Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 55


__ADS_3

Pagi telah tiba bahkan sinar sang mentari mulai menunjukan dirinya.


Hanif dan keluarganya kini keluar dari penginapan mereka, dengan segala kekuatan Hanif berusaha menepis segala kemungkinan terburuk yang akan ia dapatkan.


Hatinya berdebar tidak karuan pikirannya seperti melayang ke udara tatkala ia akan mengucapkan salam pertemuan kembali kepada sang pemilik hati.


Hanif yang telah bersiap dengan badan yang terasa lebih segar ia pun segera menjalankan kakinya perlahan dan masuk ke dalam mobilnya. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya dari kedua orang tuanya.


Ia kini sudah terlihat lebih rapih pakaian yang sudah berganti dengan kemeja berwarna navy juga celana yang berwarna senada yang ia kenakan membuat dirinya sangat terlihat lebih tampan. Wajahnya yang memang sudah tampan membuat dirinya terlihat sangat sempurna.


Ummi kulsum berjalan perlahan bersamaan dengan suaminya.


Ummi membawa beberapa paper bag yang tadi ummi bawa dari dalam penginapan. Ummi sengaja membawa beberapa oleh-oleh untuk keluarga Yusuf.


Ummi memang sudah lama mengenal keluarga Yusuf karena memang Hanif dulu pernah mondok di sana. Meski hanya sebatas kenal tapi ummi sangat senang karena keluarga Yusuf memang sangat terasa kekeluargaan pada keluarga abi Abdullah.


Hanif pun segera melajukan mobilnya setelah ummi dan abi nya masuk kedalam mobil.


Suasana pagi di kota kembang itu terlihat sangat sejuk dan terlihat sangat asri. Meski Hanif sudah beberapa kali bahkan sering berkunjung ke kediaman Yusuf tapi ia tetap sangat menyukai suasana di kota kembang itu.


Kota dengan segala keindahan alam banyak memperlihatkan gunung-gunung yang menjulang tinggi ke langit yang terlihat biru itu membuat suasana sangat indah di tambah pohon yang yang terlihat sangat hijau dengan burung-burung yang beterbangan kesana-kemari kemari yang membuat siapa saja ingin berlama-lama memandangi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna.


Kali ini hanif menjalankan mobil dengan perlahan suasana yang masih sejuk ia tidak tinggalkan begitu seja. Hanif dan keluarganya menikmati pemandangan yang menyejukkan mata mereka.


Terlihat senyum yang menghiasi kedua orang tuanya membuat Hanif pun ikut tersenyum lebar. Ia sangat bahagia karena kedua orang tuanya bahagia.


''Semoga aku dapat membahagiakan dan mewujudkan keinginan kalian aamiin.'' Doa Hanif yang ia panjatkan dalam hatinya.


Terlihat seseorang sedang memandangi mobilnya. Hanif merasa jika ia sedang mengalami sedikit masalah.


Hanif melajukan mobilnya sedikit perlahan dan berhenti tepat di belakang mobil itu.


Mobil mewah yang sangat terlihat terawat itu sepertinya mengalami kendala pada bannya.


''Sepertinya bannya selip.'' tutur abi Abdullah dan segera keluar bersama Hanif.

__ADS_1


Memang jalanan yang mereka lalui ini sedikit sempit membuat mobil itu keluar dari jalur.


''Apa bisa saya bantu pak?'' tawar Hanif yang melihat kondisi mobil yang sedikit kesusahan.


''Oh ya, sepertinya akan sedikit susah.'' Tutur seorang lelaki yang telah berusia itu namun terlihat jauh lebih muda dari abi Abdullah.


''Sebaiknya bapak naik dulu, biar saya bantu untuk mendorongnya.'' Tawar Hanif pada si bapak pengendara itu.


Bapak-bapak itu pun segera menaiki mobilnya kembali sementara Hanif ia membantu mendorong mobilnya dengan bantuan abi Abdullah pula. Karena jalanan yang sedikit sepi dan jauh dari rumah penduduk membuatnya kesusahan karena tidak ada orang yang bisa ia minta bantuan lagi.


Syukurlah ban mobil itu tidak terlalu dalam mengalami selip sehingga tidak membutuhkan waktu lama mobil itu kembali ke jalanan.


