Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 91


__ADS_3

Syifa merasa bersalah dengan keadaan yang harus ia lalui ia sebenarnya bukan tidak percaya pada Arumi tapi di saat dirinya melihat kedua sahabatnya yang kini bersama nya ada perasaan bersalah yang kini ia rasakan.


Syifa hanya takut jika suatu saat nanti ke dua sahabatnya mengetahui dari orang lain jika dirinya sudah menikah membuat Arin dan Desi menjadi salah paham.


''Makasih ya Arumi kamu selalu buat aku tenang. Tapi sekarang justru aku merasa bingung Arumi.'' Syifa merasa serba salah pasalnya dulu saja saat dirinya mendapat perlakuan kasar dari Ustadzah Nadia ke tiga sahabatnya menjadi salah paham apalagi sekarang.


''Bingung karena apa fa, kamu bisa cerita sama aku.'' Ucap Arumi yang tak sedikitpun beralih darinya.


''Aku hanya takut jika Arin dan Desi akan salah paham karena aku sudah menyembunyikan kebenaran kepada mereka, aku hanya takut jika itu terjadi Arumi.'' Lirih Syifa karena bagaimana pun mereka selalu bersama.


Kini Arumi mengerti apa yang Syifa pikirkan ia sendiri tidak mengingat sampai sana karena Syifa sendiri berkata padanya untuk merahasiakan pernikahan nya dengan Ustadz Hanif.


''Semua keputusan ada di tangan kamu fa, jika kami belum siap untuk bercerita lebih baik kamu tunda dulu aku yakin jika Arin dan Desi akan mengerti sebab kamu merahasiakan pada mereka.'' Arumi berusaha menenangkan Syifa ia hanya tidak ingin membuat beban Syifa menjadi semakin bertambah.


Cukup dengan pernikahan yang mendadak dan kini ia malah harus berpisah dengan suaminya.


Istri mana yang akan sanggup berpisah lama dengan suaminya meski hanya berbulan-bulan tapi pasti akan sangat berat bagi mereka.


Syifa kini merasa sedikit lega karena ucapan Arumi memang benar apa yang Arumi katakan. Syifa sendiri belum siap untuk bercerita sekarang tapi ia janji akan memberi tahu soal pernikahannya dengan Hanif.


''Makasih ya Arumi.'' Syifa memeluk Arumi dengan erat ia sangat bersyukur karena Arumi selalu mendukung nya.


''Fa kamu ko wanginya kayak Ustad Hanif sih.'' Tutur Arumi yang kini melepas pelukannya.


Syifa hanya tertawa karena perkataan Arumi.


''Ya jelas lah Arumi kan aku istrinya.''


''Bukan gitu fa tapi aku jadi aneh karena bau pakaian kamu.'' Ucap Arumi malah menciumi baju Syifa lagi.


Syifa kembali tertawa karena tingkah Arumi. ''Ya iyalah Arumi orang dari tadi aku peluk Ustad Hanif jelas lah wangi parfum nya nempel di aku.'' Syifa berkata dalam hatinya.


.


.


Kini Hanif telah selesai shalat ashar ia akan kembali ke hotel dan menjemput kedua orang tuanya karena mereka tidak akan tidur di hotel melainkan di penginapan yang telah Hanif pesan sejak kemarin.

__ADS_1


Hanif melangkah kakinya keluar masjid.


Yusuf yang melihat Hanif keluar dari masjid ia pun segera menyusul nya.


''Han.'' Panggil Yusuf saat berada di teras masjid.


Hanif berhenti dan tetap menunggu Yusuf hingga kini mereka berdampingan.


Mereka berjalan beriringan namun Yusuf belum juga mengatakan apa yang kini ia ingin katakan.


''Yus,'''


''Han.''


Mereka berkata bersamaan membuat mereka kembali saling melepas pandangannya.


''Kamu dulu.'' Ucap Hanif pada Yusuf.


Yusuf menarik napasnya panjang dan mengeluarkannya secara perlahan.


''Han, selamat ya kalian sudah menikah aku ikut bahagia.'' Yusuf menatap Hanif ia masih menunggu reaksi dari pria yang kini telah dah menjadi suami dari wanita yang sangat ia cintai.


''Yus, aku minta maaf jika aku telah menyakiti kamu karena aku telah menikahi Syifa.'' Hanif merasa bersalah karena ia tahu jika Yusuf kini masih mencintai istrinya meski tak dapat di pungkiri dirinya sendiri sangat mencintai Syifa.


