Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 37


__ADS_3

Hanif hanya tersenyum pada ummi nya, ia tidak berniat untuk menjawab pertanyaan dari ummi.


''Mmmm ngomong-ngomong bagaimana kabar abi ummi?'' tanya Lita yang masih terdengar sedikit gugup.


''Alhamdulillah, abi sudah jauh lebih baik, bagaimana kalau sekarang kamu ikut kami ke rumah dulu?'' ajak ummi dengan tatapan yang lembut.


Lita tersenyum kikuk, ia bukannya tidak ingin berkunjung ke rumah Hanif, namun dengan pakaian yang saat ini ia kenakan, ia merasa sangat malu apalagi jika harus bertemu abi Abdullah.


Ummi yang mengerti apa yang Lita pikirkan, ia pun mengusap punggung tangan Lita dan menatapnya dalam-dalam.


''Kamu tidak perlu malu nak, justru kita harus malu saat kita berusaha menutupi keburukan kita demi terlihat sempurna di mata manusia, manusia hanya akan menilai sisi kita dari luar saja tanpa melihat hati kita yang sebenarnya, sedangkan Allah tidak pernah menilai hamba-Nya dari segi luar, Allah hanya akan melihat kita dari hati setiap hamba yang selalu mengingatnya.''


Lita sangat terharu atas apa yang ummi jelaskan, sungguh kata-kata ummi membuatnya ingin berubah.


''Ummi terima kasih.'' Lita memeluk ummi kulsum, ia merasa sangat beruntung karena ummi kulsum tidak menganggap dirinya rendah karena pakaian yang ia pakai terlebih ummi tak sedikit pun menunjukkan sikap ataupun perkataan yang menyakiti hatinya.


Ummi kulsum pun membalas pelukan Lita, ia tahu jika Lita sebenarnya anak yang baik hanya saja lingkungan menjadi faktor penyebab ia menjadi salah bergaul.


Hanif yang melihat kedua perempuan di depannya itu ia merasa sangat bersyukur karena ummi ternyata tidak menunjukkan ketidak nyamanan nya, justru ummi sangat bersikap ramah dan lembut terhadap Lita, Hanif pun tersenyum lebar ia merasa sangat bahagia melihat kedua perempuan di hadapannya saling berpelukan dengan penuh kasih sayang.


Lita pun melepas pelukannya, ia menciumi punggung tangan ummi kulsum yang sudah sejak lama ia anggap sebagai ibunya sendiri.


''Ummi, ummi mau kan ajari aku ilmu agama?'' tanya Lita yang masih menggenggam tangan ummi kulsum.


Ummi kulsum yang mendengar perkataan Lita, ia tersenyum karena apa yang ia dengar.


''Tentu nak, kapanpun kamu mau belajar, datanglah ke rumah. Ummi akan senang hati mengajarimu.''


Lita pun tersenyum lebar, dan memeluk ummi kembali.


Hanif pun menampilkan seulas senyum dari sudut bibirnya.


''Jadi?'' tanya Hanif yang membuat ummi dan Lita melepas pelukannya mereka pun menoleh Hanif dengan kebingungan.

__ADS_1


''Jadi apa han?'' tanya ummi yang menatap putranya dengan heran.


''Iya, jadi kapan kita akan makannya ummi, aku lapar.'' Hanif yang berpura-pura merasakan lapar, padahal ia bingung harus apa melihat kedua perempuan di depannya tak berhenti berpelukan.


Ummi dan Lita pun tertawa mendengar perkataan Hanif yang membuat sesi haru mereka menjadi terhenti.


Bandung.


''Syifa, kita berangkat dulu iya!'' teriak Arin dan Desi yang hendak ke masjid.


''Iya.'' Jawab Syifa yang hendak ke kasurnya.


''Tunggu!'' teriak Arumi yang hendak mengambil mukenanya dan berlari ke arah pintu.


''Aku berangkat yah, dah!'' Arumi berlari menyusul Arin dan Desi yang lebih dulu keluar.


Syifa menggelengkan kepalanya, ia merasa sangat bersyukur karena memiliki tiga sahabat yang begitu peduli terhadap dirinya.


Meski ia jauh dari kedua orang tuanya namun ia tetap merasakan kasih sayang dari ke tiga sahabatnya.


