
''Tunggulah sebentar biarkan dirimu sehat dulu an.'' Ucap lelaki itu yang sudah lama menemani dirinya saat Andrian bekerja di rumah sakit dimana dulu ia bekerja.
Untung saja Andrian di bawa ke rumah sakit ini, sehingga dari pihak kepolisian dengan mudah menemukan identitas nya bahkan mereka sudah menghubungi pihak keluarganya meski belum ada respon dari keluarga nya sendiri.
.
.
Dia hari telah berlalu kini Nadia sudah kembali ke rumah nya.
Nadia di bawa pulang oleh Rosa dan juga suami nya karena kini suami nya sudah pulang.
Adi yang menerima kabar jika Andrian sedang berada di bandung karena mengalami kecelakaan ia belum bisa memberi kabar pada istrinya melihat istri dan juga menantunya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.
''Kamu istirahat dulu ya. Jika membutuhkan sesuatu kamu bilang aja sama mami.'' Ucap Rosa sambil mengelus kepala Nadia dengan lembut.
Nadia hanya tersenyum menanggapi perkataan dari mertuanya. Ia tidak ingin membuat mertuanya menjadi cemas lagi karena dirinya sendiri.
Rosa kembali berjalan ke luar meninggalkan Nadia di kamar nya sendirian. Meski ia sangat khawatir mengingat Nadia mengalami stres yang berlebihan tapi ia yakin Nadia tidak akan melakukan hal bodoh yang akan membuat dirinya menyesal.
Nadia memperhatikan kamar miliknya dengan perasaan sedih ia mengingat kejadian terakhir saat Andrian marah besar padanya. Meski Andrian tidak berkata kasar atau memperlakukan nya dengan kasar namun tetap saja ia sangat sakit hati.
Bukan sakit hati karena Andrian marah pada nya. Namun sakit hati karena ulah nya sendiri. Nadia sangat sakit hati ketika dirinya mengecewakan suaminya sendri apalagi sebaik suami nya.
Andai saja waktu bisa berputar kembali ingin rasanya dirinya menebus segala dosa yang pernah ia perbuat. Ingin rasanya ia tidak pernah berbuat se jahat itu pada Syifa dan mengecewakan perasaan suaminya. Entah kenapa dan entah apa yang Allah berikan padanya seakan ia tidak bisa terlepas dari Syifa. Seolah kehidupan yang ia jalani sangat rumus meski ia tidak tahu di balik semua rencana yang Allah berikan pada dirinya.
__ADS_1
Nadia duduk mengusap perut yang sedikit buncit itu. Air matanya kini jatuh dengan sendirinya ia juga merasa menyesal karena hampir saja menghilangkan darah dagingnya sendiri karena ulah nya sendiri darah daging yang sedang ia kandung hampir saja hilang.
''Maafkan Bunda sayang.'' Ucap Nadia dengan derai air mata yang tak bisa tahan sesak yang kini menghimpit dadanya seolah menyesakan. Hanya maaf yang bisa ia ucapkan meski dalam hati kecil nya ia merasa bersyukur karena Allah masih berbaik hati padanya dengan menjaga buah hatinya berada dalam kandungan nya.
''Bunda janji tidak akan menyakiti kamu lagi sayang, bunda janji akan menjaga kamu dengan segenap kasih sayang yang bunda miliki semoga ayah kamu segera pulang dan memaafkan kesalahan bunda sayang. Bunda hanya bisa bertahan karena kamu maaf kan bunda. Maafkan bunda.'' Nadia terus saja mengusap perut buncit nya dengan derai air mata yang kini membasahi pipi nya.
Rosa yang sejak tadi berdiri di ambang pintu ia menahan sesak di dalam dadanya. Ia mendengar semua perkataan Nadia bahkan ia tahu jika Nadia pernah menyakiti darah daging nya sendiri.
Meski Rosa kecewa pada Nadia namun ia yakin jika Nadia tidak akan mengulangi kesalahan nya lagi.
Rosa mengusap air mata yang sejak tadi jatuh bersamaan dengan pengakuan Nadia. Kini ia masuk ke dalam kamar Nadia dengan semangkuk bubur di tangan nya.
''Makanlah nad, kasihan anak mu ia membutuhkan banyak asupan gizi.'' Ucap Rosa tanpa menoleh ke arah Nadia.
Rosa seakan tidak sanggup menatap wajah lemah dari menantunya.
''Aku minta maaf mami.'' Ucap Nadia setelah beberapa menit ia makan dan selesai kini ia mengungkapkan perkataan maaf nya pada sang mami.
''Sudahlah nad, mami memaafkan kamu mami sangat sayang sama kamu. Meski mami tidak tahu pasti apa penyebab kamu dengan Andria bertengkar mami hanya menyangka jika kepergian Andrian hanya ingin menenangkan pikiran nya saja. Kamu jangan larut dalam kesedihan kasihan bayi mu.''
Rosa berkata dengan hati-hati ia tidak ingin jika Nadia kembali stres dan berbuat yang tidak-tidak.
.
.
__ADS_1
Dua hari sudah Andrian di rumah sakit kini ia sudah pulih. Andria berjalan ke luar rumah sakit dengan bantuan teman nya kini ia mengantar Andrian ke pondok pesantren dimana Syifa berada.
''Kamu yakin an mau pergi ke pondok dengan kondisi kamu yang baru saja pulih.'' Ucap teman nya karena Andrian masih mengenakan perban di kepala nya meski luka nya sudah membaik.
''Gak apa-apa aku udah gak punya waktu lagi.'' Andrian berkata karena ia juga tidak ingin terlalu lama tinggal di sini kini pikiran nya memikirkan Nadia yang sedang hamil. Mengingat Nadia yang sedang hamil anak nya Andrian merasa tidak tega meski ia sempat marah dan kecewa pada wanita itu namun hatinya tetap sama ia menyayangi Nadia. Ia sangat peduli pada wanita yang sudah hampir lima bulan menemani dirinya dan menjadi istrinya.
''Oke kalau gitu terserah kamu aja.''
Beberapa menit telah berlalu kini Andrian telah sampai di depan gerbang pondok pesantren dimana Syifa mondok.
''Aku hanya bisa mengantar mu sampai sini An,'' Ucap lelaki itu yang masih mengenakan pakaian dokter nya.
''Aku mengerti ko, makasih ya bro kamu sudah mengantar aku.'' Andrian menepuk teman nya dengan rasa terima kasih.
Ia kini turun dari dalam mobil dan menuju ke pondok yang terlihat ramai dengan santri dan santriwati.
Andrian tidak bisa menghubungi Syifa karena ponsel miliknya ikut rusak saat kecelakaan itu menimpanya. Andrian hanya bersyukur ia sendiri masih selamat dengan luka yang tidak cukup parah.
Andrian terus saja berjalan dan mencari keberadaan Syifa yang entah dimana bahkan sesekali ia menanyakan Syifa kepada salah satu santri yang malah menunjukan pada teman nya karena banyak yang bernama Syifa.
''Dimana sih itu anak.'' Andrian sedikit kesal karena tidak kunjung mendapatkan Syifa yang ia cari.
''Syifa!'' Teriak Andrian yang ia lihat jika wanita yang sedang bersama ketiga santriwati itu benar adik nya.
Syifa yang baru saja akan kembali ke kamar nya ia begitu terkejut melihat Andrian yang berada di taman.
__ADS_1
''Aku pergi dulu bentar ya.'' Ucap Syifa pada ke tiga sahabat nya dengan cepat Syifa berlari menghampiri lelaki yang sangat ia rindukan.
......................