Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 58


__ADS_3

Syifa pun menghampiri Hanif yang sejak tadi menatapnya.


''Apa Ustadz tidak tidur? kemana Ummi dan dan yang lainnya?'' tutur Syifa menanyakan keberadaan ibu dan juga ayahnya yang tidak terlihat.


Hanif yang mendengar perkataan Syifa ia pun tersadar.


''Astagfirullah.'' gumam Hanif pelan ia begitu terkejut karena tanpa sadar ia menatap wanita itu dengan bebasnya.


Hanif pun segera mengalihkan pandangannya.


''mereka ada di luar,'' ucap Hanif yang kembali mengalihkan pandangannya.


Syifa mengangguk dan duduk di depan Hanif.


''Ustadz kenapa tidak bilang jika Ustadz akan ke pondok? '' tutur Syifa yang sejak tadi ia ingin tanyakan padanya.


Hanif menoleh ke arah Syifa ia melihat wajah polos Syifa yang terlihat begitu mengemaskan.


''Aku sudah bilang jika aku akan kembali untuk menjemputmu dan aku yakin ini adalah waktu yang tepat.''


''Tapi aku belum siap untuk menikah Ustadz.'' Tutur Syifa yang segera mengungkapkan kegundahannya.


''lalu?'' ucap Hanif yang tidak mengalihkan pandangannya.


''Ia aku harap Ustadz tidak segera menikahi aku,'' ucap Syifa pelan namun debaran jantung yang terus terasa menggebu.


Hanif hanya tersenyum ia memang berniat untuk tidak cepat-cepat menikahi Syifa karena ia khawatir jika Syifa memang belum siap.


''insya allah.''


''insya Allah pernikahan kalian akan segera di laksanakan.'' tutur Abi abdullah yang sejak tadi berada di ambang pintu. Abi mendengar semua yang mereka katakan.


''apa.''


Syifa yang dari tadi menunduk ia terkejut ternyata ibu dan ayahnya sudah berada di pintu dan menghampiri mereka berdua.


Mira dan Aris pun tersenyum melihat reaksi dua insan yang sedang berhadapan itu.


''Ia insyaallah pernikahan kalian akan segera di laksanakan. abi takut jika kalian terlena karena hubungan yang hanya pengikat kalian saja dan itu membuat kalian merasa saling memiliki padahal itu belum sah.

__ADS_1


''Ayah, apa benar apa yang di katakan abi?'' cicit Syifa bertanya kepada ayahnya meminta jawaban.


Aris pun menatap lembut putrinya dan mengusap puncak kepalanya.


''iya benar sayang, pernikahan bukan hal yang harus kamu takutkan ayah percaya kamu akan menjadi dewasa.''


Syifa menghela napasnya berat ia menatap kepada Hanif yang terlihat bahagia terbalik dengan dirinya.


''Syifa apa kamu siap untuk semua kemungkinan? '' tutur Ummi menatap lembut calon menantunya.


Syifa hanya mengangguk ia pun berusaha memperlihatkan senyumnya.


''Alhamdulillah,'' Ummi mengusap lembut lengan Syifa yang kini duduk di sampingnya.


''Syifa ayah harap kamu dapat menjadi sosok wanita yang sholehah dan patuh terhadap suami kamu kelak, ayah harap kamu akan siap untuk segala kemungkinan.''


Syifa menatap ke arah ayahnya ia benar-benar tidak menyangka ayahnya akan berkata seperti itu.


''Sebaiknya kita bersiap, karena setelah adzan magrib kita akan melaksanakan ijab qobul.''


''Apa! ayah bercanda kan? '' tutur Syifa tidak menyangka apa yang ayahnya katakan.


''maksudnya?'' ucap Hanif menatap bingung kepada Abi dan juga Ummi nya.


''Iya kita akan melaksanakan ijab qobul nanti malam. Bukankah kalian saling mencintai? jika kalian saling mencintai ada baiknya pernikahan di segerakan kalian sendiri akan melakukan pendekatan bukan? apa pun itu tetaplah dosa Abi hanya khawatir.''


Syifa hanya tertunduk lesu dengan kejadian-kejadian yang hari ini menimpanya ia bahkan tidak menyangka dalam waktu dekat ia akan menikah.


