Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 151


__ADS_3

Andrean dan Hanif kini akan mengunjungi hotel yang belum lama Andrean bangun ia akan bekerja sama dengan perusahaan Hanif untuk mengisi pasokan bahan pangan bahkan Andrean mengusulkan untuk menu makanan khas Sunda ia akan mengambil sebagian ahli pekerja dari Hanif.


''Kalau aku tahu itu adalah hotel mu mungkin aku akan sering-sering mengunjungi tempat itu.'' Kekeh Hanif di sela obrolan nya.


''Tentu boleh semuanya gratis kamu boleh kapan saja ke sana.'' Usul Andrean dengan senyum lebar nya.


Kedua pengusaha muda itu kini saling beradu pengalaman di bidang bisnis mereka masing-masing bahkan tak sedikit Hanif dan Andrean bertukar pikiran dalam hal apapun.


Cuaca kali ini terlihat sangat cerah dengan panas yang menyengat membuat hawa sedikit panas.


Laju kendaraan yang lumayan lancar bahkan Andrean menjalankan kendaraan nya dengan sangat cepat memang seperti itulah Andrean ia tidak suka menghabiskan waktu di jalan.


''Awas!'' Hanif mengingatkan Andrean saat mobil yang ia tumpangi dengan Andrean saling beradu dengan mobil bus dari truk dari arah berlawanan.


...


''Ah.'' Syifa meringis kesakitan karena kini perutnya mengalami kram lagi. Entah kenapa di masa kehamilan nya selalu mengalami kram namun kali ini kram di perutnya sangat sakit membuat Syifa meringis kesakitan.


''Bunda kenapa?'' Ana memegangi Syifa yang berdiri tanpa sedikit bergeming.


''Nak.'' Ummi mendekati menantunya yang malah diam berdiri dengan raut wajah yang sangat memerah.


''Kamu gak apa-apa nak?'' tanya ummi kembali karena kini air mata Syifa terlihat berlinang.


''Sedikit sakit ummi, ayo kita pilih lagi.'' Syifa sudah merasa membaik ia memilih untuk meneruskan berbelanja dengan ummi.


''Kita istirahat dulu nak, kamu jangan terlalu lelah kita pulang aja ya?'' ummi menyarankan bagaimana bisa ummi berbelanja melihat Syifa saja terlihat sedang menahan sakit nya.


''Gak apa-apa ummi.'' Syifa dan Ana memilih beberapa perlengkapan bayi hingga kini tinggal membayar.


Syifa berjalan dengan Ana sedangkan ummi menyusul dari belakang dengan membawa barang belanjaan menantunya.


''Astaghfirullah Syifa.'' Ummi menutup mulut nya saat melihat darah mengalir dari kaki Syifa.


Syifa yang tidak menyadari itu ia terlihat kebingungan. Namun melihat ummi yang menatap kaki nya Syifa beralih menatap kaki nya yang kini sudah terlihat darah segar mengalir di kaki nya seketika Syifa syok dan jatuh pingsan.

__ADS_1


''Syifa, tolong.'' Para pegawai toko itu segera membantu ummi dan membawa Syifa ke mobil ummi.


''Ada apa ummi?'' mang Ali kaget mendapati ummi yang terlihat panik.


''Buka pintunya mang Ali!'' Ucap ummi dengar bergetar.


Mang Aki segera membuka pintu mobilnya dengan cepat ia pun membantu majikan nya masuk ke dalam mobil.


''Kita ke rumah sakit ayo!'' Mang Ali dengan cepat menjalankan mobil nya ke rumah sakit terdekat.


''Ayo mang Ali cepat!'' ummi semakin gelisah apalagi melihat Ana yang menangis di pangkuan ummi membuat ummi semakin merasa bersalah karena berinisiatif mengingatkan Syifa untuk membeli perlengkapan bayi.


Lima belas menit telah berlalu kini Syifa sudah sampai di rumah sakit ia segera di bawa oleh para suster.


Ummi memeluk Ana dan mengikuti kemana Syifa di bawa.


''Hanif.'' Lirih Ummi mendapati putra nya memasuki rumah sakit dan segera di bawa oleh para suster dengan cepat.


Seketika tubuh ummi lemas ia tidak bisa berbuat apa-apa seakan tubuhnya tak bertulang.