Syifa meraih ponsel di hadapan nya dan membuka galeri foto yang menampilkan foto kedua orang tuanya, terlihat foto ibu dan ayah dengan senyum hangat yang selalu Syifa rindukan. Seulas senyum terukir dari bibir mungilnya.


''Syifa kangen yah, ibu. Syifa gak akan mengecewakan kalian lagi, Syifa janji.'' Tanpa disadari bulir-bulir air mata keluar dari sudut matanya, sungguh ia sangat merindukan mereka.


Syifa kembali menaruh ponselnya di bawah batal dan kembali membuka buku hafalannya, ia tidak ingin jika hari esok ujiannya memiliki nilai yang jelek, apalagi ia akan ujian susulan hanya sendirian.


Para santri dan santriwati yang telah melaksanakan shalat, mereka pun melanjutkan untuk mengaji, para santri putra mereka pun naik ke bagian atas dan santriwati seperti biasa di bagian bawah masjid. Yusuf dan para Ustadz lainnya mereka pun menyusul para santri untuk mengajar.


Kali ini Yusuf terlihat tenang, ia mengajar para santri dengan sangat fokus. Tak ada lagi gundah di hatinya, ia hanya ingin fokus untuk mengajarkan ilmu untuk para santri di pondok sesuai keinginan Abah nya, karena menurutnya yang paling utama untuk dirinya sekarang adakan menjalankan amanah dari Abah nya.


Ia sudah sangat berlapang dada jika memang Syifa bukan jodohnya ia akan menerimanya, Yusuf tidak ingin jika ia mengejar cintanya terus, sampai ia melupakan sang pemilik cinta sebenarnya.


Kali ini Yusuf mengajarkan tentang bab Sunnah.

__ADS_1


''Tentunya Kalian semua pasti tahu apa itu sunnah, tapi apa ada yang bersedia menjelaskan hakikat menjalankan sunnah?'' tanya Yusuf kepada para santri di hadapannya.


seseorang dari para santri pun mengacungkan tangannya.


''Saya Ustadz.''


''Baik silahkan.'' Yusuf memberikan waktu kepada santri itu.


''Sunah itu adalah ibadah yang di kerjakan berpahala dan ditinggalkan tidak berdosa.'' Sahut seorang santri yang telah menurunkan tangannya kembali.


Yusuf pun tersenyum dan kembali menjelaskan tentang pembahasannya kembali.


''Alhamdulillah Terimakasih, tapi ada hal yang paling penting yang harus kalian ketahui Menjalankan sunnah bukanlah sekedar membawa anggota tubuh mengikuti pesan dan perilaku Rasullulah Saw, akan tetapi menghadirkan beliau di hati saat mengikutinya, itulah hakikat menjalankan sunnah. Alangkah banyaknya orang mengikuti sunnah Nabi Saw namun yang di ingat hanya kalimat hadist yang dibukukan atau diucapkan dan bukan Rasullulah SAW yang hadir di hatinya, sejatinya kita sebagai muslim yang beriman kita menjalankan sunah apa yang Rasulullah ajarkan dengan menumbuhkan rasa cinta kepada beliau, apa kalian paham?'' Yusuf memandangi para santri di depannya.


''Alhamdulillah paham Ustadz.''


Seru para santri yang mendengar penjelas dari Ustadz mereka.


''Alhamdulillah, karena sebentar lagi akan memasuki waktu isya mari kita tutup dengan doa.''


Yusuf pun menutup pengajiannya dengan berdoa bersama dan segera mengambil wudhu kembali karena akan memaksakan sholat isya.


''Allahuakbar... allahuakbar....''


Terdengar suara lantunan adzan menandakan sudah memasuki waktu isya.


Para santri dan santriwati pun segera merapikan barisannya untuk melaksanakan shalat berjamaah yang akan segera di mulai.


Yusuf yang telah kembali memasuki masjid ia segera berdiri di barisan paling depan, untuk menjadi imam.


Adzan pun telah selesai dikumandangkan, Yusuf menengadahkan tangannya, ia membaca doa setelah adzan dan menyerahkan segala urusan dalam hidupnya kepada sang Khalik, ia meminta agar hidupnya selalu diliputi kasih sayang dari sang pemiliknya.


''Allahhuakbar ....''

__ADS_1


Ia pun memulai shalat sunnah dua rakaat yang di ikuti para santri dan santriwati sebelum berlanjut melaksanakan shalat isya berjamaah.


......................


__ADS_2