''Ayah tapi aku masih sekolah. bagaimana dengan sekolah aku?'' ucap Syifa yang terlihat menahan tangisnya.


''Tenanglah, ayah sudah memikirkan semuanya sayang.''


Waktu telah berlalu. Syifa kini tengah berada di dapur bersama ibu dan juga ummi. mereka kini sedang mempersiapkan hidangan untuk mereka makan setelah ijab qobul nanti malam sebagai tanda syukur.


Bukan hanya Syifa yang gugup bahkan Hanif sendiri ia tidak menyangka jika ia akan menikah dalam waktu dekat bahkan di hari ini juga.


Ia sangat gugup dan beberapa kali mencoba menenangkan pikirannya.


meski tidak ada tamu undangan hanya keluarga terdekat yang akan hadir dan itu juga hanya keluarga dari Syifa tanpa di hadiri sanak saudara dari ummi dan Abi karena memang tidak di rencanakan.

__ADS_1


Hanya acara ijab qobul yang akan di lakukan tidak ada perayaan bahkan tidak ada riasan rumah layaknya acara resepsi pernikahan lainnya.


Adzan berkumandang. Syifa yang sedang di kamarnya ia melaksanakan shalat sendiri di kamar. sedangkan yang lain pun sama, kecuali para lelaki mereka memilih shalat berjamaah di masjid terdekat.


Ibu mengundang seorang perias pengantin untuk menghias wajah cantik putrinya.


Tak lama setelah adzan perias itu datang dengan membawa barang-barang di tangan nya, bahkan sanak saudara ibu dan juga ayah sudah terlihat hadir untuk menyaksikan pernikahan Syifa. tak lupa nenek pun datang bersama sopir dan juga asisten rumah tangganya yang tidak lain pengasuh Syifa sejak kecil.


Tok... tok... tok....


Ibu pun mengetuk pintu kamar putrinya untuk menyuruh perias agar segera menghias wajah putrinya itu.


''Iya sebentar.'' Sahut Syifa yang baru saja selesai melaksanakan shalat.


Syifa pun segera berjalan ke arah pintu dan membuka pintu dengan mukena yang masih melekat di tubuhnya itu.


''Iya bu.''


''Kamu cepat bersiap dan biarkan perias menghias wajahmu.'' Ucap ibu yang mengusap lembut pipi putrinya itu.


Syifa hanya mengangguk patuh dan membiarkan perias pengantin yang terkenal itu merias dirinya.


Syifa pun segera berganti baju dengan kebaya yang perias itu berikan ia pun duduk di kursi dan membiarkan wajahnya di rias seperti pengantin lainnya.


Hatinya terasa sangat aneh bahkan jantungnya begitu berdetak tidak karuan ia sangat gugup dengan pernikahan yang sama sekali tak pernah ia bayangkan akan secepat ini.


Waktu telah berlalu akhirnya Syifa telah selesai ia terlihat begitu cantik dengan gaun pernikahan yang membalut tubuh mungilnya itu tidak lupa kerudung yang ia kenakan dengan hiasan yang membuat ia terlihat sangat cantik bak bidadari.


Syifa pun memandangi wajahnya di cermin setelah perias itu pergi meninggalkan dirinya seorang diri di kamar yang telah di dekor sedemikian mungkin bak kamar pengantin meski terlihat belum selesai.


ia menarik napasnya panjang memperhatikan wajah yang kini terlihat sangat cantik ia pun berusaha tersenyum dan mengalihkan kegugupannya.


Mira pun masuk ke dalam kamar putrinya itu dengan perlahan ia memperhatikan putrinya dengan perasaan haru. ia sangat bahagia karena kini putrinya akan menjadi seorang istri.


''Kamu sudah siap sayang?'' ucap Mira yang menatap putrinya dengan lembut. Syifa hanya menganggukkan kepalanya ia pun turun ke lantai bawah dengan terus memegangi lengan ibunya dengan begitu erat.


Ia pun menatap ke arah para tamu yang sudah berdatangan dan menunggu dirinya. Syifa kembali merasa berdebar tidak karuan ia kembali merasa gugup ketika ibu mendudukkan nya di samping lelaki yang kini akan menjadi suaminya.


......................

__ADS_1


__ADS_2