Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 76


__ADS_3

''Mas kita mau kemana?'' tanya Syifa yang sejak tadi melihat jalanan dan sudah lamanya perjalanan yang mereka habiskan.


Syifa memang belum pernah pergi ke daerah kelahiran Hanif dan walaupun sudah mungkin tak akan pernah benar mengingat jalan dengan detail nya.


Hanif melirik ke arah Syifa yang masih saja menatap ke arah dirinya.


''Kamu dengar gak yang apa yang ummi katakan saat kita sedang makan?'' tanya Hanif yang kini menatap intens pada Syifa dan kembali fokus ke jalanan.


Hanif merasa sangat bahagia karena kini ia akan banyak menghabiskan waktu bersama istri tercinta nya.


Syifa mengerutkan keningnya ia mengingat betul jika ummi menyuruh Hanif untuk mengajaknya pergi bulan madu, tapi yang benar saja masa bulan madu tapi ia tidak membawa sehelai pakaian ganti pun tidak.


''Mas yakin kita akan berbulan madu?'' tanya Syifa yang sedikit kebingungan.


Hanif tersenyum melihat Syifa yang terlihat kebingungan.


Ia mengusap puncak kepala Syifa dengan lembut dan mengambil satu tangan Syifa lalu mengecupnya.


''Kalau kamu mau boleh juga.''


''Mas yang benar saja.'' Syifa menatap kembali wajah lelaki yang kini ia cintai.


drettt... drettt... ponsel Syifa seketika berbunyi membuat Syifa menghentikan obrolan mereka.


''Halo bu, assalamu'alaikum?'' sahut Syifa gembira karena mendapat telpon dari sang ibu yang ia rindukan.


Lama mereka mengobrol sampai Syifa melupakan Hanif yang kini tengah berada di samping nya.


''Waalaikumsalam.'' Tutur Syifa yang kemudian menutup kembali panggilan telpon dari sang ibu.


''Ada apa yang?'' tanya Hanif pada Syifa yang kini masih memegang ponselnya dan terlihat mengetik sebuah pesan pada seseorang.


''Ibu sedang hamil mas, alhamdulillah dan ibu juga bilang kalau kak Andrian akan menikah minggu depan katanya sih resepsinya di gelar di bandung.


Jadi kebetulan banget kan aku juga minggu depan akan kembali ke pesantren jadi sekalian aja langsung ke acara pernikahan kak Andrian gitu mas.'' jelas Syifa berkata pada Hanif. Syifa sangat bahagia mendengar berita tentang orang-orang yang ia sayangi mendapatkan kebahagiaan.


Hanif yang mendengar perkataan itu ia sangat tidak yakin untuk berpisah kembali dengan Syifa apalagi ia akan berpisah dalam waktu yang cukup lama.


Hanif menarik napasnya panjang ia bingung harus apa yang akan ia ambil sementara abi nya sendiri memutuskan untuk dirinya yang akan memegang pondok pesantren tak mungkin untuk Hanif mengajar kembali di pondok Yusuf agar tetap bisa bersama Syifa karena ia sendiri sudah berjanji meneruskan pondok.


''Mas ko malah diem aja sih.'' Ucap Syifa yang kini melihat Hanif seperti tidak bersemangat.

__ADS_1


Enggak ko cuman sedang fokus aja.'' Hanif menutupi kegundahan nya ia tidak ingin jika Syifa ikut memikirkan.


Syifa hanya mengangguk dan kembali menatap jalanan.


Suara dering ponsel Syifa kini terdengar kembali membuat Syifa segera mengambil ponselnya dari dalam tas yang ia bawa.


Ternyata sebuah panggilan video call dari kakak sepupunya.


"Hai kak." Syifa melambaikan tangan nya ke arah kamera yang kini menampilkan wajah seorang laki-laki tampan dengan wajah yang terlihat seusia dengan suaminya itu.


Lelaki itu pun melambaikan tangannya juga ke arah kamera dan menyapa sepupu yang sangat dekat dengannya bahkan kedekatan mereka pernah di salah artikan oleh kedua orang tua mereka.


''Kamu sedang dimana dek?'' tanya lelaki di sebrang sana.


''Aku lagi di Banten kak, aku lagi honeymoon.'' Jawab Syifa asal dan tertawa namun ia mendapat cibiran dari sang kakak sepupunya pasalnya ia baru saja kemarin mendapat kabar jika adik sepupunya itu sudah menikah.


''Kamu kecil-kecil sudah nikah aja dek, gimana sekolah kamu anak nakal.''


