
Ummi pun kembali duduk setelah ia merasa lebih baik.
''Terima kasih han,'' tutur ummi mengusap punggung putranya.
''Apa kamu sudah memikirkan perpindahan Syifa?'' Tanya Ummi menatap wajah Hanif.
''Entahlah mi, aku belum memikirkannya aku akan menyerahkan semuanya pada Syifa, tapi aku rasa itu akan sulit karena hanya enam bulan lagi Syifa akan lulus. sepertinya Syifa tidak akan bisa pindah sekolah lagi ummi.'' Tutur Hanif dengan wajah yang mulai terlihat tidak bersemangat karena ia akan berpisah lagi dengan istrinya setelah dua minggu mereka bersama.
''Tenanglah kamu dapat mengunjungi Syifa kapan pun semoga rumah tangga kalian menjadi rumah tangga yang sakinah mawadah dan warahmah.'' Ummi pun menepuk pundak Hanif memberikannya semangat.
''Iya ummi.'' Hanif pun tersenyum kembali.
''Ummi aku akan kembali ke kamar, aku mau istirahat.'' Tutur Hanif yang kemudian pergi ke dapur terlebih dahulu ia pun mengambil beberapa cemilan dan juga air minum untuk istrinya.
Terlihat Hanif yang begitu mencintai Syifa membuat ummi tersenyum ia sangat bahagia karena putranya menemukan cinta yang membuat keluarga nya penuh dengan kebahagiaan.
Hanif pun berjalan menaiki setiap anak tangga yang menghubungkan nya ke kamar miliknya. Ia pun membuka gagang pintu perlahan karena ia takut jika Syifa kini sedang tidur dan ia menganggu nya.
Hanif pun masuk ke dalam kamar, benar saja Syifa kini tengah terlelap dalam tidurnya. Hanif pun kembali menutup pintu perlahan dan menyimpan makanan yang telah ia bawa di meja.
Ia melihat kembali wajah cantik istrinya yang terlihat lelah. Hanif pun menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya itu. seutas senyum menghiasi wajah tampan nya ia sangat gemas melihat Syifa yang tertidur namun masih mengenakan kerudung.
Hanif tersenyum sungguh ia sangat mencintai wanita yang kini telah menjadi istrinya itu ia pun mengusap kepala Syifa dan menciumi puncak kepalanya sebelum ia benar-benar terlelap bersama Syifa.
.
.
__ADS_1
Adzan ashar berkumandang. Hanif yang sudah bangun ia sedang membersihkan tubuhnya untuk segera pergi ke masjid karena ia akan melaksanakan shalat ashar berjamaah.
Ia pun keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah terlihat rapih. ia mengenakan sarung dan juga baju koko dengan kopiah di kepalanya membuat ia terlihat sangat tampan.
''Ustadz mau ke masjid?'' tanya Syifa yang baru saja bangun dari tidurnya.
''Kamu sudah bangun,'' Hanif tersenyum ke arah Syifa yang masih berselimut.
''aku pergi dulu ke masjid. dan sebaiknya kamu segera bersiap untuk shalat dulu agar kamu segar.'' Tutur Hanif mengusap puncak kepala Syifa dengan lembut ia pun berlalu dari kamarnya meninggalkan Syifa yang masih nyaman di kasurnya.
Syifa pun bangun dan duduk di kasur yang ia tempati ia masih merasa pegal di setiap tubuhnya. Mungkin karena perjalanan yang tidak hentinya membuat badan nya terasa lemas.
Syifa pun mengedarkan pandangan nya ke sekeliling kamarnya dan mencari tas yang tadi Hanif taruh. Namun ia tidak menemukan tas yang entah dimana Hanif simpan.
Ia pun akhirnya turun dari kasur namun langkahnya terhenti saat ia menatap meja yang kini penuh dengan makanan dan cemilan kesukaannya ia pun duduk dan memakan roti dan juga kue kacang kesukaannya itu.
''Ternyata Ustadz Hanif pengertian juga kalau aku memang lapar.'' Tutur Syifa dan melahap kembali makanan itu ia pun meminum air putih yang telah Hanif sediakan untuknya.
Namun betapa terkejutnya ia saat membuka pintu lemari itu ia melihat pakaian yang kini sudah tertata dengan rapihnya.
