Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 50


__ADS_3

Pagi hari sekali Yusuf menghampiri abah nya yang sedang duduk di kursi depan rumah. Ia berniat mengutarakan maksudnya kembali.


''Bah.'' Yusuf memanggil Abah nya yang sedang memandangi taman di depan rumahnya.


Abah pun menoleh ke arah Yusuf dan tersenyum.


''Ada apa yus?'' abah tahu jika Yusuf sedang banyak pikiran.


''Bah aku minta ijin dari abah, bagaimana jika Nadia kembali ke pondok, aku rasa kita harus memberinya kesempatan lagi, semoga saja ia akan berubah.'' Ucap Yusuf perlahan ia merasakan debaran jantungnya yang terasa kencang kembali ia sangat takut jika Abah nya akan menolak permintaannya.


''Apa yang membuatmu yakin jika Nadia akan berubah jika kamu memberinya kesempatan lagi? bukankah abah sudah memberinya dua kali kesempatan untuk dia bisa berubah?'' tanya abah yang menatap lekat-lekat putranya.


''Aku tahu itu bah, tapi apakah hati abah tidak tersentuh ketika abah mendengar kondisinya sekarang? aku merasa sangat kasihan bah, aku merasa karena akulah penyebabnya sekarang mungkin dengan cara aku memberinya kesempatan Nadia akan berubah.'' Tutur Yusuf yang memandangi abah nya.


''Apa alasan kamu berkata seperti itu? tentu abah sangat kasihan, tapi membiarkan Nadia tinggal disini kembali apakah kamu dapat menjamin dia tidak akan berbuat onar lagi? kamu tahu tindakan Nadia sangatlah tercela. Dan jika dia mengulanginya kembali apa yang akan kamu lakukan?'' tanya Abah dengan penekanan.


Yusuf hanya terdiam, memang benar apa yang abah katakan, ia tidak memikirkannya sejauh itu.


''Abah tahu niat mu baik, tapi dengan memperistri Nadia seperti waktu malam kamu katakan itu kurang tepat, abah setuju saja jika kamu menikah dengan dia, tapi bukan seperti itu cara yang tepat.'' Abah menarik napasnya dalam-dalam dan kembali menatap Yusuf.


''Pertemukan lah Syifa dengan Nadia.'' Tutur abah pada Yusuf.


''Lalu?'' tanya Yusuf pada Abah nya.


''Biarkanlah mereka mengobrol berikan mereka kesempatan untuk berbicara berdua, jika Nadia bersikap tidak baik lagi pada Syifa, biarkan saja Nadia menjadi urusan kedua orang tuanya, tapi jika Nadia bersikap baik barulah kita beri ia kesempatan untuk kembali ke pondok. Dan soal menjadikan Nadia menjadi istrimu, abah akan serahkan semuanya sama kamu, abah tidak akan memaksa kamu untuk segera menikah. Menikah bukan soal siapa yang akan menjadi calon istrimu bukan dia yang sempurna tapi atas kehendak Tuhanmu, menjadikan siapa pun yang akan menjadi istrimu ialah yang akan menjadi tanggung jawab mu, baik buruknya istrimu kelak dia lah yang akan menemanimu sampai surga.'' Abah pun mengusap pundak putranya ia tahu jika Yusuf akan bisa menentukan pilihannya.


''Terima kasih bah,'' Yusuf pun tersenyum pada Abah nya.


Yusuf berpikir apa yang abah nya katakan memang benar.

__ADS_1


''kalau begitu bagaimana jika Syifa ikut kita bah untuk menemui keluarga abi Husein nanti siang?'' tanya Yusuf meminta pendapat abah nya.


Abah pun menyetujui jika nanti siang ia akan ke rumah abi Husein dan juga Syifa bersama keluarganya.


''Bah, aku pamit dulu untuk segera pergi ke madrasah dan mungkin nanti siang aku akan memberitahu Syifa langsung dengan maksudku untuk mengajaknya pergi.''


Abah pun mengangguk dan menepuk pundak Yusuf, abah tahu jika putranya kini sudah dewasa, abah akan menyerahkan sepenuhnya keputusan pada dirinya sendiri karena ia percaya jika Yusuf tahu mana yang terbaik untuk dirinya sendiri.


