Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 89


__ADS_3

Lita sejak tadi ia hanya berdiam diri di kamarnya memandangi pohon yang tinggi di samping kamarnya.


Sejak Rian mengatakan hal yang membuatnya kini benar-benar mundur untuk mendapatkan cinta Hanif ia berpikir untuk merubah dirinya sendiri.


''Aku memang udah keterlaluan.'' Gumam Lita dengan pandangan yang tidak sedikit pun beralih.


Entahlah entah perasaan apa yang kini hinggap di hatinya semua yang kini ia rasakan hanya kesunyian yang kini ia rasakan.


Bahkan panggilan dari sang maminya tak ia hiraukan.


Lita hanya ingin sendiri ia tidak membutuhkan perhatian orang lain ia hanya ingin menenangkan pikirin nya yang kini melayang dan bahkan terhempas seperti perasaan nya.


''Lita kamu baik-baik aja kan nak?'' sahut maminya namun tetap seja Lita tidak berniat untuk membuka pintu bahkan sekedar menjawab pertanyaan sang ibu ia tidak ingin.


Mami yang kini terlihat sangat khawatir ia pun akhirnya memutuskan untuk menelpon Rian. Mami sangat berharap jika Rian yang membujuknya ia mau keluar.


Sudah seharian ia tidak keluar dari kamar membuat mami sangat takut kenapa-kenapa apalagi saat ini ayah Kita sedang berada di luar kota.


''Iya tan?'' jawab Rian dari sebrang telepon.


Mami pun menjelaskan apa yang terjadi pada Lita ia sendiri tidak tahu apa yang sedang anaknya lakukan di dalam kamarnya. Ia hanya berharap jika Lita baik-baik saja.


''Baik tan, bentar lagi aku akan ke sana tapi setelah ini soalnya aku masih belum beres maaf ya tan.'' Jawab Rian karena ia sendiri tidak bisa meninggalkan tanggung jawab nya sebagai dokter dengan meninggalkan pasien nya sekarang.


Mami hanya bernapas berat pikirannya mulai tidak karuan ia terus memandangi pintu kamar putrinya berharap segera terbuka.


Dua puluh menit berlalu kini Rian telah selesai dengan pekerjaan nya ia pun segera membereskan alat-alat medis di dalam ruangannya dan segera ke luar dari pintu rumah sakit itu menuju parkiran.


''Ada apa dengan mu ta?'' Rian mengusap wajahnya kasar karena ia sempat menghubungi Lita namun tak ada jawab hingga sudah dua kali panggilan yang ia lakukan tetap saja wanita itu tidak mengangkatnya membuat Rian segera melajukan mobilnya dengan cepat.


Lima belas menit telah berlalu akhirnya kini Rian telah sampai di kediaman Lita.


Ia pun segera turun dari dalam mobilnya dan menuju pintu rumah.


Tak berselang lama mami menghampiri pintu karena mendengar suara mobil.


''Apa Lita masih berada di kamarnya tan?'' tanya Rian sambil melangkahkan kakinya ke dalam rumah Lita.


''Iya, cobalah kamu bujuk Lita Ian. Tante sangat takut.'' Lirih mami yang hampir terisak.

__ADS_1


''Baik tan.'' Rian pun segera menaiki tangga menuju kamar wanita yang masih setia berada di dalam hatinya.


''Lita? kamu di dalam kan?'' tanya Rian berharap Lita membuka pintu namun nyatanya ia tidak membuka bahkan sama ia tidak menjawab pertanyaan Rian.


''Aku akan dobrak pintu nya jika kamu gak buka ta!'' Rian menaikan suara karena telah menunggu beberapa saat pintu itu tetap tidak di buka.


Rian pun terpaksa mendobrak pintu kamar Lita dan ia pun segera memasuki kamar Lita dan mencari keberadaan Lita.


Terlihat Lita sedang berdiri di balkon sedang memandangi langit yang terlihat panas.


Perlahan Rian menghampiri Lita yang masih setia berdiri entah ia menyadari keberadaan dirinya atau tidak.


Rian menyentuh punggung Lita dengan lembut.


''Ta,'' ucap Rian masih dengan posisi yang sama.


Lita pun menoleh ke arah Rian dan membalikan tubuhnya ia pun langsung memeluk tubuh Rian yang masih setia berada di sampingnya.


