Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 153


__ADS_3

Siang ini tak seperti biasanya. Syifa yang biasa menyibukkan dirinya di rumah kini ia berdiam di taman seperti hal yang selalu ia lakukan saat di pondok. Rasa lelah kini mulai menghampiri dirinya entah kenapa jiwanya seakan sangat rapuh di saat ia berharap akan mendapatkan kebahagian tapi kini ia harus menerima kenyataan jika sebaliknya yang harus ia rasakan.


Perasaan sesak yang selalu menghimpit dadanya seakan tak pernah berhenti luka yang belum kering karena kehilangan seorang calon bayi nya belum sempurna hilang di saat itu juga ia harus sabar menghadapi kenyataan sangat pahit. Bukan hal yang mudah untuk ikhlas menjalani sebagai orang lain di hadapan orang yang paling berharga dalam hidupnya seolah mustahil.


Syifa kini menangis dalam diam hanya air mata yang terus saja jatuh dalam diam nya meski sesekali ia terus saja menghapus jejak air mata berharap dirinya akan kuat menjalani hidup ini.


Sejak tadi Syifa diam di taman itu sepasang mata penuh tanya ia selalu memperhatikan nya. Hal yang seolah sama selalu ia lakukan juga saat ia merasa tidak memiliki semangat.


Perlahan Hanif melangkah kan kakinya mendekati wanita yang kini masih bersedih hingga ia kini berdiri di belakang wanita itu.


Terlihat sangat jelas wanita itu sangat menyimpan luka yang sangat dalam bahkan tubuhnya sampai bergetar.


''Apa aku boleh duduk disini?'' tanya Hanif membuka suara.


Sebenarnya Hanif tidak benar tahu alasan yang jelas kenapa wanita di hadapan nya itu terus saja bersikap sabar menghadapi dirinya tapi saat mendengar penuturan Lita tadi pagi ia menjadi bingung sendiri seakan takdir berkata jika memang dirinya hilang ingatan tapi kenapa sampai sekarang ia belum bisa mengetahui hal penting dalam hidupnya.


Flashback.


Pagi sekali saat Hanif hendak pergi ia terlihat sangat buru-buru hingga ummi merasa heran.


''Han siang ini kita ke rumah sakit ya.'' Ucap Ummi karena kini jadwal kontrol dirinya. Sudah dua minggu ini belum juga ada kabar baik dari putra nya membuat ummi semakin gelisah apalagi sikap Hanif yang enggan dekat dengan Syifa bahkan menerima ucapan sapaan mas saja Hanif menolak nya membuat ummi tidak tega.


''Maaf ummi tapi ada hal penting yang harus segera aku selesaikan.'' Ucap Hanif sambil menyendok kan makanan ke mulutnya.


Hanif ingin segera menemui Lita apalagi kini dirinya sudah sembuh lengan nya sudah bisa ia gerakan kembali membuat Hanif tak bisa menunda niatan nya untuk melamar Lita.


Hanif segera pergi setelah ia selesai makan dan berpamitan kepada kedua orang tuanya.


Selama perjalanan ia tidak bisa berhenti tersenyum hingga Hanif sampai di rumah sakit tempat dimana Lita bekerja.


''Lita?'' Ucap Hanif saat melihat sekilas Lita yang sedang berjalan menghampiri dirinya dengan raut wajah kagetnya pasalnya Lita yang ia lihat berbeda kini ia sedang hamil.


Lita yang merasa terpanggil ia menoleh dan tersenyum menghampiri Hanif.

__ADS_1


''Hai han, apa kabar?'' tanya Lita membuat Hanif semakin kaget karena bertanya soal kabar nya hal yang tak pernah ia lakukan karena mereka memang selalu bertemu.


''Apa kamu sedang hamil?'' tanya Hanif dengan sesak di dadanya yang kini ia rasakan bagaimana tidak wanita yang ia ingat sebagai calon istrinya kini sedang hamil besar.


Lita mengerutkan kening nya ia merasa heran tapi ia juga berpikir jika Hanif melupakan dirinya yang sedang hamil karena saat terakhir bertemu perut nya tidak se buncit sekarang.


''Iya han, aku sedang hamil sekarang usia kehamilan ku menginjak sembilan bulan.''


Hanif semakin syok mendengar ucapan wanita di hadapan nya ia kembali pusing bahkan terasa sangat sakit mendengar ucapan Lita.


''Aahhh.'' Hanif bersuara ia memegangi kepalanya yang semakin sakit.


Hingga beberapa detik berlalu ia terjatuh pingsan dan tidak mengingat apapun lagi.


Syifa sebenarnya mengikuti kemana suaminya pergi ia sangat ingin tahu kemana Hanif akan pergi sepagi ini meski dalam hatinya ia kecewa tapi tidak dapat di pungkiri dirinya sangat menyayangi lelaki yang kini melupakan dirinya.


