Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 121


__ADS_3

Waktu sudah berlalu bahkan siang sudah berganti dengan langit berwarna jingga karena kini sudah sangat sore.


Namun tubuh lelaki itu masih terbaring di atas sofa dengan begitu terlelap nya bahkan suara bising yang berasal dari restoran milik nya tidak sedikit pun mengganggu dirinya.


Hingga kini ketukan dari balik pintu membuat ia terperanjat kaget membuat ia terbangun.


Hanif menggeliat tubuh nya merasa pegal karena posisi tidur yang salah apalagi jika di ingat mungkin satu jam lamanya ia tertidur setelah ia menelpon istrinya.


Hanif berjalan perlahan ke arah pintu dan segera membuka nya.


''Ada apa ki?'' tanya Hanif pada karyawan kepercayaan nya Kiki.


''Enggak pak, saya hanya ingin memastikan jika pak Hanif masih di dalam soalnya sekarang sudah hampir tutup.'' Jelas Kiki karena Kiki merasa jika ruangan itu masih ada sang pemilik restoran karena jika ya maka kunci pintu ruangan itu sudah tidak ada bahkan tidak menempel di luar terlebih mobil yang Hanif kendarai masih terparkir dengan rapih di depan restoran milik nya.


''Oh ya Terima kasih ki.''


Kiki pun berlalu dari hadapan nya ia membantu teman-teman nya membereskan restoran yang akan tutup karena Hanif hanya membuka restoran sampai sore saja untuk hari sabtu dan sampai jam sembilan malam untuk hari-hari lain nya.


Hanif segera merapikan kembali pakaian nya bahkan ia sendiri belum makan dan membiarkan ruangan nya terbuka untuk di rapikan oleh pegawai nya.


Hanif berjalan ke luar ia tidak ingin terlalu larut sampai ke rumah karena sore tadi ia sudah melewatkan mengajar di pondok. Cuaca yang baru saja cerah kini berubah menjadi mendung sepertinya akan turun hujan.


Hanif segera masuk ke dalam mobil nya dan segera melakukan mobil nya meninggalkan restoran nya yang sudah lama ia bangun.


Jalanan yang cukup ramai dengan pengendara kini mobilnya berbaur dengan kendaraan lain. Seketika hujan turun dengan lebat bahkan terdengar suara petir yang saling silih berganti menambah keheningan di saat ini.


Pukul lima sore Hanif belum juga sampai karena ia memperlambat laju mobil nya dengan penerangan yang mulai terganggu karena hujan semakin lebat turun.

__ADS_1


Lima belas menit telah berlalu kini ia sudah sampai di kediaman nya. Hanif yang sudah sampai ia segera keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumahnya karena hujan yang besar bahkan baju yang ia kenakan terkena basah saat akan masuk ke dalam rumah.


''Assalamualaikum.'' Salam Hanif ketika ia masuk ke dalam rumah nya.


''Han!'' Panggil ummi saat ia mendengar suara Hanif yang baru saja masuk.


Hanif segera menghampiri ummi yang berada di kamar nya.


''Astagfirullah ummi abi kenapa?'' tanya Hanif karena ia melihat abi terbaring di kasur nya dengan selimut tebal menutupi tubuhnya namun abu terlihat kedinginan.


''Tadi pagi abi panas tapi abi memaksakan diri mengisi kajian han dan setelah pulang malah seperti ini.'' Ucap Ummi merasa khawatir pada suaminya.


Hanif segera mengecek suhu tubuh abi nya dan ternyata panas nya berlebih namun kini abi malah muntah-muntah entah kenapa Hanif juga tidak tahu sedangkan abi hanya mengeluhkan pusing saja dan sakit di bagian perut nya.


Hanif hanya mengira jika abi nya hanya masuk angin dan karena sering muntah abi menjadi kram.


Hanif sejak tadi menemani abi jua ia bahkan memijat tubuh abi yang cukup panas.


''Abi makan dulu ya.'' Ummi menyodorkan makanan dan ia juga menyuapi abi.


Hanya seperti ini lah keluarga ummi kadang ummi merasa sangat kesepian ia bahkan sangat takut jika salah satu keluarganya mengalami sakit karena hanya bertiga di rumah.


Abi menerima suapan yang ummi berikan namun rasa mual yang abi rasakan tak bisa ia rasakan lagi bahkan bukan nya masuk makanan itu namun malah terbuang lagi karena perutnya seakan menolak di beri makan.


Dengan sabar ummi mengurus abi. Kini ummi memberikan segelas air hangat untuk abi minum untuk menghilangkan rasa mual dari dirinya. hingga kini abi terlelap dengan balutan selimut yang tebal.


''Han sebaiknya kamu ganti baju dulu.'' Ummi mengusap lengan baju Hanif yang sedikit basah bahkan keadaan putranya sedikit acak-acakan.

__ADS_1


''Ya sudah Hanif ganti baju dulu ya ummi.'' Hanif berjalan keluar kamar ummi ia segera menaiki satu persatu anak tangga namun pikiran nya kini mengingat abi.


Hanif merasa jika ia terlalu sibuk dengan urusan nya sendiri membuat ia merasa menyesal karena abi yang mengisi semua kajian yang di peruntukan untuk abi andaikan dia tidak sibuk mungkin ia bisa mengambil jadwal yang ia rasa mampu.


Dering ponsel kini terdengar kembali. Hanif mengambil ponsel yang baru saja ia keluarkan dari saku celana nya.


Terlihat Syifa yang kini sedang menghubungi nya.


''Assalamu'alaikum yang.'' Salam Hanif kepada Syifa.


''Assalamualaikum. mas kamu marah sama aku?'' tanya Syifa langsung pada intinya karena Hanif sejak tadi mengabaikan panggilan nya.


''Enggak yang, aku hanya tertidur saja.'' Jawab Hanif jujur karena ia memang sedikit lelah dan akhirnya tertidur.


''Mas aku minta maaf jika aku membuat mas salah paham tapi bukan maksud aku seperti itu.'' Ucap Syifa seakan tertahan bahkan Hanif tahu jika kini istrinya sedang ingin menangis.


''Udah yang aku gak pernah marah hanya saja aku sedikit kecewa tapi aku juga salah karena aku mengabaikan perasaan kamu.'' Hanif tahu jika ia juga bersalah karena memaksakan keinginan nya.


''Sudah yang aku tidak akan meminta apa yang kamu rasa tidak bisa kita akan saling belajar memahami aku akan bersabar menunggu kamu sampai nanti lulus.'' Ada rasa sesak yang kini Hanif rasakan menunggu pasangan yang sangat ia cintai dengan jarak jauh tanpa bisa bersamanya hanya dengan melihat wajahnya ketika video call saja membuat dirinya melepas rindu itu sangat berat bagaimana tidak pernikahan yang baru saja terjadi hanya dengan hitungan minggu mereka berpisah sampai detik ini ia berusaha sabar. Sabar dalam menjalani ketentuan Allah tepatnya dengan mengingat bahwa Allah lah yang membuat dirinya dengan Syifa berpisah membuat setitik harapan jika akan ada masa nya mereka menikmati kebersamaan dan menikmati indah nya berumah tangga.


Terdengar suara isak tangis dari sebrang telepon ya Hanif tahu itu jika Syifa kini sedang menangis.


''Sudahlah yang mas minta maaf karena mas kamu jadi bersedih.'' Lirih Hanif merasa tidak tega mendengar Syifa menangis.


Hanif berusaha bersikap tenang ia tidak ingin membuat Syifa terluka atau merasa bersalah.


......................

__ADS_1


__ADS_2