
''Ada apa ummi?'' tanya Hanif pada ummi.
''Ummi mau belanja keperluan pondok Han, sekalian keperluan dapur ummi sudah habis.''
''Baiklah sebentar biar Hanif mengambil kunci mobil dulu di kamar.'' Sahut Hanif segera meninggalkan ummi yang berada di bawah dan segera berlalu ke kamarnya.
Tak berselang lama Hanif telah kembali dengan kunci mobil yang kini ia pegang.
''Ayo ummi.''
''Sebentar Han biar ummi panggil dulu neng Aisyah biar sekalian dia bawa beberapa keperluan pondok.'' Sahut ummi yang kini keluar bersama putranya.
Terlihat seseorang menghampirinya, Hanif mengira jika itu adalah santriwati yang akan membantu ummi nya berbelanja.
''Ayo nak.'' Ummi segera masuk ke dalam mobil bersama neng Aisyah yang kini duduk berdampingan dengan ummi.
Hanif segera melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya.
Jarak yang cukup lumayan jauh membuat ummi dan neng Aisyah sedikit mengobrol terlihat jika ummi dan neng Aisyah sangat Akrab.
Aisyah adalah santriwati putri yang selalu ummi percayai untuk mengurus santriwati lainnya maka wajar jika neng Aisyah terlihat dekat.
Beberapa menit telah berlalu akhirnya mereka sampai di pusat perbelanjaan. Hanif memarkirkan mobilnya dengan perlahan.
''Kamu mau tunggu di sini han?'' tanya ummi karena kini ummi di temani neng Aisyah.
''Ya ummi biar aku tunggu di sini saja.'' Ucap Hanif karena ia merasa tidak nyaman jika harus mengikuti ummi berbelanja apa lagi dengan wanita lain.
''Baiklah ummi pergi dulu.'' Ummi berlalu dengan neng Aisyah yang kini berada di sisinya.
Hanif keluar dari dalam mobilnya dan berjalan ke arah taman yang kini berada di sisi pusat perbelanjaan.
''Lita.'' Hanif berkata pelan saat ia melihat Lita dengan sosok lelaki yang dulu pernah ia temui.
Hanif sedikit terkejut karena ia melihat Lita dengan pakaian yang sedikit berbeda tapi ia terlihat sangat dekat dengan lelaki itu.
q
Hanif berjalan ke arah Lita dan menyapanya sebelum ia ke taman yang akan ia tuju.
''Han apa kabar.'' Lita menanyakan kabar Hanif tanpa mengulurkan tangannya kepada Hanif.
__ADS_1
''Alhamdulillah aku baik, kamu apa kabar ta?'' tanya Hanif kembali.
''Alhamdulillah aku baik. Oh ya han kamu masih ingat sama Rian yang waktu itu kamu ketemu di restoran sebrang sana?'' tanya Lita mengingatkan.
''Oh ya tentu ingat kamu yang waktu itu bukan? apa kabar? sudah lama kita tidak ketemu jadi aku sedikit lupa.'' Kekeh Hanif yang menjabat tangan lelaki yang bersama Lita.
''Rian ini adalah suami aku Han, Maaf aku gak kasih kabar saat aku menikah.''
''Oh ya, kapan kalian menikah? gak apa-apa ta, aku sangat bersyukur jika kalian sudah menikah.'' Ucap Hanif dengan perasaan senangnya.
''Alhamdulillah Han baru sebulan. Kalau begitu kita pamit duluan.'' Lita berlalu dengan Rian ia memegang erat lelaki yang kini tidak lain adalah suaminya.
Hanif merasa sangat lega karena kini Lita mendapatkan suami yang mencintai dirinya semoga saja pernikahan mereka di penuhi kebahagian.
Hanif mengeluarkan ponselnya dan duduk di kursi yang berada di taman.
Terlihat sebuah pesan dari Syifa.
''Mas kamu sibuk terus aku kapan punya sedikit waktu sama kamu.''
Hanif menarik napasnya berat ia tahu jika dirinya sekarang selalu sibuk dengan pekerjaan nya hingga sedikit sekali waktu yang ia luangkan untuk istrinya.
