
Syifa pun menyodorkan gelas kepada Hanif yang setia menantinya ia begitu bahagia karena perlakuan Syifa yang begitu manis padanya.
''Terima kasih.'' Ucap Hanif dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya membuat Syifa seketika merona kembali.
''Pacarannya di kamar saja sayang, biar ibu tidak menggangu kalian.'' Tutur ibu yang kemudian tertawa kecil bersama ummi.
Mereka sangat bahagia karena kini putra dan putrinya telah mendapatkan pasangan dalam hidupnya.
''Ibu.'' Ucap Syifa yang kini tersipu malu.
Syifa pun segera menarik Hanif agar keluar dari dapur karena membuatnya menjadi salah tingkah.
Sementara Hanif ia begitu menikmati sentuhan yang Syifa berikan ia sangat bersyukur karena pilihan dengan menikahi Syifa ternyata sangat tepat ia jelas akan terhindar dari dosa.
''Kita disini saja.'' Tutur Syifa yang kemudian menyalakan TV ia bingung apa yang harus ia lakukan.
Hanif ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal ia sedikit bingung dengan tingkah Syifa.
Beberapa menit berlalu Syifa yang masih fokus pada layar yang menampilkan acara kartun itu ia melupakan Hanif yang kini duduk di sampingnya.''
''Fa, sepertinya nanti siang aku akan kembali ke rumah. Apa kamu mau ikut?'' tanya Hanif yang merasa tidak ingin berpisah kembali.
Syifa pun menoleh ke arah Hanif. Ia menatap wajah tampan suaminya itu dengan perasaan yang sulit ia artikan.
''Kenapa secepat itu, apa Ustadz akan meninggalkan aku seperti dulu?'' tanya Syifa yang masih setia menanti jawaban yang akan keluar dari mulut suaminya itu.
Ada perasaan sedih ketika Hanif mengatakan ia akan kembali. Meski ia belum mengetahui pasti perasaannya sekarang. Namun bukankan seorang istri harus ikut kemanapun suaminya mengajak nya untuk tinggal, hanya itu yang Syifa tahu ia memang merindukan kedua orang tuanya tapi dengan Hanif yang akan meninggalkannya ada perasaan sedih yang kini ia rasakan.
Hanif menatap lembut wajah Syifa ia mengusap lengan Syifa dan memegangnya erat.
''Ya, aku harus kembali, jika kamu bersedia ikut bersama aku. Aku akan sangat bahagia.'' Tutur Hanif pelan
Dada yang sejak tadi terasa seakan sesak kini terasa terisi kembali dengan Oksigen. Syifa menampilkan senyumnya dan ia pun mengangguk menyetujui jika ia akan ikut untuk pergi bersama Hanif.
''Terima kasih.'' Ucap Hanif yang masih menatap wajah istrinya itu.
''Kenapa Ustadz berterima kasih? bukankah kini aku adalah istrimu? jika dengan cara aku bersamamu membuat Ustadz bahagia, tentu aku akan melakukannya. Bukankah kewajiban seorang istri patuh pada suaminya, selama ia mengajak dalam kebaikan?'' Tutur Syifa yang kini menampilkan senyumnya.
Hanif yang mendengar perkataan Syifa sungguh ia merasa sangat bahagia. Ia pun menarik Syifa kedalam dekapannya dan mencium kening Syifa dengan lembut.
Tak ada perlawanan dari Syifa seakan ia menikmati apa yang Hanif lakukan Syifa begitu merasa nyaman di dekat Hanif yang kini telah sah menjadi suaminya.
__ADS_1
.
.
Waktu telah berlalu. Syifa yang kini tengah berada di kamarnya ia pun kembali merapikan pakaian yang akan ia bawa untuk ke rumah ummi. karena ia akan tinggal bersama suaminya.
Entah sampai kapan Syifa belum memikirkan semuanya ia akan menjalani hari-hari liburannya di sana sampai waktu sekolah akan kembali.
Sebenarnya bagi Santri yang masih bersekolah memang tidak di perbolehkan untuk menikah untuk menjaga fitnah. Namun abi lebih khawatir mereka justru melakukan hal dosa yang justru akan mendapatkan kerugian. Apalagi Syifa hanya akan sekolah selama 6 bulan lagi dan selama itu pula Syifa di anjurkan untuk menggunakan kontrasepsi agar bisa menunda kehamilannya.
''Kamu yakin fa akan ikut sama aku?'' Tanya Hanif yanga merasa sedikit bersalah karena Syifa tidak menikmati waktu liburannya bersama kedua orang tuanya.
''Iya tentu, aku kan sudah jadi istri Ustadz, jika aku rindu sama ayah dan ibu, mereka akan bersedia untuk berkunjung menemui kita. Ustadz tidak usah khawatir.'' Tutur Syifa yang masih mengemasi barang bawaannya.
