Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 96


__ADS_3

Hanif merasa sangat lelah ia berjalan keluar dari ruangannya ia berniat akan kembali ke rumahnya karena percuma saja ia beristirahat di restoran tetap saja suara riuh pengunjung terdengar sampai ruangannya.


Hanif berjalan melewati beberapa pengunjung yang berada di sana tanpa menoleh ke arah sisi dan kiri dan kanan.


Matanya hanya fokus pada ponsel yang kini ia pegang.


''Pak Hanif.''


Suara itu seketika membuat Hanif menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya.


''Ya?'' Hanif menunggunya untuk berbicara.


''Ini pak, saya tadi di suruh pak andi untuk memberikan ini pada bapak.'' Ia memberikan sebuah lembaran kertas yang di titipkan Andi padanya.


''Lalu kemana dia sekarang?'' Hanif bertanya dengan nada dingin ia hanya lelah karena seharian ia belum juga istirahat.


Andi adalah teman sekaligus


rekan kerjanya ia mempercayakan restorannya pada Andi jika dirinya sedang sibuk.


Andi selalu membantu dirinya bahkan usaha yang ia kembangkan juga tak lepas dari peran penting dari dirinya. Hingga kini usaha dalam bidang kuliner itu sudah memiliki beberapa cabang di kota lain dan itu juga karena Andi yang berperan penting di dalam sana.


''Tidak tahu pak.'' Ucap seorang pegawai baru yang baru pertama kali ia lihat.


''Baiklah kamu boleh kembali.'' Hanif kembali berjalan ke arah pintu ia hanya ingin istirahat karena lelah bahkan ia melewatkan makan siang nya karena kesibukan di hari ini.


''Lita kamu mau kan menerima aku kembali?'' Sahut Rian yang masih setia memandangi wanita yang memang ia cintai.


Namun Rian akan berusaha menerima segala kemungkinan jika memang Lita tidak bisa menerimanya kembali ia tidak ingin jika Lita hidup bersamanya tapi ia tidak mencintai nya cukup dengan dirinya menjadi teman baiknya saja ia akan merasa sangat bersyukur.


Lita masih belum bisa fokus bahkan mungkin ia tidak mendengar apa yang Rian ucapkan karena matanya kini menatap seseorang yang hendak pergi dari restoran yang saat ini ia tempati.


Dan untuk ke dua kalinya ia bahkan melihat Hanif berada di restoran itu membuat dirinya kembali mengingat sosok wanita yang dulu pernah menemaninya makan.


''Lita, kamu dengar aku?''

__ADS_1


''Oh maaf Ian aku, aku tidak mendengar apa yang kamu katakan.''


Rian menarik napasnya panjang ia kembali mengatakan maksudnya dengan sabar meski Lita sempat tidak fokus.


''Rian aku sangat malu jika aku harus menerima kamu kembali, aku bahkan sering menyakitimu.'' Lirih Lita ia memang menyadari jika Rian selalu ada untuk nya bahkan lelaki itu selalu bisa membuat dirinya merasa nyaman bahkan melupakan masalah yang kini ia rasakan.


''Apa kamu masih berharap pada lelaki yang terus saja menyakitimu ta, dia bahkan sudah beristri.'' Ucap Rian karena kini ia tahu kenapa Lita tidak fokus ternyata kehadiran Hanif lah yang membuat dirinya kembali terlihat murung.


Lita menatap Rian tanpa di sadari ia kini menyakiti perasaan lelaki yang tulus mencintainya.


''Maafkan aku Rian.''


Rian menghela napasnya ia kembali merasa sakit yang selalu saja ia rasakan entah ke berapa kali ia merasa dirinya selalu memohon pada wanita yang kini berada di hadapannya.


''Maaf jika aku telat menyadari jika kamu selalu tulus pada aku Rian, aku mau menerima kamu kembali.''


''Benarkah?'' Rian merasa sangat terkejut dengan apa yang ia dengar bahkan ia hendak memeluk tubuh wanita yang kini berada di depannya. Namun dengan cepat Lita menghentikan pergerakannya membuat Rian sontak terdiam.


''Oh maaf aku hanya senang sekali.'' Rian sadar jika Lita masih membutuhkan waktu untuk kembali menerimanya kembali.


