Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 142


__ADS_3

"Mas katanya mau ajak aku jalan-jalan?'' tanya Syifa karena ia mengingat ucapan suaminya saat kemarin namun malam sudah siang ia masih berada di kamar nya setelah mereka sarapan.


''Boleh sayang tapi sebentar.'' Hanif terus saja memainkan ponsel nya bahkan sesekali ia menelpon seseorang yang tak pernah ia tahu siapa itu.


''Ada apa sih mas?'' tanya Syifa penasaran karena tingkah suaminya.


''Enggak ada beberapa berkas yang aku lupakan saat terakhir aku simpan. Aku sudah menyuruh seseorang untuk mencari nya.'' Hanif kembali duduk di samping Syifa.


''Kami mau jalan-jalan kemana?'' tanya Hanif karena Hanif sendiri kurang tahu dengan wisata yang berada di daerah kota Bandung.


''Ke sini.'' Syifa memberikan ponsel nya yang melihatkan sebuah foto pemandangan yang sangat indah.


''Boleh tapi mas tidak tahu kemana jalan nya.'' Hanif menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


''Ada ko mas alamat nya kan kita juga bisa menggunakan google maps ko.'' Kekeh Syifa karena ia ingin sekali pergi ke sana.


''Ya sudah tapi sebaiknya kita rapih kan dulu barang bawaan nya biar kita bisa langsung pulang nanti sore.'' Saran Hanif karena tidak mungkin ia menunda lagi kepulangan mereka yang sudah lewat satu hari apalagi Syifa ingin ke rumah ibu nya.


Syifa menarik napasnya panjang ia sangat ingin sekali tapi mengingat dirinya belum mengunjungi ibu nya membuat Syifa menjadi galau.


''Ya sudah gak apa-apa mas biar kita tunda aja. Lagian aku ingin ke rumah ibu dulu.'' Ucap Syifa dengan nada sedih nya.


''Kamu yakin sayang?'' tanya Hanif karena ia menjadi merasa bersalah karena dirinya Syifa menjadi mengurungkan niatnya.


''Gak apa-apa mas lagian kita masih banyak waktu untuk bersama justru aki tidak mempunyai waktu lagi untuk bertemu dengan adik-adik ku.'' Syifa tersenyum ke arah Hanif ia pun segera membereskan pakaian nya kembali.


''Mas kita sekarang aja yuk.'' Ajak Syifa menjadi merasa tidak sabar.


''Ya sudah boleh mas mau siap-siap dulu.''


Syifa membereskan beberapa pakaian nya karena ia sudah mandi dan bersiap ia tinggal mengatur ulang dandanan nya.


Syifa segera mencuci mukanya lagi dan memoles kan kembali make up ke wajah nya tidak lupa ia mengenakan eyeliner dan juga soflens berwarna grey membuat ia sedikit berbeda. Dengan baju berwarna hitam dengan kerudung berwarna abu membuat penampilan kali ini terlihat elegan.


''Mas udah siap?'' tanya Syifa saat melihat Hanif sudah siap bahkan Hanif terlihat sudah rapih.


''Iya sudah. Ya sudah apa keperluan mu sudah di bereskan sayang?'' tanya Hanif melihat dia tas yang kini berada di hadapan nya.


''Mmmmm.'' Syifa berpikir sejenak ia takut jika ada sesuatu yang ia tinggalkan.


''Sepertinya tidak ada.'' Ucap Syifa yakin dan berjalan ke luar dengan Hanif.

__ADS_1


Syifa dan Hanif audah berada di dalam mobil dan segera pergi dari penginapan itu namun sebelum Syifa pergi ke rumah ibu nya ia berniat untuk membeli sebuah hadiah kecil untuk sang adik.


''Mas sepertinya toko di sana aja.'' Tunjuk Syifa melihat toko perlengkapan bayi yang cukup besar. Hanif menuruti permintaan istrinya dan segera memarkirkan mobil nya di dapan toko itu.


Hanif segera keluar dari dalam mobil di ikuti oleh Syifa yang sudah ingin segera memborong pakaian bayi itu.


''Mas sini lihat.'' Syifa memperlihatkan gaun kecil berwarna pink soft yang terlihat senada dengan bando bayi nya.


''Bagus sayang.'' Hanif menyetujui pilihan istrinya dan mengambil baju dari lengan Syifa membiarkan Syifa memilih lagi baju untuk adiknya.


''Lihat mas bagus yang ini atau yang ini?'' tanya Syifa pada dua baju yang menurut Hanif memang bagus. Baju berwarna merah dengan celana panjang nya sedangkan yang satu lagi bagi berwarna pink tua dengan rok kecil nya.


''Bagus yang ini.'' Pilih Hanif pada baju yang berwarna merah.


''Hmm bagus sih. Tapi yang ini juga bagus mas.'' Ucap Syifa memperhatikan kedua baju di tangan nya.


