya Arumi setujui.'' Ucap Yusuf dengan pasti karena Yusuf sendiri memang berniat seperti itu.
Yusuf adalah lelaki normal dengan kedatangan Arumi yang lebih sering berkunjung ke rumah nya membuat ruang gerak Yusuf terasa terbatasi karena Yusuf tidak ingin selalu menatap wajah Arumi yang belum halal untuk nya belum lagi jika ia mengajar di madrasah hatinya selalu saja gelisah entah kenapa dirinya juga tidak mengerti.
Mereka semua mengucap syukur karena Yusuf menyetujui permintaan dari ayah Arumi.
Lama mereka mengobrol hingga kini sudah larut malam ayah Arumi dan ibunya pun berniat pamit untuk pulang.
__ADS_1
''Ya sudah gua kalau begitu kapan-kapan lagi nanti kita bahas persiapan pernikahan anak kita.'' Ucap ayah Arumi dengan tawanya.
''Ya, ya gus semoga niat baik kita berjalan lancar.'' Ucap abah yang langsung mendapat kata Aamiin dari semua orang yang masih berada di sana.
Ayah dan ibu Arumi pun masuk ke dalam mobil dan kini telah meninggalkan pekarangan rumah abah.
Yusuf kembali merasa senang entah apa yang membuat nya senang apa karena sebentar lagi ia akan menikah atau karena sikap kedua orang tua Arumi yang bersikap baik kepadanya.
''Yusuf ke atas dulu ya ummi.'' Ucap Yusuf karena ia merasa sedikit lelah.''
Ummi menganggukkan kepala dan mengusap bahu putranya dengan senang.
.
.
Arumi belum mengetahui soal rencana pernikahan dirinya dengan Ustadz Yusuf ia hanya tahu jika kedua orang tuanya hanya mengunjungi dirinya sebelum orang tuanya kembali ke kediaman nya.
Karena lamanya kedua orang tua Arumi tinggal di rumah kakak nya di bandung karena sempat terhalang karena mbak Dini sakit mau tak mau ibu Arumi mengurungkan niat nya karena ibu Arumi pikir kasihan juga Lara tidak ada yang menjaga jika anak nya sakit sementara suaminya selalu sibuk dengan pekerjaan nya.
''Arumi kamu yakin jika kamu gak bakalan di nikahin langsung sama Ustadz Yusuf?'' tanya Arin karena ia pikir jika Arumi akan seperti Syifa nasib nya di nikahkan secara mendadak.
''Enggak lah, lagian aku gak berbuat apa-apa masa aku langsung di nikahin sih rin kamu ngaco aja.'' Jawab Arumi karena tidak terima dengan perkataan Arin yang terkesan mendoakan menurut dirinya.
''Ih lagian aku juga siapa yang mau di nikahin langsung kayak gitu Arumi, aku juga gak buat macem-macem ko sama Ustadz Hanif dulu.'' Syifa bersuara ia sama tidak terima dengan perkataan Arumi karena seolah ia dinikahkan karena telah berbuat yang aneh-aneh.
''Ih ko malah ribut sih.'' Pungkas Arin karena kini teman nya maslah beradu argumen. Padahal tadinya Arin berkata seandainya saja jika sama kayak Syifa gimana bukan malah seperti ini jadinya.
__ADS_1
......................