
Mobil pun sudah memasuki tempat parkir, ibu sengaja memarkirkan mobilnya tepat di sisi kanan dekat pintu masuk karena memang saat itu tidak terlalu banyak mobil dan itu juga memudahkan ketika mereka akan pulang karena ibu berencana membeli banyak oleh-oleh untuk Syifa bawa ke pondok.
Syifa pun turun dari mobilnya ia pun berjalan dengan ibu berdampingan hal yang sangat sulit Syifa lakukan sejak dulu, karena ibu yang jarang menemaninya belanja apalagi ibu dan ayah memang belum lama rujuk dan itu pun Syifa yang lebih cepat mondok. Ia sangat bersyukur karena ia bisa merasakan kasih sayang ibu dan ayahnya kembali.
Syifa yang melihat-lihat sekitar matanya tertuju pada sebuah gamis berwarna pink yang sangat terlihat cantik
''Bu lihatlah ini.''
''Kamu suka sayang? Itu bagus tapi sedikit kebesaran, tutur ibu mengomentari baju yang Syifa pegang.
''Mba?'' panggil ibu pada seorang pelayan, ia pun menghampiri ibu.
''Apa ada ukuran yang pas untuk putri saya? saya mau gaun yang ini tutur ibu pada si pelayan yang terlihat sangat sopan.
''Oh kebetulan itu sudah habis bu'' tutur si pelayan itu.
Syifa pun memutuskan untuk mencari gamis lain ia melihat gamis bermotif bunga-bunga kecil berwarna biru dan ia mengambil gamis yang berwarna hitam serta pasmina yang berwarna coklat.
''Lihatlah bu apa ini cocok?'' tanya Syifa pada ibunya.
''Iya bagus ibu suka, kamu ambil beberapa gamis lagi saja, lagian di rumah gamis kamu kan sedikit,'' tutur ibu memberikan saran.
''Oh iya kamu mau belikan oleh-oleh apa pada temen-temen kamu?''
''Bagaimana kalau kerudung aja bu? lagian kerudung kan simpel bawanya, jadi biar kita gak terlalu kerepotan.'' Sahut Syifa dan ia tertawa kecil mengingat ia merasa malu jika harus membawa banyak tas belanjaan saat akan ke parkiran.
''Hmmm iya boleh deh gimana kamu aja.''
Syifa pun segera memilih beberapa kerudung untuknya dan untuk teman-temannya di pondok.
Syifa pun selesai berbelanja ia membeli cukup banyak pakaian untuknya dan untuk oleh-oleh.
''Kita makan aja dulu yuk!'' Ajak ibu sedikit kelelahan karena berkeliling mall mengikuti Syifa yang asik berbelanja.
''Iya ayo, lagian Syifa juga lapar.'' Syifa memegangi perutnya yang sudah seperti demo bahkan terdengar suara perut Syifa yang sedikit mengganggu pendengaran Syifa pun tertawa kecil karena merasa malu.
__ADS_1
''Lagian kamu belanja banyak amat,'' ledek ibu yang merasakan kakinya sedikit pegal.
.
.
Hanif yang masih berdiam di kamarnya ia kembali teringat apa yang di katakan Lita padanya saat di rumah sakit.
Hanif menarik nafasnya kasar ia mengacak-acak rambutnya ia merasa sedikit gelisah.
''Kenapa setelah sekian lama aku berusaha melepaskan mu dan sekarang kamu malah kembali ke kehidupan aku Lita, kamu tahu kan aku sangat sulit untuk melupakan mu tapi kini Syifa... Syifa sudah menjadi pilihan ku.'' Lirih Hanif yang merasa sangat membingungkan.
Bertahun-tahun ia sengaja meninggalkan kota ini agar mudah melupakan Lita dan kini dengan mudahnya ia berkata seperti itu padahal selama ini ia tidak pernah sedikit pun memberinya kabar.
Tring...
Ponsel Hanif yang berbunyi kembali.
Ia mengira jika Syifa yang memberinya chat ia pun meraih ponselnya kembali.
Hanif yang merasa sedikit haus ia meminum teh hangat yang di sajikan bi Lastri.
