Ustadz Impian

Ustadz Impian
Bab 70


__ADS_3

''Lain kali kamu harus lebih hati-hati ingat kondisi rahim mu yang tidak terlalu cukup kuat aku harap kamu bisa menjaga diri.'' Ucap Nisa yang mengingatkan kembali kaka sepupunya itu.


''Iya nis aku akan lebih hati-hati. Tapi bagaimana kondisi janin ku? apa dia baik-baik saja kan?'' tanya Mira yang merasa sangat khawatir.


''Syukurlah keadaanya baik-baik saja janin mu tumbuh dengan baik hanya saja karena kamu yang kelelahan membuat tubuhmu mengalami kram perut. Aku sarankan jangan dulu mengangkat yang berat-berat dan jaga pola makan sehat, tidur teratur dan yang terakhir yang paling penting jangan stres karena bagaimana pun kamu menjaga pola makan tidak berolah raga tetap saja jika stres berlebihan itu akan mengakibatkan fatal.''


Mira pun mengambil resep yang Nisa berikan kali ini ia akan mengikuti saran dari adik sepupunya itu.


''Terima kasih ya nis.'' Ucap Mira yang kemudian keluar dari ruangan Nisa ia pun segera pergi untuk mengambil obat yang telah Nisa berikan padanya.


''Maafkan ibu ya nak,'' Mira kembali mengusap perut miliknya sudah sekian lama ia menanti buah hati yang selalu ia harapkan namun Tuhan berkehendak lain dan kali ia menitipkan kembali sebuah amanah yang akan ia jaga sepenuh hatinya.


Ponsel Mira pun berdering karena seseorang menelpon nya.


Terlihat Aris yang kini menelpon nya.


''Ada apa mir? maaf aku baru sempet pegang hp soalnya tadi aku ada meeting dadakan.'' Tutur Aris menjelaskan.


''Tidak apa-apa mas, oh ya mas, mas sudah bereskan?''


''Ya ada mir?'' terdengar Aris menyahuti perkataan Mira.


''Bisa jemput aku di rumah sakit? soalnya aku males nunggu taksi mas. Aku tadi ke sini pakai taksi online jadi gak bawa mobil.''


''Kamu kenapa?'' tanya Aris yang terkejut mendengar Mira yang kini berada di rumah sakit.


''Tidak apa-apa ko mas, mas sini saja ya aku tunggu.'' Mira pun menutup panggilannya karena obat yang ia tunggu sudah selesai.


Mira memilih Aris untuk menjemputnya karena jarak antara rumah sakit dengan kantornya terbilang dekat membuat Mira tersenyum kembali karena ia akan segera memberi tahu kabar bahagia di keluarganya kini.


...................Banten....


''Mas, aku malu jika orang menyangka kita yang enggak-enggak gimana?'' tutur Syifa yang merasa sangat malu jika ada yang menanyakan hal yang membuatnya bingung karena memang usia Syifa yang baru saja menginjak delapan belas tahun kini sudah menikah.

__ADS_1


''Gak apa-apa,biar mas temani kamu sampai masuk ruang pemeriksaan.'' Ucap Hanif mencoba menenangkan Syifa.


Hanif tahu memang banyak orang di usia seperti Syifa memang masih bersekolah karena sekarang sudah tidak zaman nikah di usia muda. Tapi bagi Hanif nikah di usia muda itu lebih baik dari pada pacaran yang di takut kan banyak orang melakukan hubungan di luar nikah.


Menikah bukan soal usia memang benar karena dirinya sendiri kini terbilang masih muda jika di bandingkan dengan orang lain yang mungkin banyak juga yang belum menikah.


Hanif yang berusia 27 tahun sedangkan Syifa ia menginjak 19 tahun. Memang perbedaan Usia yang cukup terpaut tapi itu tidak menjadi persoalan selama mereka saling mencintai dan menerima segala kekurangan pasangannya.


Hanif meraih tangan Syifa dan mengecup mesra tangan dari sang pemilik hatinya.


Syifa pun menoleh ia tersenyum dengan perlakuan Hanif seperti yang selalu ia lihat di drama korea.


''uh so sweet nya.'' Batin Syifa berkata dan tertawa melihat tingkah seorang Ustadz yang kini menjadi suaminya.


