
Pukul tiga malam.
Yusuf yang terbangun dari tidur nya segera beristigfar.
''Astagfirullah kenapa aku memimpikan gadis itu, maafkan aku ya Allah jika aku memikirkan gadis tapi sungguh aku takut jika aku salah.''
Yusuf segera mengambil wudhu dan segera melaksanakan shalat tahajud, karena memang kebiasaan dari abah yang telah abah terapkan sejak dini membuat Yusuf dengan mudahnya melaksanakan shalat tahajud di tengah orang lain yang masih terlelap.
Setelah shalat selesai Yusuf segera berdoa dan memohon ampun atas segala apa yang ia perbuat.
''Hamba tak sengaja selalu memikirkan nya ya Allah, hamba tidak mau jika hamba selalu memikirkan seseorang yang tidak halal untuk hamba pikirkan, jika dia bukan yang engkau pilihkan untuk ku hamba mohon jangan biarkan hamba memikirkan nya, namun jika dia memang yang tertulis untuk hamba, hamba mohon segerakan lah halal untuk kami.''
Yusuf pun mengambil tasbihnya dan berzikir.
''Aaawww!'' terdengar suara rintihan ummi yang begitu jelas dari arah dapur.
Yusuf yang menyadari itupun segera turun karena takut ada sesuatu yang terjadi.
''Ummi? ummi sedang apa?'' tanya Yusuf yang mendapati ummi nya sedang di dapur.
''Ummi mau memanaskan air, abah sepertinya demam. Ummi mau buat air kompres tapi malah menyenggol wajan dan jatuh ke kaki ummi.'' Tutur ummi yang memegangi panci di tangannya.
Yusuf langsung memperhatikan kaki ummi yang terkena wajan. ''Apa ummi tidak apa-apa?'' Tanya Yusuf yang sedikit khawatir.
''Syukurlah ummi tak apa-apa.''
Yusuf pergi ke kamar abah dan meninggalkan ummi yang masih sibuk di dapur.
Terlihat abah yang sedang tidur dan sedikit menggigil namun suhu tubuhnya terasa panas.
Ummi yang datang membawa air untuk mengompres abah pun segera duduk, dan mulai mengompres agar suhu tubuhnya segera turun.
''Yusuf ambil obat dulu ya ummi, suhu tubuh abah cukup tinggi.''
Ummi hanya mengangguk dan fokus mengompres abah.
Yusuf segera keluar dari kamar ummi dan pergi ke dapur mengambil obat dari kotak obat yang selalu ummi siapkan.
Yusuf pun kembali ke kamar ummi dengan membawa obat yang akan ia berikan untuk Abah nya.
__ADS_1
''Ummi ini obat nya, Yusuf mau berangkat dulu ke masjid ya mi.''
karena sebentar lagi akan memasuki waktu subuh Yusuf segera bergegas ke masjid.
Keadaan masjid yang mulai ramai dan ada beberapa santri yang sedang melantunkan ayat suci Al-qur'an.
Para santri dan santriwati mulai memasuki masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah, termasuk Syifa yang sudah datang sebelum adzan berkumandang.
Adzan berkumandang dan mereka pun memaksakan shalat, dan berzikir di lanjutkan dengan kuliah subuh yang menjadi rutinitas pondok pesantren.
Pukul 06.00 semua santri dan santriwati keluar dan mulai disibukkan dengan berbagai aktivitas, ada yang sibuk menyiapkan makanan ada juga yang membersihkan halaman dan ada juga yang membereskan masjid semua mereka lakukan setiap harinya.
Yusuf yang telah selesai pun segera pulang ke rumahnya, di perjalanan pulang Yusuf kembali melihat Syifa yang sedang hendak memasuki dapur.
''Kenapa aku selalu saja terpesona saat aku melihatnya, bahkan wanita itu selalu membuat aku memikirkannya di saat diam ku dia selalu mengusik jiwaku wajahnya bahkan selalu terlintas dalam benakku.'' Lirih Yusuf dalam hatinya.
''Ya Allah apakah ini sebuah petunjuk dariMu? tapi aku tidak mau salah dalam mengambil sebuah keputusan semoga Engkau memberiku jalan amin.
''Assalamualaikum umi ?''
''Waalaikumusalam. Kamu sudah selesai? sepertinya abah akan di bawa ke dokter aja, panasnya gak turun-turun, ummi yang terlihat sedikit panik karena sebelumnya Abah terlihat baik-baik saja.
Abah yang telah selesai makan untuk mengganjal perutnya pun menatap ke arah Yusuf yang berjalan menuruni tangga.
''Abah kita berangkat sekarang aja gimana?'' Karena mungkin Yusuf nanti akan ke madrasah untuk mengajar anak-anak dan tidak ada guru yang bisa menggantikan. Tutur Yusuf memberi pengertian pada Abah nya.
