
Setelah sekian lama mereka tertidur Hanif kembali terbangun karena lengan nya terasa sedikit pegal pantas saja ia merasa pegal karena seingat nya tadi ia memeluk Syifa bahkan sampai ia terbangun Syifa masih saja menindih lengan nya.
Hanif perlahan melepas lengan nya dengan hati-hati karena ia tidak ingin menganggu Syifa yang masih terlelap. Ia menatap wajah Syifa dengan perasaan senang sambat berbeda kini ia melihat Syifa sedikit berbeda karena kini istrinya terlihat sedikit kurus mungkin karena ujian yang banyak menguras pikiran nya.
Hanif mengusap puncak kepala Syifa ia mengecup nya dengan lembut namun sentuhan nya kini membuat Syifa terbangun.
''Mas.'' Syifa berkata pelan bahkan ia merasakan saat Hanif menciumnya.
Hanif kembali melihat wajah istrinya dengan senyum yang tak hilang dari sudut bibirnya.
''Mas ganggu kamu ya.'' Ucap Hanif namun kini mereka saling menatap.
Syifa menggeleng dengan tersenyum ke arah Hanif.
''Kita shalat dulu yu.'' Ajak Hanif karena ia merasa sudah memasuki waktu ashar.
Hanif kembali mencium puncak kepala Syifa dan segera bangun dari tidurnya dan beranjak pergi ke kamar mandi.
Syifa hanya menatap kepergian Hanif yang berlalu ke kamar mandi. Ia sendiri segera bangun dan merapikan kembali tempat tidur nya.
Syifa kembali menghampiri tas yang berisi pakaian dan perlengkapan lain nya selama ia dan suaminya tinggal di sini. Entah berapa lama Hanif mengajaknya tinggal disini hanya Syifa merasa berlebihan jika hanya satu hati karena ia melihat beberapa pakaian milik suaminya sedikit banyak.
Syifa merapikan pakaian nya ke dalam lemari yang berada di samping kamar nya ia juga menggelar dua sajadah untuk nya dan untuk Hanif untuk melaksanakan shalat berjamaah.
Beberapa menit telah berlalu kini Hanif sudah kembali dari kamar mandi dan segera merapikan pakaian nya untuk melaksanakan shalat.
''Aku mau mandi dulu ya mas. Mas shalat aja duluan.'' Ucap Syifa karena ia merasa lengket di badan nya.
''Biar mas tunggu saja.'' Ucap Hanif karena ia akan melaksanakan shalat sunnah dulu.
Syifa mengangguk dan segera masuk ke kamar mandi dengan sedikit mempercepat gerakan nya ia segera membasuh wajah nya dengan wudhu setelah mandi.
Hanya lima belas menit saja ia sudah selesai Syifa segera memakai pakaian nya dan segera masuk kembali ke kamar nya.
Terlihat Hanif yang sedang menunggunya dan kini menatap ke arah nya.
''Kita mulai.'' Ucap Hanif setelah melihat Syifa sudah memakai mukena nya.
Mereka pun segera melaksanakan shalat ashar berjamaah dengan sangat khusyu mereka shalat. Hingga kini mereka sudah selesai shalat.
Syifa meraih tangan Hanif dan mencium nya Hanif yang menerima ciuman itu ia beralih mencium puncak kepala Syifa.
Mereka saling melempar senyum ada rasa bahagia di antara mereka yang selalu mereka rasakan.
''Makasih sayang.'' Ucap Hanif menatap wajah Syifa yang masih mengenakan mukena nya.
''Untuk?'' tanya Syifa tak beralih menatap wajah tampan suaminya dengan kopiah di kepalanya membuat nilai tambah
__ADS_1
untuk Suaminya
''Makasih karena kamu sudah mau menjadi istri aku.'' Hanif tersenyum simpul meski sudah lamanya Syifa menjadi istrinya tapi karena waktu yang membuat mereka berpisah selama ini Hanif sangat bersyukur karena Syifa setia menanti dirinya dan bahkan ia sabar menghadapi ujian pernikahan mereka hingga kini mereka di persatu kan kembali.
