Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 139


__ADS_3

Hanif hanya tertawa menanggapi kemauan dari Syifa. Menurut Hanif tidak ada yang lebih penting dari sebuah resepsi toh kenangan nya juga ada karena di saat mereka menikah Syifa tetap di rias meski jelas tak semeriah pesta sahabatnya.


''Dek kata mbak mu kamu mau ikut kita?'' Andrian kini bersuara saat ia menghampiri kedua sepasang suami istri itu.


''Oh ya mas aku sampai lupa belum bilang. Kita ikut ke rumah mbak Nadia mas mau kan?'' tanya Syifa meminta jawaban dari suami nya. Syifa sendiri merasa ragu tapi mau bagaimana lagi apalagi hanya hari ini saja mereka akan menghabiskan waktu bersama kakak sepupunya.


''Boleh sayang jika kamu mau.'' Hanif menyetujui nya.


Mereka sedikit berbincang sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


Hanif dan Syifa sudah berada dalam mobil mereka sedangkan Andrian bersama keluarganya sudah lebih dulu jalan.


''Mas maaf ya.'' Ucap Syifa merasa tidak enak hati karena kini rencana suaminya untuk mengajak dirinya berlibur jadi batal.


''Gak apa-apa lagian hanya hari ini saja kita dapat berkunjung ke rumah abi Husein.'' Hanif tersenyum membuat Syifa merasa lega.


Syifa mengira jika Hanif akan kecewa pada dirinya tapi ternyata salah suaminya selalu membuat Syifa merasa senang.


Satu jam perjalanan kini mereka telah sampai di depan kediaman abi Husein.


Terlihat pemandangan yang sangat asri dengan pohon yang sangat lebat dengan dedaunan itu membuat udara semakin sejuk.


Syifa mengedarkan pandangan nya ia melihat rumah mbak Nadia seperti saat ia pertama datang ke sini. Bahkan ia kembali teringat saat melihat kondisi mbak Nadia yang sangat terpuruk namun kini Syifa sangat bersyukur karena kini mbak Nadia sudah sehat bahkan kini wanita yang sudah resmi menjadi istri dari kakak sepupunya itu sedang hamil.


''Ayo kita turun.'' Pinta Hanif menyadarkan Syifa dari lamunan nya.


Syifa segera beranjak turun dari dalam mobil ia pun mengikuti langkah Hanif yang sudah berjalan lebih dulu di depan nya menuju kediaman abi Husein.


''Ayo duduk nak.'' Ucap ummi dengan sangat ramah.


Ummi Nur bahkan menghidangkan berbagai cemilan tidak lupa teh hangat untuk menemani siang hari mereka karena cuaca memang sedikit dingin.


''Terima kasih ummi Syifa jadi merepotkan.'' Senyum Syifa karena ummi malah mengedipkan sebelah matanya.


Mereka saling mengobrol bahkan tak jarang tawa sering terselip di setiap obrolan mereka karena abi Husein dan kakak sepupunya Andrian sangat cocok saat mengobrol.


''Iya bagaimana bisa ummi tidur coba, jika abi selalu saja mendengkur ya sudah ummi dorong saja abi.'' Kekeh ummi menceritakan kejahilan nya pada suaminya membuat mereka ikut tertawa dan begitu juga abi ia juga ikut tertawa bersama mereka mengingat kejadian itu abi memang merasa sangat lucu.


Mereka saling bertukar cerita seolah teman yang sudah lama tidak jumpa.


''Ummi ummi.'' Tawa Andrian bahkan sesekali Andrian mengusap matanya yang berair.


''Sudah ah perut ummi sakit.'' Tawa ummi sedikit melemah.


''Kita makan dulu yu udah mau sore.'' Ajak ummi pada anak mantu dan juga sepasang suami istri yang tidak lain adalah keluarga dari menantunya.


''Terima kasih ummi tapi sepertinya Syifa pamit pulang ya ummi.'' Syifa merasa tidak enak jika terus merepotkan ummi.


''Ayo kita makan dulu nak. Yuk Han.'' Ummi kembali bersuara.


''Gak apa-apa ya ummi lain kali saja soalnya sudah sore juga.''

__ADS_1


Akhirnya mau tak mau ummi mengijinkan Syifa untuk pulang.


Syifa dan Hanif di antar oleh sepasang suami istri itu dan berjalan ke luar untuk menuju mobil milik Hanif.


''Ya sudah hati-hati ya.'' Ucap Andrian mengusap puncak kepala Syifa dengan sayang nya dan beralih ke arah Hanif.


Entah apa yang Andrian katakan namun yang jelas perkataan Andrian sepertinya tidak beres karena kini suami nya sedikit tertawa lagi.


Andrian memang sosok lelaki yang suka bercanda meski ia terlihat dingin saat berbicara dengan orang yang tak ia kenal bahkan terkesan angkuh tapi kalau sudah dekat ya seperti itulah kakak sepupunya suka terlihat lebih konyol dengan sisi lain dirinya.


''Ya sudah kak aku pamit ya mbak.'' Ucap Syifa segera masuk setelah Hanif bersalaman dengan Andrian.


Syifa melambaikan tangan nya setelan mobil yang mereka tumpangi sudah melaju kembali.


''Kak Andrian bilang apa mas?'' tanya Syifa sedikit penasaran apalagi melihat tingkah suaminya yang tertawa tak seperti biasanya.


Hanif menoleh sekilas ke arah Syifa dan hanya menanggapi dengan senyuman ia mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.


