
Seminggu telah berlalu kini Syifa sudah menjalani hari-harinya seperti biasa ia menjalani harinya seperti seorang santriwati pada umumnya Hanya ada sedikit yang berbeda, kini ia selalu lebih sering menyendiri dan menjauh saat siang dari ke tiga sahabatnya.
Ia akan pergi ke taman setelah pulang sekolah atau entah kemana untuk mengambil waktu untuk menghubungi suaminya.
Siang ini Syifa baru saja keluar dari madrasah nya dan seperti biasa ia akan pergi ke area taman untuk menelpon suaminya.
''Fa, kamu mau kemana?'' tanya Arin karena ia merasa aneh dengan sikap Syifa akhir-akhir ini.
''Aku hanya ingin pergi sebentar, kalian duluan aja.'' Sahur Syifa merasa tidak enak hati tapi bagaimana lagi hanya dengan seperti ini lah ia bisa menghubungi suaminya.
''Ok ya udah kita duluan. Yuk rin, des.'' Arumi berusaha menutupi sikap Syifa agar tidak di curigai ke dua sahabatnya.
''Kita bareng aja sama Syifa lagian kita juga gak ada kegiatan.'' Arin mengusulkan.
''Udah ah aku capek lagian nanti kita harus ke rumah abah untuk beres-beres.'' Arumi tetap berusaha mengajak Arin agar ikut dengannya.
Arin tidak mempunyai pilihan lain ia pun akhirnya mengikuti Arumi dan juga desi.
''Kalian merasa gak sih jika Syifa akhir-akhir ini selalu terlihat menghindar dari kita?'' Arin mengungkapkan kegundahannya.
''Perasaan kamu kali rin, atau mungkin Syifa butuh waktu untuk menyendiri karena kangen sama kedua orang tuanya.'' Bohong Arumi ia terpaksa berbohong pada Arin dan Desi karena ia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya karena ia ingin jika Syifa lah yang memberi tahu pada ke dua sahabatnya tanpa dirinya memberitahu lebih dulu.
''hmmm'' Arin menghembuskan napasnya dengan kasar ia pun berjalan ke arah kamar dan memutuskan untuk beristirahat sebelum ia akan beres-beres di rumah abah.
Syifa kini sedang di taman ia merasa gelisah karena panggilan yang sejak tadi ia lakukan tak kunjung mendapatkan jawaban.
''Mas kamu ke mana, tumben sekali kamu tidak mengangkat panggilan aku.'' Lirih Syifa pelan ia pun menundukkan kepalanya dan berusaha menenangkan pikirannya. Sudah dua kali Syifa menelpon Hanif tapi ia tidak juga mendapat jawaban.
Yusuf yang baru saja ke luar dari kantor ia merasa sangat lelah ia berjalan ke arah taman yang kini terlihat lebih rapih karena sudah di rapikan oleh para santri yang terkena hukuman.
Yusuf menarik napasnya panjang dan berjalan kembali namun kini langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang terlihat menundukkan kepalanya.
''Syifa.'' Yusuf berkata karena sepertinya wanita itu adalah Syifa.
__ADS_1
Perlahan Yusuf melangkahkan kakinya ke arah wanita itu ia ingin memastikan jika wanita yang kini tengah berada di bawah pohon itu adalah Syifa.
''Syifa?'' tanya Yusuf pelan karena ia sepertinya sedang dalam masalah atau entahlah Yusuf sendiri tidak tahu.
Syifa menengadahkan kembali kepalanya dan kini ia melihat Yusuf yang tengah menatap dirinya.
''Ustadz.'' Syifa berkata dengan pelan.
Yusuf tersenyum dan tetap menatap Syifa.
Yusuf tetap berdiri sedangkan Syifa kini duduk dengan baik dan kembali menatap taman yang berada di sana.
''Ustadz sedang apa ke sini?'' tanya Syifa memberanikan diri untuk bertanya.
Yusuf tersenyum karena mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Syifa.
''Aku hanya ingin jalan-jalan lagian kamu kenapa disini sendirian?'' tanya Yusuf balik bertanya pada Syifa.
