
Sudah dua minggu abi Abdullah di rawat kini ia telah sembuh dan siang ini ia sudah di perbolehkan untuk pulang.
Hanif yang telah selesai mengajar di madrasah ia membereskan buku- bukunya dan bersiap untuk menjemput abi nya di rumah sakit.
Karena ummi telah memberitahu soal kepulangan abi nya.
Bi Lastri yang sudah di beritahu akan kepulangan abi ia pun mempersiapkan segala kebutuhan abi Abdullah ia memasak berbagai makanan seperti yang ummi perintahkan.
Hanif pun berjalan ke parkiran dan segera melajukan mobilnya.
Jalanan yang sedikit macet membuat perjalanannya sedikit terlambat.
Hanif pun memutuskan untuk beralih ke jalan alternatif yang kemungkinan tak akan macet, syukurlah jalanan tidak terlalu macet sehingga ia tak membuat abi dan ummi nya menunggu terlalu lama.
Mobil pun telah terparkir ia mempercepat langkahnya.
''Selamat pagi pak Hanif.'' Sapa seorang dokter yang selama ini merawat abi nya.
''Oh, dokter selamat pagi juga,'' Hanif menampilkan senyumnya.
''Pasti kamu mau menjemput abi kan?'' tanya dokter Lita dengan senyum manisnya.
Lita adalah mantan kekasih Hanif. Sejak mereka duduk di bangku SMA hingga Lita kuliah mereka menjalin hubungan yang terbilang cukup lama bahkan Hanif hampir bertunangan dengan Lita, namun secara sepihak Lita memutuskan hubungan mereka karena ia beralasan ingin fokus dulu untuk kuliah hal itulah yang membuat mereka memutuskan hubungannya.
Abi Abdullah yang berteman baik dengan ayah Lita, bahkan Lita yang sering berkunjung ke rumah Hanif membuat abi Abdullah dan ummi Kulsum berbesar hati mendukung hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius.
Namun apa daya semua rencana mereka tak bisa tersampaikan, karena mereka yang sudah menyudahi hubungan itu. karena itulah hanif tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun hingga ia bertemu dengan Syifa.
''Ya aku mau jemput abi. Karena tadi pagi aku baru mendapat kabar kalau abi sudah bisa pulang.'' Hanif pun hendak pergi untuk masuk ke ruangan abi namun tangannya di cekal oleh Lita, Lita menatap sendu ia begitu merindukan Hanif.
''Aku harap kita akan bisa seperti dulu lagi han.'' Lita menatap Hanif dengan penuh harapan ia pun melepaskan tangan Hanif dan pergi meninggalkannya.
Hanif menarik nafasnya dengan kasar ia tak menjawab apapun, hatinya seperti beku untuk kali ini.
Hanif pun segera menarik gagang pintu dan membukanya.
''Kamu sudah datang han.'' ummi tersenyum ia pun sudah membereskan barang-barang abi.
''Ummi sudah beres? Kita pulang sekarang?'' tanya Hanif karena tidak melihat abi.
Abi pun keluar dari kamar mandi terlihat abi sudah sangat membaik, abi tersenyum dan berjalan menghampiri ummi.
Akhirnya kamipun pulang
Ummi dan abi berjalan di depan sedangkan Hanif ia pergi ke bagian parkiran untuk mengambil mobilnya.
.
.
Syifa yang merasa sedikit bosan ia pun segera membuka hp barunya ia teringat sosok Hanif yang telah melamarnya.
Syifa pun mencoba mencari akun sosial media milik Hanif.
''Oh ternyata ini.'' Syifa tersenyum dan menambahkannya sebagai teman.
Kenapa aku mencari Ustadz Hanif apa benar aku mencintainya?'' Syifa mulai merasa sedikit berdebar hatinya berbunga- bunga saat mengingat Hanif yang tengah melamarnya malam itu, ia pun tersenyum.
__ADS_1
''Semoga ustadz baik- baik saja di sana,'' gumam Syifa ia pun kembali melihat foto Hanif begitu tampan wajahnya yang kini ia ingat disela-sela lamunannya.
''Tapi jika ayah dan ibu tahu aku sudah di lamar oleh Ustadz Hanif apa yang akan ibu dan ayah lakukan? lagian aku kan lamarannya enggak resmi, mungkin jika orang sekarang bisa di bilang Ustadz Hanif nembak aku, seperti orang pacaran.'' Gumam Syifa pelan.
Ia pun memeluk guling kesayangannya beberapa saat ia kembali mengecek ponselnya namun sepertinya hanif memang belum membuka ponselnya kembali.
''Syifa?'' Ibu masuk ke kamar dengan berpakaian rapih.
Syifa yang terkejut ia segera menyimpan ponselnya dan merapikan rambutnya.
''iya bu?'' Tanya Syifa yang memandangi penampilan ibunya yang terlihat rapih.
''Katanya kamu bosan mau pergi ke mall ayo siap-siap ibu tunggu di bawah oke.'' Ibu kembali menuruni tangga dan menunggunya di bawah.
''Syukurlah.'' Syifa pun segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
.
.
Hanif yang telah sampai di rumahnya ia segera memarkirkan mobilnya.
Ia pun turun dan membuka pintu mobil dan memapah abi Abdullah.
''Kamu pasti sangat lelah.'' Abi berucap sambil terus berpegangan pada Hanif.
''Enggak ko bi, lagian hari ini aku hanya mengambil jam pagi saja untuk mengajar di madrasah, aku sengaja memberikan tanggung jawabku pada guru lain, kebetulan tenaga kerja guru di madrasah ada tambahan.'' Jelas Hanif ia pun mendudukkan abi di kamarnya ia ingin abi nya tidak terlalu capek.