''Biar Adi saja yang antar abah kak'' Adi yang baru saja datang dari dapur menyarankan, memang Yusuf sedikit di disibukkan dengan urusan madrasah dan pesantren, sejak abah memberikan tanggung jawab penuh padanya namun, Yusuf tak pernah sedikitpun menolak apa yang abah berikan menurutnya segala sesuatu yang abah berikan pasti iya mampu dan karena memang dia adalah anak pertama dari abah jadi wajar jika abah memberikan tanggung jawab besar itu padanya.
''Baiklah ini kunci mobil nya, jika ada sesuatu kamu bisa hubungi Kakak. Kakak akan membawa ponsel selama jam mengajar.''
Adi yang telah bersiap pun segera berangkat bersama abah dan ummi karena melihat kondisi abah yang cukup membuat mereka khawatir.
Pukul 07.00 telah tiba semua santri dan santriwati bersekolah di madrasah karena pesantren menyediakan sekolah berbasis islami jadi tidak perlu bagi santri maupun santriwati untuk jauh-jauh pergi sekolah.
Bel berbunyi tanda masuk, semua santri pun telah duduk di bangku masing-masing, Syifa yang baru memulai sekolah di madrasah pun tidak begitu asing karena ia satu kelas bersama teman sekamarnya.
Suara langkah kaki yang terdengar dari luar membuat semua santri menoleh ke arah pintu.
''Assalamualaikum, selamat pagi semua.'' Salam Yusuf dengan khas suara yang berat menggema di ruangan.
__ADS_1
‘’Waalaikumusalam wr.wb selamat pagi juga Ustadz.'' Semua santri menjawab salam dengan serempak.
Yusuf yang telah duduk di kursinya pun mengeluarkan lembaran kertas dan buku-buku.
''Disini kita kedatangan santriwati baru, mohon untuk memperkenalkan diri. Silahkan!'' Tutur Yusuf pada salah satu santriwati barunya.
Syifa yang mengetahui bahwa itu untuk dirinya ia pun berjalan ke depan ruangan dan memperkenalkan dirinya.
Selama jam pelajaran berlangsung Syifa tak begitu memperhatikan ia malah mengingat apa yang dikatakan Arin kalau Ustadz Yusuf sudah memiliki tunangan.
''Kenapa aku memikirkan Ustadz Yusuf sih, kenapa juga si Arin bilang kalau Ustadz Yusuf sudah memiliki tunangan, apa aku mencintai Ustadz Yusuf? Andai saja dia bukan seorang Ustadz mungkin saja aku sudah berpacaran dengannya mungkin... ko aku malah mikir kayak gitu sih.'' syifa menggeleng-geleng kan kepala untuk mengusir pikiran yang sedang mengganggunya.
Tringgg…!!
Jam waktu istirahat telah tiba.
Syifa segera membereskan buku-buku yang berserakan di atas mejanya dan mulai memasukannya ke dalam tas.
''Syifa kita ke kantin yu!'' ajak Arin padanya.
''Boleh, tapi kamu bisa temenin aku sebentar gak? aku mau cari daftar buku yang Ustadzah Nadia berikan.'' Tutur Syifa menatap ke arah Arin, ia berharap jika Arin dapat membantunya lagi.
''Oke, itu sih urusan gampang, tapi kita ke kantin dulu yuk aku beneran lapar.'' Tutur Arin mengusap perut ratanya.
Yusuf sedari tadi mengajar ia tidak terlalu fokus, apalagi di depannya terlihat sangat jelas bagaimana Syifa memandanginya.
Gadis yang aneh, kenapa aku memikirkan dia, padahal tidak ada satupun wanita yang memandanginya seperti itu, tapi kenapa dia malah membuat aku makin deg-degan.
Yusuf segera keluar dari ruangannya. Ia berniat untuk membeli makanan.
''Ustad Yusuf, apakah anda mau ke luar?'' Tanya Ustadzah Nadia saat ia melihat Ustadz yusuf yang akan segera ke luar.
''Oh iya, aku mau ke kantin kebetulan aku sedikit lapar,'' ucap Ustadz Yusuf dengan ramah.
''Boleh saya temenin Ustadz?Kebetulan saya juga mau ke kantin,'' tawar Ustadzah Nadia.
Ustadzah Nadia dan Ustadz Yusuf memang selalu dekat karena memang sejak kecil ustadzah Nadia tinggal di pesantren Nurul Huda, ayah dan ibu Ustadzah Nadia adalah teman dekat dari ummi dan abah bahkan ummi dan abah menanggap Ustadzah Nadia seperti anak mereka sendiri.
Dan karena kedekatan mereka pula tidak sedikit yang membicarakan kalau Ustadzah Nadia adalah calon dari Ustad Yusuf.
__ADS_1