Hanif segera menelpon Syifa dan dengan melakukan video call agar istrinya tidak menjadi salah paham.
''Assalamualaikum.'' Ucap Hanif setelah tersambung dengan Syifa.
''Waalaikumsalam.'' Jawab Syifa ketus ia sangat kesal karena Hanif yang selalu saja membuatnya kesal akhir-akhir ini.
''Kamu kenapa sayang? jangan marah gitu, mas hanya sedang sibuk sayang.''
''Jangan panggil sayang mas, kamu bahkan tak pernah mengunjungi aku,'' Lirih Syifa yang terlihat ingin menangis ia sangat kecewa pada suaminya.
''Maaf sayang bukan mas membiarkan kamu dan tidak peduli hanya saja mas belum memiliki waktu yang panjang agar bisa segera ke sana.
Hanif tersenyum dengan penuturan dari istrinya ia pun menjelaskan segala kesibukan nya.
''Mas lagi di mana?'' tanya Syifa setelah lama Hanif menjelaskan membuat Syifa mengerti kesibukan suaminya.
''Aku sedang mengantar ummi berbelanja sayang, oh ya aku mau bilang jika dua hari lagi aku akan ke sana. Tadinya aku mau kasih kejutan sama kamu, tapi kamu malah marah-marah gak jelas ya sudah mas bilang aja.'' Tutur Hanif karena ia tidak ingin membuat Syifa marah lagi padanya atau salah paham padanya.
''Ya lagian mas gak bilang sama aku, bagaimana aku bisa tahu.'' Ucap Syifa membela diri.
__ADS_1
Kali ini sikap Syifa sangat berubah ia terlihat sangat manja pada Hanif namun sikap yang kini ia perlihatkan membuat Hanif begitu gemas ia sangat mencintai Syifa bahkan ia tak akan melewatkan waktunya untuk merencanakan kebahagiaan untuk nya meski nyatanya istrinya menjadi salah paham juga.
''Oh di sana itu anak.'' sahut ummi karena ia tidak melihat Hanif.
''Neng Aisyah boleh panggilkan Ustadz Hanif? karena kita masih banyak keperluan yang belum kita beli.''
''Iya ummi.'' Neng Aisyah tak membantah ia segera berjalan ke arah Ustadz Hanif sesuai perintah dari ummi.
''Kamu hati-hati di sana ya, jika ada sesuatu kamu hubungi mas saja, Maaf juga mas...'' Hanif belum juga selesai dengan perkataan nya sahutan dari neng Aisyah membuat dirinya terhenti.
''Ustadz kita pergi sekarang.''
Hanif menoleh ke arah suara perempuan yang kini berasa di belakang nya.
''Ya neng?''
''Udah selesai Ustadz.''
''Oh baiklah sebentar.''
Neng Aisyah pun berjalan kembali ke tempat dimana mobilnya kini terparkir.
''Yang.'' Hanif kembali menatap layar ponselnya karena ia belum mengakhiri panggilannya.
Hanif menarik napasnya berat karena kini Syifa telah mematikan panggilannya.
Hanif pun akhirnya menyimpan kembali ponselnya dan segera menghampiri ummi yang sudah menunggu nya.
''Kita sudah selesai ummi?''
''Hanya beberapa keperluan untuk dapur kita beli di pasar tradisional saja han.''
''Kenapa tidak di sini ummi, biar sekalian saja.'' Usul Hanif memberi saran.
''Lebih baik di pasar tradisional saja han ummi mau membeli beberapa perabotan dapur untuk pesantren biar sekalian.'' Ummi segera masuk ke dalam mobil di ikuti oleh neng Aisyah.
Hanif tak bisa menolak permintaan ummi nya ia pun akhirnya segera masuk ke dalam mobil untuk segera beralih ke pasar tradisional seperti apa yang ummi minta.
Perjalanan tidak terlalu jauh dan tentunya tidak memakan waktu lama hanya lima belas menit berlalu hingga akhirnya mereka sampai di sana.
......................
__ADS_1