
Syifa dan ummi sedang berada berada di rumah paman Rahman mereka saling mengobrol melepas rindu sementara Syifa ia sedang mengajak main anak perempuan yang bernama Ana.
Ana adalah cucu dari bibi Aisyah ia sudah tidak memiliki ibu dan ayah karena ayah dan ibunya sudah meninggal saat hendak pulang ke rumah paman Rahman dan sejak saat itu Ana tinggal bersama paman Rahman.
Ana masih kecil saat ditinggalkan mungkin saat Ana usia duan tahun ia sudah tidak memiliki ayah dan ibu, dan sekarang usia Ana sudah tiga tahun tepatnya satu tahun kebelakang Ana kehilangan kedua orang tuanya.
''Ana sini lempar sayang.'' Ucap Syifa sambil mengajak main Syifa bahkan sering sekali terdengar tawa dari mulut gadis kecil itu.
''Bunda tangkap.'' Ucap Ana pada Syifa.
Entah kenapa sejak Syifa datang ke rumah paman Rahman dan bertemu dengan Ana sejak saat itu Ana selalu memanggil Syifa dengan sebutan bunda.
''Yeyyyy....'' Syifa bersorak senang saat ia menangkap bola dari Ana.
Mereka bermain dengan senang bahkan bukan hanya Syifa dan Ana yang menikmati permainan mereka banyak sepasang mata yang tak luput dari pandangan mereka.
''Kasihan sekali Ana. Kini aku merasa senang sekali melihat Ana tertawa dengan Syifa.'' Ucap bibi Aisyah di sela-sela obrolan mereka.
Ummi dan abi juga ikut bahagia menyaksikan kebahagian yang terpancar dari gadis mungil yang sudah lama gak sebahagia ini terlebih ummi juga merasa heran dengan panggilan bunda yang Ana berikan pada Syifa.
...
''Bunda Ana mau minum.'' Pinta Ana pada Syifa.
''Ayo kita minum dulu.'' Syifa menuntun lengan Ana untuk menghampiri keluarganya yang sedang mengobrol tak jauh dari sana.
Syifa segera mengambil segelas air untuk ia berikan pada Ana dengan cepat Ana menghabiskan air minum nya hingga tandas.
''Ana haus, capek ya?'' tanya Syifa karena memang sejak tadi Ana berlarian ke sana kemari membuat ia sangat haus.
''Iya bunda.'' Ana memberikan gelas kosong di tangan nya dan segera duduk di pangkuan Syifa dengan senang hati Syifa menerima nya bahkan Syifa sesekali mengusap puncak kepala Ana dengan lembut.
''Ana sayang sama bunda?'' tanya bibi Aisyah pada Ana.
__ADS_1
Ana yang sedang duduk ia memeluk Syifa dan mengangguk membuat mereka tertawa dengan tingkah Ana.
Mereka kembali mengobrol dengan berbagai obrolan namun Ana kini tertidur di pangkuan Syifa.
Entah kenapa Syifa sendiri merasa sangat nyaman saat dirinya memeluk Ana bahkan ia merasa sangat senang saat Ana memanggil nya dengan kata bunda.
Syifa sendiri sempat terkejut apalagi saat mendengar jika Ana adalah yatim piatu ia menjadi sangat sedih mengingat Ana memanggilnya dengan sebutan itu. Tapi saat Syifa melihat senyum di bibir Ana tak dapat di pungkiri jika dirinya merasa sangat senang.
Hingga kini telah sore hari.
Terlihat mobil berwarna hitam datang menghampiri kediaman paman Rahman dan sudah di pastikan jika itu Hanif yang memang berniat untuk menjemput Syifa.
''Assalamualaikum. paman, bibi apa kabar?'' Hanif menyalami paman dan bibi dan duduk di samping Syifa yang masih menggendong Ana.
Sejak tadi Ana tidak ingin lepas bahkan saat tidur saja Ana tidak mau di tidurkan ia merengek ingin tidur di pangkuan Syifa membuat Syifa dengan senang hati memeluk Ana kembali hingga ia tidur kembali di pangkuan nya.
''Kenapa gak di tidurkan?'' tanya Hanif karena posisi Ana tidur di pangkuan Syifa yang terlihat tidak nyaman.
Hanif sedikit membulatkan matanya bukan kenapa ia sedikit kaget saat mendengar jika Ana memanggil Syifa dengan sebutan bunda. Pasal nya Ana memanggil Hanif dengan sebutan Ayah.