Yusuf pun yang menyalami abah nya dan berlalu ke madrasah.


Ia berjalan menyusuri tempat yang begitu terasa sepi, dulu ia selalu bersama Nadia ia selalu ada bersamanya dan mendengarkan segala keluhan yang akan ia bagi bersama Nadia.


''Aku ingin kamu berada disini lagi nadia, aku harap kamu dapat berubah.'' lirih Yusuf menatap jalanan yang selalu mereka lewati bersama.


Banyak kenangan yang melintas dalam benaknya, ia merasakan ada sesuatu hal yang sangat ia rindukan bersama Nadia. Ia merasa jika kini hatinya merasa kesepian.


Dari kejauhan Yusuf melihat Syifa yang sedang berjalan akan masuk ke kelasnya. Ia menatapnya dengan perasaan yang berbeda.


''Aku akan ikhlas Syifa, semoga kamu akan bahagia bersama sahabat aku. Aku ikhlas.'' Lirih Yusuf yang mempercepat langkahnya untuk segera memasuki ruangannya.


Hatinya sedikit perih meski ia dapat merasakannya, namun ia tidak bisa egois karena akan ada hati yang sangat terluka, ia pun akan berusaha melepasnya dengan semua rencana yang Allah tentukan untuknya.


Beberapa jam telah berlalu para santri dan santriwati yang telah menerima hasil ujian mereka begitu bahagia karena tidak ada yang mendapatkan remedial.


Syifa pun tersenyum manis melihat nilai ujiannya mendapat nilai yang sempurna.


Yusuf yang tengah berada di depan kelas, ia pun mengalihkan pandangannya berulang kali ia menepis semua angan yang tetap saja memaksanya untuk berharap pada Syifa.


Bel pun berbunyi tandanya jam sudah selesai. Para santri dan santriwati pun bergegas kembali ke pondok.

__ADS_1


Syifa dan ke tiga sahabatnya pun berjalan beriringan mereka bersenda gurau dan saling berbagi cerita entah apa yang sedang mereka bicarakan.


Yusuf yang tengah berada di belakang mereka ia pun memberanikan diri untuk memanggil Syifa.


''Syifa?'' sahut Yusuf yang berdiri tak jauh dari Syifa yang sedang berjalan.


Syifa pun menoleh ke arah suara, ia melihat Yusuf yang sedang menatapnya.


''Kita duluan ya fa,'' sahut ke tiga sahabatnya dan berlalu meninggalkan Syifa dan Yusuf.


Syifa hanya berdiam diri di tempatnya ia tidak bergeming menunggu apa yang akan Yusuf katakan padanya.


''Boleh aku meminta waktumu sebentar.'' Sahut Yusuf yang sedikit gugup.


Syifa hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda ia menyetujuinya. Debaran jantung yang tak bisa ia kendalikan hatinya merasa senang namun ada rasa tidak enak hati saat ia harus bersama Ustadz Yusuf mengingat ia telah menyakiti hatinya.


Yusuf menarik napasnya perlahan.


''Fa, aku ingin meminta bantuan kamu, apakah kamu mau jika bertemu kembali dengan Nadia.''


Syifa yang sedang menundukkan kepalanya ia pun seketika menatap wajah Yusuf yang selama ini ia cintai. Ia menatap dengan pandangan yang susah di artikan.


''Aku tahu jika permintaan aku ini sedikit berat untukmu, tapi Nadia membutuhkan kamu.'' Yusuf pun akhirnya menceritakan kondisi Nadia yang saat ini mengalami guncangan jiwa.


Syifa yang baru mengetahuinya ia sangat terkejut, hatinya sangat merasa kasihan pada Ustadzah Nadia yang selama ini membimbingnya selama di pondok. Meski ia pernah beberapa kali menyakitinya tapi ia tahu jika Nadia adalah sosok wanita yang baik.


''Aku mau bertemu dengan Ustadz Nadia, Ustadz.'' Jawab Syifa pelan ia tidak bisa menatap wajah Yusuf. Ia pun berlalu meninggalkan Yusuf yang bernapas lega karena Syifa bersedia menemui Nadia.


......................

__ADS_1


__ADS_2