Hanif yang kaget saat melihat pesan WhatsApp untuknya ternyata dari Lita, Hanif pun kembali menaruh gelas di tangannya ia memijat pelipisnya ia merasa sedikit bingung.
''Lita ingin menemui aku untuk apa?'' Tanya hanif pada dirinya sendiri.
''Apa aku terima ajakan nya? Tapi kalau aku terima sebenarnya apa yang ingin ia katakan.''
5 menit setelah pesan Lita di baca Hanif, namun ia tak kunjung menjawab pesan dari Lita ia merasa masih bingung untuk menjawabnya, hingga Lita kembali mengirimkannya sebuah pesan.
''aku hanya ingin bertemu kembali, lagian kita udah lama gak pernah ketemu aku ingin sedikit berbincang bersama kamu hanya berdua, kita ketemu jam 1 siang oke. aku tunggu kamu di restoran tempat biasa kita ketemu, aku harap kamu datang han.''
Hanif bernafas lega ternyata Lita tak berniat apapun. ''Mungkin tidak ada salahnya aku menemuinya,'' gumam Hanif pelan.
Ia pun membalas pesan Lita dengan menyetujui permintaannya.
__ADS_1
Hanif pun melirik jam di tangannya ternyata ini sudah pukul 12.00 ia pun segera ke kamar mandi untuk bersiap untuk melaksanakan. Shalat dzuhur terlebih dahulu sebelum ia pergi untuk menemui Lita.
Hanif pun turun dari kamarnya, ia tak melihat keberadaan ummi dan Ab nya, mungkin Abi dan ummi sedang istirahat ia pun memutuskan untuk shalat berjamaah di masjid.
20 menit berlalu Hanif yang telah selesai melaksanakan kewajibannya ia pun berdoa kepada sang pemilikNya ia berharap jika apa yang ia harapkan semoga Allah akan mempermudah semuanya. ia pun meminta agar hatinya di tetapkan dalam kebaikan.
Hanif pun berjalan keluar ia telah bersiap untuk pergi menemui Lita hatinya sedikit tak enak ia berharap Lita tak mengungkit masa lalunya.
.
.
Lita yang telah sampai duluan ia memainkan ponselnya ia sangat gugup dan sedikit khawatir jika Hanif tidak datang.
Hatinya yang masih mencintai Hanif membuatnya sangat bahagia karena di pertemukan kembali, meski ia melihat dengan jelas jika Hanif terlihat biasa saja namun ia yakin jika Hanif masih memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.
Lita terus memandangi ke arah pintu ia sesekali menyeruput minuman yang telah ia pesan.
Pukul 13.15
''kemana kamu han? apa kamu tak akan datang? kamu bener-bener buat aku gelisah han, aku mohon kamu datang.'' Lita berkata lirih ia sangat berharap jika Hanif datang menemuinya.
Hanif yang masih di perjalanan ia menatap jam arlojinya, ''aduh aku telat banget.''
Ia pun berusaha melajukan mobilnya dengan kecepatan sedikit kencang ia tak ingin jika Lita salah paham jika ia tidak menemuinya.
Syukurlah ia sampai sebelum jam dua siang, Hanif pun berjalan dengan cepat ke tempat meja yang telah Lita pesan, ia melihat Lita yang masih duduk di bangkunya dengan tertunduk.
''Lita?''
Lita yang menundukkan kepalanya ia mengangkat wajahnya dan melihat Hanif yang sedang tersenyum manis padanya.
''Han... aku kira kamu gak bakalan datang,'' Lita berkata dengan nada yang rendah Hanif tahu jika Lita sedikit kecewa karena ia telah lama menunggunya.
''Aku minta maaf, aku telat.'' Hanif pun menarik kursinya dan duduk berhadapan dengan Lita.
__ADS_1
''Kamu sudah pesan makan?'' Tanya Hanif yang melihat hanya Ada minuman untuknya saja.
Lita menggeleng dan sedikit mengerucutkan bibirnya dan itu membuat Hanif sedikit gemas, ''ia benar-benar masih seperti dulu,'' gumam Hanif dalam hatinya.