''Sama aku juga hanya ingin jalan-jalan.'' Jawab Syifa tanpa menoleh sedikitpun pada Yusuf.
''Syifa.'' Ucap Yusuf sebelum Syifa berjalan.
Syifa yang mendengar perkataan Yusuf ia merasa sangat gugup dan menunggu apa yang ingin Ustadz Yusuf katakan padanya.
''Iya Ustadz.'' Jawab Syifa berdiam diri di depan Ustad Yusuf.
''Aku hanya ingin mengucapkan selamat untuk pernikahan kalian, dan maaf karena terlambat setidaknya aku ikut berbahagia dengan pernikahan kalian.'' Ucap Yusuf tulus dari hatinya.
''Iya Ustadz Terima kasih.'' Syifa berkata dengan suara yang memperlihatkan kegugupan nya.
Yusuf menarik napasnya panjang ia sangat senang karena ia sendiri dapat mengucapkan selamat untuk wanita yang pernah Yusuf cintai. Kini ia berjanji untuk benar-benar merelakan cintanya.
''Fa aku ingin menarik semua ucapan yang pernah aku katakan pada mu.''
__ADS_1
''Maksud Ustadz?'' tanya Syifa merasa tidak mengerti dengan perkataan Ustadz Yusuf.
''Ya dulu aku pernah berkata, jika Hanif mempermainkan mu, akan ku pastikan kamu menjadi istriku.''
Yusuf menarik kembali napasnya dan kembali menatap Syifa.
''Fa jika dulu aku berkata seperti itu, kini aku akan menariknya kembali. Hanif adalah sosok lelaki yang baik dan sangat pantas untuk menjadi suami mu, jadi tetaplah bersama dia bagaimana pun keadaan nya aku tahu dia tidak akan pernah membuat kamu terluka.'' Yusuf berkata dengan tulus ia sangat lega dengan perasaan yang saat ini ia rasakan.
''Terima kasih Ustadz aku akan berusaha menjadi istri yang baik juga. Dan semoga Ustadz segera mendapatkan jodoh yang terbaik.''
''Ustadz, saya akan kembali ke kamar permisi, Assalamu'alaikum.'' Tutur Syifa yang kemudian berlalu setelah ia mendengar jawaban salam dari Ustadz Yusuf.
Syifa kini telah berlalu bahkan ia telah menghilang dari pandangannya.
''Aku Harap kalian selamanya bahagia Syifa aku ikhlas dengan semua keputusan yang Allah berikan pada ku.''
Beberapa menit telah berlalu bahkan mungkin satu jam lamanya Yusuf berdiam di sana hanya untuk menenangkan pikirannya. Berdiam diri di sana ternyata membuat hatinya menjadi lega bahkan perasaan yang selalu datang menghampiri dirinya kini terasa hilang begitu saja, entah karena ia telah mengembalikan perasaan yang dulu pada Syifa atau kerena ia telah mengatakan ikut bahagia dengan pernikahan Syifa dan juga Hanif tapi yang jelas dirinya kini merasa lebih nyaman.
Yusuf melihat jam tangan nya dan kini menunjukan pukul satu siang. Ia pun terbangun dari duduk nya dan segera berjalan untuk pulang.
Hawa sejuk yang kini ia rasakan bahkan terlihat awan mendung seolah akan hujan lebat membuat Yusuf segera mempercepat langkahnya untuk menuju rumahnya.
Namun hujan yang kini turun dengan tiba-tiba membuat Yusuf mau tak mau menerjang air hujan yang baru saja turun.
''Assalamu'alaikum.'' Salam Yusuf ketika ia hendak memasuki rumahnya.
Terlihat sepi bahkan tidak ada sahutan.
Yusuf berpikir jika ummi nya sedang beristirahat dan memutuskan untuk segera memasuki kamarnya.
Perlahan ia menaiki satu persatu anak tangga dan mulai mendekati kamar miliknya.
Yusuf masuk ke dalam kamarnya dan merebahkan tubuhnya ia merasa sedikit lelah meski hati ini ia hanya sibuk di pondok.
__ADS_1
Entah karena ia merasa lelah karena pikirannya yang selalu saja memikirkan wanita yang telah dah menjadi istri orang.
......................