
Mobil mulai melaju di jalanan yang sedikit ramai hanya beberapa menit saja kini mereka telah sampai di hotel dimana pernikahan Arumi dan juga Yusuf di langsungkan.
Terlihat banyak tamu undangan yang sudah mulai berdatangan.
Syifa segera turun dari dalam mobil di ikuti oleh Hanif.
Syifa berjalan layaknya sepasang suami istri ia menggandeng lengan suami nya dengan sorot mata tertuju pada santri dan santriwati yang kini menatap ke arah dirinya.
Syifa hanya melempar senyum ia merasa puas karena kini ia dapat berjalan dengan Hanif seolah tudingan-tudingan yang dulu mereka lemparkan terhempas dengan kenyataan.
''Kita ke sana saja yu mas.'' Ucap Syifa saat ia melewati santri yang dulu selalu mencibir nya.
Hanif yang tidak mengetahui jika santri yang mereka lewati adalah orang-orang yang dulu mengusik istrinya ia nampak biasa saja. Bahkan Hanif dan Syifa terlihat sangat romantis dan terlihat sangat serasi.
''Gila yah si Syifa ternyata seperti itu sama Ustadz Hanif.'' Ucap santriwati yang terdengar di telinga Syifa sekilas namun Syifa tidak menghiraukan nya menurutnya mereka hanya angin lalu dan Hanif lah kenyataan dari sebuah kehidupan nya.
''Dek!'' Panggil Andrian saat ia melihat Syifa dan juga suaminya.
Syifa dan Hanif segera menghampiri kedua pasangan suami istri itu dengan sangat senang.
''Apa kabar kak.'' Syifa menyalami Andrian lalu memeluk Nadia yang kini sedang tersenyum pada nya.
''Apa kabar mbak.'' Ucap Syifa mengganti nama panggilan nya namun membuat Nadia tersenyum dengan lebar.
''Baik fa alhamdulillah.'' Ucap Nadia dengan senyum yang kini menghiasi wajah nya tidak lupa mereka pun saling berjabat tangan satu sama lain.
Hanif begitu bersyukur karena Syifa istrinya dapat melupakan masa lalu mereka dan memilih membangun hubungan baru. Mereka lun sedikit berbincang sebelum acara dimulai.
''Mbak sudah isi alhamdulillah.'' Syifa mengusap perut buncit Nadia meski tanpa ijin dahulu tapi Syifa merasa gemas.
''Makanya kalian juga cepetan nyusul biar nanti kita barengan ngasuh dede bayi nya.'' Celetuk Andrian membuat Syifa dan Hanif merasa canggung.
''Ih kan butuh proses kak.'' Timpal Syifa menghilangkan rasa canggung nya. Syifa masih merasa malu jika membahas tentang masalah satu itu meski ia sendiri sudah terbiasa.
Sementara Hanif ia hanya tersenyum mendengar jawaban Syifa ia sendiri sangat berharap jika Syifa segera hamil buah hati nya. Ia juga selalu berdoa kepada Allah agar selalu di permudahkan dan segera mengemban amanah sebagai ayah kelak.
''Iya deh tapi sering-sering bikin nya mbak mu aja langsung buncit kan perut nya.'' Kekeh Andrian tanpa rasa malu membuat Nadia menyikut suaminya karena saking bar-bar nya suami nya itu.
Syifa pun tertawa melihat Nadia yang tersipu malu. Bagaimana bisa kakak nya berkata seperti itu jelas jika Syifa berasa di posisi Nadia ia juga akan sangat malu.
Syifa dan Nadia memilih berpisah dari kedua lelaki itu ia memilih duduk di kursi yang masih kosong dan mengobrol tentang berbagai hal.
__ADS_1
Sedangkan Andrian dan Hanif mereka entah kemana yang jelas Syifa tidak ingin jika Andrian terus saja menggoda dirinya apalagi Syifa pikir kini mereka sedang di acara pernikahan dan banyak orang.
''Habis acara ini kamu mau kemana fa?'' tanya Nadia melihat Syifa yang juga sedang melihat kepada dirinya.
''Paling aku balik aja mbak ke penginapan mas Hanif mengajak aku untuk tinggal dulu di sana.'' Jawab Syifa jujur.
''Oh ya sudah kita ke rumah abi sama ummi yuk. Mumpung kamu lagi disini.'' Ajak Nadia dengan semangat.
Sebenarnya Syifa ada jadwal untuk berjalan-jalan dengan Hanif tapi ia tidak mungkin berkata jujur dan memilih menjawab untuk kembali ke penginapan namun kini Nadia mengajaknya untuk berkunjung ke rumah abi Husein membuat Syifa tidak bisa menolak ajakan nya.
''Boleh mbak. Oh ya memang nya ummi sama abi gak hadir ke acara nikahan Ustadz Yusuf?'' tanya Syifa karena ia mengira jika ummi dan abi akan hadir.
''Tadi ada tapi gak tahu kemana.'' Jawab Nadia membuat Syifa hanya menganggukkan kepala.
