
Mereka bertiga hendak masuk ke kelasnya, namun begitu terkejutnya ternyata Ustadzah Nurul sudah berada di dalam kelas.
Semua mata tertuju pada mereka bertiga, Syifa dan ketiga sahabatnya pun hanya tertunduk mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
''Kalian sedikit terlambat.'' Tutur Ustadzah Nurul berkata dan menghampiri mereka bertiga.
''Ustadzah saya mohon untuk bisa masuk yah,'' Syifa memohon kepada Ustadzah Nurul, ia pun mengatupkan kedua tangannya dan tersenyum.
''Baiklah kalian boleh masuk, tapi jangan pernah ulangi lagi.'' Ustadzah Nurul memerintahkan agar mereka segera duduk di kursinya.
Syukurlah Ustadzah Nurul berbaik hati, jika tidak sudah di pastikan mereka akan menjalani ujian di luar ruangan.
Terlihat Ustadzah Nurul membagikan lembar ujian kembali, Syifa sedikit merasa aneh kenapa Ustadzah Nurul yang mengawasi ujiannya kali ini, ia pun mengeluarkan beberapa alat tulisnya dan kembali fokus pada lembar ujiannya.
Banten.
Hanif yang selesai sarapan ia segera bergegas kembali ke kamarnya. Ia akan mengawasi ujian madrasah kembali, ia pun mengambil beberapa buku yang selalu ia baca dan mengambil ponsel yang sedang ia cas.
Terlihat pesan WhatsApp yang belum ia baca, Hanif pun segera membuka pesan WhatsApp dan itu dari Lita.
''Untuk apa Lita ingin bertemu?'' tanya Hanif pada dirinya sendiri.
Hanif bingung dengan jawaban apa yang akan ia kirimkan, ia merasa heran dengan Lita yang menurutnya mendadak ingin bertemu.
Ia masih berpikir dan menimang apa yang harus ia lakukan.
Akhirnya Hanif menyetujui untuk bertemu dengan Lita. Hanif pun mengirimkan jawabannya.
''Oke nanti siang jam dua siang di tempat biasa.'' Pesan itu pun akhirnya terkirim. Hanif pun segera berjalan keluar untuk segera pergi ke madrasah.
Lita yang sedang sarapan bersama kedua orang tuanya, ia merasa sedikit tidak nyaman karena tatapan ayahnya seolah mengintimidasi dirinya. Ia hanya memakan roti dengan selai kacang dan susu yang bahkan tidak ia habiskan.
Lita pun bangun dari duduknya, ia membawa tas dan juga jasnya.
Aku berangkat dulu mam, yah. Lita menyalami kedua orang tuanya dengan hormat, meski hatinya sedikit kesal, namun bukan berarti ia menjadi anak yang kurang ajar.
__ADS_1
Ayah Lita terlihat sangat cuek ia bersikap dingin agar Lita dapat berpikir kembali atas apa yang ia lakukan. Menurutnya sebuah kesempatan besar jika Lita mau menikah dengan Rian, ia tidak akan mengalami kesusahan apalagi karena ayah Rian pula, bisnis ayah Lita dapat berjalan dengan baik.
Lita berjalan ke mobilnya dan segera melajukan mobilnya di jalanan ia tidak terlalu memperdulikan sikap ayah dan maminya yang terlihat sangat menjengkelkan, Lita rasa sikap ayah dan maminya akan berubah kembali setelah mereka mengetahui jika dirinya kembali menjalani hubungan dengan Hanif.
Hanif adalah satu-satunya jalan agar ia terbebas dari Rian.
Sudah beberapa hari sejak pertemuan dirinya dengan Hanif Tempo itu sejak itulah Lita memutuskan hubungannya dengan Rian, ia tidak merasa menyesal karena telah memutuskan hubungannya, karena memang sebelumnya ia tidak pernah benar-benar mencintai Rian. Hanya saja orang tua Lita sendiri yang terlalu ikut campur dalam hubungan mereka sehingga Lita sangat sulit untuk memutuskan hubungan mereka.
Lita menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, jalanan yang tidak terlalu padat membuatnya dengan leluasa menjalankan mobilnya.
30 menit berlalu akhirnya ia telah sampai di rumah sakit tempat dimana ia bekerja.
