Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 83


__ADS_3

Lama Hanif dan Syifa mengajak anak-anak panti bermain.


Namun terlihat seorang anak laki-laki yang menjadi pusat perhatian karena kini ia berebut mainan dengan temannya.


Syifa pun segera menghampiri anak lelaki yang mungkin kini berusia Lima tahun.


''Hai sayang, siapa nama kalian?'' tanya Syifa yang kemudian mengusap puncak kepala anak yang membuat keributan.


''Gak mau!'' Ucap anak itu yang merasakan sentuhan Syifa sementara teman nya kini terlihat ingin menangis.


''Ayo sini kita main bareng sama aunty, aunty punya cerita buat kalian.'' Tutur Syifa yang kemudian mendudukkan kedua anak itu dan terus bersikap manis agar kedua anak itu tidak berebut lagi.


''Boleh aunty pinjam dulu mobil ya yah, kita bikin cerita oke.'' Sahut Syifa yang kemudian mendapat anggukan dari anak yang membuat keributan.


Ia pun memberikan mobilnya dengan suka rela.


''Hai apa kabar nama aku mobil truk pasir, nama kamu siapa? tanya mobil truk pasir pada ekskavator. Hai nama aku mobil ekskavator, kamu mau kemana tanya mobil ekskavator. Aku mau pergi ambil pasir tapi aku tidak bisa ambil pasir, mobil truk pasir jadi menangis karena ia tidak bisa mengangkut pasir. boleh aku bantu? ekskavator pun membantu dan akhirnya mereka berteman.'' Tutur Syifa dalam ceritanya.


Kedua anak itu pun memperhatikan dengan baik mereka bahkan diam dan asik mendengarkan cerita Syifa.


''Jadi siapa yang mau mobil ekskavator dan siapa yang mau mobil truk?'' tanya Syifa yang menatap kedua anak itu.


''Aku mau yang ini.'' Sahut anak yang membuat keributan dan segera mengambil mobil pilihan nya mereka pun akhirnya berbaikan dan memainkan mainannya kembali.


''Nama kamu siapa sayang?'' tanya Syifa pada anak yang membuat keributan.


''Raja.'' Ucap anak itu dengan jelas.


''Kalau nama kamu siapa sayang?'' pada anak satunya lagi.


''Axel.'' ia pun menjawab dengan memainkan mainannya di udara seperti layaknya pesawat.

__ADS_1


''Kalian jangan marahan lagi ya, harus baikan, harus saling sayang kan kalian berteman ayo kalian tadi sudah dengar kan cerita dari aunty? mobil aja jadi berteman saling menolong masa kalian enggak kasihan dong teman kalian jadi gak punya teman ayo baikan yah,'' syifa berusaha agar kedua anak itu berbaikan. Dan akhirnya mereka pun berbaikan bahkan tak berselang lama mereka saling bertukar mainan dan meniru cerita yang tadi Syifa buat untuk mereka.


Seulas senyum menghiasi wajah Syifa ia sangat senang dengan kunjungan nya ke panti asuhan yang membuat dirinya semakin bertambah rasa syukur yang kini ia rasakan.


Betapa berharganya nya hidup yang ia jalani di saat ia dapat merasakan kasih sayang yang tercurah untuk nya di tambah kini ia dapat merasakan berbagi kasih sayang yang belum pernah ia lakukan.


Hanif tersenyum simpul mendapati sosok wanita yang kini tertawa bersama anak-anak yang ia sayangi.


Hanif selalu mengunjungi panti nusa di saat ia mempunyai waktu luang. Hanif selalu merasa tidak kesepian di saat ia dapat membagi waktu bersama mereka. Hanif yang sejak dulu merasa kesepian karena ia sejak kecil hanya sendiri karena ia tidak mempunyai adik membuat ia tumbuh menjadi orang yang sangat peduli terhadap kebahagian anak lain di saat ia sudah mendapatkan kehidupan yang lebih berarti.


Entah berapa lama mereka habiskan waktunya di sana hingga sebentar lagi akan menjelang dzuhur.


