Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 107


__ADS_3

Yusuf tidak terlalu fokus di jalanan ia selalu teringat perkataan Maya membuat dirinya merasa bersalah karena memutuskan keputusan dengan pikiran yang tidak matang bahkan ia selalu mengulangi kesalahan yang sama.


Yusuf menarik napasnya kasar dan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang di jalanan.


Lima belas menit telah berlalu akhirnya kini ia telah sampai di kediaman nya.


Yusuf keluar dari dalam mobilnya ia menatap ada beberapa mobil yang kini terparkir dengan rapih di halaman rumahnya ia berjalan begitu saja dan masuk ke dalam rumah nya.


''Assalamu'alaikum.'' Salam Yusuf yang baru saja sampai ke dalam rumah nya terlihat beberapa orang sedang asik mengobrol langsung menoleh ke arah sumber suara dengan serempak menjawab salam yang Yusuf ucapkan.


''Sini nak.'' Sahut ummi mendapati anak nya malah mematung di ambang pintu.


Yusuf sedikit heran dengan kehadiran orang-orang yang entah siapa ia sendiri tidak mengenal namun sepertinya ia mengingat siapa lelaki yang kini menatapnya dengan senyum yang kini mengembang dari sudut bibir nya.


Yusuf segera duduk bersama ummi dan juga abah nya sesuai perintah sang ummi.


''Assalamu'alaikum.'' Salam Arumi yang baru saja masuk ke dalam rumah abah karena perintah seseorang yang memberi tahu ada kedua orang tuanya.


Terlihat Arumi segera menyalami kedua orang tuanya yang sudah lama tidak mengunjungi nya. Biasanya kakak nya saja yang akan mengunjungi Arumi namun kini ia begitu senang mendapat kunjungan dari kedua orang tuanya.


''Kamu sehat nak?'' tanya Ayah pada Arumi.


''Alhamdulillah yah.''


Arumi segera menyalami kedua orang tuanya dan juga kakak dan iparnya Arumi pun duduk bersama kedua orang tuanya dan juga kakak Arumi yang kini bersama nya.


Mereka pun saling mengobrol ringan dan melepas rindu bersama.


''Saya baru tahu kalau Arumi ternyata anak mu gus.'' Abah tersenyum kepada Ayah Arumi yang bernama Agus seperti namanya mereka adalah sahabat baik sejak abah dan ayah Arumi dulu mondok namun ayah Arumi tidak melanjutkan mondok ia memilih membuka usaha sejak remaja dan kini ia menjadi seorang pengusaha sukses karena memang ayah Arumi berasal dari keluarga berada.

__ADS_1


Abah baru mengetahui karena selama ini Arumi tak pernah mendapat kunjungan dari kedua orang tuanya hanya kakak nya saja yang selalu mengunjungi nya dan juga yang menghadiri acara pertemuan orang tua hanya kakak nya saja yang akan hadir.


Mereka saling melepas rindu atas pertemuan yang sejak tadi mereka temui.


''Ini tuh Yusuf?'' tanya Ayah Arumi karena ia sempat ingat dengan anak dari sahabat baiknya ia pernah melihat saat mereka bertemu di acara reuni pondok dan sejak saat itu mereka tidak pernah bertemu lagi.


''Iya gus, ini Yusuf anak aku yang dulu minta jajan sama kamu.'' Kekeh abah mengingat masa lalu dimana putra nya menangis meminta jajan namun ayahnya tidak memiliki cukup uang untuk membeli mainan yang Yusuf inginkan.


Mereka pun tertawa bahkan Yusuf sendiri ikut tertawa dan ia merasa malu karena kelakuan nya waktu kecil.


''Kamu sudah besar. Sudah menikah kah?'' tanya ayah Arumi pada Yusuf.


Yusuf hanya tersenyum dengan pertanyaan dari ayah Arumi.


''Belum gus, mana bisa anak saya nikah dia sendiri seperti enggan mengenal wanita.'' Kekeh Abah mewakili putra nya.


''Oh. Seperti itu,''


''Kita pulang dulu ya gus sudah hampir magrib.''