Yusuf yang selalu bersikap baik padanya membuat Hanif merasa sangat bersalah tapi apa daya takdir terus menyatukan mereka seakan dirinya yang memang harus menjadi suaminya.


Yusuf tersenyum mendengar perkataan Hanif ia tahu jika sahabat baiknya tidak sama sekali merebut Syifa dari dirinya karena Syifa sendiri sudah menerimanya dan semua itu tak lepas dari kehendak Allah.


''Kamu tak perlu minta maaf han, aku sudah melepas Syifa untuk bersama kamu karena dia sendiri itu kan yang memilih kamu sebagai suaminya. Aku hanya berharap kamu tidak akan pernah menyakiti dirinya.'' Ucap Yusuf menepuk pundak Hanif.


''Terima kasih yus, kamu selalu baik sama aku, padahal kali ini aku sangat merasa bersalah.'' Lirih Hanif pelan.


''Memang nya jika kamu merasa bersalah kamu mau melepas Syifa untuk kembali sama aku?'' goda Yusuf pada Hanif namun dirinya hanya bercanda ia tak sedikit pun bermaksud akan kembali menerima Syifa. Justru ia sangat berharap jika Syifa akan bahagia bersama Hanif.


Hanif seketika membuka matanya lebar-lebar ke arah Yusuf yang terlihat sangat santai.


Yusuf tertawa melihat reaksi Hanif yang kini menanggapi nya seperti serius.

__ADS_1


''Aku bercanda ko han,'' sambil tertawa lepas Yusuf menepuk pundak Hanif.


''Jadi berhenti lah mengatakan maaf pada aku karena kamu tak bersalah dalam hal ini. Tapi bahagiakan lah Syifa selama hidupmu.'' Yusuf pun kembali berjalan meninggalkan Hanif yang masih terlihat sedikit syok.


.


.


Hotel.


Nadia kini tengah berasa di tengah-tengah keluarga Andrian yang tidak lain adalah keluarga besar Syifa.


Nadia merasa sangat takut jika ayah Syifa akan mengatakan segala keburukan masa lalunya pada keluarga Andrian.


Andrian sendiri tidak pernah mengetahui permasalahan dirinya dengan Syifa. Andrian hanya tahu jika dirinya adalah Ustadzah yang pernah mengajar di pondok dimana Syifa belajar.


Mereka kini tengah asyik mengobrol berbagai hal bahkan tak sungkan ke dua orang tua Nadia ikut berbicara bersama mereka. Hanya Nadia saja yang tidak terlalu ikut campur dalam obrolan mereka kalau tidak ia di tanya ia hanya akan mendengarkan saja.


Aria dan Mira sudah memaafkan Nadia karena menurutnya tidak baik menyimpan dendam apalagi kini Nadia adalah bagian dari keluarganya. Tentu Aris dan Mira tidak ingin membuka aib masa lalu dari Nadia.


Kini mereka tertawa ria saat Andrian sedang menceritakan bagaimana ia bisa bertemu Nadia meski Andrian tidak mengatakan jika Nadia adalah pasien yang ia tangani karena ia tidak ingin menjatuhkan harga diri istrinya.


Nadia Hanya terdiam berbeda dengan dirinya saat berada di pelaminan.


Andrian menoleh ke arah istrinya.


''Kamu capek Nad?'' tanya Andrian karena Nadia hanya diam saja bahkan ia terlihat sedikit murung.


''Iya Mas, aku sedikit pusing ucap Nadia berbohong karena sebenarnya nya ia tidak nyaman dengan obrolan yang menyangkut pertemuan dirinya dengan Andrian.


Andrian jelas mengetahui jika kini istrinya sedang berbohong namun ia tidak mempermasalahkan akan hal itu mungkin Nadia memang tidak nyaman pikir Andrian tanpa ambil pusing.


''Mam aku sama Nadia ke kamar dulu ya, kami mau istirahat.'' Ucap Andrian pada mamanya karena yang lain kini tengah asik mengobrol banyak hal.


......................


Hai para reader maaf ya sedikit terlambat up nya di karena kan banyak kesibukan karena harus jaga anak juga☺ jadi mohon di maklum ya..

__ADS_1


oh ya tetep semangat ya untuk para pembaca jangan lupa tinggalkan jejak ya☺ dan untuk yang mau kasih masukan di tunggu ya saran dan masukan yang membangun ya kakak kakak Terima kasih🥰☺


__ADS_2