Setelah mobil itu melaju kembali, pengendara itu kembali turun dari mobilnya dan menghampiri Hanif dan juga Abi Abdullah.


''Terima kasih nak, pak.'' Tutur bapak paruh baya itu yang terlihat sangat rapih. Hanif menebak jika bapak di hadapannya itu sepertinya seorang pengusaha.


''Sama-sama pak.''


Mereka pun saling menjabat tangan dan kembali ke dalam mobil masing-masing.


Hanif melihat jam di tangannya.


Jam itu menunjukan tepat pukul tujuh. Hanif merasakan hal aneh yang kembali ia rasakan, beberapa kali ia menarik napasnya dan mengeluarkannya secara perlahan agar ia merasa lebih baik.


Lima belas menit berlalu akhirnya ia telah sampai di kediaman Yusuf. Hanif memarkirkan mobilnya dengan rapih di pekarangan rumah Abah nya.


Ummi dan abi pun mengucap syukur karena mereka telah sampai dengan selamat. Hanif pun membantu ummi nya untuk membawa beberapa oleh-oleh yang sejak kemarin ummi siapkan untuk keluarga Yusuf.


Mereka pun menghampiri rumah abah yang terlihat pintunya terbuka.


''Assalamualaikum,'' salam Hanif dengan kedua orang tuanya serempak.


Terlihat abah yang segera menghampiri mereka dan menyambut kedatangan keluarga Hanif.


''Waalaikum salam.'' Abi, Hanif ayo sini mari masuk, ummi ayo masuk.'' Abah mempersilahkan Hanif dan keluarganya agar segera masuk.

__ADS_1


Hanif yang baru saja melangkahkan kakinya kedalam rumah abah. Ia begitu terkejut ternyata bapak-bapak tadi yang ia tolong tengah berada di dalam rumah abah.


''Oh bapak mau kesini juga.'' Tutur Hanif yang hendak duduk bersebelahan dengannya dan ia pun menyalami tangan orang tua itu karena memang usianya jauh lebih tua dari usianya.


Abah menoleh kepada mereka dan tersenyum. ''Jadi kalian sudah saling mengenal?'' tutur abah yang duduk kembali di kursinya.


''Baru tadi di perjalanan.'' Tutur bapak itu segera menjawab pertanyaan abah dengan tawa kecilnya.


''Oh jadi kalian sempat bertemu?'' Tutur abah memandangi Hanif dan ayah Syifa.


''Tadi mobil saya selip pak Kyai.'' Mereka pun saling berbincang sampai ummi pun masuk ke ruang tamu itu membawa nampan yang berisi teh hangat dan cemilan.


''Oh ada nak Hanif.'' Ummi tersenyum karena ummi belum mengetahui kedatangan Hanif dan keluarganya.


Ummi pun saling menyalami keluarga Hanif itu dan segera kembali ke dapur karena belum membawakan minum untuk tamunya.


Setelah beberapa menit berlalu ummi pun kembali dengan membawa teh hangat untuk mereka.


Ummi pun sedikit mengobrol dengan keluarga Hanif dan ayah Syifa yang belum Hanif ketahui sosok di depannya itu adalah ayah dari wanita yang ia cintai.


''Ummi sudah panggilkan Syifa?'' tanya abah kepada istrinya karena Syifa belum juga datang.


''Sudah, mungkin sebentar lagi akan kesini.'' jawab ummi pada abah.


Hanif yang mendengar perkataan ummi dan abah ia sedikit terkejut karena obrolan mereka.


''Kenapa abah memanggil Syifa, atau jangan-jangan abah sudah mengetahui jika aku sudah melamar Syifa.'' tutur Hanif dalam hatinya. Ia merasa belum siap untuk mengenalkan abi dan ummi nya.


''Assalamualaikum?'' salam Yusuf dan juga Syifa yang berada di belakang Yusuf.


Hanif yang melihat pemandangan di depan matanya ia merasa sangat sesak di dadanya. Ketika ia melihat Syifa bersama Yusuf berdampingan bersama memasuki rumah abah.


Hatinya merasa sakit dan juga perasaan yang terasa ter abaikan karena Ia merasa Syifa tidak bisa menjaga apa yang telah ia titipkan.


......................

__ADS_1


__ADS_2