''Ummi.'' Mang Ali dengan sigap menahan tubuh ummi dan membawanya ke kursi karena ummi masih sadar.


Melihat ummi yang tak berdaya dengan Ana yang sejak tadi tak berhenti menangis membuat mang Ali semakin bingung ia segera menelpon Abi dan juga istrinya untuk segera ke rumah sakit dimana kedua majikan nya sedang mempertaruhkan nyawanya.


....


''Ummi.'' Abi memeluk tubuh sang istri ia tidak mengetahui jika Hanif juga sedang terbaring lemah karena mang Ali sengaja tidak memberitahu Abi karena ia takut jika abi pun kenapa-kenapa di jalan.


''Ada apa mang Ali?'' tanya abi sedikit menaikan suaranya sedangkan Lastri ia segera menenangkan Ana yang masih menangis.


''Syifa dan Hanif abi.'' Ucap ummi dengan tatapan kosong nya hanya air mata yang terus membasahi pipi ummi.


Mang Ali seakan tak sanggup mengatakan nya ia sendiri sangat sedih dengan keadaan ini.


Seorang dokter keluar dari ruangan Syifa membuat mereka langsung beralih pada dokter wanita yang kini terlihat tak bersemangat.

__ADS_1


''Kenapa dengan menantu saja?'' tanya abi tidak sabar.


''Menantu bapa tidak apa-apa ia masih belum sadarkan diri tapi maaf dengan bayi yang ia kandung kamu tidak bisa menyelamatkan nya.'' Ucap Dokter itu dan pergi memberikan waktu untuk keluarga pasien untuk melihat kondisi Syifa.


''Syifa.'' Tangis ummi semakin menjadi ia segera masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh abi yang berada di sisi istrinya.


''Syifa.'' Ummi menghampiri Syifa yang masih belum sadarkan diri ia masih terbaring lemah dengan wajah pucat nya. Sesekali ummi mengusap air matanya ia berusaha kuat untuk menantunya bagaimana tidak cobaan untuk sang menantunya sangat berat ia harus kehilangan buah hatinya terlebih Hanif suaminya yang entah bagaimana kondisi nya sekarang.


''Ummi jangan sedih, ummi harus kuat demi anak kita. Abi akan memastikan keadaan Hanif ummi tinggallah disini dengan Syifa.'' Abi Abdullah berjalan keluar ia segera mencari dimana putra nya berada.


''Sus pasien yang bernama Hanif dimana ya?'' tanya Abi Abdullah karena ia juga belum mengetahui dimana Hanif berada.


''Atas nama Hanif yang kecelakaan pa? ada dua nama Hanif.'' Sahut suster itu.


''Hanif Al hisyam.''


''Oh masih di icu.''


Abu dengan cepat ia segera berjalan ke ruang ICU namun belum juga sampai terlihat anaknya kini beralih ke ruang rawat.


''Maaf bapak siapa pasien?'' tanya suster karena abi mengikuti kemana Hanif di bawa.


''Saya orang tuanya sus,''


''Baiklah segera isi administrasi nya.'' Titah seorang suster membuat abi segera beralih mengisi administrasi terlebih dahulu.


Beberapa menit telah selesai abi segera kembali ke ruangan dimana putranya di rawat ia segera masuk dan melihat Hanif yang kini terbaring lemah.


''Han kamu harus kuat, Syifa membutuhkan kamu.'' Lirih abi pelan abi merasa sangat tidak sanggup melihat kondisi putranya yang kini sama seperti Syifa.


Abi menangis dalam diam orang tua mana yang akan sanggup melihat kondisi anak dan menantunya terbaring lemah seperti sekarang ini.


...


Mira dan Aris segera menuju rumah sakit dimana putri nya berada. Setelah Aris mendapat kabar jika putri nya mengalami keguguran Aris dengan cepat ia langsung pergi dengan Mira dan juga nenek nya.

__ADS_1


''Syifa semoga kamu kuat sayang.'' Mira terus saja berdoa ia selalu berharap jika putrinya akan kuat menghadapi ujian yang sangat berat ini. Mira sangat tahu perasaan Syifa karena ia juga pernah mengalami hal yang sama.


......................


__ADS_2