''Aku minta maaf.'' Lirih Lita sambil terisak.


Rian pun membalas pelukan Lita ia sangat khawatir jika Lita kenapa-kenapa tapi ia sangat bersyukur ternyata Lita baik-baik saja.


''Kamu tidak perlu meminta maaf pada aku ta, kamu tak pernah membuat kesalahan sama aku.'' Ucap Rian yang kini menghapus jejak air mata di pipi wanita yang sangat ia cintai.


''Aku selalu menyakitimu ian aku tidak menyadari betapa besar cinta kamu sama aku, tapi aku tetap saja tidak menghiraukan perasaan kamu aku tetap saja berusaha mencintai lelaki yang tak pernah mencintai aku.'' Lita berkata dengan derai air mata yang kini membasahi wajahnya.


Rian tersenyum dengan apa yang kini ia dengar ia sudah berjanji untuk selalu menanti Lita hingga ia dapat membuka hatinya untuk dirinya.


Rian kembali memeluk tubuh wanita yang kini masih saja terisak di depan nya.


''Aku akan selalu mencintai mu, karena aku sangat mencintai mu.'' Rian mengusap rambut Lita dengan sayang tak pernah ia membayangkan jika Lita akan seperti ini di hadapannya.


''Kamu mau kan menerima aku kembali dalam hidupmu?'' tanya Rian yang kini melepas pelukannya dan beralih menatap Lita.


Lita mengangguk mengiyakan meski kini dirinya akan belajar membuka hatinya untuk lelaki yang selalu membuat dirinya merasa nyaman.


Lita sendiri berharap jika dirinya akan bisa mencintai Rian. Lita sadar bahwa kesalahan terbesar jika dirinya masuk ke dalam hubungan rumah tangga orang lain ia akan belajar melupakan Hanif dan belajar untuk mencintai Rian.


.

__ADS_1


.


Bandung.


Abah yang kini sedang berada di taman belakang bersama Yusuf mereka pun kini berjalan ke ruang tamu karena ummi mengatakan jika Hanif dan Syifa kini sedang menantinya.


''Maaf kalian jadi menanti abah.'' Sahut abah yang kini duduk di susul oleh Yusuf.


Abah tersenyum dengan kehadiran mereka ia tahu ada sesuatu yang kini akan mereka katakan.


''Tidak bah, justru aku minta maaf sama abah karena aku sudah mengganggu waktu istirahat abah.'' Ucap Hanif karena merasa tidak enak hati.


Abah menanggapi perkataan Hanif dengan senyuman nya.


Mereka pun mengobrol ringan sebelum Hanif mengatakan maksud kedatangannya.


Ummi telah kembali dengan nampan berisi minuman untuk tamu dan juga untuk abah dan Yusuf.


''Ayo di minum nak.''


''Terima kasih ummi.'' Sahut kedua pasangan itu.


''Oh ya abah, ummi, yus, sebenarnya aku kesini mau mengatakan maksud kedatangan aku.'' Hanif berkata dengan sedikit hati-hati.


Yusuf menatap sabahat baiknya dengan perasaan yang kini entah perasaan apa yang kini ia rasa Yusuf mengira jika kedatangan Hanif adalah memberi tahu kepadanya untuk memberitahu undangan pernikahan yang mungkin saja akan segera di laksanakan seperti halnya Nadia waktu itu.


Yusuf menarik napasnya dalam ia akan menerima berita apa pun yang akan ia dengar saat ini hatinya kini sudah ia siapkan untuk segala hal yang akan ia dengar.


Hanif menarik napasnya kembali sebelum ia benar-benar mengatakan maksud nya.


''Abah, ummi, yus saya ingin memberi tahu jika kami sudah menikah.''


......................


bersambung.


Hai kakak-kakak pembaca novel Ustad impian, sebelumnya author minta maaf ya jika tulisannya masih acak-acakan karena masih tahap belajar.


jadi mohon dukungannya ya dengan memberikan saran yang membangun dan jangan lupa like cerita nya ya jika kalian suka terimakasih juga buat yang sudah mampir di karya aku love love love buat kalian semua 🥰

__ADS_1


salam Semangat☺😍


__ADS_2