Ana selalu memanggil Hanif dengan Ayah dari saat pertama kali ia bertemu terlebih saat itu memang Ana baru saja kehilangan kedua orang tuanya membuat Hanif merasa kasihan.
Meski sudah di kasih tahu jika Hanif bukan ayah nya Ana bersikeras memanggil Hanif dengan sebutan ayah dan jika di ingatkan Hanif bukan ayahnya. Ana akan menangis membuat paman Rahman dan bibi Aisyah tidak bisa berbuat apa-apa.
Paman Rahman dan bibi Aisyah hanya bisa pasrah mereka pikir biar saja Ana memanggil Hanif dengan sebutan ayah jika dengan sebutan ayah itu Ana bisa tersenyum kembali apalagi Hanif yang terlihat sayang pada Ana membuat Ana merasa ada sosok pengganti ayahnya.
Waktu telah berlalu Hanif dan keluarganya kini hendak kembali meski awalnya Ana menangis karena ia sadar saat ia di tidurkan apalagi saat Syifa akan pulang Ana kembali menangis membuat Syifa dan keluarganya merasa tidak tega.
''Kapan-kapan bunda akan main lagi kesini sama ayah.'' Ucap Syifa dengan lembut ia mencium pipi Ana dengan sayang.
''Ana mau cium.'' Ucap Ana meminta untuk dirinya mencium Syifa.
Syifa sangat bahagia ia sedikit merasa sedih melihat kesedihan Ana yang terlihat apalagi setelah Ana mencium Syifa terlihat jelas kesedihan dari gadis kecil itu.
__ADS_1
''Syifa pulang dulu bibi, paman,'' Syifa menyalami punggung tangan bibi dan juga paman ia kembali mencium Ana sebelum ia masuk ke dalam mobil bersama Hanif.
Syifa yang sudah masuk ia kembali melambaikan tangan nya hingga mobil yang ia tumpangi menjauh dari kediaman paman Rahman.
Terlihat air mata yang membasahi pipi Syifa meski ia segera menghapus jejak air mata yang membasahi pipi nya.
''Kenapa?'' tanya Hanif saat melihat istrinya bersedih.
''Aku hanya merasa tidak tega mas meninggalkan Ana.'' Ucap Syifa jujur membuat air matanya keluar lagi dengan seketika.
Hanif mengusap puncak kepala Syifa. Ia sangat tahu dengan istrinya karena tidak dapat di pungkiri jika dirinya sendiri merasa sangat sedih.
''Gak apa-apa kita bisa mengunjungi Ana kembali jika kamu mau.'' Hanif tersenyum ia menggenggam erat lengan Syifa sementara tangan yang satu lagi ia gunakan untuk mengemudikan mobilnya.
Satu jam perjalanan kini Syifa sudah sampai di kediaman nya. Ia segera turun dengan Hanif.
Syifa segera pergi ke kamar nya ia merasa sedikit lelah.
''Mas kenapa yah Ana memanggil mas dengan sebutan ayah. Apalagi sama aku juga Ana panggil aku bunda ya mas? padahal kata bibi Aisyah Ana tidak pernah memanggil orang lain dengan sebutan ayah tau bunda.'' Syifa sedikit berpikir ia sendiri merasa heran.
''Entahlah sayang mas tidak tahu mungkin memang Ana mengingat kedua orang tuanya.'' Ucap Hanif menebak karena ia sendiri tidak tahu kenapa Ana bisa memangil dirinya dengan sebutan ayah.
''Aku mandi dulu ya sayang.'' Hanif mengusap puncak kepala Syifa dengan sayang dan mengecup nya sebelum ia benar-benar pergi ke kamar mandi.
Syifa mengeluarkan ponsel nya ia kembali melihat foto dirinya dengan Ana yang sempat ia ambil saat tadi bermain.
Terlihat senyum dari sudut bibir anak itu ia tersenyum sangat cantik bahkan jika diperhatikan seperti ada kemiripan wajahnya dengan Ana.
Syifa memang menyadari itu tak dapat ia pungkiri jika perkataan bibi Aisyah yang mengatakan jika dirinya dengan Ana terlihat sangat mirip mungkin Ana adalah gambaran dirinya saat kecil.
Syifa menarik napasnya panjang ia sendiri merasa heran bahkan kini ia tidak bisa mengalihkan pandangan nya dan juga pikiran nya ia seakan selalu melihat senyum Ana di dalam ingatan nya.
......................
__ADS_1