Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 78


__ADS_3

''Eh mang Ali, apa kabar mang?'' Sapa Lita pada mang Ali yang sudah lama ia kenal.


''Alhamdulillah non, non mau ketemu ummi kan?'' tanya mang Ali karena memang Lita selalu mengunjungi ummi.


''Iya mang. Ummi nya ada kan?''


'' Ada non masuk aja.'' Sahut mang Ali yang terlihat bersikap ramah.


Lita pun berjalan meninggalkan mang Ali yang masih berada di dekat mobilnya ia pun menekan belum agar penghuni rumah akan ada yang keluar.


Tak berselang waktu lama Ummi pun membuka pintu nya dan melihat Lita yang kini tengah duduk di kursi luar.


''Lita?'' sahut ummi yang mendapati anak teman baiknya sedang menunggu kedatangannya.


''Ummi apa kabarnya?'' Lita segera menyalami Ummi dan memeluk tubuh ummi yang menyambut kedatangannya.


''Alhamdulillah ummi baik nak, ayo sini masuk.'' Ajak ummi pada Lita.


Lita pun akhirnya masuk ke dalam rumah ummi. Ia memperhatikan rumah yang sudah lama tak ia kunjungi lagi. Tak ada yang berubah bahkan semuanya masih sama tak ada foto pernikahan Hanif dengan wanita yang sempat ia temui di rumah sakit tempo hari membuat angin segar untuk Lita. Ia tersenyum tipis mengingat niat kehadirannya kini yang akan berusaha masuk ke dalam pernikahan mereka. Bahkan ia tidak mempermasalahkan jika Hanif menjadikan nya istri kedua.


Lita sudah bertekad bulat ia tidak ingin membuat dirinya semakin menjauh dari Hanif. Karena ia yakin jika di dalam hati Hanif dirinya masih tersimpan baik sama seperti Hanif yang kini masih tersimpan baik dalam hatinya.


''Mau minum apa nak?'' tanya ummi yang kemudian berlalu dari hadapan Lita.


''Gak usah ummi, aku hanya sebentar kebetulan aku ada tugas di daerah sini jadi sekalian mampir.'' Tutur Lita menjelaskan.


Sebenarnya tidak ada tugas untuknya namun ia sengaja mengambil praktik di daerah dekat rumah Hanif agar dirinya bisa lebih dekat dengan Hanif dan sering berkunjung ke rumah ummi. Ia akan berusaha mengambil hati kedua orang tua Hanif terlebih dahulu.


tidak membutuhkan waktu lama akhirnya ummi kembali dengan nampan ditangan nya. Ummi membawa cemilan kesukaan Lita dan juga air teh tawar dingin yang Lita selalu minta saat ia berkunjung ke rumah ummi.


''Ayo nak, diminum.'' Senyum ummi ramah padanya.


''Iya Ummi, aku jadi merepotkan.'' Sambil menyeruput minuman yang ummi bawa Lita begitu senang karena ummi tetap bersikap baik.


''Bagaimana kerjaan mu, ummi senang kamu praktik di dekat sini . sering lah berkunjung kamu sudah lama tidak pernah main ke sini padahal ummi selalu kesepian.''

__ADS_1


''Alhamdulillah ummi baik, tentu lagian aku sudah pernah bilang sama ummi, aku mau lebih banyak belajar tentang agama. Aku baru sadar ummi ternyata aku sangat jauh dari agama membuat aku lalai.''


Ummi mengusap lengan Lita dengan lembut tentu ummi tahu apa yang Lita rasakan karena saat pertemuan terakhir dengan nya jelas-jelas ummi melihat dirinya dengan mengenakan pakaian yang sedih terbuka.


''Tidak apa-apa nak, lagian tidak ada kata terlambat. Ummi sangat bersyukur karena kamu sadar sebelum kamu lebih jauh lagi. Ummi sangat senang mendengar kamu ingin berubah.''


Lita kembali memeluk ummi dengan perasaan lega dalam hatinya.


''Oh ya ummi apa benar Hanif sudah menikah? aku dengar dari Hanif dia sudah menikah tapi kenapa aku gak di kasih tahu ummi, padahal aku ingin sekali melihat acara pernikahan Hanif.''