Syifa hanya tersenyum dan memeluk Hanif. Hal yang selalu membuat nya nyaman. Syifa sendiri merasa sangat senang.
''Mas apa kita akan lama tinggal disini?'' tanya Syifa karena ia mengingat kembali baju Hanif yang ia rapikan sedikit banyak.
''Hmm jika kamu mau.'' Kekeh Hanif karena ia memang ingin menghabiskan waktu berdua saja sebelum mereka kembali.
''Ih mas serius.'' Syifa kembali menatap Hanif seolah meminta jawaban yang benar.
''Ya hanya dua hari saja mas mau kita tinggal dulu disini menghabiskan waktu hanya berdua.'' Hanif berkata dengan sedikit menggoda Syafa.
''So sweet.'' Syifa berkata dengan tawa yang ia tahan.
''Ih ya.'' Hanif mencubit pipi gemas milik Syifa dan tertawa bersama.
Satu hal yang membuat Syifa berpikir bagaimana tidak Hanif masih berpikir seperti itu padahal ia akan menghabiskan waktu selamanya bersama.
''Bukan nya jadi romantis.'' Kekeh Hanif mengusap punggung Syifa dengan gemas karena istrinya tidak bisa di ajak romantis namun membuat Hanif tetap merasa senang.
''Lagian mas pikir kita bakal pisah lagi apa. Pakai bilang mau menghabiskan waktu berdua.'' Kekeh Syifa sambil terus saja tertawa.
''Ya kan berdua lah kita harus segera menyetak junior.'' Kekeh Hanif pelan namun kali ini membuat Syifa merona.
''Tentu mas sudah sangat mau sayang.'' Ucap Hanif dengan mantap. Tapi berbeda dengan Syifa ia sedikit berpikir.
''Tenang sayang mas gak maksa kamu untuk hamil sekarang kita akan sama-sama berusaha dan berdoa hanya Allah tempat kita berharap mas akan sabar.'' Ucap Hanif berusaha menenangkan istrinya karena ia tidak bermaksud memaksakan keinginan nya. Tentu saja keinginan nya Hanif serahkan kembali kepada sang pemilik mereka.
Syifa kembali memeluk Hanif ia sangat bersyukur bersuamikan Hanif yang selalu membuat nya lebih dekat kepada sang Pencipta nya.
''Kita jalan-jalan yuk.'' Ajak Hanif pada Syifa karena Hanif ingin mengajak Syifa berkeliling menikmati kota Bandung.
''Ayo kemana?'' tanya Syifa antusias. Bagaimana tidak selama ia tinggal di Bandung ia hanya berdiam di pondok dan hanya sesekali saja ia jalan-jalan itu pun hanya terhitung saat Hanif mengunjungi dirinya.
Sepertinya hanya jalan-jalan keliling dekat sini saja. Lagian ini sudah sore biar esok hari saja kita jalan-jalan ke tempat wisata yang terkenal di kota ini.'' Hanif menyarankan. Apalagi dirinya masih sedikit lelah karena perjalanan dari kediaman nya memang terbilang jauh.
Syifa segera melepas mukena nya ia segera bersiap-siap untuk mengikuti ajakan suaminya.
Syifa yang sudah rapih dengan pakaian nya ia memoleskan make up ke wajah nya dengan make up tipis saja di tambah lipstik berwarna sedikit cerah karena Syifa menyukai warna cerah untuk lipstik nya agar terlihat lebih fresh.
''Jangan tebal-tebal.'' Hanif mengingatkan ia mengambil posisi duduk di depan nya dan terus saja memperhatikan Syifa yang masih berkutat dengan alat make up nya.
Syifa hanya menanggapi dengan memajukan bibir nya ia teringat sikap Hanif yang membuat ia merasa kesal saat ia akan hadir di pernikahan kakak sepupu nya dulu.