Ia pun segera berjalan ke ruangannya. Ia pun menaruh tasnya dan beralih pada alat-alat medis yang sebelumnya belum ia rapihkan.
''Sial.'' Gumam Lita setelah alat medisnya terjatuh dan sepertinya mengalami kerusakan.
Ia pun membereskan kembali mejanya yang terlihat sedikit berantakan. Namun Lita mengingat kembali pesan yang ia kirimkan pada Hanif sesaat setelah ayahnya keluar dari kamar.
Dengan cepat Lita segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya.
Benar saja pikirnya Hanif tidak akan menolak permintaannya, ia selalu menuruti apa saja keinginan Lita.
Lita kembali terseyum mengingat Saat-saat mereka pacaran dulu.
Hanif sosok lelaki yang sangat sempurna menurut Lita, ia selalu nyaman ketika bersama dirinya, meski mereka pacaran terbilang lama, namun Hanif tidak pernah sekalipun menyentuh tangan Lita, ia selalu menghormati Lita meski penampilan Lita yang selalu tampil sedikit terbuka dihadapannya.
''Aku harap kita akan seperti dulu han, aku sangat mencintai kamu.''
Terdengar ketukan pintu yang membuat Lita tersadar dari lamunannya. Ia pun segera merapikan penampilannya dan menyuruhnya agar masuk.
''Masuk!'' Lita memerintahkan agar seseorang di balik pintu itu masuk.
Ternyata seorang perawat yang hendak menemuinya.
''Ada apa?'' tanya Lita dengan sikap datarnya.
__ADS_1
''Ada pasien yang harus segera di periksa dok.'' Tutur perawat itu menyampaikan.
Lita pun segera mengikuti perawat itu, namun saat berjalan ke ruangan pasien ia berpapasan dengan Rian yang hendak memeriksa pasien juga.
Rian terlihat begitu dingin padanya, tatapan yang belum pernah ia dapatkan, bahkan untuk sekedar senyum pun ia tidak menampilkannya.
''Dok.'' Sahut perawat itu kembali karena melihat Lita yang malah berdiam diri setelah ia melihat Rian.
''Oh ya.'' Lita pun berjalan dengan cepat kembali.
.
.
Bandung.
Yusuf yang telah selesai dengan laptopnya ia pun segera menutupnya kembali. Yusuf berlari menaiki tangga karena ia meninggalkan lembaran data penting yang akan ia perlukan nanti.
Ia pun berjalan cepat menuruni tangga dengan lembaran kertas yang telah ia ambil.
Ummi yang melihat putranya sedikit sibuk menatap dengan sangat lembut, ia sangat berharap agar putranya dapat segera menyelesaikan permasalahannya.
''Ummi aku pamit dulu.'' Yusuf pun menyalami ummi nya dan segera pergi keluar setelah mengucap salam pada ummi.
Adi yang sudah berada di dalam mobilnya ia pun berusaha tenang dan mengambil alih kemudi, karena ia takut jika Yusuf tidak konsentrasi melihat Yusuf seperti itu.
''Sudah siap kak?'' tanya Adi yang melirik ke arah kakaknya yang baru saja masuk kedalam mobilnya.
''Kakak rasa sudah, mudah-mudahan tidak ada yang tertinggal.'' Tutur Yusuf ia pun merapihkan kembali bajunya.
Adi pun segera melajukan mobilnya dan mulai keluar dari area pesantren. Ia sangat bersyukur meski dirinya lalai dari tanggung jawabnya, namun Yusuf tidak sedikitpun memarahinya dengan kata-kata yang tidak pantas. Adi pun belajar banyak hal dari Yusuf ia sangat merasa bersalah atas apa yang terjadi karena dirinya.
Adi yang telah melajukan mobilnya kini tengah berada di jalan raya, terlihat begitu banyak kendaraan dan jalanan terlihat sedikit macet, ia tidak bisa mengambil jalur lain karena percuma saja jalur pintas pun pastinya sama.
Ia memilih untuk bersabar sampai mobilnya bisa berjalan kembali.
__ADS_1
Untungnya ia tidak memiliki jadwal pertemuan sehingga ia dapat bersabar sampai ke kantor.