''Ya sudah ambil aja yang kamu suka.'' Jawab Hanif pasrah.


''Dua duanya aja deh.'' Syifa memberikan dua baju di tangan nya kepada Hanif membuat Hanif geleng-geleng kepala.


Ya seperti itulah Syifa setiap berbelanja selalu membuatnya bingung sendiri suruh milih tapi akhirnya ia milih sendiri.


''Mas lihat deh.'' Ucap Syifa kembali antusias.


''Bagus mana?'' tanya Syifa lagi.


Hanif menarik napasnya panjang percuma juga ia memilih toh akhirnya pilihan dirinya tidak akan terpakai.


''Mas?'' panggil Syifa membuat Hanif menaikan alis nya.


''Bagus gimana kamu aja sayang.''


''Ih mas ko gitu sih.'' Syifa kembali terlihat galau dengan pakaian yang ia pilih.


''Ya sudah bagus mana? ini, ini, atau ini?'' tanya Syifa pada tiga baju di tangan nya.


''Yang ini aja.'' Pilih Hanif pada kaos yang pertama Syifa tunjukan.


''Kalau yang ini?'' Syifa menunjukan giginya menunggu jawaban dari Hanif untuk baju ke dua pilihan nya.


''Bagus.'' Ucap Hanif membuat Syifa mengembangkan senyum nya.

__ADS_1


''Ya sudah aku ambil semuanya saja.'' Syifa memberikan baju di tangan nya pada Hanif untuk ia bayar.


''Hmm sudah aku duga.'' Hanif berkata pelan.


''Apa mas?'' tanya Syifa karena ia tidak mendengar perkataan Hanif.


''Enggak biar aku bayar dulu.'' Hanif mengalihkan pembicaraan nya bisa-bisa Syifa marah jika ia jujur batin Hanif berbicara.


Belanja baju sudah belanja sepatu sudah kini tinggal mereka kembali melanjutkan perjalanan nya lagi untuk ke kediaman ibu nya.


Syifa terus saja tersenyum apalagi setelah ia menelpon ibunya memberitahu jika dirinya akan berkunjung membuat wanita di samping Hanif itu tidak berhenti mengoceh namun semua perkataan Syifa itu membuat Hanif ikut senang apalagi melihat kebahagian istrinya ia ikut senang.


Dua jam telah berlalu kini Syifa dan juga Hanif sudah sampai di kediaman ibunya. Terlihat kediaman rumah nya sedikit berubah dengan adanya tempat bermain anak yang mungkin ibunya sediakan untuk kedua adik kecil nya di tambah pohon pohon yang sudah tumbuh membuat rumah Syifa yang dulu sedikit tersinari terik matahari sedikit teduh.


Syifa segera turun dari dalam mobil dengan membawa bingkisan di tangan nya diikuti oleh Hanif yang berada di sisinya.


''Assalamualaikum.'' Salam Syifa di balik pintu dan tidak lama pintu terbuka lebar ada seseorang yang membuka pintu rumah nya.


''Non cari ibu ya?'' tanya wanita paruh baya yang kini berkerja di rumah ibu nya.


''Iya, ibunya ada saya anak dari ibu mira.'' Ucap Syifa karena ibu itu tidak menyuruh nya masuk bahkan tidak memberikan jalan untuk nya masuk.


''Oh maaf saya tidak tahu.'' Ibu itu segera mempersilahkan masuk.


''Syifa sudah datang nak.'' Ibu menghampiri Syifa dengan menggendong satu bayi perempuan tangan nya.


''Ibu.'' Syifa memeluk ibu nya dan beralih menggendong adik kecil nya yang sangat menggemaskan.


''Hai sayang.'' Syifa tersenyum dan mengajak bayi kecil itu seolah berbicara dengan nya.


''Ibu.'' Hanif menyalami ibu mertuanya dengan hormat.


Mereka mengobrol sejenak sebelum ibu kembali ke kamar nya karena adik Syifa yang satu lagi menangis.


Hanif sangat senang melihat Syifa yang menggendong bayi kecil di tangan nya bahkan sesekali Syifa di buat gemas ia menciumi adik nya dengan sangat puas.


''Kasihan yang.'' Tegur Hanif karena Syifa terus saja menghujani adiknya dengan ciuman membuat Syifa terkekeh.


Mira yang hendak turun ia melihat tawa anak dan juga putri nya kini ia merasa sangat senang terlebih saat ia melihat Hanif yang begitu sayang pada anak pertamanya itu.


''Makanya kamu juga cepat hamil sayang biar kalian bisa segera mengasuh bersama.'' Kekeh Mira karena sejak tadi Hanif mengingatkan Syifa agar dirinya tidak terus menciumi adiknya dengan gemas.

__ADS_1


''Aamiin mah.'' Doa Syifa membuat Hanif merasa sangat lega. Karena dengan begitu ia akan segera menjadi ayah.


......................


__ADS_2