Melihat Syifa yang seperti kesal membuat Hanif ingin tertawa ia sangat suka jahil pada istrinya bagaimana tidak Syifa langsung saja menyimpan alat rias nya dengan kesal.
__ADS_1
.........
Kini mereka sudah berada di dalam mobil namun Syifa tetap saja diam membuat Hanif merasa bingung sendiri karena istrinya sepertinya benar kesal karena ulah dirinya sendiri.
''Kita jalan-jalan kemana sayang?'' Hanif melirik Syifa sekilas dan melajukan mobilnya.
''Terserah mas aja.'' Syifa berkata dingin.
Bagaimana ia tidak kesal setiap kali ia berdandan Hanif terus saja memprotes dirinya. Dia juga ingin Syifa selalu menuruti kemauan nya dari cara dia berkerudung sampai pakaian yang ia kenalan Hanif terus saja mengomentari nya membuat mood nya hancur.
Syifa hanya berpikir jadi ini salah satu ribet nya jadi istri dari seorang ustadz berdandan saja harus sederhana memakai kerudung juga harus benar menutupi dadanya meski Syifa tahu tapi Syifa rasa tidak apa-apa lagian ia masih bersyukur masih mau berkerudung.
''Kenapa sih masih marah aja. Kita kan mau jalan-jalan.'' Hanif sedikit merayu Syifa karena jika Syifa seperti ini terus ia tidak akan bisa menikmati jalan-jalan dengan senang.
''Lagian mas mau nya gitu aku juga dandan buat mas ko. Aku juga pakai kerudung udah bener.'' Bela Syifa padahal ia sadar jika dirinya tidak melakukan pasmina nya kebagian dadanya.
Hanif menarik napasnya panjang berusaha menenangkan istrinya yang sedang kesal.
''Ya sudah kita balik lagi saja.''
''Jangan.'' Syifa segera berkata bagaimana bisa mereka kembali ke kamar sementara dirinya masih kesal setidak nya Syifa bisa sedikit menghilangkan kesal nya dengan berjalan -jalan.
Hanif kembali tersenyum sudah ia duga jika Syifa tidak akan setuju jika mereka kembali.
''Mas lihat sana kita ke sana yuk.'' Tunjuk Syifa pada pedagang yang berjajar di pinggir jalan.
''Kamu mau beli apa?'' tanya Hanif mengikuti kemauan istrinya.
''Seblak.'' Syifa tersenyum sudah sangat lama ia ingin makan seblak yang membuat air liur nya saja seolah tergiur dengan makanan itu.
Hanif segera memarkirkan mobilnya di samping jalan ia segera turun dari mobil mengikuti langkah kaki sang istri.
Syifa dengan bersemangat ia segera membeli dua bungkus seblak ia juga membeli martabak yang kini di pesan oleh Hanif karena ia sangat menginginkan makanan itu bahkan Syifa membeli gorengan dan juga rujak.
Beberapa menit telah berlalu Syifa sudah beres dengan pesanan nya ia kembali ke mobil karena Hanif sudah menunggu nya.
Syifa berjalan dengan kantong keresek yang penuh dengan makanan. Ia segera masuk ke dalam mobil dengan senyum lebar nya.
Hanif hanya menatap heran bagaimana bisa istrinya menghabiskan makanan sebanyak itu.
''Kamu yakin yang beli jajanan sebanyak itu.'' Hanif kembali melakukan kendaraan nya.
''Iya dong mas. Kamu belum pernah coba kan? enak tahu mas aku juga pernah cobain saat Arumi beli waktu itu enak loh mas.'' Syifa seolah membayangkan saat dirinya bersama teman-teman nya.
''Ya sudah sekarang kita kemana?'' Tanya Hanif kembali.
''Pulang aja yu mas. Nanti isi seblak nya keburu dingin.'' Syifa terus saja memikirkan makanan. Hanya makanan saja yang selalu ia pikirkan tanpa bertanya Hanif ingin apa lagi.
__ADS_1
......................