''Hanif tinggal dulu ya bi.'' Iapun meninggalkan abi dan ummi nya.
''Boleh bi, tapi saya minta tolong bawakan ke kamar ya bi,'' Hanif pun berjalan menaiki tangga. ia sedikit lelah apalagi jalan dari rumah sakit ke rumah terbilang sedikit jauh karena posisi rumah Hanif yang berada di perkampungan, apalagi jalannya yang sedikit macet.
Hanif merebahkan tubuhnya di kasur ia mengeluarkan ponselnya.
Hanif tersenyum saat melihat notifikasi ternyata Syifa meminta pertemanan di akun media sosialnya.
Hanif pun memberinya sebuah pesan.
''Assalamualaikum bagai mana kabarmu Syifa?''
Ia begitu bahagia mengingat Syifa sudah lama ia tidak bertemu dengannya jantungnya kini berdetak tak beraturan ada benih- benih cinta yang kini bertebaran.
''Aku akan bahagia jika kamu menanti ku Syifa semoga kamu di sana baik-baik saja,'' gumam Hanif yang penuh kebahagian.
Terdengar suara ketukan pintu membuat Hanif tersadar.
''Ya masuk!''
Ternyata bi Lastri yang membawakan teh hangat untuknya.
''Oh bibi, taruh aja bi di meja Hanif masih fokus dengan ponselnya.
Bi Lastri pun masuk dan segera menyimpan teh hangat untuk Hanif ia pun segera keluar.
.
.
__ADS_1
Syifa yang telah selesai mandi ia memilih baju untuk ia kenakan. ''Gamis aku ternyata sedikit sekali rasanya aku malu sekarang menggunakan celana jeans.'' Tutur Syifa yang kembali mencari baju yang akan ia kenakan.
Syifa pun mengenakan rok yang di padukan dengan blouse dengan warna yang senada, ia pun memoleskan riasan pada wajahnya sedikit yang terkesan natural namun terlihat segar.
Syifa pun duduk di kursi rias ia berharap jika Ustadz Hanif sudah mengaktifkan ponselnya.
Syifa membuka ponselnya namun kini ia tersenyum ia mendapat sebuah pesan.
''assalamualaikum bagai mana kabarmu Syifa?''
''Waalaikum salam, alhamdulillah aku baik- baik saja... Ustad sendiri gimana kabar nya?''
tapi apa gak papa yah aku tanyakan kabar Ustadz Hanif? Syifa berpikir sejenak ia kembali menghapusnya dan menjawab kembali pesan Hanif.
''Waalaikumusalam, alhamdulilah Syifa baik- baik saja Ustadz.''
Syifa pun mengirimkan pesannya ia sangat deg-degan ia takut jika Hanif berfikir yang aneh-aneh pada dirinya.
Hanif yang masih memegangi ponselnya ia tersenyum kembali saat membaca jawaban dari Syifa ia pun membalas pesan dari Syifa.
''Syukurlah aku senang dengarnya, tunggu aku untuk menghalalkan mu Syifa.''
Hanif mengirimkan pesannya ia begitu bahagia, rasanya ia ingin segera menikahi Syifa ia berniat untuk segera membicarakan hal itu pada abi nya.
Syifa yang sudah menerima pesan dari Hanif ia bingung akan menjawab apa, dirinya memang serasa terbang di angkasa dengan kata-kata Hanif, kata-kata yang baru kali pertama ia dengar dari sosok seorang laki-laki.
''Aku sepertinya akan jatuh cinta sama Ustadz Hanif, kenapa dia selalu bikin aku deg-degan sih,'' gumam Syifa yang memegangi dadanya.
Syifa pun membalas pesan dari Hanif,
''insha allah semoga Ustadz sehat- sehat juga di sana assalamualaikum,
Syifa mengakhiri pesannya ia takut jika terus berhubungan dengan Ustadz Hanif, ia merasa belum pantas apalagi ia belum halal.
Beberapa saat kemudian Hanif membalas pesan Syifa, ''waalaikum salam calon istriku.''
Syifa yang masih setia menanti jawaban dari Ustadz Hanif, ia di buat melayang kembali.
''Bisa- bisa aku gak bakalan jadi berangkat, Ustadz kenapa sih gombal terus.'' Syifa tersenyum dan segera memasukan ponselnya ke dalam tas dan segera keluar dari kamarnya.
''Kamu sudah siap sayang?'' tanyq ibu terlihat habis menelpon seseorang.
Syifa pun turun dan mendekati ibunya.
''Sudah bu, kita berangkat sekarang aja yuk,'' pinta Syifa yang tak mau lama-lama karena memang sudah terbilang siang.
.
.
Hanif berjalan mendekati jendela ia melihat pemandangan gunung- gunung dan pepohonan yang sangat jelas terlihat di jendela kamarnya ia menghirup udara yang masih sangat sejuk.
''Andai saja kamu ada disini aku sudah tak sabar ingin menghalalkan mu tapi aku harus bersabar, apakah kamu benar- benar sudah melupakan Yusuf Syifa? Apa kamu kini sudah mencintaiku.'' Tanya hanif dalam lamunannya ia teringat jika Syifa terlihat mencintai Yusuf, ia melihat sendiri bagaimana Syifa dan Yusuf saat bertemu keduanya jelas terlihat saling mencintai. Tapi apalah daya ia pun tak bisa menahan diri untuk mencintai Syifa.
Hanif menatap foto di layar ponselnya ia tersenyum dan berkata dalam hatinya.
''Jika kamu memang jodohku seberapa lama aku meninggalkan mu kamu akan tetap menjadi istriku semoga suatu saat Allah mempersatukan kita.''
__ADS_1