''Iya ummi sendiri tidak menyangka jika Hanif akan menikah secepat itu, lagian tidka ada acara resepsi Syifa dan Hanif tidak ingin di adakan resepsi karena mereka sudah dah jadi ya sudah katanya.'' Ummi pun tertawa dengan Lita karena apa yang ummi ceritakan.


''Lalu kemana sekarang Hanif?'' tanya Lita yang penasaran karena ia tidak mendapati Hanif bahkan ia tidak melihat wanita yang kini menjadi istrinya.


''Mungkin jalan-jalan soalnya ummi sendiri tidak tahu.''


Lita hanya menganggukkan kepalanya. Mereka pun banyak bercerita banyak hal Hingga tak terasa hampir sore menjelang.


''Ummi Lita pamit dulu ya, oh ya Lita titip ini buat Hanif sebagai kado pernikahan mereka.'' Ucap Lita yang kemudian mencium pipi ummi dan menyalaminya untuk pulang.


''Sampaikan salam ku ya ummi pada mantu ummi dan juga Hanif.'' Lita berlalu dari kediaman Hanif dan menuju mobilnya.


ia melajukan mobilnya kembali meninggal kan kediaman Hanif dan melaju cepat di jalanan yang terlihat tidak padat dengan pengendara.


.


.


Bandung.


Nadia kini tengah di sibukkan dengan berbagai keperluan acara pernikahan nya yang akan di adakan seminggu lagi. Ia tidak menyangka jika kini ia akan menikah dengan laki-laki yang belum lama ia kenal.


Hanya sebulan lamanya ia mengenal sosok Andrian yang kini akan menjadi suaminya.


Memang dirinya belum mencintai Andrian tapi membuka hatinya untuk lelaki yang mencintai nya dengan tulus bukan suatu kesalahan. Nadia ingin merubah dirinya ia tidak akan memaksakan hati orang lain untuk mencintainya lagi sudah cukup luka yang ia torehkan sendiri dan sudah cukup ia memaksakan diri mengejar cinta yang tak akan bertepi.

__ADS_1


Nadia menarik napasnya panjang ia kini memegangi kartu undangan yang sudah tersebar kepada teman dan juga orang yang ia kenal hanya beberapa hari lagi ia akan menikah dengan lelaki yang bergelar dokter itu.


''Nad?'' Ummi Nur memanggil Nadia yang kini tengah berada di kamarnya.


''Iya ummi sebentar.'' Jawab Nadia yang kemudian keluar dari kamarnya.


''Kamu sudah siap kan?'' tanya ummi Nur karena mereka akan pergi ke tempat perancang busana pernikahan.


Andrian sendiri yang telah mengatur segala keperluan pernikahan mereka.


''Iya sebentar ummi Nadia akan membawa ponsel sebentar.'' Nadia berlalu ke kamarnya untuk membawa ponselnya karena ia takut jika ada kendala ia akan menghubungi Andrian. Karena Andrian sendiri ia kembali ke jakarta dan akan kembali ke Bandung sehari sebelum acara pernikahan mereka akan di adakan.


Abi Husein dan ummi telah siap menunggu Nadia di depan pintu rumahnya.


''Nadia ayo cepat.'' Teriak ummi Nur yang terdengar tidak sabar.


Nadia yang baru saja akan membalas pesan dari Andrian ia pun memilih untuk menundanya karena ummi Nur dan abi nya telah menunggunya.


Nadia pun mempercepat langkahnya keluar tanpa menjawab panggilan ummi.


''Ayo bi.'' Ajak ummi Nur setelah terlihat putri nya berjalan ke luar dari kamar.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil.


Perasaan Nadia begitu tidak beraturan bahkan ia merasa gugup saat sedang di jalan ia masih tidak menyangka jika kini pernikahan nya sudah di depan mata.


Tring.


Suara notifikasi terdengar dari ponselnya membuat Nadia kembali membuka ponsel yang tadi ia taruh di dalam tas miliknya.


''Kamu sudah berangkat belum untuk acara fitting baju pengantinnya?'' tanya Andrian dalam pesan whatsapp nya.


''Aku lagi di jalan bareng ummi dan abi mungkin 20 menit lagi juga sampai.''


Perlahan senyum Nadia kembali sosok lelaki yang belum lama ia kenal itu selalu membuat dirinya merasa nyaman dan tenang.

__ADS_1


......................


__ADS_2