
Senyum yang selalu terukir di bibirnya ia sangat bahagia. Hanya beberapa jam lagi saja ia kan segera bertemu dengan istrinya.
Jalanan yang cukup sedikit ramai membuat Hanif menjalan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kantuk yang sudah tak ia rasakan sejak ia bangun dari tidurnya.
Waktu subuh kini telah hampir tiba Hanif memutuskan untuk menepi ke sebuah masjid karena ia tidak ingin meninggalkan shalat sembari ia istirahat sejenak sebelum ia melanjutkan kembali perjalanan yang cukup masih jauh.
.
.
''Mas bangun.'' Mira menggoyahkan tubuh suaminya karena tak kunjung juga bangun.
''Ada apa mir?'' Aris bangun dengan mata yang masih terpejam karena kantuk yang masih ia rasakan.
''Mas bangun, perut aku sakit.'' Mira merintih kesakitan karena ia kembali merasakan sakit.
Aris segara bangun dari tidurnya bahkan ia langsung membuka matanya dan menatap wajah sang istri yang terlihat menahan sakit.
''Kita ke rumah sakit yah.'' Aris hendak membangunkan tubuh mira yang masih terduduk di kasur mereka.
Mira hanya menggeleng kan kepalanya ia hanya ingin diberikan obat penahan sakit yang Rosa berikan padanya.
''Enggak mas aku hanya ingin kamu bawa obat yang Rosa berikan pada aku saja.''
Aris menarik napasnya panjang ia sangat khawatir dengan kondisi istrinya apalagi dokter sudah sering menyarankan agar istrinya selalu menjaga bayi dalam kandungan nya.
''Percuma mir, kamu sudah sering mengkonsumsi tapi kamu masih saja merintih sakit, kita ke rumah sakit saja ya.'' Pinta Aris dengan nada yang terdengar memaksa.
''Mas.''
''Aku siap-siap dulu. Aku gak mau di bantah lebih baik kita periksa saja.''
Aris berlalu dari hadapan Mira ia segera membasuh mukanya dan segera mengganti pakaian.
Terlihat wajah Aris sangat gelisah ia sangat takut jika kejadian masa lalunya kembali terjadi.
''Mas kamu shalat dulu aja aku baik-baik saja.'' Ucap Mira berusaha menahan sakit nya.
''Kita berangkat sekarang. Mas bisa shalat nanti di rumah sakit.'' Ucap Aris tak mengindahkan perkataan istrinya.
Aris segera menggendong Mira dan bergegas membawanya ke dalam mobil.
__ADS_1
Mira tidak bisa menolak permintaan suaminya memang bagaimana keputusan suaminya memang yang terbaik untuknya.
Pagi sekali mobil itu segera meluncur ke rumah sakit untung saja jalanan yang masih sepi pengendara membuat Aris melajukan mobilnya dengan cepat.
Kini mereka telah sampai pada tujuan dan Mira segera dibawa oleh beberapa orang perawat suruhan Rosa karena sebelum pergi Aris sudah menelpon Rosa agar ia segera ke rumah sakit.
Rosa yang baru saja datang ia sendiri menjadi panik dan segera masuk ke dalam ruangan dimana Mira berada.
Terlihat Aris sedang menunggu kedatangannya dengan wajah yang sangat khawatir.
''Rosa aku mohon berikan yang terbaik.''
''Mas berdoa saja semoga janin nya baik-baik saja.'' Ucap Rosa mengusap punggung Aris dan berlalu ke dalam ruangan.
Rosa segera menghampiri Mira yang sedang tidur di ranjang pasien ia segera memeriksa keadaan nya.
''Apa yang kamu rasakan mir?''
''Aku enggak tahu Rosa, hanya rasa sakit yang kian semakin menjadi saja entah kenapa.''
''Aku sudah menyuruh mu agar segera melakukan USG kamu selalu saja menolak padahal itu penting buat kamu mir.''