Ia tidak pernah membayangkan seorang Ustadz yang terlihat pendiam itu ternyata bisa se romantis ini padanya.


''Kenapa senyum-senyum seperti itu, kamu mau lagi sayang?'' Ucap Hanif menggoda istrinya dan sontak membuat wajah Syifa memerah padam.


''Ih otak mesum.'' Hanif pun tertawa mendengar perkataan Syifa yang mengatakan dirinya otak mesum.


Hanif berulang kali menciumi punggung tangan Syifa ia sangat mencintai Syifa bahkan jauh-jauh hari sebelum mereka menikah.


''Mas hati-hati.'' Tutur Syifa karena Hanif yang berhenti mendadak membuatnya sedikit kaget.


''Tuh kan mas sih pegang tangan aku terus jadi gak fokus.''


''Maaf sayang, kamu gak apa-apa kan?'' tanya Hanif dengan lembut .


Syifa pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum.


Hanif yang merasa lega ia pun kembali menjalankan mobilnya ke jalanan dan tetap fokus.


Suasana yang nyaman selalu Syifa rasakan apalagi sikap Hanif yang selalu membuatnya betah dan nyaman ketika berada di samping nya Syifa begitu bersyukur karena memilih Hanif sebagai pendampingnya adalah keputusan yang benar.

__ADS_1


Perlahan mobil memasuki area rumah sakit dan berhenti setelah Hanif memarkirkannya.


Syifa kembali berdebar ia takut jika ada pertanyaan-pertanyaan yang akan membuatnya bingung untuk menjalankan.


''Ayo, aku akan menemani mu.'' Ucap Hanif yang membukakan pintu untuknya.


Syifa pun keluar dengan perlahan ia berjalan beriringan dan memegangi lengan Hanif seakan Hanif lah kekuatannya.


Hanif yang sudah mendaftar ia pun mengantri untuk pemeriksaan untungnya tidak banyak orang yang mengantri sampai akhirnya giliran nama Syifa yang kini terpanggil.


Syifa oun berdiri di ikuti oleh Hanif yang setia akan menemaninya untuk pemeriksaan.


Ia mendong pintu ruangan perlahan dan duduk bersebelahan dengan Hanif.


Hanif pun menjelaskan kedatangan mereka kepada dokter yang saat ini berada di hadapannya. Ia tahu jika Syifa akan tahu untuk mengatakan maksud kedatangan nya.


Dokter itu pun menganggukkan kepalanya ia mengerti.


''Baiklah kalau begitu ibu sekarang berbaring di sebelah sana.'' Tutur dokter itu menyuruh Syifa agar menidurkan dirinya karena akan menjalani pemeriksaan. Sementara dokter itu mengambil alat medis yang akan ia gunakan.


''Kapan anda terakhir datang bulan?'' tanya dokter itu kembali dan masih memeriksa Syifa.


''Dua minggu kebelakang dok.''


pemeriksaan pun telah selesai Syifa pun kembali duduk bersebelahan dengan Hanif. Ia sangat takut jika kemungkinan yang ia khawatirkan itu terjadi.


''Ibu Syifa sepertinya tidak sedang hamil jika menurut hasil pemeriksaaan. Namun bisa juga salah saya sepertinya anda harus memeriksakan kembali jika ada keluhan lain.


''Tapi apa tidak ada pilihan kontrasepsi yang akan di gunakan?'' tanya Syifa hati-hati.


''Tentu ada, ibu Syifa bisa menggunakan alat kontrasepsi berupa pil KB untuk menjaga keamanan karena di khawatirkan ada sel ****** yang telah membuahi namun belum bisa di pastikan jika masa yang baru di lakukan berjangka hanya satu hari setelah anda melakukan hubungan suami istri.


''Anda bisa memakan pil KB atau alat kontrasepsi lain jika anda sudah haid. Dan di sarankan untuk bapak untuk lebih hati-hati jika sedang melakukan hubungan suami istri agar dapat menunda kehamilan. Anda bisa menggunakan ****** atau cara pelepasan di luar.'' Tutur dokter itu menjelaskan membuat Syifa dan Yusuf merasa sangat tidak nyaman tapi memang seperti itu yang harus mereka ingat.

__ADS_1


......................


__ADS_2