Hanif yang sudah sadar diri kini ia bangun dan duduk sesekali ia memegang kepalanya karena masih pusing.


Lita tersenyum pada Hanif saat lelaki itu sadar. Terlihat Lita sedang di temani seorang dokter laki-laki di sana.


''Han, aku sudah tahu semuanya dari istri kamu, dia mengikuti mu dan kini ia sedang duduk di luar. Han aku hanya masa lalu kamu bahkan kita sudah hampir lima tahun berpisah. Aku sudah menikah dan ini Rian, Rian adalah suami ku aku.'' Ucap Lita dengan lembut.


Hanif menatap Rian dengan mendengarkan segala perkataan yang keluar dari mulut Lita ia berusaha mengingat kembali namun sayang tak sedikitpun ingatan itu muncul.


''Han percaya sama aku wanita yang kini bersama mu ia adalah istrimu, wanita yang sangat kamu cintai hingga kamu mampu melepas aku itulah kenyataan nya han dan perlu kamu tahu aku sangat mencintai Rian dia adalah suami yang baik seperti yang selalu kamu katakan. Makasih han kamu sudah memberiku jalan untuk bahagia.'' Lita segera keluar dari kamar Hanif dengan Rian memberikan Hanif berpikir akan kehidupan nya.


Hanif yang sudah lebih tenang ia keluar namun saat keluar ia mendapati Syifa yang sedang cemas dengan keadaan nya tanpa ingin bertanya Hanif langsung berjalan meninggalkan Syifa dan pulang kembali ke rumah nya.


Beberapa jam telah berlalu ia terus saja mengingat Lita dengan kata-kata nya membuat Hanif semakin pusing ia berniat untuk ke taman untuk memenangkan diri tapi tanpa di sangka ia melihat Syifa yang kini sedang bersedih.


Flashback on.


''Apa aku boleh duduk di sini?''

__ADS_1


Syifa hanya mengangguk dengan tangan yang satu nya segera menghapus jejak air mata yang membasahi pipi nya.


''Aku tidak tahu kenapa aku terjebak dalam situasi seperti ini, terlebih aku belum juga mengingat siapa kamu.'' Ucap Hanif membuka suara.


Syifa masih diam hatinya masih sakit atas perlakuan Hanif yang selalu dingin padanya apalagi setelah pagi ini ia mengikuti kemana suami nya pergi membuat Syifa semakin sedih bagaimana tidak seorang suami yang sangat kita cintai datang menghampiri mantan kekasih nya.


''Aku hanya minta maaf sama kamu jika aku sering membuat kamu terluka tapi aku mohon jangan menangis lagi.'' Hanif berkata dengan sangat pelan.


Ia memang belum tahu siapa Syifa namun saat Syifa menangis seperti tadi hatinya seakan tercubit entah kenapa ia juga belum tahu.


Syifa masih diam tak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya membuat Hanif berpikir jika wanita ini masih ingin sendiri hingga akhirnya ia memutuskan untuk beranjak bangun dari duduk nya untuk segera pergi ke masjid.


Syifa hanya menatap kepergian Hanif. Tak sedikitpun ia berkata air matanya tumpah kembali dengan segala kemampuan nya ia tidak bisa mencegah nya untuk berhenti menangis.


''Keluarkan saja nak,'' Ummi mengusap punggung Syifa yang terus bergetar karena tangisan nya.


''Ummi.'' Syifa memeluk erat tubuh sang ibu mertuanya. Bahkan ia semakin terisak membuat ummi pun tak kuasa melihat nya.


''Kamu harus sabar nak kamu harus kuat.'' Ummi berkata sambil mengusap punggung Syifa.


Syifa kembali melepas pelukan nya ia menghapus air mata yang tak kunjung kering.


''Syifa gak bisa ummi, Syifa gak kuat Syifa gak bisa seperti ini ummi.'' Lirih Syifa dengan pinang air mata nya.


''Kamu harus kuat sayang, ummi yakin kamu bisa melewati ujian ini,''


Namun Syifa menggeleng ia benar-benar sangat rapuh bagaimana ia bisa bertahan sedangkan Hanif sendiri terus saja menjauh darinya.


''Tak ada ujian yang Allah berikan pada hambanya melewati batas kemampuan hambanya Syifa, tentu kamu tahu itu, ummi tidak bisa berbuat apa-apa namun bukankan harapan selalu ada nak, bukankah doa kita selalu di dengar Nya.''


Syifa terdiam memang benar apa yang ummi katakan meski benar ia putus asa namun besar harapan nya untuk Hanif mengingat dirinya kembali.


''Iya ummi,''

__ADS_1


Ummi tersenyum dan kembali memeluk Syifa ia sangat bahagia melihat Syifa yang tulus menunggu Hanif dengan harapan-harapan nya.


......................


__ADS_2