''Anak-anak om Hanif harus pulang dulu ya, kapan-kapan om Hanif akan berkunjung kembali.''


Hanif dan Syifa pun hendak keluar namun anak-anak itu berlarian kembali memeluk Syifa dan Hanif membuat Syifa dan Hanif membalas terlebih dahulu pelukan mereka.


.


.


''Kamu capek yang?'' tanya Hanif karena banyak permintaan anak-anak kepada istrinya karena diam-diam Hanif selalu memperhatikan tingkah istri dan juga anak-anak panti kepada nya.


Syifa tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


''Tidak mas, bahkan aku sangat senang mas ajak aku ke sini.'' Tutur Syifa dengan senyum yang terus terlihat di sudut bibirnya.


''Terima kasih mas, karena mas banyak mengajarkan aku banyak hal.'' Ucap Syifa menatap wajah Hanif dengan lembut.


Hanif mengusap puncak kepala Syifa dengan sayang. Betapa ia sangat menyayangi wanita di samping nya ini bahkan ia sangat ingin selalu menghabiskan waktu bersama nya.


''Kamu yang selalu mengajarkan aku banyak hal, aku ingin kita melangkah bersama menuju Ridho-nya.''

__ADS_1


mereka pun saling melempar senyum karena saling merasa bahagia.


Hanif pun melajukan kembali mobilnya ke jalanan karena mereka akan menghabiskan waktu yang lumayan jauh.


dua jam perjalanan mereka akan habiskan membuat Hanif mempercepat laju mobilnya.


.


.


''Ta, aku ingin kamu menjauhi lelaki itu dia sudah menikah kamu tidak pantas merusak kebahagian mereka.'' Rian merasa sedikit kesal karena Lita menceritakan keinginannya kembali.


''Ian aku mohon jangan buat aku menjadi mundur karena kata-kata kamu. Aku gak mau nyakitin kamu ian kamu sangat baik sama aku harus nya kamu mendapatkan wanita yang lebih baik.'' Ucap Lita yang kini beradu argumen di dalam mobil Rian.


Rian menarik napasnya kasar ia tidak mengerti jalan pikir wanita yang sejak lama ia cintai.


''Aku menghargai kamu jika kamu tidak menerima aku kembali Lita, oke kamu anggap aku terlalu baik sama kamu dan pantas mendapatkan wanita yang baik juga. Tapi apa kamu tidak berpikir, dengan lelaki itu tidak menerima kamu kembali kamu menganggap dia salah? kamu bodoh Lita. Justru dia baik sangat baik karena dia tidak membiarkan kamu kembali padanya karena kamu akan terluka dengan kenyataan yang sudah kamu ketahui maka benar apa yang kamu katakan lelaki baik pantas mendapatkan wanita baik dan itu bukan kamu.'' Ucap Rian jelas di pendengaran Lita.


Lita merasa sangat syok dengan perkataan Rian ia merasa di pukul mundur dari harapannya.


seketika ia membeku apa yang Rian katakan memang sangat benar. Lelaki baik pantas mendapatkan wanita baik dan itu semua adalah perkataan dirinya sendiri.


''Aku akan mengantarmu pulang aku tidak ingin kamu semakin terluka Lita.'' Lirih Rian karena Lita sama sekali tidak menjawab apa yang telah ia ungkapkan.


''Aku sangat sakit Lita melihat kamu bersikap bodoh seperti itu. Aku sayang kamu dan akan tetap menunggu kamu.'' Lirih Rian dalam hatinya.


Rian pun melajukan mobilnya tanpa mendengar apapun dari wanita yang kini masih terdiam membeku. Entah ia memikirkan perkataan dirinya barusan atau ia memikirkan niatan nya untuk merebut cinta yang sudah lama telah hilang.


Rian Hanya berharap jika Lita akan sadar dengan kenyataan yang memang pahit.


''Seperti obat terasa pahit tapi ia mampu menyembuhkan luka aku juga akan seperti itu Lita aku akan sepahit itu agar kamu sembuh dari luka dan sakit mu.''

__ADS_1


......................


__ADS_2