''Aku hanya takut jika aku mengetahui bayi ku di dalam sana aku semakin berharap dia akan bersama ku seperti yang pernah aku alami.'' Lirih Mira ia sendiri merasa bersalah karena karena kesalahan nya akan berimbas fatal pada bayi nya sendiri.
Rosa hanya takut jika apa yang ia katakan membuat Mira menjadi memiliki harapan yang sangat tinggi dan ia takut hal apa yang Mira alami terjadi kembali.
''Kita USG ya.'' Pinta Rosa dengan lembut berharap Mira akan menyetujui saran nya.
Mira hanya mengangguk kan kepalanya menyetujui saran dari Rosa karena bagaimana pun ia harus tahu keadaan bayinya sekarang.
Para perawat sudah menyiapkan alat untuk USG dan Mira pun segera tidur terlentang.
Rosa mulai mengoleskan jel pada perutnya dan mencoba melihat layar yang kini berada di depannya.
''Mir,'' Ucap Rosa terhenti seketika.
''Kenapa dengan bayi aku Rosa?'' tanya Mira karena sejak tadi Rosa tak hentinya menggerakkan alat yang kini berada di perut nya.
''Lihatlah ini ada dua bayi.'' Ucap Rosa yang merasa senang karena benar dugaan nya jika Mira sedang mengandung dua bayi kembar.
''Alhamdulillah,'' Mira menatap layar di depannya dengan perasaan haru.
__ADS_1
''Apa mereka baik-baik saja?''
''Syukurlah mereka baik-baik saja.''
Rosa mengelap jel yang masih tersisa di perut Mira dan setia berdiri di samping Mira.
''Aku sudah bilang tidak akan terjadi apa-apa kamu hanya perlu istirahat mir untuk anak-anak kamu kasihan.''
''Lalu kenapa perut aku sakit?'' Mira masih khawatir karena sakit yang ia rasakan.
''Kamu hanya mengalami kram perut hal wajar yang selalu terjadi pada ibu hamil kamu hanya butuh olah raga ibu hamil dan asupan gizi yang cukup dan satu lagi kurangi stres berlebih.''
''Baik Rosa makasih ya.''
Mira pun akhirnya keluar ruangan setelah perut nya tidak lagi sakit bahkan ia sudah tidak merasakan sakit lagi karena kini ia merasa sangat bahagia.
''Mir.'' Aris sedikit terkejut karena Mira kini sudah berada di hadapannya.
''Mas.'' Mira memeluk Aris dengan perasaan bahagia ia tidak bisa berkata-kata lagi hanya air mata bahagia yang kini membasahi pipi nya.
''Kamu baik-baik aja kan?''
Mira masih memeluk tubuh suaminya dan hanya mengangguk kan kepalanya.
Kini Mira melepas pelukannya ia menatap wajah suaminya yang selalu membuat hatinya tenang ia yang selalu mencintai nya sejak dulu.
Mira memberikan sebuah kertas hasil USG pada Aris dengan wajah yang menampilkan senyum nya.
Aris segera mengambil kertas yang Mira berikan padanya.
''Kembar. Bayi kita kembar.'' Aris tersenyum dan memeluk Mira kembali ia sangat bersyukur karena Allah memberikan mereka buah hati kembali dan kenyataan nya bukan satu bayi tapi dua.
''Terima kasih sayang.'' Aris mengecup puncak kepala Mira dengan lembut.
''Mas sudah shalat?'' tanya Mira menatap Aris.
''Aku sudah.'' Mira tersenyum bangga karena kini keluarga nya di berikan kasih sayang yang tiada hentinya besar rasa syukur yang ia rasakan semenjak mereka kembali.
Mira sangat bersyukur karena Syifa memilih untuk mondok dan itu adalah anugrah yang sangat mereka syukuri karena kini keluarga mereka menjadi lebih mengenal agama bahkan tak sampai di situ kebahagiaan Syifa menikah dan Mira hamil lagi seolah-olah tiada hentinya Allah memberikan kasih sayang pada keluarga mereka.
''Mas kita pulang, aku belum shalat.'' Ucap Mira yang mendapat anggukan dari suaminya.
__ADS_1
......................