Syifa tahu jika Hanif merasa bersalah karena membiarkan Syifa pergi bersamanya. Namun jika Syifa tinggal di sini bersama kedua orang tuanya ia akan sedikit gelisah.
Mendengar Hanif akan kembali ke kediamannya saja mampu membuat Syifa merasa sesak, apalagi jika Hanif akan berlama-lama meninggalkan nya kembali.
Hanif hanya menganggukkan kepalanya ia sangat bersyukur mendapatkan Syifa sebagai istrinya.
''Semoga kamu dapat mencintai aku apa adanya Syifa,'' tutur Hanif dalam hatinya.
''Apa yang Ustadz pikirkan?'' Syifa menatap lekat-lekat suaminya itu.
Syifa yang telah selesai dengan pekerjaan nya itu ia pun menghampiri Hanif yang sedang duduk di sofa.
''Tidak, sepertinya aku mau mandi dulu, apa kamu sudah selesai?'' tanya Hanif yang merasakan kembali debaran jantung nya.
''Baiklah.'' Syifa terdiam ia menatap lelaki yang kini telah sah menjadi suaminya itu berjalan meninggalkan dirinya.
beberapa kali ia selalu bersikap manis dan membuat Syifa selalu berdebar dan kadang selalu membuat dirinya sendiri tersipu malu.
Suara sering ponsel Syifa terdengar. Syifa pun segera mengambil ponselnya yang sedang ia cas.
Terlihat Arin yang Menghubunginya.
''Assalamu'alaikum.'' Sahut Arin dengan semangat setelah Syifa mengangkat teleponnya.
''Waalaikumsalam, tumben sudah telepon aja, kamu kangen yah sama aku?'' tutur Syifa yang kini tengah berada di balkon kamarnya.
Ia sengaja pergi ke luar ia takut jika Hanif bersuara dan membuat Arin penasaran.
__ADS_1
Mereka pun mengobrol banyak hal, padahal baru saja tiga hari mereka tidak bertemu mereka sudah seperti tidak bertemu dalam waktu yang lama.
''Oke, kapan-kapan kamu main ke sini, aku tunggu.'' Tutur Syifa yang kemudian tertawa.
''Baiklah. Assalamu'alaikum.'' Sahut Syifa yang kemudian menutup panggilannya. Syifa sangat bahagia karena ia memiliki sahabat sebaik Arin. Ia sangat bersyukur karena ada banyak orang yang selalu peduli padanya meski ia tidak memiliki saudara.
Syifa pun kini menatap langit jakarta yang selalu ia rindukan. ia menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan secara perlahan. Ada banyak hal yang selalu ia rindukan di tempat ini namun kini ia pergi kembali meninggalkan rumah yang sudah sejak lama ia tinggali.
''Siapa yang menelpon?'' Tanya Hanif yang kemudian berdiri di samping istrinya itu.
Syifa menoleh ke arah suaminya dan tersenyum. ''Arin,'' jawab Syifa yang kemudian kembali menatap langit biru yang terlihat sangat indah.
Hanif pun menganggukkan kepalanya.
''Apa kamu sudah selesai? jika sudah kita akan bersiap kembali.'' Tutur Hanif mengusap puncak kepala Syifa.
''Iya, '' Syifa pun tersenyum menatap wajah Hanif yang selalu membuatnya merasa nyaman saat bersamanya.
''Terima kasih Ustadz,'' tutur Syifa dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya.
Namun kata-kata itu kembali membuat Hanif berdebar tidak karuan. ''Untuk?'' tanya Hanif mengerutkan keningnya.
''Untuk menjadi suami aku.'' Syifa kemudian tertawa sungguh ia berhasil membuat Hanif tersipu malu.
Syifa pun segera membalikan badannya untuk berlari ke kamar. Namun langkahnya terhenti Hanif menarik lengan Syifa dan kembali memeluk Syifa yang kini berbalik tersipu malu.
''Ustadz aku mau mandi.'' Tutur Syifa malu karena telah mengerjai suaminya itu.
'' Bukankah kamu bahagia aku menjadi suamimu?''
''Dari mana Ustadz tahu, sudah aku mau mandi.'' Tutur Syifa mencoba melepaskan pelukannya ia merasa takut karena telah membuat Hanif seakan ingin memakannya.
''Buktinya kamu berterima kasih?'' goda Hanif yang kemudian membalikan tubuh mungil Syifa. Hanif kembali mencium kening Syifa yang tanpa pernah meminta ijinnya dulu.
Seketika Syifa terdiam. Jantungnya kembali berdegup kencang ia merasa lemas bukannya menikmati sentuhan yang seperti tadi ia rasakan.
''Ustadz aku mau mandi.'' Tutur Syifa terlihat gemetar.
Hanif pun melepas ciumannya ia menatap wajah Syifa yang terlihat sedikit pucat. Ia pun menganggukkan kepalanya dan membiarkan Syifa pergi dari hadapannya.
......................
__ADS_1