Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 6


__ADS_3

Syifa pun membeli makanan dan segera duduk di kursi bersama Arin dan Arumi,


''Syifa apa kamu sudah dapat daftar buku apa aja yang akan kamu pelajari?'' sahut arin yang menatap ke arah dirinya.


Syifa berusaha menghabiskan sisa makannya yang berada di dalam mulutnya dan menatap ke arah Arin.


''Belum rin, soalnya aku juga baru tahu, aku cuman di kasih tahu soal kamar aja sama ummi. Tutur Syifa yang kembali memasukan makanan kedalam mulutnya.


''Ya ampun, apa ummi gak kasih tau yang lainnya?''


''Mungkin belum, tapi aku akan coba tanyakan aja sama ummi besok, soalnya aku juga belum tahu soal sekolah aku dimana'' terang Syifa kepada Arin.


''Oh, kalau gitu aku bakal bantu kamu.'' Arin menatap kepada Syifa sesaat sebelum memakan yang berada di hadapannya.


''Makasih ya rin,'' Syifa tersenyum hangat pada Arin, ia sangat beruntung mempunyai teman yang selalu ada untuknya.


''Tapi besok pagi kamu harus lebih awal untuk bersiap biar kita mudah menemui ummi.'' Tutur Arumi dengan mulut penuh dengan makanan.


''Ih kamu makannya habiskan dulu Arumi!'' Arin sedikit cemberut menatap Arumi yang kebiasaan berbicara dengan makanan di mulutnya.


''Maaf.'' Arumi tersenyum dan mengatupkan tangan nya di dadanya dan tertawa. Ia pun kembali memakan makanannya.


''Hai....''


Teriak seseorang yang membuat sontak kami menoleh ke arah suara.


''Desi....''


Jawab Arin dengan semangatnya.


''Kamu udah balik lagi, aku kira kamu betah di rumah, sampai lama bener liburannya, atau jangan-jangan kamu beneran akan pindah?'' tanya Arini dengan wajah serius.


......................


Sementara Desi yang telah duduk di kursi ia menoleh ke arah Syifa.


''Eh ada santri baru, kirain aku si Suci.'' Tutur Desi yang mengira jika Syifa adalah Suci anak dari ibu kantin.


Desi pun mengulurkan tangannya kepada Syifa yang tersenyum manis padanya.


''Aduh maaf-maaf kenalin nama aku Desi Maharani atau Desi si cantik jelita.'' dengan centilnya Desi memperkenalkan dirinya pada Syifa, Syifa pun menerima uluran tangan Desi dan mengenalkan dirinya.


''namaku Syifa.'' Tutur Syifa dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


''Giliran aku yang ngomong malah di cuekin, aku doain kamu gak bisa denger yah.'' Sungut Arini yang tidak segera mendapat jawaban dari Desi.


''Jangan gitu dong, kan aku kenalan dulu tau, lagian kalian punya temen baru diem- diem aja.''


''Iya mba maaf''


Mereka pun tertawa karena melihat Arin yang terlihat seperti ratu drama.


''Aku gak bakalan jadi pindah ko, lagian kalau aku pindah kalian pasti kesepian gak ada aku yang cantik ini,'' sungut Desi berbicara.

__ADS_1


''Gak bakalan lah buat apa kita-kita kesepian, yang ada aku mah seneng mba kalo kamu gak ada rasanya kuping aku adem.''


Timpal Arin dengan santai yang melipat kedua tangannya di dada.


''Ih bener yah jahat banget sih punya temen.''


Sementara Arin tertawa dengan bebas nya melihat Desi yang cemberut.


''Maaf-maaf bercanda ko ayo sini gabung kita makan, kebetulan masih ada nih.'' Arini menyodorkan makanan miliknya.


''Des kamu ko tau kita disini?'' Tanya arumi yang menatap kearah Desi.


''Tau lah kalian kan doyannya cuman makan aja.'' Tawa Desi dengan lepasnya yang membuat mereka sama-sama tertawa.


''Oh ya, kamu udah lama Syifa disini?''


''Enggak, malah ini hari pertama aku disini.'' Tutur Syifa yang terlihat masih canggung.


''Pantes aja kamu masih canggung gitu, gak usah canggung gitu anggap aja kita itu saudara, lagian kita disini bakalan jadi keluarga bukan gitu kan?'' Desi bertanya pada Arini dan arumi


''Benar Syifa, kita kalau disini bakalan jadi keluarga sendiri.''


Setelah mereka sudah beres makan merekapun segera pergi ke kamar untuk segera bersiap-siap ke masjid.


''Syifa tadi kamu bilang kamu belum punya daftar buku kan?'' tanya Arin kembali


''Iya belum gimana dong?''


''Iya sudah lagian kita masih ada waktu gimana kalau kita ke kantor dulu untuk meminta list-nya.'' Tutur Arin memberikan saran.


Syifa dan Arin pun pergi ke kantor Karena masih ada waktu dan kantor pun masih buka, sementara Desi dan Arumi mereka pergi ke kamar untuk bersiap-siap.


''Tok... tok...tok....!''


''Assalamualaikum?''


Arin mengetuk pintu sebelum masuk.


''Iya masuk!'' terdengar jawaban dari dalam ruangan kantor.


Syifa dan Arin pun segera masuk setelah terdengar perintah masuk, benar saja para guru masih terlihat di kantor dan akan bersiap untuk kembali ke kamar mereka karena memang waktu sebentar lagi akan memasuki magrib.


