Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 77


__ADS_3

Hanif dan Syifa mereka kini tengah berasa di dalam mobil. Hanif menatap Syifa masih saja terlihat marah padanya.


''Yang aku minta maaf,'' ucap Hanif pada Syifa ia takut jika nanti mereka malah tidak menikmati rencana yang telah Hanif rancang untuk mereka berdua. Namun sepertinya Syifa memang marah ia bahkan tidak sedikitpun menoleh ke arah Hanif membuat Hanif kembali lesu.


Tanpa ingin berkepanjangan dengan keadaan yang kini membuat dirinya dan Syifa saling berdiam akhirnya Hanif pun melajukan mobilnya untuk kembali ke penginapan yang telah ia pesan untuk dua hari kedepan.


Lima belas menit berlalu akhirnya mereka pun telah sampai namun Syifa tetap saja diam membuat Hanif merasa tak bersemangat.


''Yang udah dong marahnya. Aku janji gak bakal buat kamu kesal lagi.'' Hanif meraih tangan Syifa berharap wanita di samping nya itu tidak memperpanjang masalah karena Hanif kira itu hanya masalah sepele.


Syifa akhirnya menatap Hanif yang kini terus saja menahan tangannya dan meminta dirinya untuk tidak marah lagi.


Sebenarnya Syifa tidak marah ia hanya ingin jika Hanif mengerti kemauannya dan menikmati setiap kebersamaan mereka.


Menurut Syifa apapun yang kini mereka lakukan adalah kebersamaan yang harus mereka nikmati.


''Iya mas, gak apa-apa lagian aku juga yang salah.'' Ucap Syifa dengan nada yang biasa saja bahkan terkesan dingin.


Seulas senyum kini menghiasi wajah tampan miliknya meski Syifa belum benar-benar memaafkan nya setidaknya ia merasa lega karena Syifa mau berbicara lagi padanya.


''Baiklah kalau begitu kita turun.'' Ucap Hanif yang kemudian segera membuka pintunya dan pergi ke bagasi mobil untuk membawa berbagai keperluan mereka selama menginap disini.


Hanif berjalan beriringan dengan Syifa yang tidak lama mendapat penyambutan dari pihak pelayan kamar.


Suasana yang Hanif pilih adalah suasana penginapan yang bertema romantis karena memang ia ingin menciptakan suasana yang romantis dengan Syifa.


''Silahkan pak.'' Hanif pun mengambil kunci kamarnya dan pergi dengan di antar oleh seorang pelayan kamar karena ia memesan kamar yang VVIP untuk mereka selama menginap di sana.


''Mas ko kamu gak beri tahu aku dulu sih kalau kita akan menginap di luar.'' Gerutu Syifa karena jika kejutan juga menurutnya gak seperti ini juga karena akhirnya membuat mereka repot sendiri terlebih mereka tidak membawa apapun dari rumah membuat Syifa harus membeli banyak keperluan yang menurutnya akan di butuhkan.


''Niat hati ingin memberikan kejutan tapi ternyata aku yang terkejut fa, kamu ternyata gak setenang yang aku kira.'' Batin Hanif berkata karena pasalnya kini ia tahu sikap Syifa yang terlihat mudah marah bahkan mudah sekali tersinggung.

__ADS_1


Entah memang sikapnya yang seperti itu atau entah dia lagi datang bulan. Hanif menggaruk kepala yang tidak gatal karena mendengar Syifa yang menggerutu padanya dan di tambah Syifa yang terus saja terlihat tidak bersemangat.


''Namanya juga kejutan yang. kalau aku kasih tahu dulu kamu itu bukan kejutan lagi namanya.'' Ucap Hanif yang sama dinginnya namun dalam hatinya ia sedikit lega mengingat sifat Syifa yang mudah berubah.


Mereka pun telah sampai di depan pintu kamar mereka dan segera masuk ke dalam kamar mereka yang menyediakan berbagai pasilitas yang akan membuat mereka nyaman selama di sana.


Syifa pun menatap wajah Hanif yang terlihat sangat lelah mungkin karena ulahnya sendiri kini Hanif menjadi lelah.


