
Sore menjelang di kediaman ayah Syifa yang berada di ibukota yang padat akan penduduk membuat siapa saja yang berada di sana akan merasakan udara yang terasa sangat panas. Meski mereka berada di dalam ruangan tetap saja hawa udara yang menyeruak masuk ke dalam ruangan membuat keringat bercucuran.
''Mas, apa mas sudah cek keadaan mobil?'' teriak Mira yang sedang sibuk di dapur menyiapkan makan sore untuk mereka berdua.
Kini memang hanya ada ibu dan ayahnya saja saat Syifa berada di pondok membuat keadaan rumah terasa sangat sepi.
Mira yang di sarankan oleh dokter untuk tidak memiliki keturunan lagi setelah ia pernah mengalami keguguran membuat dirinya kadang berpikir untuk mengadopsi anak dari panti untuk menambah kehangatan di dalam rumah mereka. Namun permintaan itu tidak pernah mendapat dukungan dari suaminya sampai mereka berpisah dan kini mereka kembali bersama.
Mira pernah kembali mengutarakan keinginannya setelah bersama karena merasa sepi apalagi kini Syifa yang tidak bersamanya.
Hanya saja Aris yang tidak menyetujui usulan Mira. Menurut Aris, Mira masih dapat memiliki keturunan lagi dan semua akan baik-baik saja karena hasil dari pemeriksaan dokter itu adalah hasil pemikiran manusia, yang memungkinkan adanya kesalahan.
Meski berulang kali Aris menguatkan Mira agar bersedia hamil kembali namun tetap saja rasa takut yang selalu menghampiri Mira itu datang. Ia sangat takut jika ia akan kembali merasakan sakit. Pengalaman yang membuatnya pernah mengalami keguguran setelah kehamilan keduanya membuatnya takut itu akan terjadi kembali.
''Sudah mir, aku sudah mengecek semuanya dan semuanya aman.'' Tutur Aris yang mulai masuk ke dapur dan menghampiri istrinya itu.
Ia mengecup lembut pipi sang istri yang selalu membuatnya jatuh cinta.
''Mas genit banget sih.'' Ucap Mira yang merasa malu karena perlakuan sang suami.
''Tidak apa-apa, aku kan suami kamu yang sebentar lagi akan mempunyai junior baru.'' Tutur Aris yang mengusap lembut perut datar sang istri.
''Mas.'' Mira merasa sangat tidak nyaman dengan ucapan sang suami yang terus mengatakan hal itu yang membuatnya merasa sangat bersalah.
Aris hanya terkekeh melihat raut wajah sang istri dan kembali mengusap lembut sang istri agar tidak merasa bersalah karena apa yang bukan salahnya.
''Kita sebaiknya berangkat nanti malam aja mas, biar di perjalanan sedikit tidak panas.'' Tutur Mira yang berlalu meninggalkan suaminya.
__ADS_1
''Kenapa terburu-buru Jakarta Bandung itu hanya sekejap saja. Kita tidak akan membuang banyak waktu.'' Tutur Aris mengingatkan.
''Aku kurang enak badan mas, apalagi jika kita harus berlama-lama di jalan aku suka pusing akhir-akhir ini.'' Lirih Mira yang tidak bersemangat.
Kalau begitu biar aku saja yang jemput Syifa. Itu akan lebih baik dari pada nanti kamu kenapa-kenapa. Aris memberikan saran karena ia tidak ingin jika istrinya kenapa-kenapa di jalan.
Mira yang sedang membawa berbagai makanan yang akan ia hidangkan di meja ia kembali merasa sedikit mual. Mira pun berlari ke kemar mandi dan memuntahkan isi perutnya yang akhir-akhir ini selalu merasa seperti itu.
Aris yang melihat istrinya seperti itu ia tidak tega. Ia segera menghampiri istrinya dan mengusap punggungnya agar sedikit lega dan menggandengnya ke kamar.
''Sebaiknya kamu istirahat dulu sepertinya kamu masuk angin apalagi sekarang cuaca tidak menentu biar aku saja yang akan pergi menjemput Syifa.'' tutur Aris yang membaringkan tubuh istrinya perlahan.
.
Waktu telah berlalu mentari pun telah meninggalkan langit berganti dengan langit gelap gulita.