''Biarin kak kali-kali aku langkahin kenapa sih sewot amat. Mana kado buat aku?'' ucap Syifa yang masih asik berbincang.


''Kamu mau kado apa dek, lagian percuma aku kasih kado soalnya kamu juga harus kado balik.''


''Ni anak mau kado atau mau buat aku bangkrut?'' mereka pun tertawa seakan mereka sedang ngobrol langsung.


''Fa aku kasihan sama lelaki yang kini jadi suami kamu pasti dia sengsara hidupnya kalo sama kamu.''


''Apa-apa.'' Syifa pura-pura tidak mendengar.


''Yang lihat dia masa bilang kamu sengsara.'' Syifa mengerucutkan mulutnya dan mengadukan kata-kata kakak sepupunya itu pada Hanif yang kini membuat Hanif pun ikut tertawa.


''Eh sorry sorry, gue kira gak ada laki lo dek.'' mereka pun tertawa karena tingkah konyol Andrian membuat suasana terasa sangat hangat membuat Hanif pun kembali melupakan kegundahan yang baru saja mengusik hatinya karena mengingat mereka akan kembali berpisah.


.


.


Dua jam telah berlalu akhirnya mereka pun telah sampai di sebuah penginapan.


Hanif sengaja mengajak Syifa untuk berlibur ia ingin merasakan berlibur berdua saja karena memang mereka belum pernah melakukannya.


''Mas kenapa kita kesini?'' tanya Syifa yang merasa ragu karena ia tidak membawa pakaian ganti.

__ADS_1


''Gak apa-apa yang kita bisa beli lagian kita tidak akan berlama-lama disini hanya dua hari saja. Mau kan?'' tutur Hanif memberikan pengertian.


''Baiklah kalau begitu kita pergi ke toko dulu dan membeli berbagai kebutuhan yang kamu butuhkan.


Tanpa menunggu jawaban dari Syifa Hanif segera memutar balik mobil nya ke arah pusat perbelanjaan untuk membeli segala kebutuhan mereka.


Kini mereka telah sampai di pusat perbelanjaan Syifa pun tersenyum ke arah Hanif dan menatapnya.


''Maaf ya mas, aku jadi merepotkan.''


''Gak papa sayang lagian salah aku juga enggak bilang dulu jadi kita gak persiapan.''


Mereka pun segera turun dan memasuki pusat perbelanjaan.


Syifa yang memikirkan pakaian ia pun segera mencari berbagai keperluan untuknya dan juga untuk Hanif.


''Mas lihat lah apa ini cocok untukku?'' Hanif pun mengangguk dan menyetujui pilihannya.


''Kamu mau pakai apa pun juga tetap cantik yang.'' Gombak Hanif di dekat telinga Syifa.


Syifa pun tersenyum dan memilih kembali beberapa pakaian hingga entah berapa lama ia menghabiskan waktu di dalam sana. Hanif pun sudah cukup lelah mengantar wanita yang kini menjadi istrinya malah asik berbelanja dan melupakan waktu yang sudah ia rancang untuk berlibur.


Setelah merasa puas Syifa berbelanja berbagai keperluan untuk nya kini Syifa mencari pakaian untuk suaminya.


''Mas lihatlah. Apa kamu suka?'' Tanya Syifa kembali seakan tidak capek mengitari pusat perbelanjaan itu.


Dengan sabar Hanif pun mengikuti langkah Syifa yang pergi ke sana ke mari mencari pakaian untuknya.


''Yang.'' Hanif merasa sangat lelah ia pun terlihat tidak bersemangat.


''Iya mas.''


''Kita mau berlibur sayang, bukan mah shoping.'' Akhirnya Hanif bersuara ia sedikit kecewa karena rencana nya untuk berlibur kini nyaris terbuang lama karena Syifa yang terus saja membeli berbagai barang yang menurut Hanif bahkan itu tidak perlu.


Syifa merasa kesal karena Hanif seakan tidak peduli pada kebutuhannya ia pun segera pergi ke kasir dan Hanif pun membayarnya.


Setelah selesai Syifa pun segera berlalu dan membiarkan Hanif yang membawa belanjaannya ia merasa sangat kesal.


''Memangnya aku gak perlu ganti baju apa mana sabun mandi aku saja gak ada bagaimana aku bisa tinggal.'' Syifa pun terus mengomel dan memilih menunggu Hanif di dekat mobilnya.


......................

__ADS_1


__ADS_2