Lama mereka mengobrol hingga kini acara pernikahan akan di mulai.
Para tamu undangan yang hadir pun sudah sangat banyak.
Terlihat Ustadz Yusuf yang mengenakan stelan jas berwarna hitam sudah duduk di meja ijab di dampingi oleh ummi dan juga abah.
''Para hadirin sekalian untuk itu acara pernikahan antara Muhammad Yusuf al gifani dan juga Arumi fatma akan di mulai mohon kepada para tamu undangan untuk mengisi kursi yang masih tersedia.'' Ucap pembuka acara.
Terlihat Yusuf yang sedikit tegang bahkan wajahnya saja terlihat sangat gugup.
Kini ayah Arumi menjabat tangan Yusuf untuk melangsungkan ijab qobul.
''Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Muhammad Yusuf al gifani bin Agus maulana dengan anak saya Arumi fatma dengan maskawin seperangkat alat shalat di bayar tunai.''
''Saya terima nikah dan kawinnya nya Arumi fatma dengan mas kawin seperangkat alat shalat di bayar tunai.'' Yusuf mengucapkan dengan satu tarikan napas membuat semua para saksi mengucap Alhamdulillah.
''Bagaimana para saksi?''
''Sah.'' Jawab semua orang yang hadir menyaksikan ijab qobul bersuara.
''Alhamdulillah. Baarakallahu laka wabarakoa 'alaika wajma'a bainakumaa fii khoir.''
...
Arumi yang mendengar kata dah yang menggema di ruangan itu ia tidak bisa menyembunyikan rasa haru nya ia bahkan menitikan air mata untuk pertama kalinya ia merasa sangat bersyukur karena kini ia sudah dah menjadi istri dari seorang ustadz.
Mbak Dini memeluk Arumi ia sendiri merasa sangat terharu.
__ADS_1
''Kita turun yuk.'' Ajak mbak Dini yang kini menuntun lengan Arumi untuk turun ke bawah.
Arumi berjalan dengan perlahan ia menatap wajah setiap para tamu undangan yang hadir namun kini tatapan matanya tertuju pada sosok lelaki yang telah sah menjadi suami nya.
Terlihat Yusuf yang sedang tersenyum menatap ke arah dirinya ia bahkan terlihat menghapus air mata haru nya. Tak ada kebahagian sebesar ini yang kini Arumi rasakan.
Arumi yang sudah turun ia duduk di menghampiri Ustadz Yusuf yang masih saja tersenyum padanya. Yusuf mengulurkan lengan nya kepada Arumi dan Arumi menerima uluran tangan darinya.
Arumi yang sudah duduk ia kembali di suruh untuk mengalami suaminya.
Dengan segala kegugupan nya Arumi menyalami Yusuf dan langsung mendapat kecupan di dahi nya membuat Arumi serasa beku.
Acara demi acara telah selesai kini Arumi dan Yusuf sedang duduk di pelaminan dan menyambut ucapan salam dari beberapa tamu undangan yang hadir.
Syifa dan Hanif kembali bersama ia juga merasakan hal yang sama seperti Arumi ia sangat bersyukur karena sahabat nya sudah menikah.
Syifa berjalan ke arah pelaminan di ikuti oleh Hanif dan juga Andrian dan juga Nadia.
''Selamat ya.'' Syifa memeluk erat Arumi yang kini terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin yang sangat indah.
''Makasih Syifa.'' Mereka kembali melepas pelukan nya.
''Syifa gak ajak-ajak.'' Desi dan Arin langsung menyambar antrian dan langsung memeluk kedua sahabat nya membuat Syifa dan Arumi sedikit kaget.
''Ih kalian udah nikah aja. Selamat ya Arumi.'' Ucap Arin dengan di buat sedih mereka saling berpelukan bahkan mereka kini berfoto ria dengan semua pasangan mereka.
Hanif sendiri sudah mengucapkan selamat pada Yusuf ia juga ikut bahagia karena sahabat nya sudah menemukan pasangan yang sempurna.
''Makasih han.'' Ucap Yusuf menerima ucapan selamat nya.
''Kita duluan ya.'' Ucap Syifa pada Arin dan Desi karena ulah mereka antrian untuk mengucapkan selamat pada pengantin baru jadi memanjang.
Syifa dan Hanif segera duduk di kursi dan menikmati hidangan yang tersedia.
''Mas aku juga mau pesta pernikahan gini.'' Ucap Syifa melihat Arumi yang di dandani bakal bidadari namun perkataan Syifa membuat Hanif tertawa kecil.
''Gak apa-apa yang kita menikah sederhana yang terpenting sekarang kita sudah sah.''
''Tapi kan aku gak ada kenang-kenangan yang.'' Syifa mengerucutkan bibir nya padahal dulu saat ia akan menikah Syifa tidak ingin ada pesta karena ia malu menikah dengan adanya pesta mengingat ia masih sekolah tapi kini ia merasa ingin sekali.
......................
__ADS_1