Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 47


__ADS_3

Semua santri dan santriwati duduk di tempat shalatnya, mereka berdzikir dan melanjutkannya dengan berdoa bersama.


Malam ini adalah malam Minggu para santri dan santriwati akan melakukan pembelajaran dengan guru mereka masing-masing.


Syifa yang baru saja selesai dari masa haidnya ia di wajibkan menyetorkan hafalannya.


Syifa terlihat sangat lesu harusnya ia sudah menyetorkan hafalan Alfiah nya lebih banyak namun ia hanya menghafal beberapa lembar saja.


Banten.


''Lita apa kamu sudah bicara sama Rian?'' tanya maminya yang sedikit penasaran.


Lita hanya menoleh ke arah maminya dan kembali menonton TV, ''mam Lita butuh waktu untuk itu, lagian kita berdua sama-sama sibuk mana bisa aku membicarakan hubungan aku dengan dia, lagian kenapa sih mami sama ayah selalu mendesak aku agar kembali sama Rian.'' Lita sedikit kesal dengan perkataan maminya yang selalu membuat dirinya harus mengikuti keinginan kedua orang tuanya.


''Kamu sudah tahu alasan kami agar kamu bersama Rian, apa sih yang membuat kamu ingin berpisah dengan dia? bukannya kamu berusaha agar Rian segera melamar kamu, kamu malah membuat dia memutuskan hubungan. Pokonya mami gak mau tahu kamu harus balikan lagi sama Rian.''


Mami pun pergi meninggalkan Lita yang terlihat benar-benar kesal. Lita tahu jika kedua orang tuanya merasa jika Rian adalah sosok yang sempurna untuk menjadi calon suaminya, tapi ia tidak bisa memaksakan cinta dalam hatinya agar mencintai Rian. Hatinya masih mencintai Hanif dan berharap Hanif lah yang akan menjadi calon suaminya.


''Apa yang harus aku lakukan.'' Gumam Lita ia merasa bingung dengan posisinya sekarang, andai saja Hanif membuka hatinya seperti dulu mungkin dengan mudahnya ia akan menjawab pertanyaan kedua orang tuanya kalau dirinya kini bersama Hanif kembali, tapi nyatanya Hanif pun seolah tak peduli pada dirinya dengan perasaan yang Lita miliki untuknya ia terlihat biasa saja.


Lita memikirkan apa yang akan ia lakukan.


Hanif yang telah selesai dengan mengajar di pondok pesantren ia pun kembali ke rumahnya.


Ia berjalan santai menikmati udara malam yang terasa sedikit dingin.


Memang udara di kota kelahirannya itu terasa hangat meski malam menyapa, berbeda dengan Bandung dimana ia selalu merasakan hawa dingin menyapa tubuhnya bagai menusuk kulitnya karena angin malam.


Ia menarik nafasnya dalam-dalam, pikirannya terasa sangat tenang. Hanif pun berjalan ke arah rumahnya kembali.

__ADS_1


Ia membuka pintu rumah dan mengucapkan salam.


Ia berjalan masuk karena tidak mendapati seorangpun. Ia berjalan ke arah dapur karena ia merasa sedikit haus.


''Aku kira ummi sedang shalat.'' Tutur Hanif yang mendudukkan dirinya di kursi.


''Ummi sedang masak, tumben kamu gak salam.'' Kekeh ummi yang tidak mendengar ucapan salam dari putranya.


Hanif hanya tertawa kecil ia sudah mengucapkan salam di balik pintu namun karena ruangan yang memang luas membuat suaranya tidak terdengar.


''Sudah ummi, ummi saja yang tidak dengar.'' Tutur Hanif berkata.


Ummi pun melirik ke arah putranya yang terlihat tersenyum kepadanya.


''Waalaikum salam.'' Ummi pun menjawab salam Hanif dan tertawa kecil.


''Makanya, kamu harus cepat nikah, mungkin jika ummi tidak mendengar salam kamu, sudah pasti ada yang menjawab, rumah ini tak akan sepi akan ada anak-anak mu nanti yang membuat rumah ini ramai.'' Ummi pun berkata dengan polosnya ia pun segera menyajikan berbagai makanan yang ummi sengaja masak sendiri.