''Jangan dulu lah. Shalat lah di sini saja lagian kita baru saja bertemu kita makan-makan dulu nanti.'' Ucap abah yang mendapat anggukan dari ummi.


''Ayah, Arumi mau kembali ke kamar ya.'' Ucap Arumi karena ia harus segera ke masjid.


''Iya Dek.'' Ucap ayah Arumi menyetujui sementara keluarga Arumi mereka masih di rumah abah dan memenuhi keinginan dari keluarga abah.


Arumi kini telah kembali ke kamar nya. Sedangkan ibu dan juga kakak dari Arumi mereka membantu ummi memasak untuk memberikan perjamuan kepada mereka.


Banyak obrolan yang kini keluar dari mulut ke empat lelaki yang masih terlihat asyik saja.

__ADS_1


''Kita jodohkan saja Yusuf dengan anak aku gus.'' Ucap ayah Arumi sekena nya ia sangat berharap jika Yusuf belum memiliki calon. Ayah Arumi melihat sosok Yusuf yang terlihat dewasa dan seperti calon menantu idaman nya.


Abah menatap putra nya dan tersenyum.


''Aku sih setuju-setuju sama ide kamu gus, tapi apa mereka mau?''


Yusuf tak bisa menjawab ia seakan membeku seakan syok dengan permintaan dari ayah Arumi.


''Kamu mau kan Yusuf?'' tanya abah menanyakan pada putra nya karena ia sendiri ingin segera melihat putranya menikah.


Yusuf menatap abah dengan perasaan yang aneh ia sendiri tak pernah berpikir ia akan bersama Arumi. Namun kini ia mengangguk tanpa menjawab.


''Alhamdulillah sebaiknya kalau begitu kita obrolan saja nanti sama Arumi.'' Ucap sang kakak yang merasa senang ia melihat


sosok Yusuf yang cocok untuk adik ipar nya.


''Iya nanti selepas magrib biar Arumi panggil saja kesini.'' Ucap Abah dengan senyum yang mengembang.


Ayah Arumi sangat berharap jika Arumi akan menerima perjodohan ini apalagi kini putrinya sudah terlihat tumbuh dewasa memiliki pasangan dengan cepat akan membuat hatinya menjadi lega apalagi bersuamikan Yusuf yang ia tahu bobot dan juga bebet nya membuat ayah Arumi ingin segera menikahkan mereka.


Semua orang yang berada di sana sudah mengetahui rencana kedua lelaki mereka dengan senang mereka menerima nya kini hanya tinggal Arumi saja yang mereka harapkan akan menyetujui permintaan dari kedua belah pihak keluarga mereka.


''Tapi yah apa tidak terlalu terburu-buru?'' tanya ibu karena ia sedikit khawatir jika Arumi akan menolak keinginan mereka dan akan membuat keluarga mereka sendiri malu.


''Biar Arumi aku saja yang akan urus bu, ucap Devan suami dari kakak Arumi.


Ibu Arumi hanya bisa bernapas berat saat ia mengingat Arumi yang seperti di paksa harus menerima lamaran ini secara mendadak bahkan ibu sendiri memikirkan bagaimana jika Arumi sudah memiliki lelaki yang ia sukai.


Ibu sendiri merasa mengingat pernikahan dirinya dengan ayah Arumi karena paksaan dari kedua orang tuanya karena menganggap jika ayah Arumi adalah sosok lelaki yang cocok untuknya meski dirinya sendiri akhirnya bisa menerima ayah Arumi dengan ikhlas bahkan ia mencintai nya tapi tetap saja ke khawatiran yang ia rasakan tak kunjung juga hilang.

__ADS_1


''Sudah buk, jangan pikirkan lagi ayah yakin Arumi akan menerima semua keputusan ini lagian Yusuf sosok lelaki yang baik untuk anak kita. Yusuf saja mau menerima perjodohan ini.'' Ayah Arumi berkata dengan senang nya ia tidak bisa menyembunyikan kebahagian yang kini ia rasakan.


......................


__ADS_2