''Rian.'' Lita berkata dengan mata yang kini menatap wajah lelaki yang selalu setia bersamanya.


''Ya?''


Lita memang tidak pernah berbuat macam-macam tapi ia merasa dengan dirinya merubah penampilan dan juga kehidupannya mungkin dirinya akan menjadi muslim yang lebih baik.


''Apa karena lelaki itu?''


Rian berkata dengan hati-hati.


''Enggak Rian, bukan karena dia tapi kini aku sadar aku telah jauh dari Allah apa kamu mau ian?''


Rian sadar jika dirinya sendiri tak jauh berbeda dengan Lita kehidupan yang kini mereka jalani selalu di anggap lumrah dengan saling memeluk atau bahkan sebatas ciuman Rian sendri tahu jika itu tidak di beneran bahkan berdosa.


''Apa dengan aku berubah, kamu akan menerima aku sebagai suami kamu?'' tanya Rian seolah dirinya siap asalkan Lita menerimanya.

__ADS_1


Rian kembali menatap wajah Lita ia bahkan memperhatikan penampilan Lita dengan jelas memang terlihat perbedaan dari dirinya setelah beberapa hari ini ia selalu mengenakan pakaian longgar bahkan pakaian yang tertutup meski tidak mengenakan hijab.


''Ya aku mau,'' Lita menganggukkan kepalanya.


Ada rasa bahagia yang kini ia rasakan. Lita merasa ada beban yang kini terasa terangkat dalam dirinya.


Memang benar mencintai dengan pengharapan yang terlalu berlebihan akan menyakiti hatinya bahkan terluka seperti menggenggam sebuah bunga mawar jika ia memegang terlalu erat ia akan melukai bunga itu bahkan dirinya sendiri dapat terluka karena duri yang ia miliki.


.


.


Dua bulan telah berlalu Hanif kini tengah berada di taman yang selalu membuat dirinya merasa tenang, ia kini mulai terbiasa dengan kesendiriannya lagi hanya satu kali saja ia akan menghubungi istrinya karena dirinya sendiri sibuk dengan segala urusan yang kini membuat dirinya sibuk juga dengan Syifa yang mulai di sibukkan dengan berbagai ujian akhir semester nya membuat mereka jarang berkomunikasi.


Dua hari lagi ia berniat untuk memberikan kejutan pada Syifa karena ia akan mengunjungi Syifa sudah dua bulan lamanya ia tidak bertemu membuat dirinya merasa tidak sabar.


Terdengar suara panggilan telepon yang kini membuat Hanif segera merogoh ponsel yang sengaja ia simpan di dalam saku celana nya.


Seutas senyum kini terukir di bibir lelaki itu dengan cepat ia mengangkat panggilan yang sudah sangat ia nantikan.


''Assalamualaikum yang?''


''Waalaikum salam mas, mas apa kabar? mas lagi sibuk ya?'' Sahut Syifa dengan suara berat nya ia merasa sangat sesak ketika mengingat hubungan rumah tangga yang kini ia jalani seperti hubungan yang tak terarah. Seharusnya seorang istri akan selalu berada di samping suaminya dan begitu juga dengan suaminya. Disaat orang lain akan selalu menikmati kebersamaan namun berbeda dengan dirinya. Kadang mengingat hubungan yang kini ia jalani kadang pula membuat hatinya terluka ia juga adalah seorang manusia dan kadang merasa takut kehilangan atau hubungannya nya berjalan tidak semana mestinya.


''Alhamdulillah aku baik sayang, kamu juga baik-baik di sana, aku baru saja bersantai, kamu lagi apa yang?''


''Han!'' Terdengar teriakan ummi memanggil dirinya membuat Hanif mau tak mau harus segera menghampirinya.


Belum juga Syifa sempat menjawab pertanyaan dari Hanif. Hanif sudah lebih dulu berkata padanya.


''Yang maaf ummi memanggil aku, nanti kalau kamu santai lagi kita sambung kembali. maaf ya assalamu'alaikum.''


Hanif segera mengakhiri panggilannya.


Ia segera bangun dari duduknya dan segera menghampiri ummi karena ia tidak ingin membuat ummi nya menunggu.

__ADS_1


......................


......................


__ADS_2