''Aduh kenapa Ustadz membereskan pakaian aku'' Syifa merasa malu apalagi terdapat beberapa pakaian dalam miliknya.
ia pun segera mengambil beberapa pakaian dan segera masuk ke dalam kamar mandi karena ia merasa lengket di seluruh tubuhnya.
Lima belas menit berlalu, akhirnya ia telah selesai dan segera menggelar sajadah untuk melaksanakan shalat di kamarnya. ia tak menemukan keberadaan suaminya itu mungkin Hanif masih berada di mesjid.
Seperti biasa Hanif melaksanakan shalat di masjid dan berdiam di masjid untuk sedikit menenangkan pikirannya.
__ADS_1
Syifa yang sudah selesai shalat ia pun membereskan mukena yang telah ia gunakan, ia pun memakai kembali kerudung yang selalu ia kenakan. Syifa belum siap untuk membukanya meski dulu ia tidak memakai kerudung tapi kini ia merasa enggan untuk membukanya. meski kini Hanif telah sah menjadi suaminya Syifa merasa belum siap untuk memperlihatkan dirinya ia takut jika Hanif akan meminta haknya sebagai istrinya.
Ponsel Hanif yang terus saja berdering entah siapa yang menghubunginya Syifa pun menghampiri benda pipih yang sengaja Hanif tinggalkan di kamar mereka.
Ia melihat panggilan dari seseorang yang bernama Lita, tentu saja seorang wanita yang kini sedang menghubunginya.
Seketika ia merasa sesak entah perasaan apa yang kini ia rasakan ketika melihat seseorang wanita menelpon suaminya itu.
Syifa ingin sekali mengangkat telpon itu tapi ia merasa sangat ragu. Hingga panggilan telpon itu pun berakhir Syifa merasa sangat penasaran meski sesak di dadanya begitu terasa.
Syifa pun berjalan kembali meninggalkan ponsel Hanif yang ia taruh kembali di tempatnya namun langkahnya kembali terhenti saat suara panggilan telpon itu kembali terdengar membuat Syifa kembali menghampiri dan mengambil kembali ponsel yang belum lama ia simpan.
"Lita.'' Gumam Syifa yang kemudian ia pun memutuskan untuk menerima panggilan suara yang di tujukan untuk suaminya itu.
''Han, kenapa kamu selalu menghindari aku, han aku ingin bertemu denganmu saat ini juga, aku tidak bisa seperti ini han.'' Suara wanita itu di iringi isak tangis yang membuat Syifa tak bisa berkata-kata hatinya benar-benar sesak jantung nya terasa terhenti saat ia belum mengatakan sesuatu apapun wanita itu terus saja menangis.
''Han, aku mencintai mu.'' Tutur Lita yang kembali terdengar di telinga Syifa.
Syifa tak bisa menahan dirinya ia pun tak bisa berkata apa-apa lidahnya terasa kelu mendengar pengakuan seorang wanita yang mengatakan ia mencintai suaminya.
Syifa pun segera menutup panggilan itu tanpa sepatah kata. Ia pun menaruh kembali ponsel Hanif dengan perasaan yang tak pernah ia rasakan. ia merasakan sangat sakit dadanya terasa sangat sesak bahkan matanya mulai berkaca-kaca menahan buliran air mata yang kini akan jatuh.
Syifa pun berlari ke arah pintu untuk segera keluar dari kamarnya ia ingin mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya namun langkahnya terhenti saat pintu kamarnya kini terbuka.
''Syifa, oh maaf aku tak sengaja apa kamu sakit?'' karena Hanif membuka pintu dengan sedikit terbuka membuat Syifa tersentak di tempat nya.
''Enggak Ustadz, aku mau ke luar sebentar Ustadz.'' Tutur Syifa tanpa sedikitpun berniat menatap wajah Hanif yang masih diam mematung di ambang pintu.
__ADS_1
Hanif membiarkan Syifa berjalan keluar mungkin Syifa masih canggung dengan keberadaan nya. Hanif bisa memaklumi semuanya karena memang dirinya sendiri pun masih sedikit canggung atas pernikahan yang baru saja terjadi kemarin.
......................