''Iya ummi, ummi doakan saja semoga Allah mempermudah jalannya agar aku secepatnya dapat menikah.'' Ucap Hanif dengan lembutnya.


''Aamiin semoga Allah mempermudah segala maksud dan niatan baikmu.'' Ummi pun mengusap punggung putra semata wayangnya itu.


Makanan yang telah terhidang di meja makan dengan berbagai macam menu, ummi pun segera memanggil abi agar makan bersama.


Abi pun bergabung dengan Hanif setelah ummi memanggilnya. Mereka pun makan dengan diam tidak ada pembicaraan karena ummi tidak membolehkan berbicara saat makan hanya suara sendok yang terdengar hingga makan selesai barulah mereka berbicara.


Abi mengambil air di depannya dan meminumnya sampai tandas. Ia menatap putranya dengan bangga.


''Bagaimana dengan pondok sekarang? apa kamu tidak kesulitan mengaturnya?'' tanya abi memandangi Hanif yang baru saja selesai makan.

__ADS_1


''Alhamdulillah abi semua baik-baik saja.'' Tutur Hanif ia sebenarnya dapat mengatasi pondok ia tahu jika abi nya memang menginginkan agar Hanif mempu meneruskannya.


''Abi tidak usah khawatir, aku akan berusaha menjalankan amanah abi dengan baik.''


Abi Abdullah tersenyum mendengar perkataan dari putranya ia merasa lega karena Hanif bersedia mengemban amanah darinya.


''Lalu kapan kamu akan mengutarakan maksud mu pada kedua orang tua calon istrimu?'' tanya abi yang terlihat tidak sabar.


Hanif terkejut dengan ucapan abi nya. Ia memandangi ummi yang tersenyum padanya, baru saja ummi yang mengatakan keinginannya ia pun mendengar keinginan abi nya pula yang memintanya agar segera menemui kedua orang tua Syifa.


Hanif berpikir sejenak ia tidak tahu harus berkata apa, ia tidak ingin jika abi nya merasa kecewa.


''Abi Hanif butuh waktu, wanita yang aku cintai, ia masih bersekolah aku tidak mungkin menikahinya dalam waktu dekat.'' Tutur Hanif pelan.


''Tapi ada baiknya jika niat mu baik sebaiknya kita menemui kedua orang tuanya terlebih dahulu, soal nikah biar kita rencanakan nanti.'' Abi Abdullah memberi Hanif usulan.


''Aku akan membawa Abi bersama ummi untuk menemui wanita yang aku cintai, jika memang dia bersedia menikah dengan aku, barulah aku akan menemui kedua orang tuanya.'' Tutur Hanif berkata.


Hanif tidak ingin jika ia memaksa Syifa untuk siap menikah dengannya, ia belum tahu pasti apakah Syifa benar melupakan Yusuf hatinya sedikit bimbang saat ia mengingat kembali sahabat baiknya juga yang mencintai wanita yang sama.


''Baiklah bagaimana jika minggu depan? minggu depan hasil ujian madrasah akan keluar dan para santri dapat berlibur. Kita tidak akan khawatir jika keberangkatan kita yang meninggalkan pondok ini karena para santri akan lebih banyak yang pulang ke rumahnya, soal pondok abi akan menitipkannya kepada Ustadz Harist.'' Tutur abi yang terlihat bersemangat.


Hanif hanya bisa mengangguk setuju, tidak ada pilihan lain, ia juga tidak ingin memberikan angan kepada kedua orang tuanya. Mungkin abi dan ummi menginginkan kejelasan dari perkataan putranya.


Hanif pun bergegas ke kamarnya, setelah selesai makan dan mengobrol ia ingin menenangkan pikirannya.


Ia menaiki satu persatu anak tangga dan segera masuk kedalam kamarnya. Hanif pun merebahkan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya.


Pikirannya kembali kepada Syifa. Akan kah ia mendapat jawaban yang sama untuk kedua kalinya, ia sangat khawatir jika Syifa berubah pikiran.

__ADS_1


......................


__ADS_2