''Mas capek?'' tanya Syifa yang kini duduk di atas kasur bersama Hanif yang telah menjatuhkan tubuhnya ke kasur lebih dulu.


''Iya yang aku capek, lagian.'' Hanif tidak melanjutkan perkataan nya ia kembali menatap wajah Syifa yang terus saja menatapnya hampir saja ia akan melakukan kesalahan lagi yang akan membuat Syifa salah paham lagi.


''Lagian?'' tanya Syifa penasaran karena Hanif tidak melanjutkan perkataan nya.


''Lagian kita sudah sampai aku bisa istirahat.'' Ucap Hanif mengalihkan pembicaraan karena ia tahu jika ia berkata yang sebenarnya sudah di pastikan Syifa akan kembali marah lagi.


Hanif menarik napasnya panjang ia pun menutup kedua matanya berharap Syifa tidak mengajaknya berbicara lagi agar tidak semakin salah paham.


''hmmm.'' Hanif menjawab hanya dengan gumaman.


''Mas ko gitu sih.''


Hanif kembali membuka matanya ia mendengar suara Syifa yang terdengar lirih membuatnya mengurungkan niat untuk tidur.


''Kenapa yang?'' Hanif pun akhirnya duduk menatap wajah Syifa yang kini terlihat sedih.


''ampun deh yang, kita ke sini mau liburan ko malah jadi drama beginian.'' Lirih Hanif dalam hatinya mendapati Syifa yang kini mulai berkaca-kaca.


Hanif pun meraih tubuh Syifa ia hanya ingin istirahat bukan maksud mengabaikan wanita yang kini bersamanya.


''Mas masih marah sama aku?'' Tanya Syifa yang terlihat sedih.

__ADS_1


Hanif pun tertawa dengan perkataan Syifa pasalnya bukan sejak tadi dirinya sendiri yang marah.


''Enggak yang kapan aku marah. Aku cuman sedikit capek. Kalau gitu kita tidur dulu bentar.'' Ajak Hanif yang kemudian membaringkan kembali tubuhnya di kasur.


''Ya sudah mas tengkurap aja biar aku pijat.'' Dengan senang hati Syifa menawarkan diri untuknya memijat sang suami. Bagaimana pun karena dirinya yang asik berbelanja membuat Hanif kecapean.


Hanif pun segera memposisikan dirinya untuk segera mendapat pijatan dari sang istri.


Syifa pun perlahan memijat Hanif dengan senang hati ia memijat Hanif hingga ia terlelap yang kemudian di susul oleh dirinya yang kini tidur bersamanya.


......................


Di kediaman Ummi kulsum.


Sudah dua hari sejak Lita bertemu dengan Hanif dan juga Syifa ia berencana untuk menemui ummi.


Lita yang kini tengah berada di luar pintu gerbang ia menatap lekat pintu pagar yang selama ini ia ingin kunjungi.


Lita pun kembali melajukan mobilnya untuk segera masuk kedalam kediaman Hanif.


Suasana yang biasa ramai dengan suara santri atau santriwati yang mondok kini terlihat sangat sepi.


Mang Ali pun menutup kembali pintu pagar setelah ia melihat Lita yang kini keluar dari dalam mobilnya.


''Eh non Lita.'' Sahut mang Ali yang kemudian menghampiri Lita yang baru saja keluar dari mobilnya.


Lita memang sering berkunjung di saat dirinya dengan Hanif masih pacaran. Bahkan tak jarang keluarga Lita pun ikut berkunjung karena memang mereka adalah sahabat dari orang tua Hanif.


Namun sejak Hanif memutuskan untuk pergi dari rumahnya sejak saat itu Lita jadi jarang berkunjung bahkan ini adalah kali pertama Lita kembali mengunjungi kediaman Hanif.


Lita yang kini telah rapih ia mengenakan dress panjang dengan balutan hijab yang kini ia pakai. Lita memang selalu berpenampilan seperti itu layaknya seorang muslimah ketika akan ke rumah orang tua Hanif. Tapi kali ini ia berniat untuk benar-benar menggunakan pakaian seperti itu. Ia ingin jika Hanif akan membuka kembali hatinya untuk dirinya.

__ADS_1


......................


__ADS_2