Keluaraga Hanif yang telah bersiap mereka pun berangkat dari kediamannya setelah melaksanakan shalat isya. Mereka sengaja mengambil waktu malam agar sedikit sejuk saat perjalanan dan tidak terjebak macet di jalan.
''Semoga kamu dapat menerima aku Fa.'' Ucap Hanif yang segera menyimpan kembali kotak cincin yang ia bawa.
Terlihat abi dan ummi nya yang hendak membuka pintu mobil dan duduk di dalam. Abi duduk di samping Hanif yang menyetir karena abi akan mengambil alih kemudi jika Hanif merasa lelah atau mengantuk sedangkan ummi duduk di belakang.
''Semuanya sudah siap han?'' tanya ummi yang menatap putranya dengan lembu.
''Sudah ummi insyaAllah.''
Hanif pun melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah dan berjalan ke jalan perkampungan yang akan menghubungkan dengan jalan raya.
__ADS_1
Tiga puluh menit berlalu akhirnya mobil tengah berada di jalan tol yang terlihat kendaraan lain yang saling berpacu di jalanan dengan cepat.
Perjalan yang ia tempuh kini terasa sangat berbeda ia begitu bahagia karena ia akan bertemu dengan sosok yang selalu mengganggu pikirannya di setiap harinya. Bahkan membuat malam yang ia lalui penuh dengan permohonan kepada sang Khalik berharap agar hatinya mampu menahan segala kerinduan yang membuat ia selalu memikirkannya dengan penuh Harapan yang selalu ia panjatkan agar dapat di persatu kan dalam ikatan suci pernikahan.
Terlihat senyum yang selalu terlihat di bibir Hanif yang jelas terlihat oleh abi Abdullah. Abi Abdullah hanya tersenyum melihat putranya yang terlihat begitu bahagia.
Pukul tiga dini hari Syifa yang terbangun dari tidurnya ia duduk di kasurnya yang terasa sangat nyaman ia berniat untuk kembali tidur.
Namun rasa kantuk yang terasa hilang begitu saja membuatnya terdiam.
Ia memandangi ke dua sahabatnya yang masih terlelap. Arin yang sudah pulang bersama ayahnya kemarin sore membuat ia bertiga di kamar mungil itu.
Syifa memperhatikan barang-barang yang telah ia kemas dan ia rapihkan di lemari karena pagi nanti mungkin ayahnya akan menjemputnya untuk pulang. Sementara Arumi dan Desi mereka juga menunggu orang tua mereka yang akan datang menjemput.
Syifa kembali menatap alat shalat yang ia taruh di sisi ranjangnya. Membuat Syifa kembali tergerak hatinya untuk melaksanakan shalat malam.
Ia berjalan perlahan ke kamar mandi yang selalu ia lakukan saat sahabatnya terlelap. Syifa tidak ingin mengganggu tidur mereka dan bergegas ke kamar mandi dan mulai membasahi wajahnya dengan air wudhu.
Ia kembali berjalan ke kamarnya dan menggelar sajadah untuk melaksanakan shalat tahajud.
Setelah selesai ia berzikir dan di tutup dengan doa yang selalu ia panjatkan untuknya dan juga untuk kedua orang tuanya.
Syifa kembali merapihkan alat shalat yang telah ia gunakan. Ia menyimpannya kembali ke tempat semula namun Syifa mengambil tasbih yang selalu ia gunakan.
Tasbih dengan manik berwarna hitam yang terlihat sangat indah yang selalu membuatnya tergetar untuk selalu menggenggamnya dan selalu membuatnya merasa bersyukur kepada sang pemiliknya.
Ya tasbih pemberian Hanif lah yang membuat hidup Syifa terasa berubah. Ia menggenggam erat tasbih itu dan memasukannya kedalam tas kecil yang akan ia bawa pulang ke kediamannya.
__ADS_1
Malam berlalu dengan cepat adzan subuh telah berkumandang abi Abdullah dan keluarganya yang menginap di penginapan yang tidak jauh dari pondok yang akan Hanif tuju mereka pun segera melaksanakan shalat berjamaah.
Mereka akan berangkat kembali setelah pukul tujuh karena Hanif rasa mereka akan tiba di saat santri dan santriwati sedang berada di kamarnya dan mungkin keluarga abah pun akan ada di saat pagi.