''Ada apa rin?'' tanya Ustadzah Nadia yang menatap kedatangan mereka.


''Ini ustadzah, Syifa belum mendapatkan daftar buku apa aja yang akan dia pelajari.''


Arin mencoba menjelaskan kedatangan mereka pada Ustadzah Nadia.


''Oh ya, Ustadzah lupa untuk memberikan itu, soalnya dari tadi Ustadzah sedikit sibuk.''


''Ini Syifa daftar apa aja yang akan kamu pelajari, Arin nanti kamu tolong bantu Syifa untuk mencari buku-buku ini di perpustakaan.'' Tutur Ustadzah Nadia pada Arin yang masih terdiam dihadapan Ustadzah Nadia.


''Iya baik Ustadzah.''

__ADS_1


''Dan ini satu lagi besok kamu sekolah bersama Arin dan ini juga sama lembar untuk kamu isi, jika sudah kamu isi, kamu boleh berikan ini pada saya besok karena semua surat-surat perpindahan kamu telah selesai kamu boleh langsung mengikuti pembelajaran seperti yang lain nya.'' Terang Ustadzah Nadia yang menampilkan senyum hangat nya pada Syifa.


''Baik Ustadzah Terima kasih, kalau begitu kami ijin kembali ke kamar Ustadzah assalamualaikum.''


'' waalaikumsalam.''


Syifa dan Arin pun keluar dari kantor dan segera ke kamar karena sudah pukul setengah enam sore dan bentar lagi adzan magrib.


''Untung aja kamu temenin aku jadi besok aku gak usah ke rumah ummi, makasih ya rin.''


Syifa tersenyum pada Arin karena selama ini Arin selalu ada dan membantunya.


''Sama-sama Syifa kan sudah aku bilang kalau ada apapun aku akan bantu jadi kamu gak usah sungkan.


Arin pun membalas senyumannya.


Tak lama kemudian Syifa dan Arin telah sampai di kamar dan segera bersiap untuk ke masjid.


''Ayo, kamu gak siap-siap arumi?''


tanya Syifa pada Arumi karena terlihat Arumi yang malah bersantai.


''Aku lagi halangan nih ( lagi datang bulan ) jadi gak ikut kalian.


Setiap orang yang sedang halangan atau sedang datang bulan tidak dianjurkan untuk ikut pengajian karena memang pengajian nya di masjid, jadi bagi mereka yang datang bulan bisa menghafal di kamar masing-masing dan di saat subuh mereka biasanya membantu orang dapur untuk memasak makanan untuk para santri dan santriwati.


''Oh iya sudah, aku berangkat ya.'' Syifa mengikuti langkah kaki Desi dan Arin yang sudah lebih dulu berangkat ke masjid, terlihat juga banyak santriwati lainnya yang sama-sama berangkat ke masjid.


''Senang rasanya aku mondok, semoga aja ini adalah awal yang baik,'' gumam Syifa dalam hatinya, ia merasakan hal yang menyenangkan dalam hidupnya. Karena biasanya kalau di rumah jam-jam seperti ini banyak ia habis kan waktu dengan nonton TV atau hanya sekedar baca-baca buku,atau baca novel, tapi sekarang di sini ia merasakan hal yang berbeda.


Disini ia mengenal banyak orang dan menjalani sebagai keluarga dan seterusnya. Apalagi gak ada Hp karena setiap santri maupun santriwati dilarang membawa Hp setiap santri yang membawa Hp dan ketahuan malah akan di beri sanksi.


Tak lama kemudian setelah berwudhu dan menggelar sajadah adzan pun berkumandang, terdengar lantunan adzan yang sangat merdu, yang mengusik hati Syifa.


''Indah sekali lantunan adzan nya, baru sekarang aku mendengar adzan yang indah siapa ya? sepertinya dia sangat tampan seperti suaranya,'' dalam hati Syifa berkata, hanya senyumnya lah yang menggambarkan ia benar menyukai suara adzan itu.


adzan pun selesai berkumandang, para santri maupun santriwati melaksanakan shalat dengan khusyuk dan bersambung dzikir bersama.


......................


Setelah dzikir selesai, tirai pemisah antara santri dan santriwati pun di buka oleh para pengurus mesjid.


''Loh rin ko di buka?'' Tanya Syifa yang merasa heran.


''Ini tuh momen menegangkan tau.'' arin tertawa pelan dan menutup mulutnya.


''Aku serius, bukan nya santri putra dan santriwati putri itu di pisah?''


''Kita itu bakal ada tausiyah setiap malam Senin, udah ah dengerin aja asik tau,'' Arin terus memandangi tirai yang belum beres di buka,


''Asik dengerin tausiyahnya apa liatin para santri?'' sahut Syifa yang mengerti arah tatapan Arin sebenarnya.


''Dua-duanya'' Arini pun tertawa kembali sambil menutup mulut nya.

__ADS_1


Tak lama kemudian seorang santri mengambil pengeras suara dan memberikan nya pada ustad Yusuf.


Degh, jantung Syifa terasa berdebar kembali saat ia melihat Ustadz Yusuf di depan sana, perasaan yang aneh itu terasa muncul kembali. ''Aduh ustad Yusuf.'' Gumam Syifa pelan yang tak terdengar oleh siapapun.


__ADS_2