''Enggak ko yang.'' Hanif melempar senyum dan kembali menyetir karena kini ia harus kembali fokus apalagi berkendara di saat sore hari perlu fokus karena banyak orang yang hilir mudik untuk pulang dari pekerjaan mereka.


Syifa menarik napasnya panjang ia tidak menanyakan lagi sudah di pastikan kakak sepupunya itu jahil pada suaminya.


''Mas kita langsung pulang aja?'' tanya Syifa sambil memainkan ponselnya ia bertanya.


''Ya kita pulang aja ya. Biar besok aja kita jalan-jalan bagaimana?'' Hanif menanyakan persetujuan dari Syifa karena sudah hampir magrib juga ia sendiri tidak terlalu tahu tempat yang indah di sana. Namun Syifa tidak menjawab ia masih saja fokus pada ponsel di tangan nya membuat Hanif kembali fokus pada jalan.


Mobil melaju dengan kecepatan sedikit kencang karena kini sudah sedikit lenggang.


Hanif dan Syifa segera keluar dari mobil nya Syifa berjalan ke arah tempat wudhu wanita dan Hanif ia juga pergi ke tempat wudhu lelaki mereka melaksanakan shalat secara terpisah.


Dua puluh menit telah berlalu Syifa sudah berada di teras masjid menunggu suaminya namum belum juga keluar hingga ia berjalan dan memutuskan menunggu Hanif di dekat mobil nya.


Hanif yang baru saja selesai ia melihat Syifa sudah berdiri di dekat mobil dengan terus saja memainkan ponsel nya. Ia segera berjalan menghampiri istrinya yang sudah menunggu dirinya.


''Cantik.'' Puji Hanif yang menatap sekilas wajah istrinya.


''Apa?'' Syifa tidak mendengar perkataan Hanif karena fokusnya pada ponsel yang ia pegang.


''Enggak.'' Jawab Hanif segera masuk ke dalam mobil nya.


''Ih mas.'' Syifa juga mengikuti Hanif dan masuk ke dalam mobil.


''Mas.''


''Apa?'' Tanya Hanif tetap berusaha lembut.


''Mas tadi bilang apa? kebiasaan deh gak jelas.'' Syifa merasa kesal karena Hanif terkadang berkata tidak jelas.


''Enggak sayang.'' Hanif melajukan mobil nya lagi untuk segera pulang sebelum magrib datang.


''Ya udah aku marah.'' Syifa cemberut dan kembali memainkan ponsel nya.

__ADS_1


''Cantik.'' Hanif mengulangi perkataan nya.


''Cantik? Aku? emang iya mas baru sadar ya.'' Kekeh Syifa dengan senyum lebar nya.


''Iya kamu cantik seperti itu tanpa harus dandan.'' Hanif menuturkan pandangan nya. Hanif memang menyukai Syifa yang terlihat natural.


''Apa?'' Syifa bertanya lagi karena tidak mendengar dengan jelas.


Hanif menarik napasnya panjang ia merebut ponsel dari tangan Syifa dan memasukan nya ke dalam saku jaket nya.


''Ih mas ko gitu.'' Protes Syifa kesal karena ponselnya malah Hanif sita.


''Lagian suami bicara gak di dengar katanya kangen udah deket di cuekin.'' Hanif bersikap dingin bagaimana bisa istrinya tidak mendengar isi hatinya kan kesal juga batin Hanif membuat Syifa tertawa.


''Maaf mas.'' Syifa mengusap punggung Hanif dengan lembut agar suaminya tidak kesal.


''Oke aku maafin asal-'' Hanif menggantung perkataan nya.


''Asal?'' Syifa mengikuti ucapan suaminya.


Hanif memainkan bola matanya dengan melirik Syifa membuat Syifa sedikit degdegan bagaimana tidak baru kali ini Syifa melihat tatapan mesum dari suaminya.


''Enggak jadi ah biar mas marah aja.'' Syifa langsung berkata ia merasa sangat takut seolah suaminya akan memakan dirinya membuat Hanif tertawa puas.


''Oke aku juga marah.'' Hanif kembali bersuara.


''Jangan dong mas.'' Pinta Syifa lagi.


''Ya udah setuju?''


''Apa dulu.''


Mereka saling beradu mulut hingga kini Hanif menarik lengan Syifa seolah ia akan mencium Syifa membuat Syifa jantungan sendiri.


''Asal jangan buat aku menunggu.'' Hanif berbisik di telinga Syifa membuat Syifa menelan saliva nya bahkan pikiran nya mulai melayang pada hal-hak negatif.


''Aku enggak siap mas.'' Lirih Syifa kembali ia takut jika Hanif meminta haknya lagi ia merasa belum siap setelah sekian lama mereka tidak pernah lagi.


Hanif hanya tertawa. ''Ya udah mas gak akan balikin ponsel kamu.'' Ancam Hanif padahal dirinya bukan maksud ke arah sana.


''Ya udah balikin dulu ponsel nya.'' Syifa memohon dengan tatapan nya meminta agar ponselnya di balikin.


''Janji?''


''Janji.'' Syifa berkata dengan wajah yang memerah membuat Hanif semakin gemas.


''Ya sudah simpan ponsel mu. Kan udah janji jangan biar aku menunggu jawaban kamu kalau mau main terus HP bagaimana bisa kamu jawab.'' Hanif tersenyum lebar saat Syifa merasa malu karena pikiran nya sudah ke arah yang berbeda.


''Ih mas.'' Syifa tersenyum malu.


''Ya karena kamu sudah bilang nanti ya aku akan menagih janji kamu.'' Kekeh Hanif merasa puas.

__ADS_1


......................


__ADS_2